Ketika Aku Memilih Mundur

Rabu, 18 Januari 2017 menjadi sebuah penanda peristiwa yang mungkin aku akan lupa harinya dan tanggalnya namun tidak akan lupa momennya. Setelah menimbang, berpikir sejak akhir tahun 2016, akhirnya tepat tanggal itu berani mengambil keputusan yang ‘aneh’?

Resmi mulai tanggal tersebut saya mengembalikan amanah sebagai khotib di masjid depan rumah. Dan alhamdulillah disetujui oleh ketua takmir dengan catatan hanya sepanjang tahun 2017. Lega…

Kenapa pada akhirnya saya memilih mundur? Sebenarnya gak penting banget untuk diketahui khalayak ramai, sama gak pentingnya isi tulisan ini.. Hehehe.. Tapi mungkin esensinya bisa menjadi sebuah pembelajaran.

Sejak 2015 saya secara resmi dimasukkan dalam jadwal khotib dengan jadwal khusus Jumat Kliwon. Tentu saja saya tidak sendirian, ada tandemnya. Sehingga ya setidaknya setiap 2 lapan sekali saya bertugas sebagai khotib. Dan tercatat saya yang termuda diantara yang dijadwal tersebut. Yang lain lebih dari 10 tahun diatas saya. Bangga? Tidak juga. Kok ditulis? Biarin aja. Biar nyambung sama kelanjutan tulisan ini.

Menjadi yang termuda tidak selalu enak.. Jelas karena bagaimanapun yang enak-enak jatah yang tua-tua. Apaan sih? Kalau pas khotib terjadwal berhalangan hadir pastilah yang termuda sebagai sasarannya. Siapa lagi kalau  bukan saya, meski sempat juga menolak dan berhasil.

Terjadwal demikian menjadikan saya dalam posisi tidak nyaman. Semacam ada beban. Sebuah keharusan. Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya mundur. Yakin? Enggak. Tapi lebih kepada tidak ada kesempatan bagi kawan sebaya saya untuk memunculkan potensinya sebagai khotib, penerus masa mendatang. Saya sendiri selalu sadar bahwa saya pendatang di lignkungan ini. Jelas mengkader saya tidak banyak memberi manfaat di kemudian hari. Maka mau tak mau harus ada sebuah situasi dimana terjadi kekosongan sehingga bisa menjadi tempat bagi yang lain untuk masuk.

Kita tentu mafhum bahwa proses regenerasi kadermasjid di pelosok tidak bisa seideal di kota-kota atau yang pemikirannya sudah maju. Biasanya kalau sudah itu ya ituuuu terus. Sampai akhirnya maut yang memisahkan. Setelah itu kelabakan nyari gantinya. Oleh karena itu memang harus ada yang dikorbankan agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Kader-kader yang disiapkan tidak cuma sebiji doang, tetapi berbiji-biji.

Dan terbukti dengan pernah ogahnya saya ( ditambah kata-kata manis penuh logika yang saya sampaikan ke yang minta ganti) akhirnya ada satu kawan saya yang diberanikan tampil. Dan kemarin ada satu lagi yang berani tampil. Saya senyumin saja. Tujuan saya berhasil. Kelowongan posisi saya sudah ada yang ngisi. Gak menyesal? Enggaklah… asal bukan posisi di hatinya aja yang tergantikan..ups..

Dan setiap segala sesuatu keputusan yang kita ambil akan membawa konsekuensi masing-masing. Berpikirlah dengan baik, pertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Hindari mengambil keputusan dalam kondisi emosi yang tidak baik semisal marah, ngambek, sebel dan lain sebagainya.

 

*1 lapan= 35 hari, penanda hitungan Jawa. Jarak antara hari dan pasaran yang sama adalah 35 hari. Misal jumat kliwon – jumat kliwon = 35 hari atau sabtu wage – sabtu wage = 35 hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s