3 Tipe Orangtua dalam menghadapi “kenakalan” anak balita

Usia balita merupakan masa dimana anak belajar banyak hal. Ada yang mengatakan bahwa periode ini adalah periode emas sehingga sayang jika pada masa ini keinginan anak untuk belajar justru dihambat oleh orangtuanya. Apa-apa serba tidak boleh. Keaktifan seorang anak balita merupakan hal yang sangat wajar. Rasa ingin tahu begitu besar. Dan untuk memuaskan rasa keingintahuannya tak jarang anak mencoba-coba banyak hal. Bisa dikatakan seolah-olah tiada rasa lelah dalam diri si anak. Memang energi balita itu besar dan butuh penyaluran berupa aktifitas fisik. Karena mobilitasnya yang tinggi tak jarang membuat orangtua kerepotan bahkan ada yang sampai dibuat pusing. Kalau sudah begini banyak orangtua yang melabeli anaknya “nakal”. Padahal hal seperti ini seharusnya disyukuri. Dengan aktifnya anak maka ia akan belajar banyak hal. Sebagai orangtua kita seharusnya menjadi guru bagi mereka dalam mengenal hal-hal di sekitarnya. Ada tiga tipe orangtua dalam menghadapi keaktifan anak.

1. Terlalu membatasi

Sedikit-sedikit dilarang, apa-apa tidak boleh. Kalimat yang sering keluar adalah kalimat larangan dengan nada bentakan.

” Eh makanan jangan ditumpahin, nanti kotor… “ atau
“ Jangan lari-larian nanti jatuh, sakit siapa yang repot… “ atau
“ Dah dibilangin jangan mainan kayu.. kalau kepukul gini sakitkan… “ atau
“ Kamu tuh bisanya ngrepotin mama saja… makanya denger omongan mama…” dan lain sebagainya.

Belum lagi ditambah dengan gerakan fisik seperti menarik anak dengan paksa, menjewer, memukul.

Sebagai orangtua memang sedang diuji kesabarannya. Anak yang sering bermain kotor-kotor, menumpahkan makanan atau minumannya, suka memukul apa saja sejatinya sedang belajar melalui tindakan. Tetapi sebagian orangtua menganggap itu sebuah kenakalan. Mereka cenderung berpikir dengan pola pikir orang dewasa bahwa tidak seharusnya baju yang baru saja ganti dibuat main kotor-kotor, tidak selayaknya makanan dan minuman ditumpahkan, tidak sepatutnya benda-benda sekitar dipukul-pukul. Orangtua seakan lupa bahwa anak-anak belum paham semua itu. Lha wong mereka sedang belajar kok. Apalagi kalau ditelusuri lebih lanjut bahwa kalimat larangan itu adalah untuk menghentikan anak beraktifitas yang ujung-ujungnya membuat rumah berantakan. Kalau sudah begitu siapa lagi yang harus repot membersihkan rumah? Tentu saja orangtuanya. Nah daripada bersusah payah kerepotan membersihkan rumah, sebagian orangtua memilih untuk menghentikan anak sebelum melakukan tindakan-tindakan tersebut. Apa yang terjadi? Justru anak tidak akan belajar banyak hal. Lebih parah dari itu anak enggan untuk mencoba hal-hal baru karena takut dimarahi.

2. Serba boleh.

Kebalikan dari tipe nomor satu di atas, tipe orangtua ini serba boleh. Anak mau melakukan apa saja dipersilahkan. Tidak ada kendali dari orangtua terhadap si anak. Atau kalau boleh dibilang tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua yang cuek. Tidak hanya bermain yang aman, bermain yang berbahaya pun dibiarkan saja. Dalam pikiran mereka biarlah anak belajar dengan merasakan sendiri. Maka tak jarang anak terlukapun tidak segera ditolong, bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan empati. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka anak tidak tahu apakah yang dilakukan benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Jangan heran jika sudah besar anak yang dididik oleh orangtua yang cuek akan menjadi anak yang tidak tahu adab kesopanan bahkan yang lebih parah bisa menjadi seorang kriminal.

3. Tipe pertengahan.

Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja karena paham bahwa itulah cara anak untuk belajar. Tetapi anak tetap dalam pengawasan orangtua. Sekiranya anak melakukan hal-hal yang berbahaya baik bagi dirinya sendiri atau oranglain maka saatnya orangtua memberitahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Selama hal tersebut baik untuk perkembangan anak baik fisik maupun non fisik maka orangtua memberikan kebebasan dan pendampingan. Orangtua tidak merasa repot jika akhirnya harus membereskan rumah yang berantakan. Orangtua sadar bahwa ini adalah kewajiban sebagai orangtua dan inilah salah satu bentuk kesiapan menjadi orangtua. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan tipe ini insya Allah akan menjadi anak yang cerdas dan pintar. Anak akan menjadi kebanggaan dan teladan bagi teman-temannya.

Nah tipe mana yang anda pilih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s