Kembaliannya kok PERMEN sih?

Kemarin sore saya membeli barang di sebuah toko seharga Rp. 43.200,-. Saya membayar dengan uang Rp.50.000,-. Seharusnya kembaliannya adalah Rp. 6.800,- tetapi saya menerima 1 lembar limaribuan, 1 lembar seribuan, 1 keping limaratusan, 1 keping duaratusan dan sebuah permen. Tetapi untungnya saya punya 1 keping duaratusan sehingga saya tidak jadi menerima permen tersebut, karena kembaliannya jadi pas Rp.7000,-. Tetapi di lain waktu sebelumnya saya akhirnya terpaksa harus menerima kembalian berupa permen tersebut. Yup kembalian dengan sebuah permen. Bukan sekali ini saja saya menjumpai kondisi seperti itu di toko yang sama. Dan juga bukan sekali ini saja saya menjumpai hal ini terjadi, tetapi juga di toko-toko yang lain. Kembalian dengan permen. Entah apa alasannya, mungkin karena tidak punya receh. Tetapi apapun alasannya seharusnya sebuah toko tidak selayaknya memberikan kembalian dengan permen.

Gampangnya saja permen bukanlah alat tukar yang bisa digunakan untuk membeli kembali. Coba misalkan kita membeli barang seharga Rp.5.200,- dan kita membayar dengan selembar limaribuan dan dua buah permen, kira-kira apakah tokonya mau menerima? Saya yakin 93% tidak mau menerima. Lah kalau tidak mau menerima mengapa memberikan kembalian berupa permen? Di sisi ini saya memandang ada ketidakadilan dan pemaksaan sepihak. Konsumen dipaksa menerima kembalian berupa permen tetapi permen itu tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Seharusnya jika memang memberikan kembalian berupa permen maka ketika permen itu digunakan untuk membeli lagi di toko tersebut juga masih berlaku sehingga konsumen tidak dirugikan. Mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal demikian, tetapi dari sekian banyak pembeli pastinya ada yang tidak sreg dengan cara seperti ini. Apalagi permen belum tentu dibutuhkan oleh konsumen yang bersangkutan. Belum lagi kalau uang yang diganti permen sekitar Rp.300- Rp.400. Kan itu bisa digunakan untuk menggenapi pembelian di tempat lain.

Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah status kehalalan uang yang senilai 100 – 400 tadi. Bisa saja kasirnya bilang “yang 200 permen ya..” tetapi apakah hal itu lantas membuat konsumen pasti rela dan ikhlas? Apakah tidak terpikirkan bahwa kemungkinan konsumen itu menerima karena terpaksa dan ada rasa tidak ikhlas. Bukankah kalau sudah begini sama saja dengan perampokan terselubung, pencurian tidak kentara.

Seharusnya setiap toko menyediakan uang dalam pecahan berapapun sehingga setiap konsumen mendapatkan kembaliannya berupa uang yang mana bisa digunakan untuk membeli di tempat lain. Atau kalau terpaksanya buatlah sebuah kupon kembalian dan kupon itu bisa digunakan lagi untuk membeli di toko yang sama di lain waktu. Sehingga tidak sedikitpun konsumen dipaksa untuk menerima kembalian yang tidak dibutuhkan dan tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Dan bagi kita yang memiliki toko atau usaha dagang lainnya mari kita sediakan uang recehan dan kita tunaikan hak pembeli termasuk memberikan kembalian berupa uang bukan permen.

One thought on “Kembaliannya kok PERMEN sih?

  1. Pingback: (sengaja) Kembaliannya permen lagi ? | satukataku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s