Hebohnya kasus mantan datang di pernikahan…

Baru-baru ini sedang heboh-hebohnya berita tentang kasih tak sampai ke pelaminan. Singkat cerita di Rais menikah dengan seorang wanita dan pada pesta perkawinannya datanglah si mantan Rain bernama Risna. Tak diduga saat menyalami pengantin pria, Risna yang notabene adalah mantan pacar ( 7 tahun pacaran bro n sist… ngapain aja tuh 7 tahun pacaran…) tiba-tiba didekap oleh si Rais. Dan konon katanya menghadirkan haru bagi bagi pengantin maupun yang hadir. Rais, Risna dan pengantin wanita menitikkan air mata. Entah apakah bagi pengantin wanita juga merasakan keharuan atau justru kecewa. Ternyata si suami masih memiliki perasaan kepada mantannya. Usut punya usut ternyata si Rais pernah melamar Risna namun ditolak oleh keluarganya.

Apa sih yang membuat heboh atau haru? Saya rasa lebih kepada kasih tak sampai sebagaimana kisah di sinetron-sinetron dan si wanita sebagai korban kasih tak sampai dengan besar hati mau datang ke pernikahan mantannya. Tapi apakah sebegitu mengharukannya? Saya agaknya lebih tertarik melihat dari sisi yang berbeda. Ada ketidakpatutan di sana, ada perasaan yang terkorbankan dan tidak semestinya hal tersebut menjadikan sumber keharuan, justru kita harus merasa miris.

Pacaran selama 7 tahun. Hmmm waktu yang tidak sebentar untuk dihambur-hamburkan demi sebuah status pacaran. Entah bagaimana mereka menjalaninya, apakah sekedar status saja atau seperti remaja-remaja sekarang? Yang pasti cukup lama bro n sist… Ketika hati sekian lama tertambat dan tak pernah terpikirkan beralih ke lain hati (secara otomatis tidak punya gambaran pilihan lain) namun pada akhirnya tiada dapat bersanding.. Sakitnya tuh di sini… (sambil nunjuk kepala..) Padahal dikatakan pula bahwa si laki-laki sudah berusaha melamar si gadis tetapi ditolak. So bisa kita katakan bahwa hubungan mereka selama ini tidak direstui oleh orangtua si gadis atau setidaknya orangtua belum ridho jika si gadis menikah dengan laki-laki tersebut. Saya lebih melihat kepada ‘orangtua belum ridho’ sebagai alasan logis kasih tak sampai. Jika sudah begitu seharusnya ‘ridho orangtua’ menjadi hal yang wajib kita dapatkan ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang ( sebagai teman ). Terlebih lagi jika teman tersebut hendak dijadikan sebagai pendamping hidup. Tidak usahlah sebagai anak, kita merasa sok tahu apa yang kita inginkan, jangan pulalah menilai orangtua kolot dan sebagainya. Saya percaya bahwa feeling orangtua itu tajam, setajam silet… Ketika orangtua bilang ‘tidak’ maka mereka sudah mendapat feeling bahwa teman kita itu tidak akan bisa membawa kita dengan baik. Tetapi tenang saja hal ini tidak berlaku paten, mungkin saat ini orangtua belum ridho karena sesuatu hal, tetapi ketika sesuatu itu telah dimiliki, orang tua menjadi ridho. Tapi yang paling penting kantongi ‘ridho orangtua’ dan insya Allah berkah.

Kisah ini sekaligus memberi pelajaran bagi kita bahwa pacaran yang lama tidak menjamin akan bahagia dalam pernikahan, apalagi kasih tak sampai. Kalau sudah begitu sia-sialah waktu selama itu hanya digunakan untuk pacaran dengan segala hak dan kewajiban ‘bodoh’ nya itu. Kenapa tidak berteman saja tanpa embel-embel apa-apa. Setidaknya tidak ada investasi hati yang besar di sana. Masih fifty-fifty lah. Kalau jodoh ya syukur kalaupun enggak ya nothing to lose. Memang sih kita sebagai manusia punya fitrah meyukai lawan jenis dan melebihkannya dari sekedar teman, tetapi ketika kita mencintai seseorang janganlah gunakan sepenuh hati. Sisakan sebagian untuk merasakan kecewa jika cinta tak berbalas. Dan juga menyiapkan sebagian tersebut untuk menerima hati yang lain. Siapa tahu justru hati yang lain itu kunci yang bisa membuka hati kita. Kita mungkin sudah tahu bahwa gembok bisa dimasuki beberapa kunci yang sejenis, tetapi hanya satu yang bisa membukanya. Mungkin selama ini teman-teman yang pernah singgah merupakan kunci yang sejenis tersebut tetapi ternyata kunci yang bisa membuka gembok justru adalah orang lain. So daripada capek-capek pacaran mending bebaskan hati, serahkan pada Yang Maha Kuasa. Tidak punya pacar itu sebuah kebanggan bagi orang-orang yang bisa menjaga diri. Justru ketika suami atau istri adalah pacar pertama dan terakhir maka rasanya akan indah banget..You’re the only one, now and forever.

Yang selanjutnya saya merasa miris dengan adegan pelukan tersebut. Apa coba gunanya? Bukankah orang akan menjadi bertanya-tanya? Setelah tahu seluk beluknya apakah itu bukan berarti aib? Bagaimana perasaan pengantin wanitanya? Ketika suaminya ternyata masih menyimpan perasaan kepada gadis lain. Lebih dari itu si pengantin wanita merasa dia hanyalah sebagai pelarian, ketika yang dilamar menolak maka dia dijadikan penggantinya. Tetapi meskipun statusnya sebagai istri si alki-laki tetapi seberapa besar cinta yang tersisa untuknya? Ketika si laki-laki masih memiliki hati untuk si gadis. Dalam kondisi seperti ini memang sebaiknya mantan tidak perlu menunjukkan bahwa pernah ada apa-apa antara mereka berdua. Sewajarnya tamu biasa saja, sudah kubur saja masa lalu berdua. Toh tidak akan membuat segalanya lebih baik ketika hal tersebut masih diungkit-ungkit. Justru akan memperburuk keadaan yang ada. Kecuali kalau memang niatnya membuat buruk keadaan pernikahan sang mantan. Membuat si mantan merasa bersalah meninggalkan dirinya seorang diri dan mencoba berbahagia dengan orang lain.

Kalau saya sih mending tidak usah pacaran. Tunggu saja sampai waktunya. Kalau serius ya lamar saja (untuk laki-laki) , kalau sudah yakin ya terima lamarannya (untuk perempuan). Ngapain juga pacaran, manfaat minimalis (mendekati 0 -(nol)- ), maksiat maksimalis.

2 thoughts on “Hebohnya kasus mantan datang di pernikahan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s