(sengaja) Kembaliannya permen lagi ?

Pada tulisan sebelumnya saya pernah membahas mengenai kembalian belanja berupa permen. Nah pada tulisan kali ini ingin mempertegas lagi hal tersebut dengan temuan baru bahwa kembalian berupa permen memang disengaja.

Sore kemarin saya kembali lagi belanja di toko yang sama dengan toko di tulisan awal dulu. Sebuah toko di bilangan perempatan Ngablak, sebuah toko yang berkembang pesat dari sebuah counter HP menjadi sebuah mini market. Sore itu saya membeli 15 kotak susu sapi 125 ml seharga Rp. 32.250. Saya membayar dengan uang Rp 100.000,-. Berarti saya berhak menerima kembalian Rp. 62.750,- yang seharusnya uang semua. Mungkin karena pecahan Rp.50,- tidak ada maka saya hanya menerima Rp.62.700,- dengan perincian Rp.62.500,- berupa uang dan 2 buah permen. Kali ini saya bilang ke kasirnya “ Mbak permennya diganti uang saja… “ dan kemudian si mbaknya mengambil 2 koin receh Rp.100,-.

Ada dual hal yang menjadi poin saya.

Pertama, Kembalian yang seharusnya Rp.62.750,- disunat menjadi Rp.62.700,-. Lalu kemana uang Rp.50,- tersebut? Bukan masalah besaran yang mungkin bagi sebagian kita “ Ah cuma Rp.50,- saja diributin..” tetapi tentang kemana uang itu bermuara? Sementara tidak ada keterangan apa-apa, tulisan di layar juga tetap Rp. 62.750,-. Agak berbeda dengan salah satu swalayan besar di Yogyakarta yang mana pecahan dibawah Rp.100,- dimasukkan sebagai dana sosial dan kembalian dalam bentuk bulat ratusan. Dan itupun dikembalikan dalam bentuk uang bukan permen. Dalam hal ini saya tetap menganggap telah terjadi perampokan Rp.50,-. Bayangkan, berapa uang yang terkumpul hasil ‘perampokan’ tersebut dalam sehari jika dalam tiap transaksi berakhir Rp.50,- selalu disunat. Lalu berapa dalam sebulan, setahun, bertahun-tahun? Dan kita tidak pernah tahu untuk apa? Okelah untuk amal, tetapi jika tanpa kejelasan penyunatan tersebut tetap saja illegal. Dan apakah itu tetap halal? Wallahu a’lam.

Kedua, saya menangkap bahwa kembalian permen memang sengaja. Entah tujuannya apa, tetapi nyatanya kalau tidak diminta tidak diberikan. Dulu saya pikir karena waktu itu memang tidak ada recehan sehingga ‘terpaksa’ diebrikan permen. Tetapi pikiran positif tersebut luluh lantak lewat kejadian kemarin sore. Jelas-jelas sebelum saya ada yang membayar dengan uang recehan seratusan dua keping dan saya melihat sendiri, seharusnya saya mendapatkan kembalian bukan permen tanpa harus saya minta.

Saya hanya berharap kepada pemilik toko tersebut, semoga cara-cara mendapatkan kelebihan uang semacam ini segera ditinggalkan. Boleh jadi banyak yang dalam hatinya tidak terima, tetapi di sisi lain tidak berani mengungkapkan. Apakah sikap diam selamanya harus dimaknai setuju (dalam hal ini sikap menanggapi kedzaliman-perampokan uang)? Dan kita sebagai pembeli jangan takut untuk meminta hak kita. Permen sekali lagi bukanlah alat tukar yang sah, itu adalah sebuah bentuk pemaksaan kehendak apalagi jika kita tidak membutuhkannya. Mintalah kembalian dalam bentuk uang karena itu adalah hak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s