Belajar Dari Air

Kuliah baru saja selesai. Aku melangkahkan kaki menuju masjid fakultas yang letaknya tak begitu jauh dari jurusanku. Matahari baru sepenggallah meninggi ketika itu. Kutunaikan empat rakaat dhuha sebagai sedekah bagi sendi-sendi tulangku dan seluruh diriku. Lengang, tak banyak yang menghadap-Nya. Seusai shalat sejenak kunikmati suasana pagi menjelang siang. Cukup sunyi. Tak pikuk dengan suara-suara manusia. Suara alam dengan sempurna menyajikan keindahan suasana. Suara burung nun jauh di pucuk pohon , diselingi gemericik air yang mengucur dari kolam di depan masjid begitu syahdu.

Sejenak kuterpaku pada ricik air yang mengucur dari kolam di depan masjid. Ricik yang disambut geliat ikan-ikan berwarna merah. Ricik yang menjadi senandung bagi hati yang rindu cahaya-Nya. Ada pelajaran yang kudapatkan dari sana.

Gemericik air yang memecah kesunyian. Memberi warna nada pada suara alam, begitu harmoni. Begitulah seharusnya hidup manusia. Kehadiran kita semestinya memberikan warna, memberikan kontribusi bagi alam sekitar. Keberadaan kita seharusnya menjadi lantaran bagi orang-orang sekeliling kita untuk mendapatkan hidayah-Nya. Ketiadaan kita dirindukan, dicari dan diingat.

Gemericik air berasal dari air yang tak pernah diam, senantiasa mengucur dari waktu ke waktu. Seharusnyalah kita senantiasa bergerak, beraktifitas, berbuat yang bermanfaat bagi kehidupan. Setiap tingkah laku kita, gerak langkah kita tidak ada yang sia-sia. Selalu saja ada hikmah yang bisa diambil oleh orang-orang di sekeliling kita. Tidak patutlah bagi kita untuk diam, tidak berbuat apa-apa. Bukankah air yang diam hanya akan membawa banyak penyakit?

Beningnya air membawa pesona bagi sesiapa yang melihat. Terlihatlah segala keindahan yang ada di dalamnya. Ikan, rumput air, binatang-binatang air dan beribu makhluk-Nya yang lain. Beningnya hati dan indahnya akhlak manusia akan membawa kebaikan bagi sesiapa yang memilikinya. Keteladanan dan kerendahan hati terpancar dari pribadi yang jernih, pribadi yang berakhlak mulia. Siapakah kiranya yang sudi memandang air nan keruh?

Air memberi banyak pelajaran kepada kita. Melalui air, Allah hendak mengajarkan kepada kita bagaimana agar bisa memberi manfaat kepada alam semesta. Bukankah hikmah itu milik kita, muslim, yang tercecer? Dan ambillah hikmah itu dimanapun berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s