Aku ingin berlari, Kamunya tidak…

Beberapa waktu yang lalu saya dipanggil oleh pimpinan untuk menghadap. Dalam pertemuan itu beliau menanyakan “ Terkait penerbitan sertifikat mas, ini kenapa selalu mundur bahkan yang angkatan 3 kemarin sudah satu bulan lebih belum jadi? Bolah ruwete (pangkal permasalahannya) dimana? Saya inginnya 10 hari selesai pelatihan, sertifikat sudah bisa dibagikan. Ini sudah banyak komplain yang saya terima“.

Tupoksi sampingan saya di kantor adalah membuat sertifikat. Sebuah tugas sampingan yang tidak bisa dikerjakan sambil lalu. Seringnya saya menghabiskan beberapa hari untuk menuntaskannya. Sudah bertahun-tahun profesi ini saya geluti tentu saja saya paham betul simpul-simpul kemacetan sehingga sertifikat tidak bisa lancar jaya menuju tangan alumni pelatihan. Parahnya kalau sertifikat tak kunjung selesai pasti yang jadi sasaran tudingan pertama tentu saja saya. Ya memang sih yang terlihat jelas dalam hal ini adalah orang yang bertugas mencetak, terpampang nyata hasilnya.

“Begini pak….” saya mulai angkat bicara. Continue reading

Advertisements

Beda Tugas Belajar dan Ijin Belajar

Bagi teman-teman yang berprofesi sebagai PNS, mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi butuh suatu perjuangan. Selain biaya, ijin dari atasan dan instansi menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. Bahkan bagi penerima beasiswa sekalipun proses ijin tetap harus dilakukan. Kenapa harus melalui proses ijin? Karena dengan adanya ijin dari instansi maka proses pendidikan dinyatakan legal dan nantinya gelar bisa melekat dalam setiap urusan yang berkaitan dengan kedinasan. Misalnya penulisan nama dalam tim, surat tugas, kenaikan pangkat dan lain-lain. Tanpa ijin, maka gelar akademik yang dimiliki tidak boleh dilekatkan dalam hal yang berkaitan dengan kedinasan.

Sebagai contoh Abdullah, S.Si berprofesi sebagai PNS kemudian dia menempuh pendidikan S2 dan mendapat gelar M.Eng. Maka jika dalam menempuh pendidikan S2 dia telah mendapat ijin instansi maka dalam kedinasan boleh ditulis nama Abdullah, S.Si, M.Eng. Tetapi jika tanpa ijin maka nama Abdullah, S.Si, M.Eng tidak boleh digunakan dalam urusan kedinasan. Nama dan gelar S2 tersebut masih boleh digunakan tetapi di luar urusan kedinasan. Selain itu jika tanpa ijin maka kegiatan belajar selama S2 tidak boleh mengganggu atau mengambil jam kerja sehingga hanya bisa dilakukan perkuliahan sore-malam atau sabtu-minggu. Dan ini pasti akan sangat melelahkan di samping juga perguruan tinggi sekarang tidak lagi menyelenggarakan perkuliahan sabtu-minggu. Yang sore-malam juga sudah jarang.

Nah dalam urusan perijinan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ada dua macam istilah yang kadang bingung memahaminya. Yaitu Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Apa bedanya?

Jika kita mengajukan Tugas Belajar dan jika surat ijin itu turun maka secara otomatis kita dibebaskan dari seluruh kewajiban/ tugas kedinasan. Secara penuh kita diijinkan untuk fokus dalam menempuh pendidikan. Sehingga tidak ada lagi yang namanya beban mengerjakan tugas kantor atau mengajar bagi jabatan guru dan fungsional teknis. Namun demikian kita masih berhak mendapat gaji bulanan sebesar gaji pokok (tentu saja jika ada potongan bank juga ikut terpotong..hehehe..) sementara untuk tunjangan jabatan sementara dihentikan. Tugas Belajar ini biasanya diperlukan bagi mereka yang kuliah di luar kota maupun luar negeri dimana tidak memungkinkan untuk tetap tinggal di wilayah kedinasan. Atau juga kadang meski di dalam kota tetapi diminta oleh pihak Perguruan Tinggi untuk melampirkan surat Tugas Belajar.

Nah berbeda halnya dengan Ijin Belajar. Dengan surat Ijin Belajar maka sebenarnya tugas kedinasan masih melekat dan wajib dilaksanakan. Tetapi dengan catatan bila waktunya kuliah maka PNS bersangkutan diberikan ijin untuk meninggalkan tugas kedinasan. Sehingga Ijin Belajar hanya memungkinkan bagi PNS yang menjalani kuliah di kota dimana dia tinggal atau masih di wilayah yang relatif dekat dengan tempat dinas. Keuntungan surat Ijin Belajar adalah segala hak diterima secara penuh termasuk gaji dan tunjangan. Tetapi agaknya berat bagi penerima Ijin Belajar jika beban kuliah banyak sementara tugas dinas juga menumpuk.

Nah itu sekelumit tentang Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Semoga Bermanfaat. Admin siap menerima tambahan informasi dan koreksi jika ada kesalahan. 🙂

Catatan BIMTEK hari ke-empat : Program PBK dan Kopi Salak

Hari keempat bimtek, bertepatan Jumat 25 April 2014 yang mana hari dibukanya pameran potensi daerah Kabupaten Sleman. Materi hari ini adalah menyusun program PBK (pelatihan berbasis kompetensi). PBK adalah pelatihan dimana kompetensi menjadi kunci utama keberhasilan siswa, sementara waktu pelatihan bukan menjadi tolok ukur utama. Jadi dalam PBK tujuan utamanya adalah siswa mampu menguasai materi yang diajarkan, entah itu cepat atau lambat. Artinya ada siswa yang bisa dengan cepat menguasai materi dan ada juga yang lambat. Tetapi ini tidak menjadi masalah, yang penting hasil akhirnya semuanya bisa kompeten. Jadi tidak benar jika PBK ini dibatasi oleh waktu semisal 160 JPL atau 240 JPL atau jumlah jam yang lebih banyak. Di satu sisi PBK ini akan lebih membuat motivasi belajar semakin tinggi. Tetapi karena waktu yang tidak dibatasi maka instruktur akan kesulitan bila ada siswa yang sangat lambat belajar, karena waktu belajar menjadi lama. Pada akhirnya PBK tidak sepenuhnya diterapkan. Yang diterapkan adalah dalam jangka waktu terbatas, siswa dituntut untuk menguasai semua materi. Nah ini menjadi tantangan bagi instruktur bagaimana dalam waktu terbatas bisa membuat semua siswa kompeten.

Kembali pada Pokok pembahasan PBK ini adalah membahas bagaimana menyusun suatu program pelatihan lengkap dengan nama program, kode unit, tujuan, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, indikator unjuk kerja dan materi. Tidak begitu sulit sebenarnya, tetapi cukup ribet untuk dibilang mudah. Materi ini merupakan materi lanjutan hari kemarin. Materi haari ini menjelaskan materi kemarin dan membahas dengan lebih detail. Jika dikaitkan dengan kehidupan maka semakin kita mem-breakdown rencana hidup kita dengan terinci maka semakin mudah kita menjalani kehidupan. Kita sudah punya acuan-acuan dalam bertindak. Ada indikator keberhasilan sehingga ketika ada yang belum tercapai maka kita akan sesegera mungkin melaksanakannya. Ada rincian waktu sehingga target-target dalam hidup dapat tercapai sesuai dengan rencana atau setidaknya hampir sesuai rencana. (bahasan tanggung… maaf..soalnya harus segera beralih ke mengerjakan tugas… hehehe..)

Topik yang selanjutnya adalah Kopi Salak. Lah apa hubungannya PBK dan Kopi Salak? Memang tidak ada kaitan langsung, karena kaitannya harus melalui saya. Hehehe… Kopi salak agaknya menjadi sesuatu yang hampir setiap hari ditanyakan pada saya. Kok bisa? Gara-garanya saya sempat keceplosan mempromosikan kopi salak saat perkenalan di awal dulu. Nah dari situ akhirnya banyak yang tertarik dan penasaran. Sayapun menjelaskan sedikit tentang kopi salak. Akan saya bahas di lain waktu saja mengenai detail kopi salak. Dan sampai sekarang masih ada juga yang menanyakan. Jangan-jangan ke depan jika bertemu dengan mereka lagi yang dikenal dari saya adalah kopi salak. Hahahaha.. Biar saja, siapa tahu bisa menjadi ladang bisnis baru.. Aamiin.. Dan akhirnya ini saja yang bisa saya laporkan langsung dari ruang Orchids, The Sahid Rich Yogyakarta.

Catatan Bimtek Hari Kedua dan Ketiga : Merancang Kurikulum Kehidupan

Setelah hari kedua tidak bisa memposting kegiatan bimtek, lelah sangat sodara-sodara, maka di sisa waktu pelatihan hari ketiga saya kembali menuliskan catatan singkat hasil kontemplasi dari bimtek. Dua hari ini, kemarin dan hari ini mengawali pembahasan kerja kelompok serta presentasi dengan materi kurikulum dan TNA (training need analysis).

Cukup menarik kiranya membahas kedua hal ini karena mencoba merancang sesuatu yang akan diterapkan kepada orang lain. Kurikulum sebagai acuan dalam merancang kegiatan pembelajaran, menjadi hal yang pokok agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Merancang kurikulum tidak semudah bayangan kita, namun sekaligus tidak juga terlalu rumit. Yang penting kita tahu pokok-pokok bahasan apa yang ingin kita capai untuk kemudian menuliskan hal-hal apa saja yang dapat mengantarkan kepada apa yang kita inginkan. Sehingga nantinya kita bisa mengontrol jika apa yang berjalan melenceng dari apa yang sudah dicanangkan.

Demikian hidup kita. Kita perlu merancang kurikulum kehidupan kita. Merancang tujuan hidup untuk kemudian menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu kita laksanakan agar tujuan hidup kita tercapai. Kita juga perlu kontrol jika ternyata ada langkah yang agak melenceng agar segera kembali ke jalur yang benar. Kurikulum kehidupan boleh jadi berbeda antara satu orang dengan yang lain, karena kurikulum kehidupan ini harus disesuaikan dengan keadaan yang ada. Namun yang jelas tujuannya hanya satu. Tercapainya tujuan hidup kita.

Materi hari ini, hari ketiga adalah mengenai TNA atau analisa kebutuhan pelatihan. Yaitu menganalisa potensi-potensi yang dimiliki oleh suatu daerah untuk kemudian menentukan pelatihan apa saja yang perlu diadakan untuk mengangkat derajat hidup masyarakat. Dalam TNA ini perlu menghubungkan satu kondisi dengan kondisi yang lain sehingga tercipta suatu formula yang menyeluruh. TNA tidak boleh hanya mempertimbangkan dari satu segi saja, semisal hanya berdasar jumlah penduduk saja. Tetapi juga harus dikaitkan dengan hal lain, semisal proporsi jenis kelamin, tingkat pendidikan, lokasi, peta geografis dan lain-lain. Jadi harus menyeluruh.

Demikian juga dalam hidup kita, kita perlu menganalisa diri kita. Apa saja kelebihan dan apa saja kelemahan kita sehingga kita bisa meramu bagaimana akan menjalani hidup ini. Analisa potensi kita akan membantu dalam meraih kesuksesan dalam hidup.

Catatan BIMTEK : Hari Pertama, Ramah Tamah

Terhitung 22 April 2014 , insya Allah, sampai 02 Mei 2014 saya mengikuti BIMTEK Curriculum Design And Development (CDD) bertempat di Hotel Sahid Rich Jogja yang beralamat di jalan Magelang Km.6, Sleman, Yogyakarta. Bagi yang sudah paham daerah Yogyakarta, maka Hotel ini tepat di samping MMTC dan hypermart. Area Jombor. Jadi tidak susah untuk mencarinya. Di Hotel berbintang 4 ini saya akan diajari oleh para instruktur yang telah berkesempatan belajar tentang kurikulum pelatihan di Singapura. Secara tidak langsung acara ini menjadi semacam acara gethok tular (tukar ilmu) antara mereka yang telah belajar dari negeri seberang kepada kami yang merupakan instruktur daerah yang mana akses untuk dikirim ngangsu kawruh ke luar negeri relatif kecil.

Dan kebetulan acaranya di Yogyakarta dan pas pula lokasi tidak jauh dari tempat tinggal. So rencananya tiap hari mau pp rumah-hotel. Lho bukannya lebih nyaman di hotel? Emang sih kalau dari segi kemewahan memang jauh dibandingkan dengan rumah. Dari segi kualitas perabot sampai pelayanan hotel tentu sangat bagus. Tapi ada hal yang tidak ada di hotel bintang 4 yaitu gayung air dan ember di kamar mandi.. hehehe… Dari hal ini saya belajar bahwa kenyamanan itu tidak melulu soal kualitas barang yang kita gunakan, tetapi lebih kepada kenyamanan hati. Tentu tidak dipungkiri bahwa sebagian besar kita akan lebih merasa nyaman tinggal di rumah dibandingkan di hotel tatkala sedang bepergian. Seada-adanya kondisi rumah kita, pasti akan lebih nyaman karena di sana ada orang-orang yang kita sayangi yang akan memberikan rasa nyaman terbaik dalam hidup. Jadi perlu dipertanyakan bagi mereka yang lebih merasa nyaman tidur/ tinggal di luar rumah, pasti ada sesuatu yang perlu dibenahi di dalam rumah.

Kembali kepada membahas inti judul di atas yaitu catatan bimtek, maka saya tuliskan bahwa agenda pertama adalah ramah tamah.. Secara ini kan pertemuan pertama, tentu saja perlu saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Acara ini sedianya akan dihadiri oleh 30 peserta, tetapi sampai tadi pembukaan 28 orang sudah hadir dan dua orang dalam konfirmasi (masih di perjalanan). Inti acara ini adalah bagaimana instruktur bisa mengembangkan kurikulum sehingga output pelatihan adalah tenaga kerja yang kompeten untuk mengisi lapangan pekerjaan. Perlu dicatat bahwa banyaknya pengangguran bukan semata-mata minimnya lapangan pekerjaan, melainkan tenaga kerja yang ada tidak memenuhi kualifikasi untuk menempati sebuah jabatan pekerjaan. Walhasil, lulusan sekolah semakin meningkat tetapi dari segi kemampuannya belum memadai untuk terjun di bidang pekerjaan. Nah tugas instruktur-lah untuk membekali para calon tenaga kerja tersebut dengan ilmu yang mumpuni. Ilmu yang baik akan dapat diterapkan jika mempunyai sistem yang tepat, sebuah metode yang memang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan kerja.

Oleh karena itu, saya pun akan berusaha semaksimal mungkin menyerap apa yang disampaikan narasumber untuk kemudian bisa saya aplikasikan di tempat kerja. Mohon doa dan dukungan teman-teman pembaca sekalian. Kiranya cukup sekian saja catatan di hari pertama ini. Mohon maaf jika judul dan isinya kurang relevan. Ini hanya sebagai cara mengisi waktu dengan berbagai sembari menunggu download update software sony experia e dual saya. Ternyata lama juga downloadnya. Semoga membawa berkah. Insya Allah ada laporan selanjutnya dari kegiatan bimtek ini, tentunya dengan muatan moral yang berbeda, tergantung situasi dan kondisi. Hehehehe… Wassalam dan selamat malam.. #Tumben_posting_malam_malam

Paket APBN vs APBD : Bedanya apa sih?

Banyak calon siswa pelatihan di BLK Sleman yang masih belum paham apa itu paket APBN dan APBD serta apa saja persamaan dan perbedaannya.  Bagi yang sudah tahu biasanya sebelum mendaftar akan bertanya dahulu “ Ini pelatihan APBN atau APBD pak?”. Saya tentu tahu apa maksud dibalik pertanyaan tersebut.  Yang mereka cari tentunya paket APBD yang mana akan mendapat barang penghargaan atau toolkit di akhir pelatihan. Bagi yang belum tahu tentu tidak akan mempermasalahkan apakah itu APBN atau APBD. Nah untuk itu saya akan menjelaskan apa saja persamaan dan perbedaan paket pelatihan APBN dan APBD melalui tabel berikut .

NO

Uraian

APBN

APBD

1

Pembiayaan Pusat Daerah

2

Lama pelatihan 240 JP ( 30 hari ) Antara 160 JP (24 hari) – 240 JP (36 hari) tergantung  paketnya.

3

Snack ada tidak ada

4

Sertifikat ada ada

5

Uang transport ada ada

6

Toolkit / barang penghargaan tidak ada Ada (sesuai kejuruan masing-masing)

Nah setelah mengetahui perbedaan tersebut diharapkan calon peserta sudah mengetahui apa saja hak sebagai siswa pelatihan sehingga tidak kecewa di belakang hari. Tapi sebagai penimba ilmu yang baik selayaknya menjadikan ilmu sebagai tujuan utama sehingga tidak perlu mempersoalkan akan mendapat toolkit atau tidak, ada snacknya atau tidak.