Film Kartun (tapi) Bukan Film Anak-Anak

Beberapa waktu yang lalu heboh di dunia maya mengenai isu bahwa KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia) akan menghentikan beberapa film kartun. Diantaranya Tom&Jerry, Spongebob, Khrisna dan beberapa lainnya. Muncul pro dan kontra di sana-sini. Tetapi sejauh yang saya dapatkan informasinya ternyata lebih banyak yang kontra. Hujan hujatan pun dilayangkan kepada KPI sebagai pemegang otoritas penyiaran di Indonesia. Mereka menganggap bahwa film kartun sebagai tontonan anak-anak sehingga kalau penayangan dihentikan maka anak-anak akan kehilangan tontonan. Lalu mereka membandingkan dengan sinetron-sinetron yang jauh lebih tidak mendidik seperti GGS (ganteng-ganteng serigala), FTV-FTV dan sejenisnya. Kenapa tayangan sinetron justru aman-aman saja dan tidak terkena ancaman, sementara film-film kartun yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai film anak-anak justru dihentikan.

Sebelum berbicara lebih jauh sebaiknya perlu kita pahami terlebih dahulu apa itu film kartun. Film kartun pada dasarnya merupakan media berupa gambar bergerak yang digunakan untuk menceritakan sesuatu. Ketika orang-orang sudah bosan dengan gambar berupa manusia asli maka digunakanlah gambar bergerak yang kita kenal dengan kartun (cartoon) termasuk dalam perkembangannya adalah animasi. Jadi film kartun merupakan sebuah media dalam penggambaran sebuah film. Nah karena berupa media maka sifatnya netral, sehingga dalam menilai sebuah film kartun kita harus melihat kontennya terlebih dahulu.

Dalam kaitan dengan pembahasan kita maka tidak bisa kita katakan bahwa asal itu berupa film kartun maka pasti film anak-anak. Karena ternyata banyak film kartun yang kontennya bukan untuk konsumsi anak-anak. Hal ini dapat dipahami bahwa film kartun dibuat karena orang ingin sesuatu yang berbeda, sebuah cerita dengan tokoh bukan manusia. Lalu bagaimanakah film kartun disebut sebagai film anak-anak?

Kembali kepada asal mula film kartun, maka film kartun dikatakan menjadi konsumsi anak-anak atau dikatakan film anak-anak bila memenuhi syarat yaitu kontennya (baik jalan cerita maupun penggambaran tokohnya) mengandung pendidikan yang baik bagi anak-anak. Dengan demikian tentu saja adegan kekerasan (sebagaimana dalam Tom&Jerry, Khrisna, Spongebob) bukanlah konsumsi anak-anak. Bahkan ketika ada pendampingan sekalipun. Secara psikologis anak-anak akan lebih meniru apa yang dilihatnya ketimbang apa yang dikatakan kepadanya. Dari sini bisa kita katakan bahwa sebenarnya film tersebut bukanlah film bagi anak-anak meskipun menggunakan media berupa film kartun.

Lalu bagaimana halnya dengan sinetron yang selama ini digunakan sebagai pembanding? Kenapa film kartun dihentikan sementara sinetron yang jauh lebih tidak mendidik dibiarkan saja? Sebenarnya simple saja. Film kartun selama ini dipersepsikansebagai film anak-anak sehingga perlu pemantauan yang ketat terkait konten. Sementara sinetron, pangsa pasarnya orang-orang dewasa yang sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi tindakan KPI ini dinilai tepat jika kita melihat dari dampaknya. Dampak film terhadap anak-anak lebih besar daripada dampak terhadap orang dewasa.

Kemudian memang yang namanya dampak negatif seberapa besarnya tetap harus kita hindari. Artinya dari segi ini, sinetron yang tidak jelas itupun perlu dihentikan penayangannya. Untuk itu silakan saja layangkan protes atau keberatan atas penayangan suatu acara di televisi ke KPI. Dan marilah kita senantiasa menanggapi setiap situasi dengan kepala dingin, tidak perlu terpancing emosi.

One thought on “Film Kartun (tapi) Bukan Film Anak-Anak

  1. benar itu,animasi bukan hanya untuk anak tpi jg buat remaja smpai dewasa menurut tingkatan umurnya..di indonesia hmpir smua orng(khususnya orang dewasa) lbih menyukai sinetron yg padahal hal itu yg bsa mersak pikiran orng lain.film animasi itu scara grs besar berpesa positif n tak terduga yg dimnculkan di tiap alur critanya,sdang sinetron scara tdk lngsng memiliki sisi negatif,scara umum sinetron bercerikan tntang perebutan harta benda keluarga,di mana tiap crita psti ada yg mengesan negatif seperti adegan rencana jahat oleh karakter antagonis maupun protagonis dlm mencapai kebenaran sendiri….jdi film animasi tu tdk merusak pikiran orang lain,dan kta hrs merubah pla fikir kita agar tdk branggapan klo animasi itu hnya tontonan anak”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s