Untukmu, yang sedang memperingati Milad…

Pertama kuucapkan Barakallahu fiik… Tiada lain berharap semoga keberkahan senantiasa Allah limpahkan atasmu dalam setiap urusanmu dalam setiap hembus nafasmu. Salah satu doa yang mencakup segalanya, keberkahan.

Sumringah di wajahmu menandakan hari ini adalah hari yang istimewa bagimu. Entah mungkin hatimu jauh lebih sumringah bercampur was-was, akankah hari ini hanya spesial bagi dirimu sendiri. Dan kini aku yakin was-was itu sudah lenyap bagaikan mendung yang menghujan. Bukankah aku ingat ini hari spesial bagimu? Ah sumringah itu tak perlu kau sembunyikan. Cukup kentara ia menjelma rona merah di kedua pipimu.

Tak hendak sebenarnya aku mengusik bahagiamu. Hanya saja sayang rasanya bila hari spesial ini menjadikanmu bahagia bukan kepalang, hingga mungkin lupa akan hakikat memperingati milad. Aku yakin bahwa dirimu tiada akan melenakan diri larut dalam hingar bingar pesta yang entah sebenarnya merayakan apa. Sekedar traktir makan aku rasa itu hanya memenuhi todongan kawan-kawan. Selebihnya mereka tak peduli lagi apakah hari kelahiranmu itu bermakna atau tidak. Yang mereka tahu bahwa hari lahirmu itu jaminan makan gratis sekali tempo. Miris bukan?

Hari lahir boleh saja menjadikan engkau bahagia namun jauh lebih bermakna bila memperingatinya menjadikan dirimu menyadari hakikat hidup ini. Sejatinya bahagia merayakan hari lahir itu bersanding perenungan yang mesti engkau lakukan. Kebahagiaan akan kesuksesan yang diraih, kebersyukuran atas nikmat yang diperoleh tidak lantas melepas mawas yang harus engkau genggam.

Semakin banyak usia yang telah engkau jalani sejatinya semakin mendekatkan kepada ujung perjalanan ini. Keberhasilanmu menempuh perjalanan sejauh ini memang patut engkau syukuri. Namun sisa perjalanan yang semakin menipis perlu menjadikan dirimu mawas. Apakah yang mesti engkau lakukan di sisa perjalanan ini? Berkacalah pada masa lalu. Tengoklah ke dalam. Jauh… jauh lebih kedalam lagi. Lihatlah apa yang terlihat di sana. Emas, berlian, permata dan segala keindahan lainnya. Atau penuh lumpur, debu, noda dan segala kotoran yang menyertainya. Tentu terkadang engkau perlu memilah dan memilih karena jalan hidup kita berwarna warni. Kemilau keindahan dan kesuraman berkelindan.

Lihatlah kemilau yang memancar dari balik kaca masa lalu. Tidakkah engkau menginginkannya bertabur di sisa perjalananmu? Maka berbuatlah sebaik mungkin, jadilah pribadi yang sesholih mungkin dan biarkan jalan hidupmu bertabur keindahan. Bila masanya tiba, hanya keindahan yang menyertaimu.

Lalu jangan engkau tutup mata terhadap suram. Tataplah sejenak… Tidakkah engkau ingin suram itu tak lagi menjelma di perjalanan selanjutnya? Maka hindarilah sebab musabab suram tersebut. Tahanlah dirimu dari menabur debu, bersabarlah dari godaan menenun mendung. Tetaplah istiqomah dalam kebaikan. Jangan biarkan mendung merenggut kemilau yang hendak engkau pancarkan.

Dan akhirnya teruntuk engkau yang memperingati milad, kebersyukuran atas nikmat usia adalah sebuah budi pekerti yang elok. Namun tiada berarti meninggalkan perenungan, tazkiyatun nafs untuk menjadikanmu insan yang berkualitas.

Yogyakarta, 17 Juni 2015
Malam pertama Ramadhan nan barakah 1436H

Sepenuh cinta,
Dari seseorang yang mencintaimu karena-Nya, insya Allah …

*kupersembahkan teruntuk istriku yang tercinta🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s