(Mau) Menikah Itu Banyak Tantangannya

Telah banyak obrolan saya dengan beberapa teman mengenai menikah. Yah apa saja seputar pernikahan lah. Terutama peristiwa-peristiwa sebelum akad itu terjadi. Nyambung dengan judul di atas bahwa menikah itu memang banyak tantangannya. Lajang, bagaimanapun suatu saat akan menjadi status yang membuat dilema bagi sebagian kita. Ketika usia tak lagi muda, ketika kepala tiga itu hanya sejarak satu kali musim atau malah kepala tiga sudah lewat beberapa pergantian musim hujan yang lalu. Pada masa ini menurut, pembicaraan saya dan teman saya, adalah usia yang kritis. Usia yang menentukan tindakan selanjutnya. Jika pada usia yang menentukan tadi datang sang belahan jiwa, pujaan hati maka pernikahan itu menjadi sesuatu yang indah. Ketika kebutuhan itu mendapat penyaluran yang halal lagi tepat waktu. Namun jika dalam masa menentukan tersebut, gambaran tentang pernikahan itu terlewat, biasanya baru akan terealisasi beberapa tahun kemudian.

Ketika seseorang menginjak kepala tiga (usia tak lagi muda) maka semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang menggelayut. Merasa belum mapan, merasa minder takut tidak ada yang mau, terlalu pemilih, ingin yang sempurna. Terlalu banyak referensi yang sudah disaksikan dari pernikahan teman-temannya. Akhirnya muncul ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan tidak berani mengambil resiko (atau saya lebih suka bilang ‘tantangan’). Padahal kondisinya sebagaimana dikatakan dalam iklan “ kalau bukan sekarang kapan lagi? “.

Bagi kita yang telah menikah pasti setuju bahwa proses menuju pernikahan itu panjang dan berliku. Setidaknya yang berkaitan dengan tradisi dan pengurusan surat-surat. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini akan kita coba gali tantangan-tantangan dalam setiap tahap menuju pernikahan.

  1. Memilih calon

Saya yakin pada tahap inilah biasanya memakan energi paling besar. Bisa berupa waktu yang lama atau pemikiran yang serius nan panjang dalam memutuskan. Memang tidak mudah memilih calon, apalagi kalau posisi tawar kita sangat strategis. Bisa dibilang termasuk dalam kategori orang-orang yang ‘ siapa sih yang bisa menolak? ’. Kalau sudah begini perlu pemikiran serius kepada siapa hati kan dilabuhkan. Posisi strategis di satu sisi member poin tambahan tersendiri. Tetapi di sisi lain menjadi semacam beban. Ketika kita sudah menentukan satu nama, kemudian timbul bisikan ‘jangan-jangan ada yang lebih baik’.

Memilih calon memang tidak boleh sembarangan. Bibit, bobot dan bebetnya perlu dipertimbangkan. Hal ini senada dengan tuntunan Rasulullah SAW bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Dan ditekankan untuk lebih memberi porsi lebih kepada agamanya. Artinya lihat dulu lah agamanya. Kalau bagus ya jangan ditolak. Tapi sebagai manusia pasti ada pertimbangan yang lain. Itu wajar saja selama tidak menafikan faktor utama yaitu agamanya. Kalau ada dua orang yang agamanya setimbang, tetapi satu berparas arjuna dan satu berwajah kurawa maka tidak salah kan jika dipilih yang berparas arjuna. Itu manusiawi. Tetapi yang terjadi kebanyakan adalah lihat dulu fisiknya, agama nomer dua. Alasannya kalau agama kan bisa dipelajari, tetapi cantik atau tampan kan sudah bawaan lahir. Kalau yang begini ini saya tidak bisa komentar lebih.

  1. Mendapat Restu Orangtua

Calon sudah terpilih, 50% + 1 hati condong kepada satu nama, secara hukum telah memenuhi kuorum dan meyakinkan. Tidak bisa diganggu gugat meski dilaporkan ke MK. Tetapi itu baru melewati satu tantangan awal. Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan si calon kepada orangtua atau wali. Tujuannya jelas yaitu untuk mendapat restu dari orang tua. Jangan sampai menikah tidak dengan restu orang tua. Dijamin hidup takkan bahagia. Memang sekarang agaknya orangtua sudah memasrahkan sepenuhnya pilihan kepada si anak karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. Tetapi hal ini tidak menafikan bahwa restu orangtua itu penting. Kita perlu tahu bahwa orangtua memiliki feeling yang kuat terhadap seseorang yang ingin menjadi pendamping kita. Entah kekuatan darimana tetapi feeling itu sebagian besranya tepat nan jitu. Ketika orangtua tidak setuju maka mantaplah untuk mundur. Tak perlu lagi basa basi. Cari yang lain dan ajukan kembali. Lalu gimana masalah cinta? Biarkan Cinta pergi bersama Rangga. Toh cinta dapat ditemukan lagi. Kalau restu orangtua? Selama orangtua tidak merestui maka selama itu pula kehidupan rumah tangga jauh dari bahagia. Lalu dimana peranan cinta? Cinta tak berperan apa-apa, justru Cinta diperankan oleh Dian Satro Wardoyo. Intinya restu orangtua menjadi pertimbangan utama.

  1. Menjalani tradisi

Kita hidup dalam masyarakat yang tak lepas dari tradisi. Tradisi memang bukan hal wajib yang mana tanpa ikut tradisipun pernikahan kita bisa sah. Tetapi sekali lagi kita bhidup dalam masyarakat, kalau tidak ikut tradisi maka kita tidak dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Apa salahnya kita ikut tradisi asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama kita. Dalam tradisi Jawa misalnya, pembicaraan baru dianggap serius manakala keluarga pria datang kepada keluarga wanita. Kemudian dilanjutkan lamaran dan penentuan tanggal. Tapi di adat lain, justru pihak wanita yang mendatangi keluarga pria. Atau seperti di Makassar ada istilah uang pannai’ yaitu sejumlah uang yang dietentukan oleh pihak wanita sebagai syarat diterimanya sebuah lamaran. Dan masih banyak tradisi-tradisi yang lain. Nah ikuti saja tradisi-tradisi tersebut. Insya Allah akan lebih mempermudah prosesnya. Jangan sampai karena pengen cepetnya, begitu datang ke rumah si wanita langsung minta diakadkan. Yang ada malah menjadikan fitnah dan kecurigaan keluarga dan masyarakat. Jadi menikah itu kudu sabar menjalani prosesnya.

  1. Mengurus surat-surat

Yang tidak kalah penting dan menguras energi adalah mengurus surat-surat. Belum lagi kalau antar daerah, antar provinsi atau antar pulau. Dan semua itu harus diurus sebelum akad. Untuk itu silakan tanya ke KUA terdekat apa syarat-syaratnya dan bagaimana prosedurnya. Jangan malu datang ke KUA karena petugasnya gak malu-maluin kok. Lagian juga gak bakal ditanya perlunya apa. Karena hampir semua yang datang ke KUA pasti mengurus pernikahan. Mungkin karena tahunya KUA hanya untuk urusan pernikahan. Padahal banyak kok fungsi KUA selain mengurus pernikahan. Silakan tanya ke KUA saja.

  1. Tantangan malam pertama

Nah selamat bagi teman-teman yang akan melalui tantangan ini. Artinya sudah lolos tahap-tahap sebelumnya. Tapi jangan senang dulu, tantangan dalam berumahtangga baru saja akan dimulai. Yup malam pertama menjadi malam dimulainya kehidupan rumah tangga. Jadi persiapkan diri menghadapi malam tersebut. Jalani dengan ikhlas dan senang hati. Walau kata orang malam pertama adalah malam yang paling indah, tapi jangan lewatkan malam pertama hanya dengan melihat bintang melalui jendela takut momen indah itu terlewat. Yang perlu jadi perhatian adalah jangan sampai prosesi resepsi menguras energi sehingga malamnya justru tepar alias terkapar di atas ranjang, berdua dalam balutan baju pengantin. Keesokan harinya baru ingat kalau baju pengantin masih melekat. Sudah ditunggui pihak salon di depan pintu. Jadi banyak olahraga seminggu sebelum acara sehingga badan akan fit sepanjang hari.

Setelah malam pertama maka tantangan-tantangan itu akan muncul setiap hari. Mulai dari penyesuaian diri dengan kehidupan baru, penyesuaian diri dengan pasangan, mertua, masyarakat. Belum kalau sudah punya anak maka tantangan-tantangan itu akan semakin banyak. Tetapi jangan khawatir, insya Allah kita akan mampu menghadapinya. Sennatiasa belajar dari para professional dan senior-senior kita. #Okesip! Persiapkan dirimu hadapi tantangan !!!

Yang cantik-cantik selalu bikin heboh. Lebay gak sih?

Setiap berita yang memuat kosakata ‘wanita cantik’ selalu menjadi viral di dunia maya. Sumber beritanya langsung menyebar di mana-mana. Bahkan tak jarang kita membaca hal yang sama dari sumber yang berbeda-beda. Tengok saja judul semacam “ wanita cantik ini menjadi tukang tambal ban “ atau “ penjaja camilan yang cantik “ atau “ wanita cantik ini berprofesi sebagai pemulung” pasti akan menjadi trending topic meskipun untuk tempo yang tidak lama. Dalam kasus ini saya lebih melihat bahwa sebagian kita penasaran. Masak sih cantik-canti jadi tukang tambal ban? Masak sih cantik-cantik cuma jadi penjaja camilan? Masak sih pemulung kok cantik?

Nah dari dasar berpikir inilah saya ingin berkomentar. Kayaknya bagi sebagian kita masih sulit memahami ketika ada wanita cantik menjalani profesi yang bagi sebagian kita termasuk dalam kasta nomor dua. Atau dengan kata lain awalnya kita membuat kalimat yang menyatakan keraguan “ Ah gak mungkin wanita cantik mau jadi tukang tambal ban atau penjaja camilan atau pemulung…“ Tapi persepsi seperti itu LEBAY gak sih?

Bukankah setiap kita berhak punya pekerjaan tanpa harus dikaitkan dengan wujud fisik kita. Yang namanya fisik kan sudah pemberian Yang Maha Kuasa dari sononya. Lantas apakah hal tersebut menjadikan seseorang pantas dan tidak pantas menjalani sebuah pekerjaan tertentu. Apakah yang cantik tidak boleh menjadi tukang tambal ban atau pemulung? Kok seakan kita justru mengatakan bahwa tukang tambal ban atau pemulung itu pekerjaan orang-orang berfisik jelek, yang cantik gak pantas. Lalu ketika kenyataan memang demikian, yang cantik dengan pekerjaan tidak cantik maka akan timbul simpati, dorongan dan penyemangat. Bukankah itu artinya diskriminasi bagi yang tidak berfisik cantik nan rupawan. Kenapa mereka tidak mendapat simpati dan penyemangat juga.

Setiap pekerjaan halal adalah mulia sehingga siapapun boleh mengerjakannya, baik cantik maupun tidak. Tidak perlulah kita memperlakukan spesial apalagi hanya karena si wajah cantik. Jika demikian adanya berarti kita memperlakukan secara spesial seseorang yang sudah spesial dengan diberi fisik yang menarik.Lagipula tidak semua yang cantik beruntung mendapat pekerjaan sesuai menurut keadaan fisiknya. Jangan sampai gara-gara komentar yang menyayangkan akhirnya dia merasa tidak cocok dan tidak totalitas. Atau mungkin sebagian kita lebih menyukai wanita cantik yang nganggur saja daripada kerja tetapi pekerjaan kasta dua. Hmmm… entahlah.

Dunia Motor : Laki-laki itupun berubah menjadi Bebek

Sudah hampir tiga bulan ini saya sudah tidak bersamanya. Dia sudah pergi dijemput sepasukan prajurit Soekarno-Hatta yang berjumlah 75 orang itu. Kini sebagai penggantinya saya telah dipersuntingkan dengan yang lain. Laki-laki itupun berubah menjadi bebek. Ngomongin apa sih?

Ini tulisan sebenarnya mau memberitahu bahwa saya tidak lagi mengendarai motor Laki-laki dan berganti dengan motor Bebek. Makanya judulnya dibuat sedemikian sehingga agak dramatis, menurut saya. Mega Pro tahun 2005 yang sudah setahun membersamai saya akhirnya dilepas seharga Rp.7.500.000,- pada suatu malam di saat yang tak terduga. Kemudian berganti dengan bebek Supra X 100 cc. Memang ada bedanya sih, sangat terasa. Yang sebelumnya 160 cc disunat menjadi 100 cc. Kalau dulu berkendara dengan pelan adalah pilihan maka sekarang adalah kewajiban. Kalau dulu pengen ngebut tinggal tarik gas pol, sekarang harus lebih sabar. Mau gas pol si bebek meronta, dibawa pelan kadang menguji emosi apalagi kalau telat berangkat.

Tapi tak perlu disesali lha wong nyatanya memang tidak menyesal. Ambil hikmahnya saja bahwa dengan kendaraan yang bisanya pelan, mau dipaksa seperti apapun juga tetap pelan, membawa keuntungan bahwa kita bisa lebih aman berkendara. Tidak ada acara kebut-kebutan di jalan, selain gak aman juga nyali sudah tidak sebesar dulu. Sekarang sudah mikir-mikir. Lebih mengutamakan selamat karena ada yang menunggu di rumah.

Mengendarai motor bebek memberi keuntungan terutama bagi orang-orang seperti saya yang memiliki balita. Betapa repotnya jika menggendong sambil mengendarai motor seperti pernah saya alami dengan mega pro. Tangan kanan pegang gas, tangan kiri siaga dengan kopling. Kadang ada rasa tidak nyaman terkait keamanan si kecil. Dengan motor bebek maka tangan kiri leluasa pegang si kecil sementara tangan kanan pegang gas. Jalan pelan-pelan tetap oke karena tidak perlu khawatir motor mati mendadak karena tarikan gas kurang. Dan lebih nyaman membawa si kecil berkeliling kompleks karena yakin dalam pegangan kita.

Yang selanjutnya lebih gampang dalam membawa beban, semisal harus isi ulang galon di warung terdekat. Membawa pakai motor bebek ternyata membawa kemudahan tersendiri. Belum lagi jika diminta belanja maka akan lebih mudah membawa belanjaan. Dan masih banyak lagi. Jadi di satu sisi bolehlah ada sesuatu yang berkurang, tetapi di sisi lain banyak kelebihan yang dihadirkan. So syukuri yang ada saja.

(sengaja) Kembaliannya permen lagi ?

Pada tulisan sebelumnya saya pernah membahas mengenai kembalian belanja berupa permen. Nah pada tulisan kali ini ingin mempertegas lagi hal tersebut dengan temuan baru bahwa kembalian berupa permen memang disengaja.

Sore kemarin saya kembali lagi belanja di toko yang sama dengan toko di tulisan awal dulu. Sebuah toko di bilangan perempatan Ngablak, sebuah toko yang berkembang pesat dari sebuah counter HP menjadi sebuah mini market. Sore itu saya membeli 15 kotak susu sapi 125 ml seharga Rp. 32.250. Saya membayar dengan uang Rp 100.000,-. Berarti saya berhak menerima kembalian Rp. 62.750,- yang seharusnya uang semua. Mungkin karena pecahan Rp.50,- tidak ada maka saya hanya menerima Rp.62.700,- dengan perincian Rp.62.500,- berupa uang dan 2 buah permen. Kali ini saya bilang ke kasirnya “ Mbak permennya diganti uang saja… “ dan kemudian si mbaknya mengambil 2 koin receh Rp.100,-.

Ada dual hal yang menjadi poin saya.

Pertama, Kembalian yang seharusnya Rp.62.750,- disunat menjadi Rp.62.700,-. Lalu kemana uang Rp.50,- tersebut? Bukan masalah besaran yang mungkin bagi sebagian kita “ Ah cuma Rp.50,- saja diributin..” tetapi tentang kemana uang itu bermuara? Sementara tidak ada keterangan apa-apa, tulisan di layar juga tetap Rp. 62.750,-. Agak berbeda dengan salah satu swalayan besar di Yogyakarta yang mana pecahan dibawah Rp.100,- dimasukkan sebagai dana sosial dan kembalian dalam bentuk bulat ratusan. Dan itupun dikembalikan dalam bentuk uang bukan permen. Dalam hal ini saya tetap menganggap telah terjadi perampokan Rp.50,-. Bayangkan, berapa uang yang terkumpul hasil ‘perampokan’ tersebut dalam sehari jika dalam tiap transaksi berakhir Rp.50,- selalu disunat. Lalu berapa dalam sebulan, setahun, bertahun-tahun? Dan kita tidak pernah tahu untuk apa? Okelah untuk amal, tetapi jika tanpa kejelasan penyunatan tersebut tetap saja illegal. Dan apakah itu tetap halal? Wallahu a’lam.

Kedua, saya menangkap bahwa kembalian permen memang sengaja. Entah tujuannya apa, tetapi nyatanya kalau tidak diminta tidak diberikan. Dulu saya pikir karena waktu itu memang tidak ada recehan sehingga ‘terpaksa’ diebrikan permen. Tetapi pikiran positif tersebut luluh lantak lewat kejadian kemarin sore. Jelas-jelas sebelum saya ada yang membayar dengan uang recehan seratusan dua keping dan saya melihat sendiri, seharusnya saya mendapatkan kembalian bukan permen tanpa harus saya minta.

Saya hanya berharap kepada pemilik toko tersebut, semoga cara-cara mendapatkan kelebihan uang semacam ini segera ditinggalkan. Boleh jadi banyak yang dalam hatinya tidak terima, tetapi di sisi lain tidak berani mengungkapkan. Apakah sikap diam selamanya harus dimaknai setuju (dalam hal ini sikap menanggapi kedzaliman-perampokan uang)? Dan kita sebagai pembeli jangan takut untuk meminta hak kita. Permen sekali lagi bukanlah alat tukar yang sah, itu adalah sebuah bentuk pemaksaan kehendak apalagi jika kita tidak membutuhkannya. Mintalah kembalian dalam bentuk uang karena itu adalah hak kita.

Andai Kulakukan Dari Dulu

Ini sebuah kisah yang menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin dapat diambil hikmahnya bagi teman-teman pembaca sekalian. Ceritanya ada dua buah tugas kuliah dari dua mata kuliah yang berbeda namun diampu oleh dosen yang sama. Tapi masalahnya bukan karena dosennya sama, tetapi lebih kepada waktu pengumpulannya yang bersamaan. Tetapi sebenarnya bukan itu juga masalahnya, melainkan karena tugasnya cukup berbobot dan harus selesai dalam tempo 2 minggu. Tapi sebenarnya bukan pula itu permasalahannya.Lalu apa dong? Buruan gih kasih tahu… keburu kerempeng nih…

Oke oke. Jadi inti masalahnya adalah dua tugas itu harus selesai dalam satu hari. Lho katanya 2 minggu? Mana yang bener??? Bentar dulu to.. Biarkan beta menyelesaikan intronya dulu. Selesai dalam satu hari plus dalam kondisi badan yang tidak sehat. Sungguh sebuah perjuangan yang berat. Kalaulah tidak ada pertolongan-Nya pastilah tidak akan selesai. Lha tulisan ini ditulis setelah selesai mengerjakan tugas dan mengirimkannya.

Lho mana penjelasan dari 2 minggu menjadi cuma 1 hari? Jangan mencla mencle ah… kayak pemerintah aja… Sabar… jangan bawa-bawa pemerintah. Ntar diciduk baru tahu rasa. Ceritanya tugas yang dua minggu itu, karena melihat dua minggu itu lumayan lama kan ya.. seharusnya tak perlu sampai berpeluh-peluh kan ya, tapi ternyata membuat diri ini terlena. Ah besok besok saja.. itu adalah bisikan jahat yang merasuk ke dalam pikiranku. Dan payahnya aku terjerat bisikan itu. Kalimat itu seakan berulang ketika aku hendak mengerjakan. Walhasil tinggal 3 hari lagi dikumpulkan aku belum juga mengerjakan. Dalam pada itu datanglah sesuatu yang tak pernah aku perhitungkan sebelumnya. Sakit. Yang membuatku demam selama 2 malam, sementara siang tak cukup berdaya untuk berpikir yang berat. Terasa sekali seakan pipi ini ditampar, tapi bukan oleh bidadari. Sehingga sakitnya tuh disini (nunjuk hidung..). Walhasil waktu sehari harus selesai, mau tidak mau, bisa tidak bisa harus selesai. harus.. harus.. harus..

Qadarullah dengan pertolongan Allah SWT tugas itupun selesai. Berakhir dengan dikirimkannya tugas-tugas tersebut di bawah pohon ketapang, dihiasi lampu taman, tapi saya menggelandang di tepi jalan, memanfaatkan wifi gratisan yang oleh sang pemiliknya sudah diikhlaskan . Alhamdulillah bersyukur bahwa episode sakit datangnya tepat waktu. Artinya sakit sudah menjelang sehat sehingga masih punya waktu untuk menyelesaikan tugas.

Benar-benar menjadikan sebuah pelajaran bagi saya. Bahwa sikap menunda-nunda itu tidak baik akibatnya. Mungkin saya terlupa pernah menulis seperti ini sehingga perlu diberi tamparan agar ingat kembali. Teringat nasehat Umar ra “ Jangan kau tunggu sampai sore apa yang bisa kau kerjakan pagi hari, jangan kau tunggu esok apa yang bisa kau kerjakan hari ini.” Sebuah nasehat yang jaaaauuuuh sudah disampaikan beberapa generasi sebelum kita dan itu masih sangat relevan bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Waktu bagaikan sebuah pedang, siapa yang tidak pandai memanfaatkannya maka akan terbunuh oleh pedang tersebut. Mungkin seperti puisi penjahat berdasi. Mati tercekik dasinya sendiri.

Dan akhirnya saya menemukan sebuah formula yang lebih hebat dari sekedar resep krepi patty yaitu “jika waktumu ada, kesehatanmu terjaga, jangan tunggu sampai lusa, segeralah bekerja”. Dan semoga ini terakhir kalinya saya merasakan kemrungsung seakan diburu waktu, dikejar dateline. Ke depan insya Allah harus lebih semangat dalam mengerjakan tugas, lebih bisa menghargai waktu. Itu.

NB: Judul diatas sebenarnya lebih tepat jika ditulis Andai Kukerjakan Dari Kemarin-kemarin, tetapi agar lebih dramatis saja saya pilih kalimat tersebut. Semoga pembaca tidak merasa gimanaaa gitu.

 

Putri Kecil Tak Beranting

antingDulu, dan sebagian masih sampai saat ini, saat melihat putri kecil kami, orang-orang akan bertanya, “ Ini cewek apa cowok ya? “ atau “ Ini tampan atau cantik ya? “. Dan hampir ketika kami menjawab bahwa putri kecil kami adalah perempuan maka pertanyaan lanjutan bisa kami pastikan tidak jauh dari makna “ Kok tidak dipakaikan anting-anting?”. Dan seperti biasa juga akan kami jawab “ Iya tidak dipakaikan anting… “ dengan senyum penuh makna.

Memang entah kenapa kami sebagai orangtuanya kompak untuk tidak “memaksakan” kehendak dengan memakaikan anting-anting. Kami menganggap anting-anting bagi anak perempuan bukanlah suatu hal yang wajib. Mengapa kecil-kecil sudah disakiti bagian tubuhnya hanya demi memasang benda logam tersebut. Biarlah kelak ketika dewasa dia yang menentukan apakah akan memakai anting atau tidak. Tentu saja jika memutuskan memakai anting-anting maka dia sudah tahu resikonya , mungkin akan ada sedikit rasa sakit saat membuat lubangnya.

Terlepas dari hal tersebut, kami ingin menyampaikan bahwa bagi kami anting-anting bagi anak perempuan bukanlah hal yang wajib. Dan kami memilih keputusan yang demikian tentu sudah mempertimbangkan masak-masak termasuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan sebagaimana di atas. Memang akan lebih mudah bagi orang lain jika ingin menyebut dengan sebutan khas gender, mas atau mbak. Tetapi toh kami rasa, pakaian juga bisa menunjukkan jenis kelamin dari seorang anak. Kita tentu yakin bahwa tidak mungkin orangtua memakaikan pakaian anak perempuan kepada anak laki-lakinya. Tapi mungkin itu belum cukup mewakili atau menggantikan peran anting-anting. Nyatanya ketika putri kecil kami sudah didandani dengan pakaian anak perempuan masih saja ada yang bertanya “ laki-laki atau perempuan?”. Bahkan yang lebih aneh lagi sudah dipakaikan kerudung masiiih juga ditanya “ laki-laki atau perempuan?” . Saya pribadi jadi mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan “ laki-laki atau perempuan?” tidak selalu untuk mengetahui dengan sebenarnya jenis kelamin seorang anak tetapi hanya sekedar basa-basi saja.

Kita dan Cermin

“ Sudah bercermin belum? “ tanya seorang teman kepadaku di saat mentari baru saja menyapa dunia.
“ Belum.. “ jawabku.
“ Cobalah bercermin…” lanjutnya.
“Emang kenapa? “ tanyaku ingin tahu.
“ Kondisi kita paling tampan atau cantik adalah di pagi hari saat bangun dari tidur..” terangnya.
“Ah masa iya sih “ tukasku.
“Coba saja… “ jawabnya meyakinkan.

Dan apa yang kemudian terjadi adalah saya melakukan saran yang menurutku terasa aneh. Atau mungkin itu sebuah cara untuk menyadarkanku bahwa aku tampan. Hiks.. sepertinya sebuah persepsi yang terlalu dibuat-buat. 😀

Bercermin. Siapa sih yang selama ini belum pernah bercermin? Saya yakin setiap kita hampir selalu bercermin setiap hari. Bahkan tidak cukup sekali dua. Sebenarnya untuk apa sih kita bercermin? Yang pasti untuk melihat keadaan kita. Apakah dalam kondisi licin rapi atau acak-acakan tidak karuan. Lebih lanjut bercermin untuk memastikan kita tampil rapi nan mempesona. Berbicara mengenai bercermin ada sebuah kalimat bijak tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi ritual yang satu ini.

Bercerminlah. Lalu lihatlah wajah di dalam cermin tersebut. Perhatikanlah. Apakah wajah itu termasuk wajah yang tampan? Jika demikian adanya maka janganlah rusak ketampanan wajahmu dengan akhlak yang buruk. Atau apakah wajahmu termasuk wajah yang biasa saja? Jika demikian adanya maka perbaguslah dengan akhlak yang mulia.

Sungguh sebuah nasehat yang mulia. Nasehat yang menyadarkan kita bahwa terlepas dari bagaimana wajah kita, fisik kita, yang lebih utama adalah bagaimana memiliki akhlak yang bagus, akhlak yang mulia. Betapa banyak orang yang berwajah biasa, yang sangat berat jika dikatakan rupawan namun ternyata menarik bagi teman-teman di sekelilingnya, menyejukkan setiap mata yang berbicara dengannya dikarenakan akhlak yang mulia. Tak jarang pula berapa wajah yang cantik nan rupawan namun tersanding akhlak yang buruk sehingga tiada sedikitpun manusia yang suka kecuali sedikit dari para pemuja fisik.

Untuk itu, tiadalah kita perlu merisaukan bagaimana halnya diri kita. Karena setiap kita tercipta sempurna. Maka lebih berfokuslah kepada bagaimana akhlak kita. Akhlak yang akan menjamin kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Akhlak yang bagus sebagaimana diajarkan oleh Kekasih Allah, Muhammad SAW.