Berikan Umpan, Baru Engkau Berharap Ikan

“Ini gimana sih teman-teman, kok gak ada yang komentar di page-ku. Padahal sudah aku undang satu-satu lho.. “ curhat teman pagi kemarin.

“ Lha emang kenapa? “

“ Ini tugas kuliah kan harus bikin page atau website tentang proyek yang bisa dikerjakan di instansi. Nah kata pak dosennya penilaian tergantung banyak tidaknya yang memberikan komentar. Nih sudah aku undang tapi belum ada yang komen.. Payah nih teman-teman.. “

“ Hmmm..gitu ya.. Lha sudah berapa page teman-teman yang kamu komentari? “

“ Mmmmm… belum ada sih.. Tapi kan.. masak ya sudah diundang gak mau komentar… “ jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Mungkin baru nyadar, tapi tetep saja defensif. O alah manusia…

“ Ya sudah sana komentar dulu.. ntar tunggu saja.. gak lama teman-teman akan komentar.. semakin banyak kamu komentar page teman-teman, semakin banyak pula yang akan komentar di page-mu..”

================================================================================

Sepenggal obrolan di atas memberi pelajaran kepada  kita, betapa kadang kita berharap orang lain berbuat seperti apa yang kita inginkan. Tetapi kita sering lupa untuk memberikan terlebih dahulu apa yang disukai orang lain. Contoh, kita senang kalau berpapasan dengan orang lain, dia (orang lain) memberikan senyum kepada kita. Tapi terkadang kita lupa (atau mungkin gengsi) untuk memulai senyum kepadanya. Ego kita masih menganggap siapa yang memulai itu derajatnya satu tingkat dibawah yang menanggapi. Seakan kita adalah orang yang lebih mulia, yang mana orang lainlah yang harus selalu mendahului menghormati kita.

Belajar dari filosofi MANCING, Berikan umpan baru engkau berharap ikan, maka sebenarnya untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain maka kitapun perlu rela memberikan terlebih dahulu sesuatu yang disukai orang lain. Contoh, agar teman-teman komentar di page kita, maka berikan komentar terlebih dahulu di page teman-teman. Atau kalau ingin setiap orang ramah dan murah senyum kepada kita, maka kitapun tak perlu sungkan untuk memberikan senyum terbaik kita terlebih dahulu. Iya sih, tapi kalau tidak dibalas kan malu juga…Hmmm emang iya.. hehe.. Tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk mendahului berbuat baik. Bukankah bertemu saudara dengan wajah berseri-seri berhias senyum adalah sedekah? Lalu kalau tidak ditanggapi yaa sudah anggap saja sedekah. Kita sudah dapat pahala.. Kan? Tidak mungkin kan kita bilang ke ikan, “wahai ikan nih aku punya umpan enak lho.. mari sini nyangkut di pancingku..”. Kalau begitu, pancing orang lain dengan memberikan umpan terbaik kita. Kalau ternyata tidak dapat ikan ya sudah kita niatkan sedekah memberi makan ikan. Mungkin ikannya lagi gak minat atau mungkin kita mancingnya di kolam yang gak ada ikannya. So, simple..

Untuk itu marilah kita kikis sifat egosentris kita. Jangan melulu fokus kepada diri kita, jangan selalu berharap orang lain yang seharusnya mendahului memperlakukan kita dengan baik. Pancinglah orang lain sehingga mau tidak mau membalas umpan yang kita berikan. Contoh, memberikan salam itu sunnah tetapi menjawab salam itu wajib (wajib kifayah, tapi kalau cuma sendirian kan jadinya wajib ‘ain, terkecuali kalau yang memberi salam itu kita ketahui bukan saudara seiman yang mana tidak perlu dijawab atau kalau dijawab tidak lebih dari wa’alaika). Jadi mendahului berbuat baik itu baik, membalas kebaikan dengan kebaikan itu wajib. Tapi kebaikan yang tidak berbalas bukan suatu aib, dan kita tidak perlu minder karena Allah SWT senantiasa mengetahui niat dan kebaikan hamba-hambaNya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s