Ketika Yang Kudapat Bukan Pilihan Pertama

Kemarin sore menyempatkan silaturahim ke seorang ummi yang notabene adalah guru dari bundanya Aisha. Ada hal menarik yang beliau sampaikan terkait putranya. Biasalah terkadang kalau kita silaturahim ke seseorang ada saja hal tentang keluarganya yang diceritakan. Dan sore kemarin beliau berserita tentang anak laki-lakinya yang sekarang akan menginjak bangku kuliah. Beliau bercerita bahwa anaknya tidak bersemangat untuk menempuh kuliah di Geografi UGM. Mungkin bagi sebagian kita sudah begitu wah mendengar nama universitas yang prestisius di kota gudeg ini. Tapi kata beliau anaknya tidak ada senyum-senyumnya. Ada apakah gerangan?

Ternyata apa yang hendak dia jalani bukanlah apa yang dia inginkan. Sebenarnya dia ingin kuliah di Teknik Sipil. Pilihan pertama adalah Teknik Sipil ITB, pilihan kedua adalah Teknik Sipil UGM dan pilihan ketiga adalah Geografi UGM. Dan takdir menyatakan bahwa pilihan ketigalah yang dia peroleh. Mungkin ada rasa kecewa karena justru pilihan terakhir, yang mungkin saja waktu mengisi pilihan itu tidak sepenuh hati, sehingga tidak bersemangat untuk menjalaninya.

Saya jadi teringat akan kondisi saya yang dulu juga tidak mendapatkan pilihan pertama saat kuliah. Dulu piliha pertama saya adalah Teknik Elektro UGM. Tetapi takdir menyatakan bahwa saya lolosnya di Elektronika dan Instrumentasi UGM yang nota bene-nya adalah pilihan kedua saya. Memang ada rasa kecewa ketika ternyata apa yang didapat bukanlah apa yang sangat kita inginkan. Tentu kita paham bahwa ketika menempatkan sesuatu pada pilihan pertama maka saat itu juga hati kita begitu menginginkannya dibandingkan pilihan selanjutnya. Dan mungkin saja ketika menulis pilihan kedua atau ketiga kita tidak sepenuh hati menuliskannya. Dan sebagian kita tidak menyiapkan diri menerima pilihan kedua atau ketiga. Bahkan ada pula yang menganggap dirinya gagal karena tidak lolos pilihan pertama. Padahal dia masih diterima di pilihan kedua atau ketiga. Sementara ribuan yang lain masih harus pontang-panting karena tidak satupun pilihannya yang lolos.

Menerima sesuatu yang tidak sepenuhnya kita inginkan memang tidak mudah. Pantas saja bila semangat itu ikut-ikutan pudar. Saya pun pada awalnya begitu. Menjalani kuliah tidak dengan sepenuh hati. Saat itu yang ada dalam benak saya bahwa saya menjalani ini untuk membahagiakan orangtua. Mungkin memang masih jamannya bahwa seseorang begitu bangga ketika anaknya bisa kuliah di UGM. Ya sudah jalani saja. Akibat dari kurangnya semangat dalam menjalani kuliah adalah kurang semangat dalam belajar. Terkadang muncul bisikan dalam hati bahwa ini bukanlah yang aku inginkan. Aku tuh pengen yang lain, yang pilihan pertama. Pasti lebih menyenangkan kuliah di Teknik Elektro.

Tetapi pada akhirnya saya sadar bahwa mungkin inilah jalan hidupku. Memang butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran itu. Mungkin memang inilah jalan terbaik yang Allah berikan untukku. Kuliah di Elektronika dan Instrumentasi bukan di Teknik Elektro. Saya harus yakin bahwa ketika ini adalah karunia yang Allah berikan pastilah itu yang terbaik dan inilah amanah yang harus saya emban. Saya pun terus berusaha menumbuhkan optimisme dalam diri saya untuk menerima semua ini. Bahwa inilah jalanku dan tidak pantas untuk aku sia-siakan. Dan lihatlah betapa banyak bahkan ribuan yang mungkin lebih kecewa daripada saya karena tidak diterima di Prodi ini. Lalu apakah tidak perlu disyukuri bahwa ternyata Allah memilihku diantara ribuan yang lain untuk menempuh pendidikan di prodi ini. Kalau sudah mengaku bersyukur lalu mengapa tidak dijalani dengan penuh semangat?

Alhamdulillah, ketika kesadaran itu mulai tumbuh, mulai ada semangat dalam menjalani kuliah. Inilah tantangan yang harus saya hadapi, inilah dunia yang akan melukis masa depan saya. Saya sudah kuliah, di UGM pula. Mau apa lagi? Teman-teman yang senasibpun banyak, yang tidak masuk di Teknik Elektro.. hehe… Inilah yang menjadi penyemangat diri saya. Saya yakin bahwa pasti ada rencana Allah untukku dengan menempatkan aku di prodi Elins (singkatan dari Elektronika dan Instrumentasi) ini. Teknik Elektro suatu saat akan menjadi tempat kuliahku. Kalau tidak ketika S1 mungkin akan terwujud di S2-nya. Tetap semangat dan tetap dijalani. Dan alhamdulillah seiring berjalannya waktu dan tibalah saat wisuda hasil yang saya peroleh termasuk cumlaude 3,71. Sebuah angka yang secara kebetulan menjadi angka ajaib yaitu jika dibaca dari belakang adalah angka 17 dan 3 yang mana itu adalah tanggal lahir istri saya dan tanggal lahirku.

Mendapatkan sesuatu yang bukan pilihan pertama pada mulanya memang menumbuhkan kekecewaan. Itu manusiawi. Tapi tentu kita tidak perlu larut dalam kekecewaan tersebut. Yakinlah bahwa ini adalah rejeki yang Allah berikan kepada kita. Tentu sebagai manusia yang pendek pengetahuannya tidak dapat menjangkau ilmu Allah yang maha luas tersebut. Tetapi kita perlu yakin bahwa inilah yang terbaik bagi kita. Pasti ada hikmah dan manfaat di kemudian hari yang mungkin saja sampai saat ini kita belum bisa mengetahuinya. Percaya saja bahwa Allah akan senantiasa memberikan kebaikan terhadap hal apapun ketika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Lupakan pilihan pertama itu bila itu hanya menjadi penghambat kita dalam menjalani apa yang kita dapat sekarang. Apa yang kita dapat itulah rejeki kita, apa yang luput dari kita bisa saja itulah yang tidak baik baik bagi kita. Khusnudzan terhadap Allah saja, Insya Allah akan lebih memberi semangat dalam menjalani hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s