Jam Tangan Kesetiaan

Di sebuah kota terjadi suatu hal yang membuat resah para istri. Hal ini sebagai akibat seringnya mereka menonton sinetron yang tayang hampir di setiap jam-jam penting dimana mereka juga ternyata lebih mementingkan menonton tayangan tersebut daripada mengerjakan hal lain. Ternyata tayangan sinetron tidak hanya sekedar sebuah tontonan tetapi rupanya telah merasuk ke dalam jiwa. Mempengaruhi pola pikir dan menciptakan persepsi bahwa dunia nyata juga seperti dalam dunia sinetron. Awalnya gejala ini hanya dirasakan oleh sebagian istri saja. Tetapi lambat laun karena panjangnya cerita dari mulut ke mulut akhirnya hampir seluruh istri di kota merasakan keresahan yang sama. Mereka sama-sama menaruh curiga terhadap para suami. Ada saja hal-hal yang memicu kecurigaan tersebut. Suami pulang agak telat, suami ada pekerjaan lembur di hari libur, suami dititipi membeli kenang-kenangan untuk kantor, suami yang jadi jarang membantu tugas rumah karena kelelahan, suami yang tiba-tiba menjadi super bersih dan berpenampilan rapi padahal memang niatnya untuk membahagiakan istri dan masih banyak lagi. Tetapi di mata para istri hal tersebut menjadi semacam trigger munculnya pikiran negatif. Akibat dari keresahan ini, banyak rumah tangga yang terancam gulung tikar (suami gulung tikar lalu gelar tikar di ruang tamu).

Rupanya berita keresahan ini sampai kepada seorang ilmuwan. Jiwa keilmuwanannya terpanggil untuk membuat sebuah alat yang dapat digunakan untuk memantau aktifitas suami di luar rumah. Maka dalam kurun waktu 7 hari 7 malam terciptalah sebuah alat yang diberi nama : Jam Tangan Kesetiaan. Jam tangan ini wajib dipakai oleh para suami kemanapun hendak pergi. Jam tangan ini selain sebagai sebuah penunjuk waktu, lebih dari itu jam tangan ini menjadi sbeuah perangkat mata-mata. Jam ini dilengkapi dengan sensor wajah. Ketika digunakan maka siapa saja yang ada di sekitar pemakai akan termonitor. Alat ini tidak berdiri sendiri, tetapi harus ada pasangannya agar para istri bisa memantau dengan baik. Untuk para istri ada alat seperti tempat bedak dimana ada layar dan perangkat yang lain yang bisa memonitor aktifitas suami di luar rumah. Dari rumah, istri bisa mengetahui siapa saja orang yang ditemui oleh suami sekaligus tahu apa saja yang diobrolkan. Jika ada sosok yang mencurigakan maka istri bisa memberi sinyal kepada suami sehingga suami bisa mengambil jarak aman, syukur bisa menjauhinya. Selain fasilitas monitor wajah, jam tangan kesetiaan juga dilengkapi dengan software pemrograman untuk memasukkan jadwal suami di luar rumah sehingga ketika tiba waktunya harus pulang alarm pada jam tangan akan berbunyi dan suami harus segera pulang.

Keberadaan alat ini dirasa sangat membantu para istri sehingga dalam sehari semalam sudah terjual habis. Laris manis. Dan keesokan harinya dipastikan para suami memakai jam tangan baru pemberian istri tercinta. Awalnya mereka senang-senang saja sampai akhirnya mereka agak risih dengan suara alarm yang berbunyi berkali-kali setiap hari. Tidak itu saja selalu pasti setiap alarm berbunyi diikuti oleh dering telepon dari istri mengecek aktifitas suami. Juga ketika jam pulang alarm berdering lama. Dan baru berhenti ketika sudah sampai rumah. Hal ini lama kelamaan membuat para suami merasa terganggu, belum lagi ketika sampai rumah disambut wajah istri yang cemberut sebelum mencecar dengan berbagai pertanyaan. Intinya kehidupan rumah tangga mereka menjadi kacau.

Karena merasa aneh maka para suami mencari tahu informasi tentang jam tangan mereka yang dirasa bukan jam tangan biasa. Lalu ditemuilah sang ilmuwan yang mencipta jam tersebut. Lalu oleh ilmuwan dijelaskan panjang lebar mengenai asal usul dan kegunaan jam tangan tersebut. Pahamlah para suami mengenai kenapa akhir-akhir ini ada kejadian aneh akibat tingkah laku istri yang tidak biasanya. Tetapi untuk memberi pelajaran kepada istri maka diadakanlah persekongkolan para suami untuk saling bertukar jam tangan sehingga apa yang dilihat istri bukanlah apa yang terjadi pada suami tetapi justru suami orang lain. Keesokan harinya terjadilah kehebohan massif dan terstruktur. Para istri menjadi heran kenapa suami sudah di rumah tetapi layar bedak menampilkan situasi lain. Yang lebih parah, ada kasus suami masih kerja lembur di kantor tetapi layar di bedak menampilkan dia masuk ke rumah orang lain dan disambut oleh seorang wanita. Serta masih banyak kehebohan lainnya. Ujung-ujungnya para istri menjadi marah. Pikiran negatif terhadap para suami selama ini semakin menjadi. Tak jarang dari mereka meminta cerai.

Menghadapi hal tersebut para suami tetap menghadapi dengan adem ayem. Lalu suatu hari diadakanlah pertemuan akbar di sebuah lapangan tetapi dipastikan tidak ada sampah yang berserakan atau rusaknya tanaman. Diundanglah sang ilmuwan yang membuat jam tangan tersebut kemudian diceritakanlah pula hal ihwal persekongkolan para suami untuk saling bertukar jam tangan. Mengertilah para istri dan sadarlah mereka bahwa selama ini dikuasai oleh pikiran negatif. Sang ilmuwan yang ternyata juga seorang yang bijak ini selanjutnya memberi wejangan bahwa seharusnya mereka mempercayai suami mereka. Cukuplah kepercayaan itu sebagai modal dalam harmonisnya rumah tangga. Janganlah mencurigai suami dengan kecurigaan berlebihan apalagi sampai memantau 24 jam sehari. Tetapi seharusnya mereka percaya bahwa suami tidak akan berbuat macam-macam, titipkanlah kepada sang Pemantau yang Maha Tahu agar suami dijaga dan dipelihara.

Lalu berpelukanlah antara suami dan istri di lapangan yang luas itu sampai-sampai masuk dalam Guiness Book of Records dalam jumlah pasangan yang berpelukan di satu tempat dan satu waktu yang disertai tangis haru. Kemudian sebagai tanda kebebasan, setiap suami melepas jam tangan mereka untuk diserahkan kembali kepada ilmuwan untuk direset ulang menjadi jam tangan biasa. Sementara alat bedak diubah menjadi smartphone. Juga mereka meminta ilmuwan untuk membuat sebuah alat yang bisa menyaring tontonan yang baik dan memblokir tayangan yang tidak baik.

Selang seminggu kemudian kehidupan kota tersebut menjadi lebih baik. Jam tangan kesetiaan tetap dipakai oleh para suami, tetapi tiada lagi alarm peringatan. Alat bedak menjadi smartphone yang membantu para istri berbisnis online. Kemudian hampir tidak ada televisi yang menyala karena hampir semua tayangan telah diblokir oleh alat filter yang mereka pesan. Dan kehidupanpun berjalan dengan sempurna. Kini sebagai ganti tayangan yang telah diblokir mereka membuat stasiun televisi sendiri dan hanya menayangkan konten religi dan konten pengetahuan.

Advertisements

Mau Golput? Gak Ah… Tapi… Pilih Partai Mana ya?

ngobrolJo            : “Tong tanggal 09 April 2014 nyoblos kan ya.. ?”
Tong      : ” Gak tau nih.. kayaknya sih Golput aja kayak pemilu yang lalu… “
Jo            : “ Emang kenapa Tong?… Kata Iklan hari gini golput? KUNOOOO… “
Tong      : “ Ah cuma iklan doang…gak ngaruh ke aku..”
Jo            : “ Lho… lha emang kenapa golput? “
Tong      : “ Ah kayaknya sama saja… milih partai mana saja tetap gak akan ada perbedaan.. paling-paling juga cuma ditipu aja kita.. baik-baikin rakyat biar dapat suara.. setelah duduk di singgasana giliran rakyatnya yang diinjak-injak…”
Jo            : “ Eeeeh… gak boleh pesimistis gitu ah.. masih banyak yang baik kok..  “
Tong      : “ Ah paling juga cuma pencitraan aja itu… kayaknya golput lagi aja lah kali ini“
Jo            : “ Memang memilih dalam pemilu adalah hak kita Tong.. Bisa kita gunakan atau tidak.. Tapi menggunakan hak pilih kita, setidaknya ada niatan baik buat kita untuk membangun negeri ini.. Taruhlah menurut Lu gak ada yang baik.. Ya kita masih mending memilih yang tingkat tidak baiknya lebih kecil.. gampangnya kita pilih yang terbaik dari yang ada… “
Continue reading

Kisah Ayah dan Anak beserta Keledai

Kisah ini entah berasal darimana, yang pasti aku mendapatkannya ketika masih di Sekolah Dasar.

———–iIi————-

keledaiSuatu hari ada seorang ayah dan anaknya yang bepergian menuju ke pasar dengan menaiki keledai. Tujuannya untuk menjual keledai tersebut. Karena jaraknya yang cukup jauh diperlukan waktu hampir setengah hari.

Mereka membawa keledainya dengan dituntun. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang yang baru kembali dari pasar. Orang tersebut kemudian berkata “ Kenapa kalian capek-capek berjalan kaki. Bukankah keledai dapat dinaiki? Alangkah enaknya jika kalian naik saja keledai itu”

Mendengar perkataan itu, ayah dan anaknya kemudian menaiki keledai itu. Keledai itu ternyata tak cukup besar sehingga terlihat kepayahan. Tetapi karena lebih menghemat tenaga maka mereka tetap menaikinya.

Tak berapa lama, bertemulah mereka dengan penjual sayuran yang sedang menunggu pembeli memilih-milih sayurannya. Kemudian penjual sayuran itu melihat keledai yang kepayahan membawa ayah dan anaknya di punggungnya. “ Ah betapa kasihannya keledai itu, sudah badannya kecil dinaiki oleh ayah dan anaknya yang berat. Benar-benar tidak memiliki kepedulian kepada hewan.”

Mendengar perkataan tersebut, ayah dan anaknya turun dari keledai. Kemudian memutuskan bahwa sebaiknya satu orang saja yang menaiki keledai, satu orang yang menuntun keledai. Maka diputuskanlah anaknya yang naik keledai sementara ayahnya menuntun keledai.

Di tengah perjalanan, di sebuah persimpangan bertemulah mereka dengan penjual sapi dan anaknya. Si penjual sapi berceletuk “ Lihatlah nak, itu contoh anak yang tidak berbakti kepada orangtuanya. Sang ayah bercapek-capek sementara ia ber-enak-enak di atas keledai.”

Mendengar perkataan tersebut sang anak berkata kepada ayahnya “Yah sebaiknya ayah yang naik dan aku yang menuntun, aku tak mau dikatakan tidak berbakti.” Sang ayahpun menyetujuinya. Sekarang bergantian sang anak yang menuntun sementara sang ayah naik keledai.

Sepertiga jalan dari pasar, mereka bertemu dengan seorang kakek dan cucunya yang sedang berjalan-jalan. Sang kakek berkata “ Lihatlah cucuku, itulah contoh ayah yang tidak sayang kepada anaknya. Si anak bersusah payah berjalan sementara ayahnya naik keledai.”

Mendengar perkataan itu sang ayah menjadi merenung. Benar juga, pikirnya. Kemudian dia turun dan mengajak musyawarah anaknya. “ Nak kelihatannya kita sellau serba salah, kita tuntun keledai salah, naik berdua juga salah. Kamu yang naik, aku yang menuntun salah. Apalagi aku yang naik sementara kamu menuntun. Sebaiknya kita apakan keledai ini?”

Anaknya berpikir sejenak. “ Ayah bagaimana kalau kita pikul saja keledai ini. Siapa tahu memang itu cara terbaik.”

Sang ayah setuju. Kemudian mulai mengikat kaki keledai kemudian memanggul keledai itu bersama anaknya. Merasa sudah benar mereka dengan penuh percaya diri memasuki pasar. Tetapi banyak orang menertawakannya. Banyak yang bilang “ Keledai bisa berjalan sendiri kok dipanggul. Kan jadi memberatkan. Dasar orang yang aneh.”

Mendengar perkataan tersebut sang ayah kehabisan akal. Mau gimana lagi biar tidak salah membawa keledai itu.

————oOo————

Adakalanya kita tidak selalu harus mendengarkan perkataan orang lain yang selalu menyalahkan tindakan kita. Jika kita sudah mengambil keputusan yang dirasa tepat dan terbaik maka lakukanlah dan jangan hiraukan perkataan orang lain yang pada akhirnya akan melemahkan semangat kita. Meski begitu kritik dan saran orang lain perlu menjadi pertimbangan kita, tetapi tidak menjadi pengendali tindakan kita.

Dasar Pemalas !!!

“Dasar Pemalas !!!! ” teriaknya kepadaku.
“Ah kayak kamu enggak malas juga !!!” kubalas teriakan itu.
Malas sekali menanggapi kata-katanya yang hampir tiap hari disuapkan padaku. Kadang kesal juga mendengar ocehannya yang tak kunjung berganti topik. Tapi bagaimana lagi, ada manfaatnya juga aku berkawan dengan dia. Dengannya aku menjadi lebih terkontrol meski tak jarang sih aku sesekali membohonginya..xixixixi. “Rasain Lu….” umpatku dalam hati. Tapi seakan tanpa diberitahu, selalu saja ia tahu. Ah menyebalkan, jangan-jangan dia punya intel dimana-mana..Huh…

Kalau sudah begitu tak ada cara lain. Untuk membungkam suaranya cuma satu cara. Melakukan kebalikan dari perkataannya.. Memang dia itu agak cerewet kalau menyangkut hal-hal yang gak baik. “Ah sok baik Lu…” ejekku suatu ketika saat ia terlalu banyak ngomel. Dan seperti biasanya ia menanggapi dengan senyum. Hah menyebalkan.  Tanggapan yang bagiku lebih terkesan mencibirku. “Oke oke aku tuh emang pemalas, malasnya minta ampuuuun…so what gitu Loh?” kesabaranku tak kuasa lagi membendung luapan emosi.

“Aha….” jawabnya sambil cengar cengir gak jelas..Matanya menggambarkan semacam kemenangan kayak nelayan dapat ikan. Ah ekspresi ini sudah berapa kali kulihat, aku sudah jengah menghitungnya. Dan selalu berujung satu statement “menyebalkan”… Secara tidak langsung di telah meng-KO diriku dengan pukulan yang telak meski sedikit meleset..Hahaha selalu saja kuanggap seperti itu. Tapi tetap saja aku kalah.. Huh…

” Nah begini saudaraku…” dia mulai membuka sesi ceramah ala ustadz yang sok kenal sok akrab.. “Siapa pula kamu, mengaku saudaraku ” gumamku dalam hati.. Dia itu bukannya jelek atau apa, tapi bagiku dia itu sosok yang perfeksionis. Nah aku yang kadang berseberangan dengannya ibarat seperti air sumur dan air got.. Tahu sendiri kan aku orangnya suka celelekan ( bahasa jawa : sembrono ). Nah kalau ketemu dia yang perfeksionis pasti akan muncul percik-percik peperangan. Dan andai aku tidak mengalah pastilah pertempuran sengit akan terjadi. “Baiklah daripada kelamaan, mending aku fokus mendengarkan ocehannya yang aku rasa sama saja, itu-itu aja…Tapi sok dekatnya itu lho yang bikin gimanaaa gitu… huaaaaaaahh..” gumamku dalan hati.

“Ingat pemalas itu seperti orang yang tidur di rel-kereta. Ia akan terlindas oleh kereta yang lewat karena ia tidak segera menghindar.” Nah benerkan, cerita kereta ini emang sudah berkali-kali ia lontarkan..Mana menjelang romadhon tiket kereta sudah habis lagi.. Tapi untung sudah beli..

” Pemalas berarti memboroskan waktu dengan sia-sia, padahal banyak banget yang bisa dilakukan. Sayangnya waktu gak bisa diberikan atau diminta dari orang lain. Jadi gak ad atuh ceritanya orang jual waktu.So kita bisa beli kapanpun kita mau.. Kalo waktu bisa diberikan, kan kita bisa sedekah waktu biar dipake mereka yang kekurangan waktu. Tapi gak bisa bro.. tiap orang ya punya jatah waktu 24 jam sehari semalam. Mau dipake serius ya segitu, mau dipakai main-main ya segitu..”  Aku tersenyum lucu..ah baru kali ini dia pake bahasa gak formal..biasanya formal banget..kayaknya dia dah stress, karena aku gak mempan pake bahasa formal. xixixixi….

” Nah dari yang 24 jam itu setiap detiknya adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah. Orang yang rugi kalo hari ni sama kayak kemaren, palagi lebih jelek. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih baik, getting better gitu bro..Indikasinya salah satunya adalah memanfaatkan waktu dengan baik. Gak ada orang besar yang dulunya adalah pemalas..Mereka semua orang yang rajin..bahkan mereka kadang kurang waktu saking banyaknya tugas. Nah dari situ Lu harus jadi orang yang rajin, rajin menuhin kebutuhan dunia, rajin kuadrat ngejar akhirat. Ingat kalo kita berhenti kita akan dilindas kereta jaman. Kita jalan-pun masih bisa terlindas. Satu-satunya cara biar selamat yaaa harus lebih cepat daripada kereta.”

“Kalo alih jalur aja gimana..weekssss” cibirku menyadari kekurangan kalimatnya..

” Ow tidak bisa..”jawabnya..”kita cuma punya satu jalur waktu saja bro, gak ada yang lain..mau pindah, pindah ka mana atuh kang?”

” Owwww gitu ya…”gumamku. Logat sundanya benar-benar bikin ketawa. mending kalo nadanya orang sunda, ini mah katanya aja yang sunda, logatnya jawa aseli.

” Ni bro yang terakhir buat hari ini…kalo pengen maju..ni waktunya buat ngerubah diri. jadi orang yang rajin. gak ada kata terlambat bro, yang ada tinggal mau apa kagak. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan istiqomah….” penutup ceramahnya yang singkat itu. Selepas itu dia berlalu kembali ke rumahnya di dalam hatiku.

Bagaimanapun kadang aku risih dengan ocehannya. Tapi gimana lagi dia yang selalu mengingatkanku di kala salah. Tetap sabar menasehati meski berulang-ulang aku tak jua mengamalkan nasehatnya. Baru-baru ini dia menyinggung-nyinggung tentang taubat. Ah dia emang bagus kok, aku akui itu, cuma aku saja yang belum bisa mengikuti kata-katanya di dalam hatiku.

Nah setelah nasehatnya itu, kayaknya biar dia gak ngomel lagi, aku perlu merubah diri sedikit-demi sedikit. Gak ada salahnya dicoba, toh jadi pemalas juga gak ngasilin apa-apa. Hahahaha tetep motivasinya materi.. Ups jangan sampe dia tahu, soalnya pasti akan ceramah lagi soal keikhlasan. Tapi bilang dalam batin aja dah ketahuan..baiklah nyerah aja deh..

– Bandung, minggu pagi tujuh hari sebelum Ramadhan 1432 H
kode xxiv-vii-mmxi

Meja Sepasang Hati

mata-cantik

“Mas mampir warung situ aja ya…. “

“Mmm… ya bolehlah..” jawab Salman menanggapi ajakan istrinya.

“Kenapa mas.. kok kayaknya kurang bersemangat.. “ tukas Salma, istri Salman.

“ Enggak apa-apa kok dik… yuk.. “ lanjut Salman.

==================================================================================

“ Maaf mas aku mengundang mas ke tempat ini… “ Sita memulai pembicaraannya.

“ Emang ada apa dik kok ngajak ke sini… “ tanya Salman heran.

Tak biasanya dan tak seharusnya mereka bertemu. Tapi sore itu mereka sudah mengadakan janjian untuk bertemu di sebuah warung makan. Sebuah warung makan yang cukup nyaman dengan tempat yang tidak terlalu ramai. Sangat cocok bagi mereka yang pengen ngobrol dan membutuhkan tempat yang tenang. Selain itu privasi merekapun relatif aman karena antara satu gubuk dengan gubuk yang lain cukup jarak untuk tidak terdengar pembicaraan biasa. Kecuali kalau dengan teriak atau nada tinggi. Namun demikian setiap gerak-gerik masih dapat terlihat satu sama lain, sehingga kalau ada yang berbuat macam-macam akan ketahuan.

“ Aku pengen bicara sesuatu mas… tentang kita…. “ Sita agak tergugu melanjutkan pembicaraannya.

Salman yang merasa heran dengan perubahan raut wajah Sita tak kuasa berbuat apa-apa.

“ Ada apa dik? Kok tiba-tiba kamu sedih begitu… bukankah kita tinggal menunggu hari itu tiba… ataukah mungkin dari keluarga Sita menginginkan perubahan tanggal ? “ Salman mencoba menggali ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“ Mas Salman…….. “ Sita benar-benar ingin menangis. Tapi dipaksakannya untuk tidak sampai menitikkan air mata. Dengan kondisi mereka yang belum menjadi suami istri kiranya akan menjadi hal yang janggal bagi orang lain bila sampai terlihat Sita menangis. Tentu saja akan mengundang tanda tanya bagi orang lain. Sita pun mencoba menguasai dirinya. Dalam lirihnya ia ucapkan basmalah, berharap ia bisa mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.

“ Mas Salman sebelumnya mohon maaf atas segala kesalahan Sita…. “ Sita menghela nafas sejenak, sementara Salman mencoba tetap tenang.

“ Mas Salman, Sita tidak bisa meneruskan proses ini… “

Salman terkejut demi mendengar apa yang barusan ditangkap telinganya.

“Maksud dik Sita bagaimana? “ Tanya Salman dengan nada bergetar.

“ Sita ingin mengembalikan rembug keluarga Mas Salman…”

“ Mengembalikan bagaimana? Bukankah keluargaku dan keluargamu sudah bertemu dan sudah merestui pernikahan kita? Bukankah hari juga sudah ditentukan. Lalu bagaimana bisa Sita ingin membatalkan semua? “ cecar Salman.

“ Sita tahu mas ini tidak adil bagi mas… Tapi Sita merasa belum siap mas untuk menjadi istrimu…”

“ Kenapa dik? Tolong jelaskan ke aku.. apa yang sebenarnya terjadi setelah prosesi lamaran itu? Ataukah sebenarnya Sita sudah dijodohkan dengan orang lain? Tapi mengapa menerima lamaran mas? “

“ Bukan begitu mas… tidak ada orang lain. Tapi Sita benar-benar merasa tidak siap dengan kehidupan setelah kita menikah..”

“ Apa yang membuatmu tidak siap dik? Bukankah itu nanti bisa kita bicarakan, bukankah nanti bisa kita cari solusi bersama… Apa yang membuatmu tidak siap? “

“ Sita merasa tidak bisa menjadi seseorang yang mas inginkan.. Dari sms-sms tausiyah yang mas kirimkan ke Sita, dari buku-buku yang mas berikan ke Sita itu semua seakan memberikan gambaran kepada Sita tentang sosok seperti apa yang mas inginkan…”

“ Lalu…. ?”

“ Tapi lihatlah Sita mas.. Sita memang berjilbab tapi Sita masih sering pakai celana panjang jins. Sita juga tidak banyak ilmu tentang agama.. “

“ Tapi itu kan bisa dirubah kan dik?.. “

“ Bisa mas, tapi bagaimana bila itu tidak dari hati Sita.. bukankah nanti tidak akan nyaman buat Sita.. Juga nantinya akan berat buat mas Salman bila Sita tidak juga kunjung berubah.. Sita sadar bahwa Sita bukan tipe yang mas Salman inginkan… “

“ Sita… mungkin aku memang menginginkan sosok istri seperti yang ada di buku-buku itu. Setidaknya dari penampilan juga seperti itu. Berjilbab lebar. Tapi bukankah itu nanti bisa kita bicarakan… Kan mudah to berpakaian seperti itu?“

“ Mengubah penampilan memang mudah mas.. tetapi bila tidak dari hati Sita akan bagaimana? Bukankah ini lebih kepada prinsip mas… Sita merasa bahwa semakin ke sini banyak prinsip kita yang agak berseberangan.. Sita bukan berarti tidak ingin seperti sosok muslimah sejati. Sita pengen.. tetapi Sita pengen itu muncul dari hati Sita, bukan karena siapa. Sita takut bila nanti Sita belum juga bisa berubah justru akan mengecewakan mas Salman pribadi juga tentunya keluarga mas… “

“ Sita… jujur aku merasa berat dengan apa yang kamu sampaikan ini… Ada semacam asa yang tadinya membumbung tiba-tiba jatuh ke bumi… Aku sudah menunggu sekian lama untuk bisa bertemu dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupku… Dan ketika hampir aku dapatkan ternyata itu masih jauh.. Sita adalah wanita pertama yang aku berani serius melamar… “

“ Maafkan aku mas… “ Sita tak kuasa menahan tangis. Meski ditahannya dengan sekuat hati tetap saja aliran bening itu membasahi pipinya. Menghangat. Mengalir seiring lepasnya sesak yang selama ini ingin diungkapkannya..Namun basah di sapu tangannya membuat sesak yang lain. Sita merasa bersalah atas apa yang ia ungkapkan. Rasa bersalah telah menyakiti hati seseorang, juga telah membuat keluarga kalang kabut. Bagaimana tidak dalam adat Jawa yang namanya mengembalikan rembug adalah hal yang sangat jarang terjadi.

Memang itu bukan hal yang mustahil karena pernah juga yang mengalaminya tetapi sangat jarang. Biasanya kalau sudah ada prosesi lamaran berarti sudah saling bertekad untuk menikah. Dan biasanya tinggal menunggu hari H saja. Tapi rupanya tidak dengan kondisi Sita. Ia masih perlu meyakinkan diri setelah prosesi lamaran itu. Tiap malam ia selalu bermunajat mohon kemantapan hati. Tapi rupanya bukan kemantapan hati untuk mendampingi Salman, tetapi kemantapan hati untuk melanjutkan atau tidak. Memang di usianya yang tidak muda lagi, serta dorongan keluarga yang sangat besar untuk segera menikah, Sita kala itupun dengan bahagia menerima lamaran Salman. Sita pun mulai merajut asa dan mimpi. Namun rupanya komunikasi yang terjalin justru menyebabkan Sita merasa bahwa ia bukan tipe wanita yang diinginkan Salman. Ada ketakutan bila nanti terlanjur menikah justru akan sering membuatnya kecewa. Lalu dipilihlah satu hari dimana ia mengungkapkan maksud hatinya kepada keluarga. Tentu saja hal itu mengejutkan semuanya. Bagaimana tidak. Mengembalikan rembug bagaimanapun pernah terjadi di masyarakat tetap saja ada aib yang tertinggal setelahnya. Namun demi mendengar alasan Sita seperti yang juga ia ungkapkan kepada Salman, keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada Sita.

“ Aku harap mas Salman memahaminya…. “ Lanjut Sita setelah kembali bisa menguasai diri.

Salman menghela nafas panjang. Dalam lirihnya ia mengucap istighfar.

“ Kalau itu sudah keputusan Sita, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sebenarnya berat, tapi aku mencoba memahami keputusanmu. Bagaimanapun ketidaknyamanan Sita dalam kehidupan keluarga nanti pasti akan membawa efek buruk bagi kehidupan Sita ke depan.. Aku hanya bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang kita rencanakan tidaklah selalu sama dengan yang Allah tetapkan.. Ini berarti memang kita tidak ditakdirkan-Nya bersatu.. Aku berdoa semoga kita dipertemukan dengan jodoh masing-masing yang lebih diridhoi-Nya… “

“ Aamiin… terimakasih mas atas pengertianmu.. Sita mohon maaf atas segala salah Sita kepada mas Salman juga kepada keluarga mas Salman. Mohon sampaikan maaf untuk ibuk dan bapak… “

“ Insya Allah dik.. “ Kata-kata Salman mengakhiri pertemuan dua sejoli yang hampir menikah itu.

=================================================================================

“Mas mau pesen apa? “ Tanya Salma yang melihat suaminya diam saja.

“ Eh…. anu… mas pesen ayam goreng sambal bawang sama es jeruk… “ Salman tergagap bangun dari kenangan masa lalunya itu. Di meja itu dua tahun lalu.

Salma memesan ayam goreng dambal bawang dua posri dan es jeruk dua gelas. Memang selera mereka berdua sama. Ternyata menikah itu juga tidak perlu berbeda-beda sangat antara suami dan istri. Ternyata dengan apa-apa yang hampir sama, mereka bisa bahagia. Katanya malah melipatgandakan persamaan dan potensi.

“ Mas kok malah melamun to… Duh efek lapar memang macam-macam ya mas… “ goda Salma.

“ Enggak..sapa yang melamun.. mas kan lagi menikmati indahnya mau makan bareng bidadari… “ celetuk Salman sambil menyenggol lengan Salma.

“ Husss malu mas… tuh dilihatin orang.. “ Kata Salma malu-malu. Rona merah di pipinya tidak dapat disembunyikan lagi.

“ Eh bidadari bisa merah juga to pipinya… “ lanjut Salman kali ini sambil nyiwel pipi istrinya itu.

“ Ah udah ah..kapan makannya ini.. “ Kata Salma sengaja  agak menjauh. Salman yang sebenarnya masih pengen mencandai istrinya akhirnya putus asa. Makan ternyata solusi yang terbaik dengan kondisi seperti ini. Tak lupa sesuap dua suap mereka saling menyuapi pasangan masing-masing. Prinsip mereka bahwa hal itu bukan kemesraan yang berlebihan.

(sebuah fiksi )