Ketika iman naik dan turun

Sudah menjadi keniscayaan bagi kita sebagai manusia biasa bila iman kita naik turun. Kita bukan malaikat yang imannya stabil, tidak naik dan tidak turun. Kita bukan termasuk golongan nabi dan rasul yang imannya senantiasa naik. Pun kita masih jauh dari level para ulama yang imannya memiliki potensi untuk naik lebih besar daripada turunnya. Kita hanyalah manusia biasa yang imannya kadang naik, namun suatu masa akan turun. Yazzidu wa yanqus sudah menjadi sunatullah.

Ketika iman kita naik tak hanya sholat wajib yang kita kerjakan, berbagai sholat sunnahpun kita jalankan dengan ringan tanpa rasa berat sekalipun. Tak hanya banyak namun kualitas sholat kitapun bagus, khusyuk. Doa-doa di penghujung dzikir pun mengalun dengan indahnya, benar-benar berdialog dengan Allah. Namun tatkala iman sedang turun jangankan shalat sunnah, shalat wajib saja keteteran. Mendapati rakaat pertama sudah merupakan sebuah peningkatan yang signifikan. Lebih banyak kita mendapati rakaat-rakaat penghujung sholat. Sudah begitu khusyuk menjadi kondisi langka. Doa-doa pun mengalir sekenanya. Apa yang diminta pun seolah hanya kata tanpa jiwa.

Ketika iman naik, shalat malam menjadi kegiatan nan syahdu, percakapan yang dirindu dan menjadi candu nan nikmat. Namun ketika iman menurun, jangankan bangun sepertiga malam, subuh saja kesiangan. Masih mending bila mendapat rakaat terakhir jamaah di masjid, lebih banyak di rumah. Karena kesiangan pula shalatpun akhirnya secepat kilat seakan takut dikejar siang.

Ketika iman di puncak, tilawah berjuz-juz dalam sehari menjadi amalan yang tak pernah ditinggalkan. Lembar demi lembar dibaca dengan tartil, menggugah jiwa , penyejuk kalbu. Rindu rasanya bila sampai dhuha belum membaca barang selembarpun. Namun ketika iman turun, jangankan berjuz-juz selembar pun seakan berat. Mata ini lebih suka membaca status di media sosial, browsing internet melalui gadget atau membaca koran di kantor. Sampai akhirnya tidak ada waktu untuk sekedar menyentuh Al-Quran.

Ketika iman meninggi, sedekah pun semakin banyak. Seakan tidak pernah menyimpan uang dalam semalam. Begitu hari itu ada, hari itu pula disalurkan. Namun ketika iman melemah, jangankans etiap hari, seminggu sekali saat shalat jumat pun masih pikir-pikir. Begitu sayang dengan uang yang ada di tangan. Terlupa bahwa uang yang disimpan akan dipertanggungjawabkan.

Dan begitulah kondisi kita manusia biasa. Naik dan turunnya iman adalah sebuah keniscayaan. Kitapun tentu akan sekuat usaha kita untuk menjaga agar iman kita dalam kondisi yang baik. Kalaupun mengalami penurunan maka tidaklah sampai terjerembab. Kalaupun sampai iman itu merosot jangan sampai menjerat. Masih ada celah bagi kita untuk bangkit lagi.

Dengan mengingat sebab naik dan turunnya iman berharap agar kita senantiasa bisa menjaga stabilitas iman kita. Stabil dalam kenaikan. Iman akan naik seiring banyaknya ketaatan kepada Allah. Sebaliknya iman akan merosot seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu marilah kita senantiasa berbuat amal dan kebaikan sehingga Allah akan menolong kita dengan meneguhkan hati kita dalam taat kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s