Akhirnya Nomer Hangus bisa Nyala Kembali… (Meski ada Tapinya..)

Tanggal 26 Juni 2018 saya mencoba kembali perjuangan menyelamatkan nomor Indosat saya yang hangus. Setelah sebelumnya datang ke Grha Indosat di jalan C.Simanjutak, Yogyakarta dan diminta datang setelah 2 bulan sejak kartu hangus. Karena berbagai alasan (kesibukan mengajar di luar) akhirnya baru tanggal 26 Juni kemarin menyempatkan diri datang ke Grha Indosat di jalan C.Simanjutak. Nyaris habis masa 3 bukan sejak kartu hangus, yang saya tahu jika lewat 3 bulan maka kartu sudah diproses untuk dibuat kartu baru dan dijual entah dimana.

Setelah menunggu beberapa saat giliran saya mengadukan permasalahan ke CS-nya. Kartu hangus sejak Maret 2018 apakah bisa diselamatkan? Bukan apa-apa sih, cuma kalau sampai ganti kartu maka akan repot memberitahukan nomor baru ke teman-teman atau relasi. Apalagi jaman now penipuan itu begitu marak. Alih-alih memberitahu nomor baru malah bisa dikira penipu.

Opsi yang diberikan oleh CS waktu itu hanya satu. Jadinya bukan opsi deh. Lha wong cuma ada satu-satunya solusi. PINDAH ke POSTPAID alias Pasca Bayar. Jadi yang selama ini bayar duluan baru pakai sekarang pakai baru bayar.

Untuk pilihan paketnya ditawarkan
1. Paket Nelpon dan SMS biaya abonemen bulanannya 38.500
2. Paket internet include nelpon dan SMS ke sesama Indosat biaya bulanannya 66.000

Setelah dipikir akhirnya saya milih paket internet. Pertimbangannya karena dengan begitu saya ngirit untuk tidak perlu beli kartu data sebagaimana selama ini. Tapi sebenarnya setelah diitung-itung ya jadi gak hemat juga sih.. Hanya membuat lebih simpel saja. Gak harus gonta ganti kartu.. Di sisi lain sinyalnya juga tidak sedahsyat kartu data saya sebelumnya.. Bilang saja telkomsel.. Entah kenapa di tempat saya tinggal sinyal yang kuat hanya telkomsel. Yang kedua indosat meski gak kuat. Sementara yang lain blank sinyal..

Akhirnya dengan segala konsekuensi yang ada saya tetap senang karena nomor saya terselamatkan.. Alhamdulillah.. Dah gitu aja.. 😀

Advertisements

Kartu Datapun harus Registrasi

Jaman now kehabisan kuota bisa menjadi hal yang krusial. Seakan-akan terlempar ke peradaban beberapa dekade lalu dimana hape belum sepenting sekarang. Biasanya begitu nomer kita kehabisan kuota lalu dibuang dan beli yang baru. Tapi sekarang kita mesti teliti. Jangan buang kartu yang lawas terlebih dahulu. Kenapa?

Beberapa waktu yang lalu membeli kartu kuota data. Biasanya beli kartu, diaktifkan oleh counter, pasang dan langsung bisa kembali ke peradaban masa kini. Tapi kini gak bisa lagi.

Sekarang kartu data harus diregistrasi lagi mas, pakai nomor KK dan KTP.. Sudah sejak seminggu lalu” kata petugas counter.

Untuk saat ini berlaku untuk Indosat dan Telkomsel..

Lalu kalau sudah habis bagaimana?

Kalau sudah habis kartu lama jangan dibuang, harus di UNREG dulu agar No KK dan KTP bisa digunakan lagi (CMIIW, satu no KTP maksimal 3 kartu).”

Untuk REGISTRASI atau UNREG bisa Akses *444#.. Lalu pilih menu Registrasi, perpanjangan atau UNREG..

Oh jadi begitu.. Tambah ribet juga ya.. Tapi itulah kebijakan pemerintah. Kita rakyat kecil mah gak punya pilihan. Kalau gak ikut aturan yaa justru repot sendiri..

Makanya, pastikan sebelum ganti kartu kuota data, kartu yang lawas di UNREG dulu yaa..

Bila Sinyal HP Tiba-tiba Menghilang

Bermula saat beberapa waktu yang lalu tiba-tiba sinyal Indosat menghilang tanpa kabar. Awalnya masih menduga kalau memang sedang trouble mengingat daerah tempat tinggal termasuk fakir sinyal. Hanya Indosat dan Telkomsel yang bisa berbicara.

Tapi kok sampai 2 mingguan tidak juga muncul sinyal, sehingga ada kecurigaan ada hal lain yang menyebabkan hilangnya sinyal. Sesuatu yang jangan sampai terjadi, yaitu kartu hangus.

Karena kekepoan yang mendalam, tanggal 19 April 2018 kemarin, sepulang dari rakor di Hotel Pesonna Malioboro, saya mendatangi Grha Indosat di jalan C. Simanjutak Yogyakarta, sebelah selatan Mirota Kampus, persis sebelum toko ELS.

Setelah mengantri sekitar 1 jam maka sampailah giliran saya mengadukan perihal masalah yang saya alami. CS kemudian menanyakan nomor saya. Cetak cetik cetak cetik..

” Nomor sudah terdaftar atas nama (saya) dan masa tenggang terakhir tanggal 28 Maret 2018..”

Duh.. kenyataan.. hal yang saya khawatirkan terjadi. Kartuku hangus…

” Tapi nanti kita coba untuk diaktifkan kembali, tetapi tidak semua nomor bisa diaktifkan.. Biasanya status seperti ini setidaknya 2 bulan. Setelah itu baru dapat diketahui status selanjutnya bagaimana. Jika sudah unpair (dengernya kayak gitu sih.. entah bener gak istilah itu) nanti baru bisa diaktifkan lagi. Bisa atau tidaknya langsung bisa ketahuan. “

Berarti saya harus datang lagi untuk ngecek kah?

” Nanti untuk ngecek bisa telepon lewat layanan 185 dari nomor Indosat. Bisa pinjam teman atau saudara. Biaya layanan Rp. 1.000,- per panggilan. Kalau sudah dalam kondisi unpair silakan datang kembali untuk diaktifkan.”

Lalu syarat-syarat yang harus disiapkan apa saja dengan kondisi kartu hangus?


Pertama, kartu harus sudah terdaftar atas nama kita…
Kedua, membawa KTP asli dan fotokopi KK…
Ketiga, kartu yang rusak harap dibawa..

Oke.. berarti 2 bulan setelah nomor hangus berarti sekitar tanggal 28 Mei 2018. Dan untuk sementara WA gak boleh instal ulang karena kalau instal ulang otomatis harus dengan nomor lain.

Ini nih permasalahan yang harus diperhatikan. Biasanya karena jarang sekali menggunakan SMS atau telepon sehingga kurang care dengan pemakaian dan masa aktifnya. Malah kartu data yang diperhatikan. Akibatnya ya bisa hangus.. Padahal kalau hangus tidak lagi bisa menerima SMS dan panggilan, sementara jika WA terpaksa instal ulang harus memasukkan nomor agar mendapat SMS konfirmasi. Lha kalau sudah begitu mau gimana lagi.

Last, berharap semoga kartu saya bisa diaktifkan kembali.. Aamiin.. 🙂

Aku Tak Lebih Baik dari Siapapun

“Kalo begini kamu tak lebih baik dari si itu…”

“Aku yang lulusan D3 aja lebih bisa mikir daripada kamu yang lulusan lebih tinggi..”

Pernah ada yang bilang begitu kepada saya. Ya gak saklek begitu kalimatnya tapi intinya begitu. Lantas bagaimana menghadapi hal itu? Dalam hal konten isi bahwa ada yang lebih baik dari saya, itu tidak jadi masalah. Tapi dalam hal diperbandingkan jelas siapapun pasti tidak mau, apalagi seorang laki-laki dimana memiliki ego keakuan yang besar.

Di sini kita kesampingkan dulu tentang hal diperbandingkan tersebut. Fokus kepada bahwa saya tidak lebih baik dari siapapun. Ya, untuk hal ini saya memang tidak lebih baik dari siapapun. Bahkan saking ekstrimnya, kalau ada yang bilang saya lebih buruk dari pabu* maka itupun saya terima. Setidaknya agar hati ini tidak merasa sombong. Dan saya pun memang dari dulu berusaha menghindari untuk meremehkan siapapun, apapun pekerjaannya, apapun pendidikannya, apapun latar belakangnya. Hal ini tak lepas juga dari saya yang tidak suka dinilai dengan melibatkan embel-embel, entah status sosial, pendidikan atau apalah itu. Sebagai contoh, saya tidak suka dengan kalimat semisal “kamu itu sudah kuliah S1 masak kalah sama dia yang D3”. Tapi saya akan menerima jika dikatakan kepada saya “Kamu bisa lho lebih baik dari ini.. Pekerjaanmu ini masih belum memenuhi kualifikasi yang diharapkan”

Saya memang berusaha menghindari untuk marah ketika dibilang buruk oleh oranglain (lain soal dengan dibanding-bandingkan). Bahkan untuk suatu pekerjaan yang dinilai tak jelas pun saya terima. Saya tahu bahwa keburukan yang saya miliki masih jauh lebih banyak dari yang orang lain tahu yang kemudian dikatakan itu. Justru bersyukur bahwa masih banyak aib yang Allah tutupi sehingga orang lain tidak tahu semuanya.

Memang ya tidak cukup sampai di situ. Gak belajar namanya kalau cuma nrimo begitu. Ketika dibilang gak baik oleh orang lain tentu saja harus instrospeksi. Dan dalam hal ini saya sangat menghargai jika orang yang melontarkan cacian itu memberikan penjelasan kepada saya. Maksudnya bagaimana dengan perkataannya itu, kemudian bagaimana seharusnya saya perbuat untuk memperbaikinya. Ya saya memang berusaha untuk menyikapi kritik biar seenak kripik. Karena saya merasa tak sempurna maka dengan kritik itu harapannya bisa membuat saya selangkah lebih baik.

Well, mungkin ini sedikit curhat tapi saya rasa poin-poin pentingnya bisa diambil diantaranya bahwa Dianggap tak lebih baik dari siapapun itu bukan musibah. Justru harus disadari dan diterima dengan legowo. Kemudian berusaha menjadikan cacian, cemoohan itu sebagai cambuk untuk menjadi lebih baik lagi. Itu…

Siapa Shofmate-mu?

Siapa shofmate-mu? krik krik krik…

Shofmate apaan sih? Haaaa.. istilah ini tiba-tiba muncul di benak saya sesaat hendak sholat subuh tadi. Entah benar atau tidak perpaduan katanya, tapi ya biarlah. Jadi gini ceritanya. Entah bagaimana caranya (yang pasti takdir Allah yang berperan) hampir setiap sholat di masjid depan rumah, sering banget bersebelehan dengan seseorang yang sama. Bahkan entah saya yang masbuq atau dianya yang terlambat. Pokoknya jejeran gitu. Ya seru aja, kenal akrab enggak, soulmate bukan tapi jadi shofmate.

Setidaknya sudah dua orang yang jadi shofmate saya. Yang satu simbah-simbah yang qadarullah berpulang beberapa minggu yang lalu. Sungguh meski tidak kenal (serius gak kenal, cuma tahu nama saja) tapi sudah merasa kehilangan sejak beliau sakit. Bagaimana tidak, seseorang yang hampir selalu ada di samping kita tiba-tiba menghilang. Dan akhirnya Allah yang memanggilnya terlebih dahulu. Selamat jalan mbah… Semoga panjenengan dijejerke sama amal-amal sholeh yang menjelma jadi teman yang rupawan di kubur. Hiks… sendu…

Shofmate yang kedua bapak-bapak yang qadarullah oleh Allah diuji dengan pernah stroke sehingga geraknya sedikit terbatas. Kenalkah aku? Ya tidak akrab, cuma tahu nama. Semoga beliau senantiasa diberi kekuatan untuk selalu berjamaah di masjid itu. Meskipun untuk saat ini justru saya yang jarang berjamaah di masjid itu, seringnya hanya subuh dan ashar. Ya gimana lagi, dhuhur jelas di kantor kalo pas gak dinas luar (diperhalus) 😀 . Maghrib dan Isya’ di masjid lain dekat apotek Turi Sehat. Ya karena kondisi memang harus begitu. Toh bagi saya yang penting adalah bagaimana menjaga biar selalu bisa berjamaah di masjid, meski kadang tertatih.

Jadi begitu kira-kira makna shofmate.. Maaf kalau penjelasannya justru tidak menjelaskan apa itu shofmate. Tapi yang pasti siapapun shofmate-mu, lakukan sholat dengan sepenuh hati, khusyu’. Mudah? Jelas tidak. Tapi setidaknya kita sadari, kita posisikan diri jangan-jangan itu sholat terakhir kita.

 

Dunia Motor : Laki-laki itupun berubah menjadi Bebek

Sudah hampir tiga bulan ini saya sudah tidak bersamanya. Dia sudah pergi dijemput sepasukan prajurit Soekarno-Hatta yang berjumlah 75 orang itu. Kini sebagai penggantinya saya telah dipersuntingkan dengan yang lain. Laki-laki itupun berubah menjadi bebek. Ngomongin apa sih?

Ini tulisan sebenarnya mau memberitahu bahwa saya tidak lagi mengendarai motor Laki-laki dan berganti dengan motor Bebek. Makanya judulnya dibuat sedemikian sehingga agak dramatis, menurut saya. Mega Pro tahun 2005 yang sudah setahun membersamai saya akhirnya dilepas seharga Rp.7.500.000,- pada suatu malam di saat yang tak terduga. Kemudian berganti dengan bebek Supra X 100 cc. Memang ada bedanya sih, sangat terasa. Yang sebelumnya 160 cc disunat menjadi 100 cc. Kalau dulu berkendara dengan pelan adalah pilihan maka sekarang adalah kewajiban. Kalau dulu pengen ngebut tinggal tarik gas pol, sekarang harus lebih sabar. Mau gas pol si bebek meronta, dibawa pelan kadang menguji emosi apalagi kalau telat berangkat.

Tapi tak perlu disesali lha wong nyatanya memang tidak menyesal. Ambil hikmahnya saja bahwa dengan kendaraan yang bisanya pelan, mau dipaksa seperti apapun juga tetap pelan, membawa keuntungan bahwa kita bisa lebih aman berkendara. Tidak ada acara kebut-kebutan di jalan, selain gak aman juga nyali sudah tidak sebesar dulu. Sekarang sudah mikir-mikir. Lebih mengutamakan selamat karena ada yang menunggu di rumah.

Mengendarai motor bebek memberi keuntungan terutama bagi orang-orang seperti saya yang memiliki balita. Betapa repotnya jika menggendong sambil mengendarai motor seperti pernah saya alami dengan mega pro. Tangan kanan pegang gas, tangan kiri siaga dengan kopling. Kadang ada rasa tidak nyaman terkait keamanan si kecil. Dengan motor bebek maka tangan kiri leluasa pegang si kecil sementara tangan kanan pegang gas. Jalan pelan-pelan tetap oke karena tidak perlu khawatir motor mati mendadak karena tarikan gas kurang. Dan lebih nyaman membawa si kecil berkeliling kompleks karena yakin dalam pegangan kita.

Yang selanjutnya lebih gampang dalam membawa beban, semisal harus isi ulang galon di warung terdekat. Membawa pakai motor bebek ternyata membawa kemudahan tersendiri. Belum lagi jika diminta belanja maka akan lebih mudah membawa belanjaan. Dan masih banyak lagi. Jadi di satu sisi bolehlah ada sesuatu yang berkurang, tetapi di sisi lain banyak kelebihan yang dihadirkan. So syukuri yang ada saja.

(sengaja) Kembaliannya permen lagi ?

Pada tulisan sebelumnya saya pernah membahas mengenai kembalian belanja berupa permen. Nah pada tulisan kali ini ingin mempertegas lagi hal tersebut dengan temuan baru bahwa kembalian berupa permen memang disengaja.

Sore kemarin saya kembali lagi belanja di toko yang sama dengan toko di tulisan awal dulu. Sebuah toko di bilangan perempatan Ngablak, sebuah toko yang berkembang pesat dari sebuah counter HP menjadi sebuah mini market. Sore itu saya membeli 15 kotak susu sapi 125 ml seharga Rp. 32.250. Saya membayar dengan uang Rp 100.000,-. Berarti saya berhak menerima kembalian Rp. 62.750,- yang seharusnya uang semua. Mungkin karena pecahan Rp.50,- tidak ada maka saya hanya menerima Rp.62.700,- dengan perincian Rp.62.500,- berupa uang dan 2 buah permen. Kali ini saya bilang ke kasirnya “ Mbak permennya diganti uang saja… “ dan kemudian si mbaknya mengambil 2 koin receh Rp.100,-.

Ada dual hal yang menjadi poin saya.

Pertama, Kembalian yang seharusnya Rp.62.750,- disunat menjadi Rp.62.700,-. Lalu kemana uang Rp.50,- tersebut? Bukan masalah besaran yang mungkin bagi sebagian kita “ Ah cuma Rp.50,- saja diributin..” tetapi tentang kemana uang itu bermuara? Sementara tidak ada keterangan apa-apa, tulisan di layar juga tetap Rp. 62.750,-. Agak berbeda dengan salah satu swalayan besar di Yogyakarta yang mana pecahan dibawah Rp.100,- dimasukkan sebagai dana sosial dan kembalian dalam bentuk bulat ratusan. Dan itupun dikembalikan dalam bentuk uang bukan permen. Dalam hal ini saya tetap menganggap telah terjadi perampokan Rp.50,-. Bayangkan, berapa uang yang terkumpul hasil ‘perampokan’ tersebut dalam sehari jika dalam tiap transaksi berakhir Rp.50,- selalu disunat. Lalu berapa dalam sebulan, setahun, bertahun-tahun? Dan kita tidak pernah tahu untuk apa? Okelah untuk amal, tetapi jika tanpa kejelasan penyunatan tersebut tetap saja illegal. Dan apakah itu tetap halal? Wallahu a’lam.

Kedua, saya menangkap bahwa kembalian permen memang sengaja. Entah tujuannya apa, tetapi nyatanya kalau tidak diminta tidak diberikan. Dulu saya pikir karena waktu itu memang tidak ada recehan sehingga ‘terpaksa’ diebrikan permen. Tetapi pikiran positif tersebut luluh lantak lewat kejadian kemarin sore. Jelas-jelas sebelum saya ada yang membayar dengan uang recehan seratusan dua keping dan saya melihat sendiri, seharusnya saya mendapatkan kembalian bukan permen tanpa harus saya minta.

Saya hanya berharap kepada pemilik toko tersebut, semoga cara-cara mendapatkan kelebihan uang semacam ini segera ditinggalkan. Boleh jadi banyak yang dalam hatinya tidak terima, tetapi di sisi lain tidak berani mengungkapkan. Apakah sikap diam selamanya harus dimaknai setuju (dalam hal ini sikap menanggapi kedzaliman-perampokan uang)? Dan kita sebagai pembeli jangan takut untuk meminta hak kita. Permen sekali lagi bukanlah alat tukar yang sah, itu adalah sebuah bentuk pemaksaan kehendak apalagi jika kita tidak membutuhkannya. Mintalah kembalian dalam bentuk uang karena itu adalah hak kita.