Insya Allah lho yaaa……

Di bawah ketapang nan rimbun, yang menghalangi sengat mentari membakar kulit, dua orang bersahabat sedang asyik mengobrol. Sesekali diiringi kicauan burung yang bertengger melepas penat setelah seharian mencari makan.

A:’Pokoknya besok kamu harus dateng lho..Soalnya acara ini penting banget..’
B:’Oke, besok aku usahain dateng…’
A:’Janji lho…’
B:’Insya Allah aku usahain’
A:’Lho kok pake insya Allah, yang pasti dong..’
B:’Iya deh aku usahain dateng, Janji.’
A:’Nah gitu ….baru mantep. Okey besok aku tunggu di tempat acara ya..’

Diantara kita mungkin pernah menjumpai kejadian seperti diatas. Ketika diantara kita mengadakan janji atau memenuhi permintaan, kita biasa menggunakan kata ‘insya Allah’. Namun entah kenapa ucapan ‘insya Allah’ ini oleh sebagian orang dipersepsikan bahwa orang yang diundang sebenarnya malas untuk memenuhi undangan tersebut atau dengan lain kata hanya untuk mempermudah alasan saja. Dan tak jarang pula dari pihak orang yang diundang, ucapan ‘insya Allah’ digunakan ketika dia merasa kemungkinan besar tidak bisa memenuhi undangan itu. Dan kalau dikonfirmasi kenapa tak datang maka biasanya akan menjawab ‘Kan sudah pake insya Allah’.

Sebagian orang belum mengetahui penggunaan ucapan ‘insya Allah’ dan makna serta konsekuensinya. Akhirnya terjadilah hal-hal seperti diatas. Dari arti kata secara mudahnya “insya Allah” berarti ‘Jika Allah menghendaki/mengijinkan’. Disini harus diartikan bahwa pada dasarnya kita ingin memenuhi undangan tersebut. Namun sebagai manusia kita juga sadar bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa. Ketika kita berkeinginan berangkat, mungkin saja ada halangan sehingga tidak bisa hadir. Nah itu berarti Allah belum mengijinkan. Namun bila tidak ada halangan maka kita sebisa mungkin harus menghadiri undangan tersebut.

Sebagian kita mungkin dengan enaknya mengucapkan ‘insya Allah’, padahal niatnya tidak memenuhi janji . Jika kita sadar dengan mengucapkan ‘insya Allah’ maka konsekuensinya jauh lebih besar dari pada kita hanya berucap ‘janji deh’ dan sebagainya. Dengan mengucap ‘insya Allah’ maka berarti kita mempunyai tanggungjawab yang lebih besar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tapi jangan lantas dalam berjanji kita tidak mengucapkan ‘insya Allah’ karena bagaimanapun kita dituntunkan mengucap ‘insya Allah’ bila berjanji. Bahkan Rasulullah SAW pun ditegur oleh Allah ketika beliau berjanji memberi jawaban atas sebuah pertanyaan sahabat tanpa mengucap ‘insya Allah’.

Lalu bagaimana jika kita diminta hadir dalam sebuah undangan tapi kelihatannya tak bisa memenuhi? Ya kita bilang saja terus terang kalau kita tak bisa datang karena suatu alasan (-yang bisa diterima, tentunya-). Jangan sampai menggunakan ‘insya Allah’ hanya karena merasa tidak enak kalau menolak secara langsung.

Mari kita kembalikan makna ‘insya Allah’ sesuai fungsi yang sebenarnya. Dan satu lagi jangan terlalu mudah berjanji, karena setiap janji adalah hutang dan setiap hutang harus dibayar (-kecuali sudah diikhlaskan oleh yang menghutangi-), kalau tidak dibayar sekarang berarti nanti suatu saat entah di dunia atau di akhirat. Dan orang bijak akan lebih memilih menunaikan hutangnya di dunia daripada menunaikan di akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s