Wisuda ya Wis-Sudah… (bagian 1)

wisuda_1

Selasa 19 April 2016 menjadi salah satu  momen penting dalam hidupku. Yup hari itu adalah hari dimana saya mengikuti prosesi wisuda untuk kedua kalinya di Universitas Gadjah Mada. Terbentang jarak yang cukup lama antara prosesi wisuda pertama dengan yang kedua ini, tepatnya delapan tahun dua bulan. Boleh dikatakan, prosesi wisuda merupakan sebuah titik penting dari perjuangan menuntut ilmu. Jika dilihat dalam rentang masa kuliah bisa dibilang wisuda dalah puncaknya, ketika kita dinyatakan paripurna dalam menempuh jenjang pendidikan. Tentu saja jika dilihat dari rentang masa hidup, wisuda hanyalah sebagian titik penting yang tidak boleh menjadi puncak perjuangan karena setelah wisuda perjuangan selanjutnya perlu dihadapi.

Wisuda merupakan sebuah momen dimana segala jerih payah kita selama ini terbayar lunas. Wisuda merupakan saat dimana kita mengajak segenap keluarga untuk ikut berbahagia. Mereka yang selama ini menjadi tempat keluh kesah kita, marah kita, ketidaksabaran kita selama mengerjakan skripsi atau tesis perlu kita bahagiakan, perlu kita persembahkan keberhasilan ini kepada mereka. Karena sejatinya keberhasilan ini adalah karena dukungan mereka, kesabaran mereka menghadapi emosi-emosi kita, kepedulian mereka untuk memahami segala keruwetan dalam menyusun tugas di akhir kuliah ini dan doa-doa mereka yang mungkin kita tidak pernah tahu.

Momen wisuda adalah saat yang tepat untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang telah berjasa kepada kita. Ada tiga kalangan yang perlu mendapat ucapan terimakasih kita yaitu kalangan akademik (dosen dan segenap civitas akademika), keluarga dan teman. Dan pada kesempatan kali ini izinkan saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah berjasa sehingga saya berkesempatan mencicipi prosesi wisuda kedua ini.

Terimakasih kepada Bapak Hanung Adi Nugroho, ST, M.E, Ph.D selaku pembimbing utama dan Bapak DR. Ridi Ferdiana, S.T., M.T. selaku pembimbing pendamping yang mana beliau berdua telah bersedia membimbing dan mengajarkan ilmu ( beneran.. bukan cuma sekedar basa-basi pengantar tesis 😀 ). Yang telah bersedia menjadi tempat meminta pertimbangan atau konsultasi bahkan di hari libur, via email pula. Yang telah berkenan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Terimakasih kepada beliau berdua..

Juga tak kalah pentingnya ucapan terimakasih kepada para dosen yang telah memberikan wawasannya, membuka mata dan pikiran bahwa ilmu itu luas, dunia itu tak selebar selokan mataram dan memberikan inspirasi serta memunculkan potensi yang terpendam. Intinya jadi lebih waow setelah mendapat siraman dari dosen-dosen. Ada pak Wing Wahyu Winarno ( yang selalu saya tunggu opininya di KR jauh sebelum sempat menjadi mahasiswanya, bahkan sempat berharap diuji oleh beliau, lalu bisa minta foto di sesi akhir 😀 ), ada pak Lukito ( yang tugas Layanan Elektronisnya jadi menginspirasi saya), ada Romo Insap ( yang dari beliau saya belajar metodologi riset dan smartPLS, sayangnya saya tidak sempat berkonsultasi dengan beliau, message di Fb gak dibalas sih.. 😀 ), ada pak Widyawan yang saya belum maksimal dengan materi Audit dan Keamanan Sistem Komputer dan Jaringannya, ada bu Wahyuni yang disegani seluruh kelas, ada bu Silmi yang akhirnya jadi dosen penguji saya dan pertanyaannya sangat membantu. Ada juga pak Eko Nugroho yang dari beliau saya belajar untuk menjawab segala masalah dengan efektif dan efisien, semakin pendek jawaban semakin bagus.. :D.  Juga dosen-dosen yang lain yang telah menginspirasi saya.

Selain itu staf pengelola akademik yang telah dengan sabar membantu dalam mengurusi persyaratan-persyaratan, terkadang ada komplain juga, caci maki ( di belakang tapi.. 😀 ). Semoga secara otomatis terhapuskan kesalahan kita sebagaimana terhapusnya akun internet gratis setelah KTM diserahkan kembali.. 😀

Bersambung…

Advertisements

Hal-hal Berikut ‘Wajib’ Dihindari Ketika Menulis Karya Ilmiah

Menulis karya ilmiah bagi sebagian besar orang merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi yang tidak terbiasa membuat karya ilmiah, bisa-bisa bikin stres. Bagaimana tidak, berbagai hal yang tadinya kita anggap akan mempermudah justru menjadi hal yang harus dihindari.  Berikut hal-hal yang ‘wajib’ dihindari ketika menulis karya ilmiah.

a) Fabrikasi adalah tindakan membuat data dari yang tidak ada menjadi seolah-olah ada (pemalsuan hasil penelitian) yaitu mengarang, mencatat dan/atau mengumumkan hasil penelitian tanpa pembuktian telah melakukan proses penelitian. Kita mengarang suatu data tanpa ada penelitian terlebih dahulu. Misalkan kita menyajikan data persebaran penduduk di suatu wilayah tetapi kita hanya mengira-ngira saja tanpa melakukan sensus atau survey atau mengambil data dari instansi terkait. Intinya kita mengarang data tersebut.

b) Falsifikasi adalah mengubah data dengan maksud agar sesuai yang dikehendaki peneliti (pemalsuan data penelitian) yaitu memanipulasi bahan penelitian, peralatan atau proses, mengubah atau tidak mencantumkan data atau hasil sedemikian rupa, sehingga penelitian itu tidak disajikan secara akurat dalam catatan penelitian.
Berbeda dengan fabrikasi, falsifikasi lebih kepada memanipulasi data yang ada sehingga hasilnya sesuai dengan dugaan atau teori yang kita gunakan. Sebagai contoh misalkan kita mengukur tegangan suatu sensor panas. Tren data yang kita ukur, semakin panas suhu yang diukur semakin tinggi tegangannya. Namun pada suhu tertentu terjadi anomali dimana tegangan tidak naik tetapi justru turun. Lalu daripada kita repot menjelaskan hal tersebut, kita mengambil langkah 1) mengubah nilai tegangan yang turun tadi dengan nilai yang berbeda atau 2) menghapus data pengukuran pada suhu tersebut sehingga tidak tercatat adanya anomali tersebut. Hal ini merupakan pembohongan dalam sebuah karya ilmiah. Justru seharusnya anomali tersebut ditangkap dan dicari tahu kenapa hal tersebut terjadi, bukan malah disembunyikan.

c) Plagiasi adalah pencurian gagasan, pemikiran, proses, objek dan hasil penelitian, baik dalam bentuk data atau kata-kata, termasuk bahan yang diperoleh melalui penelitian terbatas (bersifat rahasia), usulan rencana penelitian dan naskah orang lain tanpa menyatakan penghargaan.
Secara mudahnya plagiasi adalah peniruan karya (orang) lain, tanpa menyebutkan sumbernya. Bahkan ada yang menyebut termasuk plagiasi adalah menulis secara utuh sebuah kalimat dari karya (orang) lain meskipun menyebutkan sumbernya. Selain itu ada istilah self plagiarism, yaitu menulis satu kalimat utuh dari karya ilmiah lain yang telah kita publikasikan, milik kita sendiri. Kok bisa? Padahal kan yang membuat karya ilmiah terdahulu juga kita sendiri, kok tidak boleh menyalin sebagian isinya? Yup begitulah adanya. Jadi meskipun kita yang membuat karya ilmiah yang terdahulu, namun ketika kita akan menggunakan sebagai rujukan di karya ilmiah selanjutnya maka usahakan dengan pembahasa-an yang berbeda dan tetap mencantumkan sumbernya (meski milik kita sendiri juga).

d) Duplikasi adalah pemublikasian temuan-temuan sebagai asli dalam lebih dari 1 (satu) saluran tanpa ada penyempurnaan, pembaruan isi, data, dan/atau tidak merujuk publikasi sebelumnya;

e) Fragmentasi/salami adalah pemublikasian pecahan-pecahan dari 1 (satu) temuan yang bukan merupakan hasil penelitian inkremental, multi-disiplin dan berbeda-perpektif.

Itulah lima hal yang harus kita hindari ketika menulis karya ilmiah demi ‘keselamatan’ kita. Selamat berkarya… 🙂

 

(Rujukan Utama Peraturan ka LIPI No.06/E/2013 tentang Kode Etika Peneliti)

Menuju Keunggulan Bersaing (Competitive Advantages)

Memiliki sebuah usaha atau bahkan perusahaan merupakan impian dan cita-cita sebagian kita. Ketika kebebasan finansial itu membuat kita lebih bisa beraktifitas dengan lebih leluasa. Kita tidak terikat oleh aturan kaku terutama waktu dikarenakan harus senantiasa beraktifitas di kantor. Memiliki sebuah usaha berarti perlu sebuah strategi agar produk yang kita buat memiliki keunggulan dibandingkan produk-produk lain sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Ada empat hal/unsur yang bisa menjadi pendukung Keunggulan Bersaing yaitu

  1. Value (nilai)

Produk yang kita buat harus memiliki nilai. Artinya diperlukan oleh masyarakat. Jangan sampai membuat produk tetapi tidak berguna atau tidak dibutuhkan oleh masyarakat.

  1. Rare ( jarang/langka )

Semakin langka produk yang kita buat maka nilai strategis barang tersebut semakin tinggi. Artinya semakin banyak orang yang mencari sementara tidak banyak pesaing yang membuat produk serupa maka membuat produk kita memiliki keunggulan.

  1. Costly imitate (mahal untuk ditiru)

Memiliki produk yang bagus tentu saja akan mengundang pihak lain untuk meniru produk yang kita buat. Hal ini bisa menjadi kerugian bagi kita karena secara langsung menjadi kompetitor yang dapat merebut pasar kita. Akan tetapi ketika produk tersebut memerlukan biaya yang lebih mahal untuk ditiru maka setidaknya kita masih unggul dalam hal biaya produksi. Dan karena hal ini (biaya mahal) maka bisa jadi kompetitor akan berpikir ulang untuk membuat produk tiruan.

  1. No Subtitute ( tidak tergantikan)

Suatu produk juga memiliki keunggulan ketika produk tersebut tidak memiliki pengganti atau kalaupun ada pengganti harganya relatif lebih tinggi. Membuat produk yang tak tergantikan menjadikan produk kita memiliki nilai lebih.

Dengan memahami hal-hal yang menjadikan produk kita unggul maka kita dapat menentukan unsur mana yang akan lebih kita tonjolkan ketika unsur-unsur yang lain sama kualitasnya dengan kompetitor. Sebagai contoh, ketika produk yang kita buat ditiru oleh pihak lain, kita masih punya keunggulan dengan biaya produksi yang lebih rendah daripada kompetitor sehingga keuntungan relatif lebih besar jika harga produk kita dibuat sama dengan kompetitor atau kita bisa menjual dengan harga yang lebih rendah dari kompetitor.