Tiga sarana meraih keluarga SAMARA

Keluarga SAMARA bukanlah sebuah kondisi yang dapat terwujud dalam semalam. Bukan sebagaimana dongeng-dongeng semasa kecil kita yang sering menceritakan betapa sesuatu yang besar terwujud sebelum ayam berkokok. Dan keluarga SAMARA juga tidak terwujud begitu saja dengan bersatunya insan yang memiliki kesholihan yang tinggi. Tetapi keluarga SAMARA merupakan sebuah keluarga yang terbentuk melalui sebuah proses. Peran kesholihan anggota keluarga adalah menjadi katalisator (pemercepat) proses terbentuknya keluarga SAMARA. Ketika setiap anggota keluarga menyadari peran dan tanggungjawab terhadap keluarga insya Allah keluarga SAMARA akan lebih cepat diraih.

Untuk meraih keluarga yang SAMARA setidaknya ada tiga hal yang mesti kita perhatikan diantaranya :

1. Menjaga Adab

Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal adanya adab-adab dalam masyarakat. Misalnya saling sapa antar tetangga ketika bertemu, berbicara dengan sopan kepada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, saling memberi sebagai hadiah tanda kasih sayang dan lain-lain. Dalam membina keluarga pun harus dilaksanakan adab-adab tersebut. Tidak hanya sekedarnya saja tetapi justru harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ambil contoh ketika bertemu dengan tetangga atau orang lain kita menebar senyum, maka terhadap keluarga harus lebih sering kita menebar senyum, bahkan tertawa bersama anggota keluarga dalam suasana riang gembira. Senantiasa kita usahakan bermuka manis terhadap anggota keluarga. Peluk dan cium pun perlu kiranya kita seringkan agar ikatan batin semakin terjaga.

Demikian juga adab-adab yang lain, perlu ditanamkan agar setiap anggota keluarga saling menghormati, saling menghargai, yang tua menyayangi yang muda, anak-anak menghormati orang tua. Sebaik-baik kita adalah yang paling baik terhadap keluarga. Jangan sampai kita bermuka manis, berperilaku lembut terhadap orang lain tetapi justru sering pasang muka masam ketika di rumah, berkata kasar dan mengumpat kepada anggota keluarga. Hendaklah apa yang kita perbuat baik ketika berhadapan dengan orang lain, kita lipatkan kebaikan tersebut ketika berhadapan dengan keluarga.

2. Saling Membantu

Salah satu kunci keluarga bahagia adalah adanya sikap saling membantu. Urusan dalam rumah tangga tidak lagi terbagi menjadi “ini urusanku” dan “itu urusanmu”. Tetapi hendaknya setiap anggota keluarga berusaha untuk meringankan beban anggota keluarga yang lain. Ketika istri sedang sibuk memasak, suami bisa membantu dengan mengasuh anak. Ketika suami sedang dikejar tugas kantor, istri dengan sukarela meng-handle semua tugas tanpa mengeluh atas ketidakterlibatan suami untuk membantu. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah membantu mengayak tepung untuk dimasak oleh istri beliau. Di sisi lain setiap angggota keluarga hendaknya juga memiliki kemandirian. Apa-apa yang bisa dikerjakan sendiri sebisa mungkin tidak melimpahkan kepada orang lain. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah menjahit baju sendiri.

Untuk itu ada baiknya setiap anggota keluarga saling berbagi pengetahuan, saling mengajarkan hal-hal yang tidak diketahui oleh anggota keluarga yang lain sehingga ketika suatu saat terjadi masalah teknis bisa diselesaikan sendiri. Misal ketika lampu mati, si istri bisa mengganti sendiri tanpa harus menunggu suami yang pulangnya malam. Atau ketika istri sedang ada keperluan seharian sehingga tidak sempat masak, suami bisa memasak untuk dirinya dan anak-anak. Saling mengajarkan keterampilan juga akan semakin mengakrabkan hubungan emosional antar anggota keluarga.

3. Menjaga Kehalalan Rezeki

Tidak dipungkiri bahwa rezeki yang cukup menjadi salah satu penopang kekuatan rumah tangga. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kefakiran lebih berpotensi mendekatkan kepada kekufuran. Untuk itu sebagai keluarga muslim yang mendambakan SAMARA maka rezeki yang cukup perlu diupayakan. Namun tidak asal cukup, tetapi perlu diperhatikan kehalalannya. Rezeki yang halal akan membawa barakah dalam hidup kita. Sebaliknya rezeki yang haram alih-alih membahagiakan, justru menambah sempit kehidupan. Lihat saja para koruptor, bolehlah hidupnya bergelimang harta namun dalam hatinya tidak merasa bahagia. Nah untuk itu perlu kita upayakan rezeki yang halal mulai dari cara memperolehnya sampai mengeluarkannya. Bukankah rezeki yang kita makan akan menjadi daging dalam tubuh kita.

Dengan mengupayakan ketiga hal di atas kita berharap semoga Allah mengkaruniakan keluarga SAMARA kepada kita. Sekali lagi bahwa keluarga SAMARA adalah keluarga yang terbentuk karena proses bukan kondisi yang dapat dicapai dalam semalam saja. Untuk itu kita harus senantiasa bersabar dalam menjalani setiap prosesnya dan nikmati saja.

Note: SAMARA singkatan dari Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Inspirasi : Kajian ahad pagi masjid Al-Furqon 13 Desember 2015 oleh ustadz Suparman, M.Si.

Pembahasan tulisan ini sudah selesai sampai di sini. Bagian setelah ini mencantumkan beberapa hadits terkait pembahasan di atas.

Hadits :

[1] Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285)

[2] ‘Aisyah berkata, “Rasulullah mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya dan menjahitnya”. [H.R. Bukhari]

[3] Al-Aswad bin Yazid bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa yang biasa dilakukan Nabi s.a.w. di dalam rumah?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat”. [H.R. Bukhari]

[4] “Empat perkara bila keempatnya ada padamu maka tidak mengapa apa yang terlewatkanmu dari perkara duniawi: menjaga amanah, ucapan yang jujur, akhlak yang baik, dan menjaga (kehalalan) makanan.” (Shahih, HR. Ahmad dan Ath-Thabarani dan sanad keduanya hasan, Shahih At-Targhib no. 1718)

[5] “Barangsiapa mendapatkan harta yang haram lalu ia membebaskan budak darinya dan menyambung silaturrahmi dengannya maka itu tetap menjadi beban atasnya.” (Hasan lighairihi. Shahih Targhib, 2/148 no. 1720)

[6] “Barangsiapa mendapatkan harta dengan cara yang berdosa lalu dengannya ia menyambung silaturrahmi atau bersedekah dengannya atau menginfakkannya di jalan Allah, ia lakukan itu semuanya maka ia akan dilemparkan dengan sebab itu ke neraka jahannam.” (Hasan lighairihi, HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Marasiil, lihat Shahih At-Targhib, 2/148 no. 1721)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s