Ironi dibalik sebuah Testpack

Beberapa hari yang lalu seorang perempuan seusia SMA datang ke Apotek kami. DIa membeli sebuah testpack. Karena ada 3 macam jenis dengan harga berbeda maka kami tawarkan untuk memilih yang mana. Dia pun memilih yang paling murah, sesuai kantong usianya mungkin. Entah maksudnya untuk meng-counter dugaan kami atau apa dia bilang :

“ Ini cuma titipan kok.. titipan bocah edan… “ seraya membayar seharga 3000 rupiah.

Ada sedikit tanya ketika dia bilang ‘titipan’ dan ‘bocah edan’. Tentu dengan usianya yang masih seusia SMA, ‘bocah edan’ itu adalah teman sebayanya. Tentu kita semua tahu apa kegunaan dari benda bernama testpack. Yup, tidak lain tidak bukan adalah untuk mengecek kehamilan. Berarti perempuan seusia SMA itu ada kemungkinan hamil. Dan tidak mungkin ada kehamilan kalau tidak melakukan hubungan seksual. Dan tidak mungkin sudah menikah karena ada kata-kata ‘bocah edan’. Dan kosakata ‘bocah edan’ mengacu kepada sesuatu yang buruk. Jadi apakah kesimpulan kita sama? Bahwa perempuan seusia SMA itu sudah melakukan hubungan terlarang, entah dengan pacarnya atau entah dengan siapa. Tetapi dari hubungan itu telah memunculkan sesuatu yang untuk mengetahuinya butuh sebuah alat bernama testpack. Na’udzubillah min dzalik.

Mungkin kita sudah berkali-kali mendengar cerita bahwa jaman sekarang banyak perempuan usia sekolah sudah tidak suci lagi. Mereka menggadaikan kehormatannya atas nama cinta (nafsu). Betapa rusaknya moral sebagian (besar) remaja kita. Apa yang ada di benak mereka ketika melakukan hal terlaknat itu? Apakah perwujudan cinta nan suci ataukah pelampiasan nafsu semata? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga seusia mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan hukum tetapi lebih jauh lagi bertentangan dengan hukum Allah.

Lalu salah siapakah ini?

Jika kita mencari siapa yang salah maka menunjuk hanya kepada mereka saja bukanlah hal yang adil. Bagaimanapun kondisi moral mereka yang rusak tidak terlepas dari hal-hal seperti berikut :

  1. Kurangnya pendidikan moral dan agama dari orangtua sekaligus kurangnya kontrol terhadap anak. Entah mengapa jaman sekarang orangtua cenderung bersikap permisif, apa-apa serba boleh, apa-apa dituruti. Dan parahnya lagi hampir di semua segi kehidupan. Apa yang terjadi kemudian adalah orangtua tidak lagi peduli dengan anak. Anak mau berbuat apa saja terserah. Yang penting masih mau sekolah. Sementara itu anak yang kehilangan perhatian orangtua mencari sumber perhatian di luar sana. Beruntung bila bertemu dengan teman-teman yang baik, tetapi bila bertemu dengan manusia-manusia ‘serigala berbulu domba’ maka habislah sudah.
  2. Lingkungan yang serba tidak peduli. Ketika orangtua si anak sudah tidak peduli maka apalah arti lingkungan. Apalagi lingkungan sekarang juga cenderung cuek. Alih-alih mengurusi anak orang lain, anak sendiri saja keteteran. Begitu kondisi sebagian besar masyarakat kita. Anak yang hidup dalam keluarga yang tidak peduli, ditambah lingkungan yang cuek semakin menjauhkan anak dari kehidupan yang penuh kasih dan sayang.
  3. Tontonan yang tidak mendidik. Kurangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua memberi kesempatan kepada tayangan televisi untuk menggantikan peran dalam mendidik. Dan sayangnya suguhan yang diberikan oleh orangtua kedua bernama televise sama sekali tidak mendidik.
  4. Sistem Pendidikan yang tidak kondusif bagi pembentukan moral. Sekolah sekarang nampaknya lebih bangga jika murid-muridnya lebih pandai dalam hal yang bersifat kognitif dibanding cerdas dalam akhlak. Pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam seminggu dengan harapan murid-murid berakhlak mulia kiranya bagaikan punguk merindukan bulan. Belum lagi tidak adanya keteladanan dari seluruh pegawai di sekolah. Bahkan ada yang berstatus guru tetapi berbuat amoral. Lalu bagaimana nasibnya dengan murid-muridnya.
  5. Yang terakhir tentu saja pemerintah menjadi pihak yang juga mesti bertanggungjawab. Pemerintah perlu membuat sebuah system pendidikan yang bisa mengcounter pembentukan akhlak siswa. Tidak mengapa jika kiblat sistem pendidikan kita tidak mengekor sistem Barat. Justru dengan memiliki sistem pendidikan sendiri, yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran akan membawa perubahan yang signifikan.

Jangan sampai generasi masa depan dihancurkan oleh sikap lepas tangan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap pembentukan moral anak. Orangtua, Keluarga, Lingkungan, Sekolah dan Pemerintah harus saling bahu membahu. Merasa bahwa tanggungjawab ini beban bersama, tidak saling lepas tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s