(Mau) Menikah Itu Banyak Tantangannya

Telah banyak obrolan saya dengan beberapa teman mengenai menikah. Yah apa saja seputar pernikahan lah. Terutama peristiwa-peristiwa sebelum akad itu terjadi. Nyambung dengan judul di atas bahwa menikah itu memang banyak tantangannya. Lajang, bagaimanapun suatu saat akan menjadi status yang membuat dilema bagi sebagian kita. Ketika usia tak lagi muda, ketika kepala tiga itu hanya sejarak satu kali musim atau malah kepala tiga sudah lewat beberapa pergantian musim hujan yang lalu. Pada masa ini menurut, pembicaraan saya dan teman saya, adalah usia yang kritis. Usia yang menentukan tindakan selanjutnya. Jika pada usia yang menentukan tadi datang sang belahan jiwa, pujaan hati maka pernikahan itu menjadi sesuatu yang indah. Ketika kebutuhan itu mendapat penyaluran yang halal lagi tepat waktu. Namun jika dalam masa menentukan tersebut, gambaran tentang pernikahan itu terlewat, biasanya baru akan terealisasi beberapa tahun kemudian.

Ketika seseorang menginjak kepala tiga (usia tak lagi muda) maka semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang menggelayut. Merasa belum mapan, merasa minder takut tidak ada yang mau, terlalu pemilih, ingin yang sempurna. Terlalu banyak referensi yang sudah disaksikan dari pernikahan teman-temannya. Akhirnya muncul ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan tidak berani mengambil resiko (atau saya lebih suka bilang ‘tantangan’). Padahal kondisinya sebagaimana dikatakan dalam iklan “ kalau bukan sekarang kapan lagi? “.

Bagi kita yang telah menikah pasti setuju bahwa proses menuju pernikahan itu panjang dan berliku. Setidaknya yang berkaitan dengan tradisi dan pengurusan surat-surat. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini akan kita coba gali tantangan-tantangan dalam setiap tahap menuju pernikahan.

  1. Memilih calon

Saya yakin pada tahap inilah biasanya memakan energi paling besar. Bisa berupa waktu yang lama atau pemikiran yang serius nan panjang dalam memutuskan. Memang tidak mudah memilih calon, apalagi kalau posisi tawar kita sangat strategis. Bisa dibilang termasuk dalam kategori orang-orang yang ‘ siapa sih yang bisa menolak? ’. Kalau sudah begini perlu pemikiran serius kepada siapa hati kan dilabuhkan. Posisi strategis di satu sisi member poin tambahan tersendiri. Tetapi di sisi lain menjadi semacam beban. Ketika kita sudah menentukan satu nama, kemudian timbul bisikan ‘jangan-jangan ada yang lebih baik’.

Memilih calon memang tidak boleh sembarangan. Bibit, bobot dan bebetnya perlu dipertimbangkan. Hal ini senada dengan tuntunan Rasulullah SAW bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Dan ditekankan untuk lebih memberi porsi lebih kepada agamanya. Artinya lihat dulu lah agamanya. Kalau bagus ya jangan ditolak. Tapi sebagai manusia pasti ada pertimbangan yang lain. Itu wajar saja selama tidak menafikan faktor utama yaitu agamanya. Kalau ada dua orang yang agamanya setimbang, tetapi satu berparas arjuna dan satu berwajah kurawa maka tidak salah kan jika dipilih yang berparas arjuna. Itu manusiawi. Tetapi yang terjadi kebanyakan adalah lihat dulu fisiknya, agama nomer dua. Alasannya kalau agama kan bisa dipelajari, tetapi cantik atau tampan kan sudah bawaan lahir. Kalau yang begini ini saya tidak bisa komentar lebih.

  1. Mendapat Restu Orangtua

Calon sudah terpilih, 50% + 1 hati condong kepada satu nama, secara hukum telah memenuhi kuorum dan meyakinkan. Tidak bisa diganggu gugat meski dilaporkan ke MK. Tetapi itu baru melewati satu tantangan awal. Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan si calon kepada orangtua atau wali. Tujuannya jelas yaitu untuk mendapat restu dari orang tua. Jangan sampai menikah tidak dengan restu orang tua. Dijamin hidup takkan bahagia. Memang sekarang agaknya orangtua sudah memasrahkan sepenuhnya pilihan kepada si anak karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. Tetapi hal ini tidak menafikan bahwa restu orangtua itu penting. Kita perlu tahu bahwa orangtua memiliki feeling yang kuat terhadap seseorang yang ingin menjadi pendamping kita. Entah kekuatan darimana tetapi feeling itu sebagian besranya tepat nan jitu. Ketika orangtua tidak setuju maka mantaplah untuk mundur. Tak perlu lagi basa basi. Cari yang lain dan ajukan kembali. Lalu gimana masalah cinta? Biarkan Cinta pergi bersama Rangga. Toh cinta dapat ditemukan lagi. Kalau restu orangtua? Selama orangtua tidak merestui maka selama itu pula kehidupan rumah tangga jauh dari bahagia. Lalu dimana peranan cinta? Cinta tak berperan apa-apa, justru Cinta diperankan oleh Dian Satro Wardoyo. Intinya restu orangtua menjadi pertimbangan utama.

  1. Menjalani tradisi

Kita hidup dalam masyarakat yang tak lepas dari tradisi. Tradisi memang bukan hal wajib yang mana tanpa ikut tradisipun pernikahan kita bisa sah. Tetapi sekali lagi kita bhidup dalam masyarakat, kalau tidak ikut tradisi maka kita tidak dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Apa salahnya kita ikut tradisi asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama kita. Dalam tradisi Jawa misalnya, pembicaraan baru dianggap serius manakala keluarga pria datang kepada keluarga wanita. Kemudian dilanjutkan lamaran dan penentuan tanggal. Tapi di adat lain, justru pihak wanita yang mendatangi keluarga pria. Atau seperti di Makassar ada istilah uang pannai’ yaitu sejumlah uang yang dietentukan oleh pihak wanita sebagai syarat diterimanya sebuah lamaran. Dan masih banyak tradisi-tradisi yang lain. Nah ikuti saja tradisi-tradisi tersebut. Insya Allah akan lebih mempermudah prosesnya. Jangan sampai karena pengen cepetnya, begitu datang ke rumah si wanita langsung minta diakadkan. Yang ada malah menjadikan fitnah dan kecurigaan keluarga dan masyarakat. Jadi menikah itu kudu sabar menjalani prosesnya.

  1. Mengurus surat-surat

Yang tidak kalah penting dan menguras energi adalah mengurus surat-surat. Belum lagi kalau antar daerah, antar provinsi atau antar pulau. Dan semua itu harus diurus sebelum akad. Untuk itu silakan tanya ke KUA terdekat apa syarat-syaratnya dan bagaimana prosedurnya. Jangan malu datang ke KUA karena petugasnya gak malu-maluin kok. Lagian juga gak bakal ditanya perlunya apa. Karena hampir semua yang datang ke KUA pasti mengurus pernikahan. Mungkin karena tahunya KUA hanya untuk urusan pernikahan. Padahal banyak kok fungsi KUA selain mengurus pernikahan. Silakan tanya ke KUA saja.

  1. Tantangan malam pertama

Nah selamat bagi teman-teman yang akan melalui tantangan ini. Artinya sudah lolos tahap-tahap sebelumnya. Tapi jangan senang dulu, tantangan dalam berumahtangga baru saja akan dimulai. Yup malam pertama menjadi malam dimulainya kehidupan rumah tangga. Jadi persiapkan diri menghadapi malam tersebut. Jalani dengan ikhlas dan senang hati. Walau kata orang malam pertama adalah malam yang paling indah, tapi jangan lewatkan malam pertama hanya dengan melihat bintang melalui jendela takut momen indah itu terlewat. Yang perlu jadi perhatian adalah jangan sampai prosesi resepsi menguras energi sehingga malamnya justru tepar alias terkapar di atas ranjang, berdua dalam balutan baju pengantin. Keesokan harinya baru ingat kalau baju pengantin masih melekat. Sudah ditunggui pihak salon di depan pintu. Jadi banyak olahraga seminggu sebelum acara sehingga badan akan fit sepanjang hari.

Setelah malam pertama maka tantangan-tantangan itu akan muncul setiap hari. Mulai dari penyesuaian diri dengan kehidupan baru, penyesuaian diri dengan pasangan, mertua, masyarakat. Belum kalau sudah punya anak maka tantangan-tantangan itu akan semakin banyak. Tetapi jangan khawatir, insya Allah kita akan mampu menghadapinya. Sennatiasa belajar dari para professional dan senior-senior kita. #Okesip! Persiapkan dirimu hadapi tantangan !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s