Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya?

Ketika kita sudah mengikrarkan janji suci, dalam ketegangan tingkat tinggi di saat ijab qabul lalu disambut suara ‘sah’ maka sejak saat itu jodoh yang selama ini Allah sembunyikan telah ditampakkan kepada kita. Sebelum itu terjadi jodoh masih misteri. Jadi bagi yang pengen segera tahu siapa jodohnya maka tak lain tak bukan dengan bersegera menikah. Dan sejak akad itu pula kita memulai hidup baru bersama makhluk bernama suami / istri.

Nah kembali kepada bagaimana menyikapi perbedaan antara idealita dan realita, maka tak lain dan tak bukan adalah dengan jalan kompromi. Ya, kita perlu mengadakan musyawarah tingkat nasional dengan ego kita. Musyawarah yang harus sesegera mungkin dilakukan begitu menemukan sebuah ketimpangan antara idealita dan realita. Dalam musyawarah ini hal yang perlu dicari titik temu adalah bagaimana melihat realita yang ada untuk kemudian menggali secara lebih dalam hikmah atau kebaikan dibalik itu semua.

Kalau boleh kita jujur, apa sih yang melatarbelakangi munculnya kriteria-kriteria tersebut kalau bukan persepsi dari diri kita pribadi mengenai kebahagiaan di masa depan. Ya, tak lebih dan tak kurang adalah persepsi diri kita. Kalau kita mengingat doa istikharah yang kita panjatkan ketika memohon petunjuk apakah ’si dia’ baik atau tidak bagi kita maka proses kompromi insya Allah akan lebih mudah. Dalam doa istikaharah kita membuat sebuah permohonan ‘Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini ‘ . Jadi apa yang kita dapatkan yaitu pasangan yang sah merupakan yang terbaik menurut ilmu Allah. Tentu kita yakin bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya bukan? Jika sudah demikian tentu persepsi kita tentang pendamping yang ideal harus tunduk dan patuh kepada ilmu Allah yang Maha Luas.

Kecewa? Itu manusiawi. Wajar bila kita merasa kecewa tidak mendapatkan sesuai yang kita inginkan. Ingin istri yang pintar masak, eh dapatnya yang cuma bisa masak mie instan itupun keasinan. Inginnya istri yang senantiasa tampil cantik mempesona di rumah, eh dapatnya yang tampil cantik saat kondangan doang. Itupun bedak sama lipsticknya dah gak karuan. Inginnya suami yang perhatian, eh dapatnya yang super cuek. Inginnya suami yang mau membantu pekerjaan rumah tangga, eh dapatnya yang rajin bantuin pekerjaan tetangga. Inginnya suami yang betah di rumah, eh dapatnya yang suka kelayapan sampai malam. Dan masih banyak contoh lain.

Di sini kembali lagi iman yang seharusnya menjadi juru bicara kita. Kita harus senantiasa menyadari bahwa Allah memberikan yang tepat dan terbaik bagi kita. Kita harus selalu yakin bahwa banyak kebaikan yang ada pada pasangan kita. Mungkin bukan saat ini Allah tunjukkan, tetapi sepanjang perjalanan hidup kita pasti Allah tunjukkan. Mungkin istri tidak pandai memasak, tetapi cekatan dalam mengurus anak, pandai dalam mengatur keuangan keluarga. Mungkin suami tipe orang yang cuek, tetapi dibalik itu ternyata sangat peduli kepada keluarga dan orangtua kita. Akan selalu ada kebaikan dibalik pasangan kita yang mungkin pada awalnya tidak seperti harapan kita.

Kita juga harus ingat bahwa tiada manusia yang sempurna. Dibalik sosok yang tampak anggun mempesona, gagah nan perkasa pasti ada keburukan yang mungkin saat ini belum tampak oleh kita. Namun dibalik sosok pasangan yang apa adanya pasti banyak kebaikan yang ada padanya. Toh kita juga harus adil menilai, bahwa bisa jadi kita lebih tidak ideal bagi pasangan kita dibanding ketidakidealan pasangan di mata kita. Jika sudah menyadari demikian maka marilah kita berkompromi dengan ego kita. Dan juga marilah bersama-sama pasangan membuat kriteria ideal bersama sehingga pada akhirnya istri berusaha menjadi istri idaman suami, demikian juga suami berusaha menjadi suami idaman istri. (maaf jangan disambung dengan kata ‘tetangga’ ya…)

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita tengok. Berapa banyak pasangan yang mendapatkan suami/ istri yang seperti harapan? Coba kita tanya pada orang-orang tua, pada kawan-kawan yang sudah menikah. Yang paling penting adalah jalani hidup berumah tangga dalam rangka menggapai ridha Allah. Insya Allah jika tujuannya adalah ridha Allah maka bagaimanapun pasangan yang Allah amanahkan kepada kita akan senantiasa dijaga dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dan akhirnya kita berharap agar kehidupan rumah tangga kita dapat menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana doa para tamu undangan di walimatul’ursy pernikahan kita.

 

DOA ISTIKHARAH
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.
Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.
Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

 

 

 

2 thoughts on “Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s