Bekerjaku Syukurku

Sukailah pekerjaanmu, apapun itu, kata orang. Sebagian bilang pilihlah pekerjaan di bidang yang kamu sukai. Namun apapun kondisinya, syukurilah pekerjaanmu. Karena betapa banyak orang yang menginginkan berada di posisimu. Di sisi lain bekerjalah sebagai tanda syukur. Bahwa engkau telah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk bekerja, mencari nafkah penghidupan. Maka bersyukurlah dengan senantiasa bekerja dengan baik. Iringi setiap pekerjaan dengan doa, bismillah.

Ayahku pahlawan keluargaku
Dengan bismillah ayahku bekerja
Setiap tetes keringatnya
Bagai mutiara
Ayahku pahlawan keluargaku

Demikian sebait lagu yang sering dinyanyikan oleh bidadari kecilku. Pengingat dan penyemangat setiap ayah dalam bekerja. Wahai ayah, bekerjalah. Karena melalui lelahmu, Allah menitipkan rejeki-Nya kepada keluargamu. Wahai ayah, bekerjalah. Karena lelah tubuhmu akan berbalas senyum bahagia keluargamu. Wahai ayah, bekerjalah sebagai tanda syukur.

Tips Excel : Menghitung Jarak antara 2 Tanggal

Dalam pekerjaan terkadang kita diminta untuk menghitung berapa lama kita telah bekerja. Atau dalam perkuliahan kita diminta menghitung masa studi. Atau mungkin kita ingin menghitung usia kita sampai hari ini. Untuk melakukan hal tersebut kita dapat menggunakan bantuan ms. Excel. Ada rumus sederhana yang dapat digunakan yaitu :

=DATEDIF(C4;D4;”Y”)&”  Tahun,  “&DATEDIF(C4;D4;”YM”)&”  Bulan,  “&DATEDIF(C4;D4;”MD”)&”  Hari”

C4= cell tanggal awal
D4= cell tanggal akhir (atau bisa juga sekarang)

Hasil dari penghitungan adalah xx Tahun, yy Bulan, zz Hari. Misalnya 1 Tahun, 3 Bulan, 29 Hari.

Selamat Bereksperimen.

Ketika hati ragu hendak memilih

Sebut saja namanya Budi, laki-laki 33 tahun. Melihat usianya yang sudah berkepala tiga memang sudah sepantasnya dia berumah tangga. Teman-teman sebayanya sebagian besar malah sudah punya anak, dua atau tiga. Sementara dia masih saja ‘menikmati’ status single-nya. Sudah berapa banyak teman dan relasi yang mencoba mengenalkan dengan perempuan, namun selalu saja berakhir tanpa berujung di pelaminan. Akibat sering gagal menjodohkan, sebagian besar temannya menganggap dia seorang yang terlalu pemilih, sulit untuk menemukan yang sesuai. Entah bagaimana kriteria yang diinginkannya. Perempuan yang cantik lagi sholihah pun sudah berapa banyak yang ditolaknya. Kalau ditanya jawabannya sama, belum jodoh, tidak cocok, belum waktunya.

Usut punya usut ternyata Budi memiliki hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Lita. Sudah beberapa tahun belakangan ini mereka saling menjajaki. Tak sadar benih-benih cinta muncul di hati keduanya. Namun mengapa tak juga berujung di pelaminan? Dalam ‘penjajakan’ tersebut terungkaplah kriteria ideal masing-masing tentang pasangannya. Dan Lita menurut Budi belum memenuhi kriteria ‘ideal’. Berjilbab, memiliki pemahaman agama yang baik dan bersikap dewasa. Sehingga sampai saat ini Budi masih berusaha untuk ‘mengubah’ Lita agar sesuai dengan kriterianya. Belum lagi kriteria-kriteria lain yang tidak begitu syar’i sebenarnya seperti apakah mau tinggal dengan mertua, apakah mau pindah kerja yang lebih dekat, bagaimana kalau belum memiliki rumah dan lain-lain.

Dalam pada itu ada seorang teman Budi yang ingin mengenalkannya dengan seorang perempuan. Sholihah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Pas dengan kriteria si Budi. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak. Namun apa daya, perjodohan kali inipun bernasib sama dengan sebelumnya. Padahal si perempuan sudah membuka pintu, sudah menyatakan bersedia bila itu memang yang terbaik. Ternyata hati si Budi masih belum bisa berpaling dari Lita yang beberapa tahun belakangan dekat dengannya. Di satu sisi Budi sudah ‘hampir’ menemukan sosok ideal untuk dijadikan istri andai dia mengiyakan. Namun di sisi lain hati Budi masih mengharapkan Lita bisa berubah sesuai dengan kriterianya. Dan akhirnya hati Budi terombang-ambing tidak jelas sementara usia terus bertambah. Dia pun semakin ragu bahwa dia akan menemukan sosok perempuan ideal dalam hidupnya.

Sepenggal cerita di atas merupakan contoh betapa dalam masalah jodohpun kita dituntut untuk tegas. Benar bahwa jodoh merupakan takdir, namun diantara kondisi tersebut ada peran kita dalam menentukan iya dan tidak. Seperti kasus Budi, ketegasan untuk memilih -antara menunggu Lita sampai ia berubah seperti keinginan Budi (yang entah sampai kapan) dan melupakan Lita untuk kemudian memilih perempuan yang sesuai kriterianya- menjadi kunci pokok masa depannya. Apakah akan tetap bertahan dengan Lita tanpa tahu kejelasannya atau memilih perempuan yang sesuai kriterianya (meski mungkin belum ada cinta)? Menurunkan kriteria bagi Lita bukanlah tipe Budi karena Budi adalah orang yang saklek dengan kriterianya. Namun berpaling dari Lita juga bukan pilihannya, berat rasanya. Jadi entah sampai kapan kisah Budi akan berakhir di pelaminan, hanya Allah yang tahu.

Sekali lagi memutuskan untuk menikah memerlukan ketegasan. Ketegasan yang disertai konsekuensi. Menikah yang didasari cinta sebelumnya memang lebih mudah, namun jangan sampai cinta menguasai idealisme kita. Jangan sampai terpekik semboyan ‘kalau tidak sama dia mending tidak (nikah) saja’. Biasanya cinta yang semacam ini sifatnya hanya sesaat, luapan perasaan sekali tempo. Menikahlah karena alasan-alasan logis. Oke.. dia sesuai yang aku inginkan, lamar dan nikahin saja. Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa? Kalau sudah jadi istri meski awalnya belum ada cinta, insya Allah cinta akan tumbuh seiring waktu kebersamaan. Kalau dalam posisi Budi, sebaiknya lupakan Lita dan pilihlah perempuan yang sesuai kriteria lalu nikah(i)lah.

love.jpg

Ketika kamu cowok dan dia cewek

Persahabatan adalah sebuah kata yang menunjukkan sebuah keindahan, seharusnya. Dengan sahabat kita bisa berbagi ceri(t)a, namun kepada sahabat pula kita bisa menyampaikan keluh kesah. Intinya sahabat adalah orang yang paling mengerti dalam kondisi apapun kita, seharusnya (lagi).

Sebagaimana umumnya kita gak pernah tahu kapan jadian (jadi sahabat maksudnya). Tahu-tahu saja sudah jadi sahabat. Sahabatpun tak pandang bulu (eh gender). Tidak selamanya cowok harus bersahabat dengan cowok, cewek dengan cewek. Boleh percaya atau tidak jaman sekarang lebih banyak persahabatan antara cowok dan cewek. Iya sahabatan doang (ngakunya).

Tapi eh tapi, percaya deh, persahabatan cowok dan cewek itu tidak mungkin, sekali lagi tidak mungkin, murni tulus tanpa disertai sebuah perasaan yang lain. Silahkan buktikan (tanyakan), itu juga kalau korbannya (eh respondennya) jujur, pasti diantara mereka salah satu atau bahkan dua-duanya memiliki rasa sayang (suka yang tidak sekedar suka itu).

Lalu apa masalahnya? Ya tidak masalah sih kalau tidak ada yang jadi pihak korban. Maksudnya si cewek atau cowoknya? Bukan itu. Maksudnya pihak lain yang menjadi korban kedekatan mereka. Aelah belibet sih.. Intinya? Jadi intinya hati-hati saja kalau kamu cowok dan dia cewek tapi sudah punya suami. Atau kalau kamu cewek dan dia cowok beristri. Jangan pernah terjalin persahabatan. Hindari hal-hal yang bisa menuju ke sana. Cukup berteman saja bukan “berteman”. Kalau “berteman” itu biasanya modus laki-laki  (eh..).

Jangan sampai persahabatan itu mengorbankan perasaan pasangan yang sah, suami atau istri (pacar tidak termasuk karena itu pasangan tidak sah, baik secara agama maupun negara). Jadi berhati-hatilah. Mencegah itu lebih baik dari mengobati bukan? Menghindari bersahabat dengan lawan jenis itu lebih mudah (seharusnya) daripada menyelesaikan kondisi yang berantakan akibat persahabatan itu karena persahabatan cowok dan cewek itu tidak mungkin, sekali lagi tidak mungkin, murni tulus tanpa disertai sebuah perasaan yang lain.