Telat Nikah?

Pernah suatu kali di waktu yang lalu, diantara waktu senggang di saat kerja seorang senior, katakanlah begitu, bilang ke saya.

” Iyo mas, kalau bisa nikah itu jangan telat. Jangan seperti aku yang nikah sudah 30an sehingga usia segini anak masih kecil-kecil.”

Lain lagi ada ibu-ibu yang khawatir anaknya tidak segera dilamar oleh pacarnya (lama  pacaran sudah 10 tahun) ini ada cerita khususnya insya Allah

“Lha ini anakku gak segera ada kepastian dari pacarnya. Keburu tua.. Kalo telat nikah nanti sudah tua anaknya masih kecil-kecil..”

Telat Nikah…

Sebuah kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi mereka yang masih single sementara usia sudah semakin matang. Desakan orang tua untuk segera mencari jodoh sudah begitu kuat. Belum lagi gunjingan tetangga dan masyarakat yang seakan menganggap lajang matang adalah sebuah aib.

Tapi….

Sebenarnya ada gak sih terminologi Telat Nikah itu?

Telat. Padanan kata dari terlambat. telat/te·lat/ a kasip; terlambat:
Sementara terlambat/ter·lam·bat/ v lewat dari waktu yang ditentukan:

Jadi jelas bahwa telat berarti lewat dari waktu yang ditentukan.

Sebagai contoh. Jam masuk kerja 07.30 WIB, lalu kita datang jam 08.00 WIB. Berarti kita telat. Terlambat. Karena batas waktunya adalah 07.30 harus sudah di kantor.

Tapi kalau Nikah?

Siapa yang menentukan batas waktunya? Siapa yang bilang usia 25, misalnya, harus sudah nikah? Setelah itu dianggap telat. Atau haruskah yang menikah di usia 40 tahun dianggap telat, terlalu tua?

Kalau mau jujur, tidak ada yang membatasi usia seseorang untuk nikah. Usia berapapun nikah tetap tepat waktu. Karena apa? Karena tidak ada yang membatasi. Adapun batasan 23, 25, 27, 29, 30 itu bukanlah nilai yang pakem. Hanya menurut kebiasaan di masyarakat saja.

Di masyarakat yang umumnya menikah di usia 25 tahun ke bawah maka usia 26 sudah dikatakan telat. Tapi ukuran masyakarat ini juga bisa berubah-ubah. Dahulu jaman kakek-nenek kita, mereka menikah di usia 20an awal. Lalu semakin ke sini batasan bertambah. Usia 25an menjadi patokan ideal. Mungkin ke depan juga berubah lagi.

Tapi intinya bukan itu. Jangan sampai patokan-patokan itu menjadikan kita seakan terburu waktu, dikejar masa, harus segera menikah di usia sekian. Memiliki target menikah di usia, misal 25 atau 27, itu bagus. Setidaknya kita menjadi terpacu untuk segera memantaskan diri agar bisa segera menikah.

Tapi ketika target itu tidak tercapai, belum ada calon sampai usia 28 misalnya, ya sudah.. Tidak perlu galau.. Toh Allah saja tidak menentukan batasan kapan harus sudah nikah.. Tetap setia di jalur yang benar. Jangan tergoda untuk pacaran.

Pacaran walaupun tujuannya untuk nikah tetap saja sesuatu yang diharamkan. Pacaran Islami? Gak ada. Itu hanya akal-akalan nafsu saja biar pacaran terkesan tidak berdosa. Padahal pacaran itu sehina korupsi. Menikmati yang bukan haknya. kita bahas di lain waktu.. 😀

Jadi inti daripada tulisan ini adalah memberi sebuah sanggahan untuk kosakata telat nikah. Bahwa telat nikah itu tidak ada. Kapanpun usia menikah, itu adalah usia yang pas dan tepat bagi yang bersangkutan. Wis gitu aja.

#sudutruangkerja
#09januari2018
#telatnikahitugakada

Advertisements

5 thoughts on “Telat Nikah?

  1. Indonesia susah sih masi suka ngurusin hidup orang. Pdhl jodoh rahasia Tuhan kan, giimana maksain coba buat nikah. Even Taaruf kalo blm cocok juga gak bakal di terusin kan yah. huhu netijen banyak yang julid pula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s