Uniknya Orangtua Bermuka Dua

unduhan

Uniknya orangtua bermuka dua. Di hadapan orang banyak, begitu lembut ia menyapa buah hatinya. Panggilan sayang begitu murah tercurah. Peluk dan cium dipamerkan, mengabarkan kalau ia begitu menyayangi anaknya. Sementara anaknya menanggapi dengan wajah ragu, benarkah ini orangtuaku. Kok tiba-tiba begitu lembut dan penyayang.

Uniknya orangtua bermuka dua. Di saat berdua saja atau di dalam kerajaan rumahnya, ia berubah menjadi monster nan menakutkan. Panggilan sayang serasa sudah habis ia tuangkan di hadapan khalayak ramai. Kalimat lembut pun menguap seiring suasana hatinya yang panas menahan kepura-puraan. Tinggallah hardikan, bentakan dan kadang sampai tanganpun dimainkan. Ia benar-benar menjadi raja di rumahnya. Yang segala inginnya haris dituruti, yang semua larangannya harus ditaati. Kalau berani melawan, awas hukuman menanti. Jadilah anak patuh dan taat, tapi berlatarkan takut, bukan kesadaran apalagi bukti sayang.

Wahai kita, iya kita, orangtua. Marilah didik anak-anak kita dengan kelembutan, agar mereka belajar menjadi lembut. Marilah ajari anak-anak kita dengan kesabaran, agar mereka belajar menjadi orang-orang yang sabar. Marilah kita menjadi orangtua yang sebenarnya. Yang senantiasa lembut dan sabar, entahlah di hadapan orang ramai atau hanya berdua saja.

Tengoklah ke dalam diri kita. Apakah anak-anak lebih sering tertawa riang bersama kita, ataukah anak-anak lebih sering menangis diiringi bentakan dan hardikan kita? Tegas itu bukan berarti membentak. Tegas adalah bagaimana kita tetap pada pendirian kita meski anak menangis namun seiring itu kita tetap bisa menghadapi dengan kelembutan.

Saya hanya takut jika saat ini tidak bisa berlaku lembut maka kelak di saat kita menua, tidak takutkah bila anak membentak hanya karena ketidak mampuan kita. Apakah kita akan kembali menghardik dengan mengatakan ‘ anak durhaka, berani sama orangtua ‘. Padahal kitalah yang mengajarkan bentakan dan hardikan itu semenjak kecil.

Yuk jadi orangtua yang lembut..lembut.. dan lembut.. Bukankah “tidaklah kelembutan itu berlaku pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s