Profesionalisme : Antara Kepuasan Pelanggan dan Kepentingan Keluarga

Pernah suatu kali saya mencetakkan nota ke salah satu teman saya. Dalam perjanjian awal bahwa nota tersebut disepakati selesai hari Jumat. Pada Jumat yang disepakati saya menanyakan hal ihwal proses nota tersebut. tentu dalam harapan saya bahwa nota tersebut sudah jadi sesuai dengan kesepakatan. Namun ketika saya konfirmasi ternyata belum jadi, karena ada kerabatnya yang meninggal dunia sehingga focus mengurusi hal tersebut. Meski demikian teman saya bersedia untuk menyelesaikan segera dan diusahakan Sabtu sudah jadi. Sebagai pelanggan tentu saja saya kecewa. Meski hanya selang satu hari tetapi bisa memundurkan rencana-rencana yang sudah disusun.

Lain waktu dan sering saya alami yaitu ketika menggunakan jasa penjahit untuk membuatkan baju atau celana. Dalam hal ini saya selalu menanyakan kapan bisa diselesaikan, tentu karena tidak mendesak sehingga saya mempersilahkan tukang jahit menentukan tenggat waktu penyelesaian pesanan saya. Namun apa yang terjadi, ketika sampai tanggal yang dijanjikan ternyata belum jadi. Alasannya beragam, mulai dari ada acara keluarga yang butuh waktu berhari-hari, terlalu banyak yang harus dijahit, sakit dan lain sebagainya. Lagi-lagi saya sebagai pelanggan merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi. Masih banyak pengalaman tentang hal-hal bernada demikian. Kecewa karena pihak lain tidak menepati kesepakatan. Tentu kita akan menyebut bahwa mereka tidak profesional karena memenuhi salah satu diantara ciri perilaku tidak profesional yaitu tidak tepat sesuai kesepakatan (komitmen). Belum lagi bila ditambah dengan hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, maka sempurnalah sudah sebutan ‘tidak profesional’ tersebut.

Sebagai pelanggan kita tentu berharap bahwa apa yang telah menjadi kesepakatan kiranya dapat ditepati. Kita tidak mau tahu bagaimana kondisi pihak lain yang penting barang kita jadi. Entah itu ada acara keluarga, sedang bepergian atau hal lain itu merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pihak lain tersebut. Bukankah pelanggan adalah raja, yang harus diutamakan dibanding keperluan yang lain, demikian dalam benak sebagian kita. Apakah itu salah? Tidak juga, karena itu adalah hak kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan sebuah penilaian dan tindak lanjut. Ketika sudah menilai tidak profesional maka selanjutnya tidak akan pernah lagi datang ke tempat tersebut, lebih baik cari yang baru lagi.

Namun bagaimana jadinya bila suatu saat kita menjadi pihak yang dipergunakan jasanya? Ketika kita sudah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, sesuai kesepakatan, namun rupanya di tengah perjalanan ada hal-hal yang menyebabkan keterlambatan penyelesaian tugas. Tentu saja merupakan hal yang berat. Memberitahukan kepada pelanggan mengenai kenyataan ini (pekerjaan tidak selesai) merupakan perjuangan tersendiri. Ada reputasi yang dipertaruhkan di sana. Bila salah maka kredibilitas dan eksistensi usaha menjadi terancam. Setidaknya terancam kehilangan satu pelanggan. Dan yang ditakutkan bahwa pelanggan yang kecewa akan melakukan promosi negatif ke masyarakat.Mengingat resiko ini sudah seharusnya ketika kita terposisikan sebagai pihak yang digunakan jasanya untuk sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jika terpaksa belum selesai beritahukan kepada pelanggan dan berikan waktu kedua yang bisa ditepati. Dengan demikian pelanggan tidak begitu kecewa dan mau menunggu.

Memang ketika kita berbicara mengenai profesional, maka selalu ada hal yang dibenturkan. Yaitu antara menjaga profesionalisme dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau mengorbankan profesionalisme dengan menjaga kepentingan pribadi. Sebenarnya kalau terkait masalah pribadi saja masih banyak yang dengan mudah bisa melewatinya. tetapi banyak yang gagal jka yang menjadi faktor penghambat adalah keluarga. Untuk itu ada hal yang bisa kita lakukan yaitu dengan menyeimbangkannya. Pekerjaan bagaimanapun harus selesai tepat waktu sementara itu kepentingan keluarga juga terpenuhi. Hanya konsekuensinya adalah kita perlu mengorbankan waktu pribadi kita. Lembur menjadi pilihan yang tak terelakkan. Namun itulah hal yang mesti kita lakukan demi menjaga profesionalisme kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s