Kita dan Cermin

“ Sudah bercermin belum? “ tanya seorang teman kepadaku di saat mentari baru saja menyapa dunia.
“ Belum.. “ jawabku.
“ Cobalah bercermin…” lanjutnya.
“Emang kenapa? “ tanyaku ingin tahu.
“ Kondisi kita paling tampan atau cantik adalah di pagi hari saat bangun dari tidur..” terangnya.
“Ah masa iya sih “ tukasku.
“Coba saja… “ jawabnya meyakinkan.

Dan apa yang kemudian terjadi adalah saya melakukan saran yang menurutku terasa aneh. Atau mungkin itu sebuah cara untuk menyadarkanku bahwa aku tampan. Hiks.. sepertinya sebuah persepsi yang terlalu dibuat-buat.😀

Bercermin. Siapa sih yang selama ini belum pernah bercermin? Saya yakin setiap kita hampir selalu bercermin setiap hari. Bahkan tidak cukup sekali dua. Sebenarnya untuk apa sih kita bercermin? Yang pasti untuk melihat keadaan kita. Apakah dalam kondisi licin rapi atau acak-acakan tidak karuan. Lebih lanjut bercermin untuk memastikan kita tampil rapi nan mempesona. Berbicara mengenai bercermin ada sebuah kalimat bijak tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi ritual yang satu ini.

Bercerminlah. Lalu lihatlah wajah di dalam cermin tersebut. Perhatikanlah. Apakah wajah itu termasuk wajah yang tampan? Jika demikian adanya maka janganlah rusak ketampanan wajahmu dengan akhlak yang buruk. Atau apakah wajahmu termasuk wajah yang biasa saja? Jika demikian adanya maka perbaguslah dengan akhlak yang mulia.

Sungguh sebuah nasehat yang mulia. Nasehat yang menyadarkan kita bahwa terlepas dari bagaimana wajah kita, fisik kita, yang lebih utama adalah bagaimana memiliki akhlak yang bagus, akhlak yang mulia. Betapa banyak orang yang berwajah biasa, yang sangat berat jika dikatakan rupawan namun ternyata menarik bagi teman-teman di sekelilingnya, menyejukkan setiap mata yang berbicara dengannya dikarenakan akhlak yang mulia. Tak jarang pula berapa wajah yang cantik nan rupawan namun tersanding akhlak yang buruk sehingga tiada sedikitpun manusia yang suka kecuali sedikit dari para pemuja fisik.

Untuk itu, tiadalah kita perlu merisaukan bagaimana halnya diri kita. Karena setiap kita tercipta sempurna. Maka lebih berfokuslah kepada bagaimana akhlak kita. Akhlak yang akan menjamin kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Akhlak yang bagus sebagaimana diajarkan oleh Kekasih Allah, Muhammad SAW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s