Untukmu;

Teruntuk engkau yang pagi tadi memelukku;
Menatapku dengan mata bulatmu;
Berikan manis senyummu;
Yang membisikkan dengan lembut;

Barakallah fii umrik maas;

Teriring doa tulusmu untukku;
Doa yang kuaminkan sepenuh hati;
Terucap maafmu tak bisa berikan sesuatu;
Tak mengapa karena kamulah kado terindah itu;

Teruntuk engkau;
Yang telah memilih bertahan;
Di saat ada alasan untuk meninggalkanku;
Dan tak seorangpun akan menyalahkanmu;

Kau tahu;
Sikapmu itu yang mampu meluluhkan hatiku;
Keteguhanmu itu yang menyadarkanku;
Bahwa kamulah anugerah terindah;

Aku Ingin Kembali

Pagi yang cukup sejuk menyambut hari ini. Tanpa terasa perjalanan waktu memasuki Agustus. Lembaran ketiga bulan ini. Sebenarnya hari ini masih berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Namun bagiku ada sedikit keistimewaan. Hari ini tepat peringatan hari dimana aku ditakdirkan lahir ke dunia ini. Bertambah usia, makin dekat ke pergantian alam. Harus ada perubahan yang berarti dalam hidup ini. Ya, aku harus berubah.

Perjalanan hidupku menjelang hari ini benar-benar sebuah rangkaian yang tak pernah terduga. Tahun lalu tak pernah terbayangkan bahwa beberapa hari kemarin akan berjalan seperti ini. Sebuah pertaruhan yang bodoh. Sebuah petualangan yang gila. Entah bagaimana menggambarkannya.

Dan setelah apa yang terjadi, Aku ingin kembali. Kembali kepada tempat di mana seharusnya berada. Mencoba anggap semua yang terjadi ibarat badai yang telah berlalu. Dan memang sudah tidak perlu membuka-buka kembali. Tutup dan simpan rapat-rapat. Gembok dan buang kunci ke tengah lautan.

Bismillah, membuka lembaran baru di hari ini dengan senyuman. Mencoba mengikhlaskan semua getir yang dirasa. Membuang kenangan yang akhirnya menghitam. Bangun dari mimpi buruk beberapa bulan terakhir ini.

Aku, Penanti

Agustus sudah memulai perjalanannya. Hari ini tepat lembaran kedua. Sudah lama tak menuliskan sesuatu di gubuk ini. Terlalu lama berkubang dalam dosa. Hingga lupa hampir semua. Insya Allah awal Agustus tahun ini menandai niatan untuk kembali menggoreskan kata di blog ini. Selalu berharap bisa memberikan makna kepada sesama.

Aku memang belum menjadi seorang penulis. Aku masih seorang penanti. Menanti lintasan ide. Padahal ide-ide itu berseliweran setiap hari. Namun jemari urung menangkapnya, menaruhnya dalam untaian kata.

Bismillah… Kuniatkan diri untuk berbagi. Aku percaya apapun itu, asalkan niatnya baik, isinya baik maka akan memberi manfaat. Dan inilah tulisan pertamaku setelah bangun dari mimpi burukku. Aku, Penanti 🙂