Apa sih asyiknya Full Asesor?

Senin 25 Juni 2018 menjadi salah satu momentum penting dalam karir saya sebagai seorang asesor. Setelah beberapa waktu lalu menjadi asesor tandem pada kesempatan kali ini saya menjadi full asesor. Kesempatan itu datang ketika awal bulan Juni teman saya yang sekaligus pengelola LSP BLK Surakarta menelepon menanyakan kesediaan menjadi asesor pada tanggal tersebut. Tanpa jeda yang lama saya iyain saja tawaran itu. Apalagi setelah saya tanya apakah tandem atau full, dijawab full asesor.

Kesempatan kali ini menguji di BLK Kebumen yang beralamat di JL. Kutoarjo, Km. 05, Selang, Kec. Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah 54317.. Lokasinya sekitar hampir 3 jam perjalanan dari rumah (Sleman utara). Tapi demi sebuah cita-cita maka jalani saja. Berbekal googlemaps (karena emang baru pertama kali ke sana) alhamdulillah lokasi dapat dituju dengan pasti.

Ngomong-ngomong menjadi Full Asesor itu sesuatu banget. Artinya apa?

Menjadi full asesor merupakan jenjang lebih lanjut setelah tandem asesor (tentu saja ini pembagian menurut versi saya sendiri). Menjadi full asesor berarti kapasitas sebagai asesor sudah diakui. Dan semoga demikian adanya. Sudah diijinkan melakukan asesmen secara penuh, bertanggungjawab atas nama diri sendiri dan itu membanggakan (bagi diri sendiri) 😀

Menjadi full asesor berarti tidak lagi membiayai segalanya sendiri.. 😀  Yaaa setidaknya ada kompensasi yang diterima. Dan itu alhamdulillah.. 🙂

Menjadi asesor merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi saya sekaligus anugerah. Bepergian ke tempat-tempat yang tidak biasanya dikunjungi. Melihat situasi yang berbeda dari keseharian. Menikmati pemandangan alam. Silaturahim dengan banyak orang. Bertemu dengan orang baru. Berkenalan dan membangun komunikasi. Semua itu adalah anugerah dari Allah.

Berharap ke depan akan ada lagi kesempatan untuk menjadi asesor. Tempat baru? Siapa takut? Bersiap dengan tantangan-tantangan baru sebagai asesor.

 

 

Advertisements

Asesor (tandem) : sebuah permulaan

Rabu 7 Maret 2018 saya ditelepon oleh orang yang nama panggilannya sama dengan ku.

“Besok luang gak?”

“Lha piye mas?”

“Jadi tandem asesor ya?”

“Oke siap… ” (tanpa tanya dulu kemana..)

“Di BLK Kulonprogo..”

“SIAAAAP…” (masih wilayah Jogja juga.. 😀 )

Kamis 8 Maret 2018, esoknya saya benar-benar meluncur ke BLK Kulonprogo. Menjajal profesi baru meski ‘hanya’ sebagai tandem. Ya setidaknya menimba pengalaman bagaimana menjadi seorang asesor. Dengan segala konsekuensinya sebagai asesor tandem contohnya segala biaya ditanggung sendiri, belum berhak mencantumkan nama sebagai asesor penguji (meski aslinya nguji juga) dan pastinya belum bisa dimasukkan ke angka kredit. Tapi ini adalah langkah awal yang penting sebagai batu pijakan menjadi asesor kedepannya, Insya Allah.

“Setidaknya 2 kali tandem sudah boleh menguji sendiri..” Demikian yang disebutkan olehnya. Yup… semangat saja menjalani proses “magang” ini..

Dan bismillah siap menunggu tandem berikutnya dan berharap setelahnya bisa menjadi asesor full. 🙂

BLK Sleman Membuka Pendaftaran Pelatihan… GRATISSSS….

BLK Slmean kembali membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin mengikuti pelatihan. Ini dia pengumumannya. Mau daftar langsung bisa, daftar online juga boleh.. (tapi kayaknya pendaftaran online belum dibuka saat tulisan ini diposting, harap tunggu dan bersabar..)

Poster Pelatihan_gel 2_BLK Sleman

Seleksi Peserta Pelatihan BLK Sleman

Mengawali bulan kedua tahun ini  BLK Sleman menyelenggarakan seleksi pelatihan. Ada 13 sub kejuruan yang dibuka. Sehingga ada 208 kesempatan mengikuti pelatihan bagi sekitar 800-an pendaftar yang berasal dari warga Sleman dan beberapa dari luar. Antusiasme masyarakat tahun ini begitu besar dibuktikan dengan jumlah peserta yang mengikuti seleksi. Ya tentu saja tidak semuanya hadir, sehingga klaim 800-an itu juga perlu diklarifikasi. Tapi setidaknya lebih dari 500 peserta. Buktinya? Ya percaya saja deh.. Hehehe..

Sebagai salah satu kejuruan yang mendapat jatah membagikan ilmu, saya pun tak ketinggalan ikut bersibuk ria menyeleksi calon peserta pelatihan. Ya mulai dari tes tertulis sampai wawancara. Ini sudah pakem alias SOP harus dilakukan kedua tes itu untuk menggali seberapa besar keinginan dan motivasi mereka untuk ikut di kejuruan saya. Jelas bahwa informasi akan lebih tergali dengan metode wawancara dan inilah yang memakan waktu paling lama. Ini saja alhamdulillah dari 54 pendaftar hanya 28 yang ikut. Tak terbayangkan kejuruan lain yang jumlahnya ratusan itu harus berapa lama prosesnya.. Sampai tulisan ini dibuat saja belum selesai proses di kejuruan sebelah. Saking banyaknya.

Saya sendiri menargetkan rata-rata 5 menit saja untuk satu orang. Jadi 28 orang itu sekitar 2 jam 20 menit. Lalu untuk mempermudah saya hanya bertanya beberapa hal saja.

  1. Motivasi ikut pelatihan
    Hal ini untuk melihat motivasi seseorang ikut pelatihan itu apa. Motif ekonomi atau apa. Gak dipungkiri kadang ikut pelatihan hanya untuk mendapatkan uang. Maka dari itu perlu diantisipasi agar hal ini bisa dihindari.
  2. Latar belakang pendidikan
    Seseorang dengan latar belakang pendidikan S1 jelas memiliki posisi tawar yang berbeda dari mereka yang berlatar belakang SMA kebawah. Lulusan sarjana sudah memiliki bekal, punya senjata untuk langsung memasuki dunia kerja. Berbeda halnya dengan mereka yang lulusan SMA kebawah. Kalau tidak memiliki keterampilan maka peluang mendapat kerjaan juga kecil. Sementara jaman now ijazah SMA ke bawah kurang dihargai. Jangankan yang SMA ke bawah, ijazah Sarjana saja kadang tidak cukup.
  3. Latar belakang keluarga
    Nah ini juga penting untuk digali. Kenapa? Karena latar belakang keluarga sedikit banyak menentukan bagaimana seseorang itu harus mendapat prioritas. Itu bagi saya sih.. Jelas seseorang dengan latar belakang keluarga seorang petani harus lebih diprioritaskan daripada anak seorang pegawai (ASN, Polisi, Tentara atau perangkat desa). Jadi yaa gitu…
  4. Gambaran setelah selesai kursus
    Ini juga penting untuk mengetahui seberapa maju kesiapan calon peserta untuk memasuki dunia kerja atau bekerja mandiri. Tapi ya itu sih sebagian besar sepertinya belum siap masuk dunia kerja atau kerja mandiri. Terlihat dari jawaban mereka yang tidak begitu yakin menjawab pertanyaan ini. Ya itulah realitanya.

Begitulah sekilas cerita bagaimana proses seleksi di BLK Sleman. Semata-mata agar proses seleksi benar-benar tepat sasaran. Benar-benar bisa bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah.

Aku ingin berlari, Kamunya tidak…

Beberapa waktu yang lalu saya dipanggil oleh pimpinan untuk menghadap. Dalam pertemuan itu beliau menanyakan “ Terkait penerbitan sertifikat mas, ini kenapa selalu mundur bahkan yang angkatan 3 kemarin sudah satu bulan lebih belum jadi? Bolah ruwete (pangkal permasalahannya) dimana? Saya inginnya 10 hari selesai pelatihan, sertifikat sudah bisa dibagikan. Ini sudah banyak komplain yang saya terima“.

Tupoksi sampingan saya di kantor adalah membuat sertifikat. Sebuah tugas sampingan yang tidak bisa dikerjakan sambil lalu. Seringnya saya menghabiskan beberapa hari untuk menuntaskannya. Sudah bertahun-tahun profesi ini saya geluti tentu saja saya paham betul simpul-simpul kemacetan sehingga sertifikat tidak bisa lancar jaya menuju tangan alumni pelatihan. Parahnya kalau sertifikat tak kunjung selesai pasti yang jadi sasaran tudingan pertama tentu saja saya. Ya memang sih yang terlihat jelas dalam hal ini adalah orang yang bertugas mencetak, terpampang nyata hasilnya.

“Begini pak….” saya mulai angkat bicara. Continue reading

Beda Tugas Belajar dan Ijin Belajar

Bagi teman-teman yang berprofesi sebagai PNS, mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi butuh suatu perjuangan. Selain biaya, ijin dari atasan dan instansi menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. Bahkan bagi penerima beasiswa sekalipun proses ijin tetap harus dilakukan. Kenapa harus melalui proses ijin? Karena dengan adanya ijin dari instansi maka proses pendidikan dinyatakan legal dan nantinya gelar bisa melekat dalam setiap urusan yang berkaitan dengan kedinasan. Misalnya penulisan nama dalam tim, surat tugas, kenaikan pangkat dan lain-lain. Tanpa ijin, maka gelar akademik yang dimiliki tidak boleh dilekatkan dalam hal yang berkaitan dengan kedinasan.

Sebagai contoh Abdullah, S.Si berprofesi sebagai PNS kemudian dia menempuh pendidikan S2 dan mendapat gelar M.Eng. Maka jika dalam menempuh pendidikan S2 dia telah mendapat ijin instansi maka dalam kedinasan boleh ditulis nama Abdullah, S.Si, M.Eng. Tetapi jika tanpa ijin maka nama Abdullah, S.Si, M.Eng tidak boleh digunakan dalam urusan kedinasan. Nama dan gelar S2 tersebut masih boleh digunakan tetapi di luar urusan kedinasan. Selain itu jika tanpa ijin maka kegiatan belajar selama S2 tidak boleh mengganggu atau mengambil jam kerja sehingga hanya bisa dilakukan perkuliahan sore-malam atau sabtu-minggu. Dan ini pasti akan sangat melelahkan di samping juga perguruan tinggi sekarang tidak lagi menyelenggarakan perkuliahan sabtu-minggu. Yang sore-malam juga sudah jarang.

Nah dalam urusan perijinan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ada dua macam istilah yang kadang bingung memahaminya. Yaitu Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Apa bedanya?

Jika kita mengajukan Tugas Belajar dan jika surat ijin itu turun maka secara otomatis kita dibebaskan dari seluruh kewajiban/ tugas kedinasan. Secara penuh kita diijinkan untuk fokus dalam menempuh pendidikan. Sehingga tidak ada lagi yang namanya beban mengerjakan tugas kantor atau mengajar bagi jabatan guru dan fungsional teknis. Namun demikian kita masih berhak mendapat gaji bulanan sebesar gaji pokok (tentu saja jika ada potongan bank juga ikut terpotong..hehehe..) sementara untuk tunjangan jabatan sementara dihentikan. Tugas Belajar ini biasanya diperlukan bagi mereka yang kuliah di luar kota maupun luar negeri dimana tidak memungkinkan untuk tetap tinggal di wilayah kedinasan. Atau juga kadang meski di dalam kota tetapi diminta oleh pihak Perguruan Tinggi untuk melampirkan surat Tugas Belajar.

Nah berbeda halnya dengan Ijin Belajar. Dengan surat Ijin Belajar maka sebenarnya tugas kedinasan masih melekat dan wajib dilaksanakan. Tetapi dengan catatan bila waktunya kuliah maka PNS bersangkutan diberikan ijin untuk meninggalkan tugas kedinasan. Sehingga Ijin Belajar hanya memungkinkan bagi PNS yang menjalani kuliah di kota dimana dia tinggal atau masih di wilayah yang relatif dekat dengan tempat dinas. Keuntungan surat Ijin Belajar adalah segala hak diterima secara penuh termasuk gaji dan tunjangan. Tetapi agaknya berat bagi penerima Ijin Belajar jika beban kuliah banyak sementara tugas dinas juga menumpuk.

Nah itu sekelumit tentang Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Semoga Bermanfaat. Admin siap menerima tambahan informasi dan koreksi jika ada kesalahan. 🙂

Catatan BIMTEK hari ke-empat : Program PBK dan Kopi Salak

Hari keempat bimtek, bertepatan Jumat 25 April 2014 yang mana hari dibukanya pameran potensi daerah Kabupaten Sleman. Materi hari ini adalah menyusun program PBK (pelatihan berbasis kompetensi). PBK adalah pelatihan dimana kompetensi menjadi kunci utama keberhasilan siswa, sementara waktu pelatihan bukan menjadi tolok ukur utama. Jadi dalam PBK tujuan utamanya adalah siswa mampu menguasai materi yang diajarkan, entah itu cepat atau lambat. Artinya ada siswa yang bisa dengan cepat menguasai materi dan ada juga yang lambat. Tetapi ini tidak menjadi masalah, yang penting hasil akhirnya semuanya bisa kompeten. Jadi tidak benar jika PBK ini dibatasi oleh waktu semisal 160 JPL atau 240 JPL atau jumlah jam yang lebih banyak. Di satu sisi PBK ini akan lebih membuat motivasi belajar semakin tinggi. Tetapi karena waktu yang tidak dibatasi maka instruktur akan kesulitan bila ada siswa yang sangat lambat belajar, karena waktu belajar menjadi lama. Pada akhirnya PBK tidak sepenuhnya diterapkan. Yang diterapkan adalah dalam jangka waktu terbatas, siswa dituntut untuk menguasai semua materi. Nah ini menjadi tantangan bagi instruktur bagaimana dalam waktu terbatas bisa membuat semua siswa kompeten.

Kembali pada Pokok pembahasan PBK ini adalah membahas bagaimana menyusun suatu program pelatihan lengkap dengan nama program, kode unit, tujuan, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, indikator unjuk kerja dan materi. Tidak begitu sulit sebenarnya, tetapi cukup ribet untuk dibilang mudah. Materi ini merupakan materi lanjutan hari kemarin. Materi haari ini menjelaskan materi kemarin dan membahas dengan lebih detail. Jika dikaitkan dengan kehidupan maka semakin kita mem-breakdown rencana hidup kita dengan terinci maka semakin mudah kita menjalani kehidupan. Kita sudah punya acuan-acuan dalam bertindak. Ada indikator keberhasilan sehingga ketika ada yang belum tercapai maka kita akan sesegera mungkin melaksanakannya. Ada rincian waktu sehingga target-target dalam hidup dapat tercapai sesuai dengan rencana atau setidaknya hampir sesuai rencana. (bahasan tanggung… maaf..soalnya harus segera beralih ke mengerjakan tugas… hehehe..)

Topik yang selanjutnya adalah Kopi Salak. Lah apa hubungannya PBK dan Kopi Salak? Memang tidak ada kaitan langsung, karena kaitannya harus melalui saya. Hehehe… Kopi salak agaknya menjadi sesuatu yang hampir setiap hari ditanyakan pada saya. Kok bisa? Gara-garanya saya sempat keceplosan mempromosikan kopi salak saat perkenalan di awal dulu. Nah dari situ akhirnya banyak yang tertarik dan penasaran. Sayapun menjelaskan sedikit tentang kopi salak. Akan saya bahas di lain waktu saja mengenai detail kopi salak. Dan sampai sekarang masih ada juga yang menanyakan. Jangan-jangan ke depan jika bertemu dengan mereka lagi yang dikenal dari saya adalah kopi salak. Hahahaha.. Biar saja, siapa tahu bisa menjadi ladang bisnis baru.. Aamiin.. Dan akhirnya ini saja yang bisa saya laporkan langsung dari ruang Orchids, The Sahid Rich Yogyakarta.