Orang tua macam apa yang mendidik anaknya seperti ini?

Teringat sebuah kejadian di pagi hari. Tatkala sedang berjalan-jalan dengan si kecil di open space kompleks perumahan. Seorang gadis usia SMP dengan agak terburu-buru berpamitan kepada bapaknya. Cium tangan lalu si anak cium pipi kanan dan kiri bapaknya. Lengkap dua-duanya tidak hanya sebelah saja. Si bapak cukup diam saja. Setelah itu si gadis melajukan motornya. (Anak SMP sekarang ke sekolah sudah naik motor. Meski dilarang parkir di sekolah, tak kurang akal rumah warga dekat sekolah pun menjadi lahan parkir. Simbiosis mutualisme. Siswa butuh praktisnya, si empunya rumah butuh duitnya. Klop tiada keterpaksaan). Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, mencoba melakukan suatu penerawangan tentang kehidupan keluarga mereka. Jaman sekarang tidak melihat anak bersikap cuek kepada orangtuanya saja sudah lumayan bagus. Lha ini malah menunjukkan suatu sikap yang menurut saya sangat langka dan bagi saya pribadi pengen anakku kelak bisa seperti itu. Sebuah penghormatan sekaligus tanda sayang seorang anak kepada bapaknya (lebih luas kepada kedua orangtuanya). Memang saya akui bahwa kehidupan keluarga beliau terbilang religius. Mungkinkah ada pengaruh rumah tangga yang religius terhadap perilaku anak?

Di kompleks perumahan yang sama dengan contoh yang berbeda. Ada satu keluarga dimana sang bapak rajin ke masjid, kemudian anak-anak laki-lakinya pun juga demikian. Tiga atau empat anaknya jika pas berada di rumah (tidak bepergian) pasti ikut berjamaahn di masjid. Sebuah kesalutan tersendiri ketika melihat sebuah keluarga yang anggota laki-lakinya rajin ke masjid. Tidak sampai di situ saja kekaguman saya. Setiap anak selesai berdoa kemudian akan meninggalkan masjid maka tak lupa mendekati sang bapak kemudian meminta bersalaman dan mencium tangan bapaknya. Perlu dicatat bahwa ini dilakukan oleh anak-anak laki-laki sang bapak yang sedang beranjak remaja ( yang besar SMA, yang kedua dan ketiga masih SMP dan adiknya perempuan yang paling bontot masih sekitar 4 tahun) . Jaman sekarang mana umum anak laki-laki usia remaja bisa menghormati orangtuanya sedemikian rupa. Yang sering dijumpai adalah anak-anak remaja yang menganggap bapaknya seperti teman asing. Bicara jika hanya perlu dan seringnya meminta sesuatu yang kalau tidak dituruti berujung ngambek. Masih mending ngambek, yang lain malah minggat dari rumah. Kembali saya mencoba menerawang seperti apa sih pola asuh kedua orangtuanya? Saya pun perlu menyampaikan juga bahwa keluarga mereka termasuk yang religius. Sholat berjamaah rutin, ada pengajian selalu ikut. Semakin bertanya-tanya, mungkinkah ada kaitannya antara keluarga yang religius dengan perilaku anak?

Terlalu dini jika menyimpulkan bahwa keluarga yang religius-lah yang bisa menghasilkan anak-anak seperti yang saya sampaikan di atas. Butuh penelitian lebih lanjut. Tapi mohon ijinkan saya membuat hipotesis sebelum penelitian secara intensif itu diadakan. Bagaimanapun dari apa yang saya alami bahwa kondisi keluarga yang religius akan berpengaruh positif terhadap perilaku si anak. Ketika orangtua begitu dekat dengan Tuhannya maka setiap doa yang mengalir untuk anak-anaknya adalah doa yang mustajab. Ketika orangtua memohon kebaikan bagi keluarga maka Allah pun berkenan mengabulkannya. Memang faktor yang lain pun berperan. Latar belakang keluarga orangtua, tingkat pendidikan dan lain-lain juga memiliki peran yang penting. Tetapi saya dalam kasus ini lebih melihat kepada tingkat religiusitas keluarga terhadap perilaku anak. Dan hipotesis saya seperi yang saya sampaikan di awal paragraf ini.

Jika tolok ukurnya adalah religiusitas sebagai salah satu bagian dari cara pola asuh anak yang efektif, maka tak ada alasan lagi untuk bagaimana kita sebagai orangtua mulai membiasakan hidup penuh dengan nuansa religi. Kedekatan dengan Allah akan membentuk semacam sandaran yang kokoh serta memberi harapan nan nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa mendidik anak butuh kesabaran, butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Dan kita sebagai manusia tak jarang merasa kewalahan berhadapan dengan kesabaran, merasa pengorbanannya tidak dihiraukan dan perjuangannya dilupakan. Di saat itulah kita butuh sandaran yang kuat, butuh untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya dengan dekat dengan Allah-lah kita merasa kuat, tidak merasa sia-sia karena ada Allah yang senantiasa membimbing hidup kita. Selalu ada semangat bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Ada perhitungan superduper teliti yang akan mencatatnya. Yup hanya dengan dekat Allah-lah kita akan menjadi manusia yang siap dan semangat dalam menjalani hidup. Mari kita mulai menanamkan bibit-bibit religiusitas dalam kehidupan keluarga kita.

Anak adalah aset. Salah dalam mengelola aset ini maka hidup kita akan merugi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s