Mendewasa Bersamamu

Seringkali saya membaca entah itu status di FB, twit dari teman atau status WhatsApp yang menuliskan kalimat “Menua Bersamamu”. Yang tentu maksudnya adalah memiliki seorang pendamping hidup yang akan selalu bersama sampai tua. Menjalani segala liku hidup bersama dalam suka dan duka.

Namun saya merasa bahwa kalimat “menua bersamamu” belumlah merupakan tujuan atau harapan ideal bagi kita yang mendamba pendamping hidup sejati. Ada harapan yang menurut saya jauh lebih baik yaitu “mendewasa bersamamu”. Ketika kita bicara tentang “menua bersamamu” maka ukurannya adalah usia. Ya, tua adalah bicara tentang banyaknya usia kita. Kita tentu paham bahwa usia adalah sesuatu yang diberikan (given) oleh Allah swt. Setiap kita sudah punya jatah sendiri-sendiri, meski kita tak tahu sampai kapan. Sebagaimana usia yang merupakan sesuatu yang given, tua juga merupakan sesuatu yang pasti (jika Allah berkehendak memanjangkan usia kita). Jika demikian mengapa kita mengharap sesuatu yang sudah pasti kita dapatkan (jika Allah memberikan usia panjang) ?

Tentu kita pernah mendengar kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Nah sebenarnya dari sinilah saya menemukan kalimat “mendewasa bersamamu”. Saya memilih kata ‘mendewasa’ karena dengan menikah dan memiliki pendamping hidup maka proses menuju kedewasaan itu semakin baik. Dari pasangan, kita bisa belajar bagaimana menjadi dewasa. Bagimana menyikapi perbedaan diantara kita, bagaimana harus mengalah, bagaimana mengelola suasana hati dan masih banyak lagi. Dan ini tidak kita dapatkan secara gratis, atau dalam bahasa lain tidak given melainkan kita perlu belajar dan senantiasa berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Maka dari itulah ‘mendewasa bersamamu’ memiliki makna bahwa bersama pasangan kita menuju pribadi yang semakin baik.

Dewasa itu berarti kita mampu menahan diri
Dewasa itu berarti kita mampu memahami
Dewasa itu berarti kita memberi empati
Dewasa itu berarti kita peduli

Dewasa itu bukan ‘pokoknya begini’
Dewasa itu bukan ‘kamu tak boleh begini’
Dewasa itu bukan pengekangan
Dewasa itu pilihan

Advertisements

Ironi dibalik sebuah Testpack

Beberapa hari yang lalu seorang perempuan seusia SMA datang ke Apotek kami. DIa membeli sebuah testpack. Karena ada 3 macam jenis dengan harga berbeda maka kami tawarkan untuk memilih yang mana. Dia pun memilih yang paling murah, sesuai kantong usianya mungkin. Entah maksudnya untuk meng-counter dugaan kami atau apa dia bilang :

“ Ini cuma titipan kok.. titipan bocah edan… “ seraya membayar seharga 3000 rupiah.

Ada sedikit tanya ketika dia bilang ‘titipan’ dan ‘bocah edan’. Tentu dengan usianya yang masih seusia SMA, ‘bocah edan’ itu adalah teman sebayanya. Tentu kita semua tahu apa kegunaan dari benda bernama testpack. Yup, tidak lain tidak bukan adalah untuk mengecek kehamilan. Berarti perempuan seusia SMA itu ada kemungkinan hamil. Dan tidak mungkin ada kehamilan kalau tidak melakukan hubungan seksual. Dan tidak mungkin sudah menikah karena ada kata-kata ‘bocah edan’. Dan kosakata ‘bocah edan’ mengacu kepada sesuatu yang buruk. Jadi apakah kesimpulan kita sama? Bahwa perempuan seusia SMA itu sudah melakukan hubungan terlarang, entah dengan pacarnya atau entah dengan siapa. Tetapi dari hubungan itu telah memunculkan sesuatu yang untuk mengetahuinya butuh sebuah alat bernama testpack. Na’udzubillah min dzalik.

Mungkin kita sudah berkali-kali mendengar cerita bahwa jaman sekarang banyak perempuan usia sekolah sudah tidak suci lagi. Mereka menggadaikan kehormatannya atas nama cinta (nafsu). Betapa rusaknya moral sebagian (besar) remaja kita. Apa yang ada di benak mereka ketika melakukan hal terlaknat itu? Apakah perwujudan cinta nan suci ataukah pelampiasan nafsu semata? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga seusia mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan hukum tetapi lebih jauh lagi bertentangan dengan hukum Allah.

Lalu salah siapakah ini?

Jika kita mencari siapa yang salah maka menunjuk hanya kepada mereka saja bukanlah hal yang adil. Bagaimanapun kondisi moral mereka yang rusak tidak terlepas dari hal-hal seperti berikut :

  1. Kurangnya pendidikan moral dan agama dari orangtua sekaligus kurangnya kontrol terhadap anak. Entah mengapa jaman sekarang orangtua cenderung bersikap permisif, apa-apa serba boleh, apa-apa dituruti. Dan parahnya lagi hampir di semua segi kehidupan. Apa yang terjadi kemudian adalah orangtua tidak lagi peduli dengan anak. Anak mau berbuat apa saja terserah. Yang penting masih mau sekolah. Sementara itu anak yang kehilangan perhatian orangtua mencari sumber perhatian di luar sana. Beruntung bila bertemu dengan teman-teman yang baik, tetapi bila bertemu dengan manusia-manusia ‘serigala berbulu domba’ maka habislah sudah.
  2. Lingkungan yang serba tidak peduli. Ketika orangtua si anak sudah tidak peduli maka apalah arti lingkungan. Apalagi lingkungan sekarang juga cenderung cuek. Alih-alih mengurusi anak orang lain, anak sendiri saja keteteran. Begitu kondisi sebagian besar masyarakat kita. Anak yang hidup dalam keluarga yang tidak peduli, ditambah lingkungan yang cuek semakin menjauhkan anak dari kehidupan yang penuh kasih dan sayang.
  3. Tontonan yang tidak mendidik. Kurangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua memberi kesempatan kepada tayangan televisi untuk menggantikan peran dalam mendidik. Dan sayangnya suguhan yang diberikan oleh orangtua kedua bernama televise sama sekali tidak mendidik.
  4. Sistem Pendidikan yang tidak kondusif bagi pembentukan moral. Sekolah sekarang nampaknya lebih bangga jika murid-muridnya lebih pandai dalam hal yang bersifat kognitif dibanding cerdas dalam akhlak. Pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam seminggu dengan harapan murid-murid berakhlak mulia kiranya bagaikan punguk merindukan bulan. Belum lagi tidak adanya keteladanan dari seluruh pegawai di sekolah. Bahkan ada yang berstatus guru tetapi berbuat amoral. Lalu bagaimana nasibnya dengan murid-muridnya.
  5. Yang terakhir tentu saja pemerintah menjadi pihak yang juga mesti bertanggungjawab. Pemerintah perlu membuat sebuah system pendidikan yang bisa mengcounter pembentukan akhlak siswa. Tidak mengapa jika kiblat sistem pendidikan kita tidak mengekor sistem Barat. Justru dengan memiliki sistem pendidikan sendiri, yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran akan membawa perubahan yang signifikan.

Jangan sampai generasi masa depan dihancurkan oleh sikap lepas tangan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap pembentukan moral anak. Orangtua, Keluarga, Lingkungan, Sekolah dan Pemerintah harus saling bahu membahu. Merasa bahwa tanggungjawab ini beban bersama, tidak saling lepas tangan.

Belajar Dari Air

Kuliah baru saja selesai. Aku melangkahkan kaki menuju masjid fakultas yang letaknya tak begitu jauh dari jurusanku. Matahari baru sepenggallah meninggi ketika itu. Kutunaikan empat rakaat dhuha sebagai sedekah bagi sendi-sendi tulangku dan seluruh diriku. Lengang, tak banyak yang menghadap-Nya. Seusai shalat sejenak kunikmati suasana pagi menjelang siang. Cukup sunyi. Tak pikuk dengan suara-suara manusia. Suara alam dengan sempurna menyajikan keindahan suasana. Suara burung nun jauh di pucuk pohon , diselingi gemericik air yang mengucur dari kolam di depan masjid begitu syahdu. Continue reading

Profesionalisme : Antara Kepuasan Pelanggan dan Kepentingan Keluarga

Pernah suatu kali saya mencetakkan nota ke salah satu teman saya. Dalam perjanjian awal bahwa nota tersebut disepakati selesai hari Jumat. Pada Jumat yang disepakati saya menanyakan hal ihwal proses nota tersebut. tentu dalam harapan saya bahwa nota tersebut sudah jadi sesuai dengan kesepakatan. Namun ketika saya konfirmasi ternyata belum jadi, karena ada kerabatnya yang meninggal dunia sehingga focus mengurusi hal tersebut. Meski demikian teman saya bersedia untuk menyelesaikan segera dan diusahakan Sabtu sudah jadi. Sebagai pelanggan tentu saja saya kecewa. Meski hanya selang satu hari tetapi bisa memundurkan rencana-rencana yang sudah disusun.

Lain waktu dan sering saya alami yaitu ketika menggunakan jasa penjahit untuk membuatkan baju atau celana. Dalam hal ini saya selalu menanyakan kapan bisa diselesaikan, tentu karena tidak mendesak sehingga saya mempersilahkan tukang jahit menentukan tenggat waktu penyelesaian pesanan saya. Namun apa yang terjadi, ketika sampai tanggal yang dijanjikan ternyata belum jadi. Alasannya beragam, mulai dari ada acara keluarga yang butuh waktu berhari-hari, terlalu banyak yang harus dijahit, sakit dan lain sebagainya. Lagi-lagi saya sebagai pelanggan merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi. Masih banyak pengalaman tentang hal-hal bernada demikian. Kecewa karena pihak lain tidak menepati kesepakatan. Tentu kita akan menyebut bahwa mereka tidak profesional karena memenuhi salah satu diantara ciri perilaku tidak profesional yaitu tidak tepat sesuai kesepakatan (komitmen). Belum lagi bila ditambah dengan hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, maka sempurnalah sudah sebutan ‘tidak profesional’ tersebut.

Sebagai pelanggan kita tentu berharap bahwa apa yang telah menjadi kesepakatan kiranya dapat ditepati. Kita tidak mau tahu bagaimana kondisi pihak lain yang penting barang kita jadi. Entah itu ada acara keluarga, sedang bepergian atau hal lain itu merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pihak lain tersebut. Bukankah pelanggan adalah raja, yang harus diutamakan dibanding keperluan yang lain, demikian dalam benak sebagian kita. Apakah itu salah? Tidak juga, karena itu adalah hak kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan sebuah penilaian dan tindak lanjut. Ketika sudah menilai tidak profesional maka selanjutnya tidak akan pernah lagi datang ke tempat tersebut, lebih baik cari yang baru lagi.

Namun bagaimana jadinya bila suatu saat kita menjadi pihak yang dipergunakan jasanya? Ketika kita sudah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, sesuai kesepakatan, namun rupanya di tengah perjalanan ada hal-hal yang menyebabkan keterlambatan penyelesaian tugas. Tentu saja merupakan hal yang berat. Memberitahukan kepada pelanggan mengenai kenyataan ini (pekerjaan tidak selesai) merupakan perjuangan tersendiri. Ada reputasi yang dipertaruhkan di sana. Bila salah maka kredibilitas dan eksistensi usaha menjadi terancam. Setidaknya terancam kehilangan satu pelanggan. Dan yang ditakutkan bahwa pelanggan yang kecewa akan melakukan promosi negatif ke masyarakat.Mengingat resiko ini sudah seharusnya ketika kita terposisikan sebagai pihak yang digunakan jasanya untuk sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jika terpaksa belum selesai beritahukan kepada pelanggan dan berikan waktu kedua yang bisa ditepati. Dengan demikian pelanggan tidak begitu kecewa dan mau menunggu.

Memang ketika kita berbicara mengenai profesional, maka selalu ada hal yang dibenturkan. Yaitu antara menjaga profesionalisme dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau mengorbankan profesionalisme dengan menjaga kepentingan pribadi. Sebenarnya kalau terkait masalah pribadi saja masih banyak yang dengan mudah bisa melewatinya. tetapi banyak yang gagal jka yang menjadi faktor penghambat adalah keluarga. Untuk itu ada hal yang bisa kita lakukan yaitu dengan menyeimbangkannya. Pekerjaan bagaimanapun harus selesai tepat waktu sementara itu kepentingan keluarga juga terpenuhi. Hanya konsekuensinya adalah kita perlu mengorbankan waktu pribadi kita. Lembur menjadi pilihan yang tak terelakkan. Namun itulah hal yang mesti kita lakukan demi menjaga profesionalisme kita.