Bila harus berhenti mengharapkannya

Rasa ingin mencintai dan dicintai serta ingin memiliki merupakan fitrah setiap manusia.Tidak ada manusia yang tidak ingin dicintai begitu pula tidak ada manusia yang bisa terlepas dari rasa mencintai sesuatu. Hal ini adalah wajar saja ketika memang kita bisa me-manaje diri kita di dalam menghadapinya, sehingga jangan sampai berlebihan di dalam meluapkan rasa tersebut.Karena tidak sedikit manusia terjerumus ke dalam kehinaan karena terlalu berlebihan. Namun tidak juga kita lantas ( berusaha ) meniadakan rasa tersebut .Yang harus dilakukan adalah pertengahannya yaitu menjaga agar rasa itu tidak hilang dan menghindari agar tidak terlalu berlebihan.

” khoirul umuuri ausathuha”
sebaik-baik urusan adalah pertengahannya.

Tidak terlepas dari bagian rasa ini adalah kecenderungan terhadap lawan jenis. Malahan justru inilah yang terkadang membuat sebagian dari kita merasa kewalahan di dalam menghadapinya. Ada sebagian dari kita yang larut oleh rasa ini sehingga seolah-olah tujuan hidupnya hanya terisi oleh bagaimana meraih cinta dari yang diharapkannya. Mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah makan gak enak , tidurpun tak nyenyak selalu terbayang wajah sang kekasih tersayang.Lalu muncullah puisi puisi, nyanyian, syair untuk mengungkapkan rasa itu.

Memang ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengharapkannya untuk juga mencintai kita. Dan itulah sesuatu yang terkadang kita lupa bahwa ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan sangat bergantung kepadanya sehingga seolah-olah kita menjadi tawanannya .Bagaimana tidak , ketika kita mencintai seseorang maka kita rela untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan kita lakukan untuk orang lain. Benarlah ” man ahabba syaiaan fahuwa asiirulah” Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi tawanannya.

Namun kadangkala kenyataan tak seindah harapan. Terkadang kita harus kecewa karena apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan.Ketika kita melamarnya ternyata kita tidak diterima. Namun ini lebih jelas keadaannya meskipun menyakitkan memang. Namun ada yang juga tidak kalah menyedihkan ketika kita tidak tahu apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Ini akan menimbulkan efek yang tidak bisa dipandang enteng.Kita akan selalu dihantui pertanyaan yang tidak kunjung usai. Apakah dia juga mencintai saya? Sebenarnya ada jalan keluar yang dijamin dapat menyelesaikan apa yang selalu menjadi pertanyaan kita. Yaitu menanyakan kepada yang bersangkutan baik secara langsung maupun melalui perantara. Namun kiranya tak semudah yang kita bayangkan. Ada konsekuensi lanjutan terhadap jawaban atas pertanyaan itu.

 

Seandainya memang diterima lantas apakah cukup sampai disitu saja. Untuk selanjutnya tidak melakukan apa-apa. Sama sekali tidak. Kita harus siap untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kalau kita memang sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan,maka itu bukanlah sebuah persoalan besar. Atau kemungkinan kedua tidak diterima maka sudah siapkah kita menenangkan hati ini. Sungguh derita karena cinta ditolak itu sangat menyakitkan. Atau kemungkinan ketiga dia tidak memberikan jawaban apa-apa maka sudah siapkah kita untuk menjawab sendiri rasa penasaran kita. Sungguh kesemuanya memerlukan kesiapan jiwa kita.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika cinta itu datang dan kita belum siap untuk segala konsekuensinya? Sebenarnya di dalam setiap hal akan selalu ada konsekuensinya. Namun kita diberi pilihan untuk memilih solusi dengan konsekuensi yang terkecil.

Yang pertama kita harus segera mempersiapkan diri kita. Semakin cepat maka semakin baik. Namun ingat bahwa untuk merubah diri kita itu tidak cukup waktu satu dua jam , satu dua hari namun butuh waktu yang lebih dari itu. Mungkin selama masa pembentukan kesiapan itu kita terus merasakan ketidaknyamanan, ketidaktenangan dan sebagainya.

Pilihan kedua adalah berusaha untuk menghilangkan hati kita dari berharap padanya. Memang cara ini terkesan sulit untuk dipraktekkan. Namun bukan berarti yang sulit itu tidak bisa dilakukan. Memang ini butuh energi ekstra dan rasa sakit ketika kita harus melupakan dirinya dari hati kita. Namun ini memerlukan waktu yang lebih cepat daripada pilihan pertama tadi. Namun bukan berarti kita tidak menerimanya ketika memang dia dapat menerima kita. Yang kita lakukan adalah menjauhkan harapan kita terhadapnya, sehingga ketika memang dia tidak dapat mendampingi kita maka kita dapat dengan rela mengatakan ” berarti dia bukan jodohku” , dan bila ternyata dia bersedia menjadi pendamping kita maka kita dapat berucap syukur sambil tersenyum ” Ya Alloh inilah karunia yang terbaik dari Sisi-Mu untukku”. Jadi mau pilih yang mana?

#glesek-glesek file 08 september 2008
edited

2 thoughts on “Bila harus berhenti mengharapkannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s