Untukmu;

Teruntuk engkau yang pagi tadi memelukku;
Menatapku dengan mata bulatmu;
Berikan manis senyummu;
Yang membisikkan dengan lembut;

Barakallah fii umrik maas;

Teriring doa tulusmu untukku;
Doa yang kuaminkan sepenuh hati;
Terucap maafmu tak bisa berikan sesuatu;
Tak mengapa karena kamulah kado terindah itu;

Teruntuk engkau;
Yang telah memilih bertahan;
Di saat ada alasan untuk meninggalkanku;
Dan tak seorangpun akan menyalahkanmu;

Kau tahu;
Sikapmu itu yang mampu meluluhkan hatiku;
Keteguhanmu itu yang menyadarkanku;
Bahwa kamulah anugerah terindah;

Advertisements

Jangan Minta Cariin Jodoh Kalau Belum Niat

Judul ini bertahan hampir satu setengah tahun lamanya. Awalnya mau jadi ajang curahan kegemasan saya. Tapi urung dilakukan. Mungkin akan lebih baik bila ditahan dulu kegemasan saya itu daripada keluar tulisan yang kurang sedap dibaca.

Judul diatas mungkin bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain. Ya memang begitu adanya. Begini sejarahnya. Waktu itu berlandaskan niatan baik untuk menghubungkan teman-teman yang masih single maka kami berniat menjodohkan antara teman laki-laki dan perempuan. Awalnya saya sudah menanyakan ke pihak laki-laki (teman saya) serius atau tidak. Demi mengetahui kalau dia serius maka saya mantapkan diri untuk memprosesnya. Proses taaruf pun bermula.

Awal proses adalah nanting pihak perempuan, mau tidak kalau dicoba bantu cari jodoh. Kebetulan ada laki-laki yang siap. Dijawab olehnya mau. Yup gayung bersambut. Tahap pertama adalah bertukar biodata. Dan kami harus profesional bahwa biodata harus aman tanpa bocor informasinya ke pihak maisng-masing. Jelas sekali kami tidak berkepentingan untuk tahu isinya. Kami hanya sebagai penghubung, tidak lebih. Sempat kami tanyakan ke pihak perempuan bagaimana tanggapan awal setelah pertukaran itu. Dari pihak perempuan insya Allah lanjut. Alhamdulillah, demikian ucap kami saat itu. Gimana tidak, ganjalan atau kendala utama proses ta’aruf adalah bila pihak wanita tidak setuju lanjut.

Sampai saat itu saya yakin kalau ini bakal sukses mengingat pihak laki-laki pernah saya tanya bagaimana pendapat tentang perempuannya. Kebetulan pernah ketemu di apotek kami. Jadi jelas dalam pandangan kami pihak laki-laki tinggal menunggu kata iya dari pihak perempuan.

Waktu berlanjut. Setelah pertukaran biodata itu rupanya ada komunikasi antara mereka. Dan cukup kaget kami ketika tiba-tiba pihak perempuan membatalkan kemungkinan untuk lanjut. Telisik punya telisik, ternyata pihak laki-laki masih menunggu pihak lain perempuan). Sebenarnya saya juga pernah diceritai oleh teman saya itu bahwa saat ini masih menunggu kepastian dari temannya (masih ada kisah). Tapi saya juga sudah menanyakan keseriusan untuk proses taaruf ini yang tentunya dia juga sudah paham konsekuensinya.

Ya, pantesan saja pihak perempuan membatalkan. Memang harusnya diselesaikan dulu dengan yang masih berjalan. Kalau sudah jelas keputusannya, baru berproses dengan yang lain. Etikanya dalam proses taaruf, tidak seharusnya melakukan multiple ta’aruf. Selesaikan dahulu proses yang lebih awal sampai tuntas dan bila jelas tidak berhasil baru beralih ke proses berikutnya (yang lain).

Kami merasa dibohongi saja. Kalau tahu begitukan mending tidak usah kami bantu. Jelas itu artinya proses yang dibantu jalankan ini hanya sebagai pembanding saja. Atau lebih parah sebagai cadangan. Kalau dengan yang utama gagal, baru dengan yang ini. Kalau berhasil dengan yang utama maka jelas akan meninggalkan proses yang ini. Akhirnya saya ingin katakan saja Jangan minta cariin jodoh kalau belum niat.

Update, teman saya yang laki-laki alhamdulillah sudah menikah. Saya juga tidak tahu apakah dengan pilihan utamanya dulu atau juga nasibnya menerima yang cadangan. Sementara teman kami yang perempuan masih belum mengedarkan undangan. Namun dari kabar selentingan sudah ada jodohnya tinggal nunggu waktu.

Kau Ditakdirkan Untukku…

Lama tidak bersentuhan dengan lagu-lagu islami, sekalinya ketemu dengan lagu ini yang entah kenapa langsung berkesan bagi saya. Awal pencarian iseng-iseng mengetik Edcoustic (secara lagu-lagunya sempat jadi teman mengerjakan skripsi dulu, apalagi yang Nantikanku di Batas Waktu.. hehe). Dan dengan kondisi yang sudah berbeda, agaknya lagu ini pas untuk mewakili ungkapan syukur karena telah dipertemukan dengannya. Seseorang yang telah  mengisi hati ini. Ini dia…

Terucap syukurku
aku memilihmu
tuk menjadi teman
hidup setia selamanya

Belahan hati ini
kini telah terisi
aku dan dirimu
mengikat janji bahagia

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
pegang tanganku
tataplah mataku
engkau ditakdirkan untukku

Ikatan suci ini
selalu kan ku jaga
meniti sakinah penuh kasih sayang
dan rahmat-Nya

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta
engkau ditakdirkan untuk-ku

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta engkau ditakdirkan untuk-ku

Lirik dan Lagu oleh – Inteam feat. Suhaimi & Aden Edcoustic

Link https://www.youtube.com/watch?v=BwR9oFngvXE

#challenge #2
#ODOP
#OneDayOnePost

Bila harus berhenti mengharapkannya

Rasa ingin mencintai dan dicintai serta ingin memiliki merupakan fitrah setiap manusia.Tidak ada manusia yang tidak ingin dicintai begitu pula tidak ada manusia yang bisa terlepas dari rasa mencintai sesuatu. Hal ini adalah wajar saja ketika memang kita bisa me-manaje diri kita di dalam menghadapinya, sehingga jangan sampai berlebihan di dalam meluapkan rasa tersebut.Karena tidak sedikit manusia terjerumus ke dalam kehinaan karena terlalu berlebihan. Namun tidak juga kita lantas ( berusaha ) meniadakan rasa tersebut .Yang harus dilakukan adalah pertengahannya yaitu menjaga agar rasa itu tidak hilang dan menghindari agar tidak terlalu berlebihan.

” khoirul umuuri ausathuha”
sebaik-baik urusan adalah pertengahannya.

Tidak terlepas dari bagian rasa ini adalah kecenderungan terhadap lawan jenis. Malahan justru inilah yang terkadang membuat sebagian dari kita merasa kewalahan di dalam menghadapinya. Ada sebagian dari kita yang larut oleh rasa ini sehingga seolah-olah tujuan hidupnya hanya terisi oleh bagaimana meraih cinta dari yang diharapkannya. Mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah makan gak enak , tidurpun tak nyenyak selalu terbayang wajah sang kekasih tersayang.Lalu muncullah puisi puisi, nyanyian, syair untuk mengungkapkan rasa itu.

Memang ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengharapkannya untuk juga mencintai kita. Dan itulah sesuatu yang terkadang kita lupa bahwa ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan sangat bergantung kepadanya sehingga seolah-olah kita menjadi tawanannya .Bagaimana tidak , ketika kita mencintai seseorang maka kita rela untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan kita lakukan untuk orang lain. Benarlah ” man ahabba syaiaan fahuwa asiirulah” Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi tawanannya.

Namun kadangkala kenyataan tak seindah harapan. Terkadang kita harus kecewa karena apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan.Ketika kita melamarnya ternyata kita tidak diterima. Namun ini lebih jelas keadaannya meskipun menyakitkan memang. Namun ada yang juga tidak kalah menyedihkan ketika kita tidak tahu apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Ini akan menimbulkan efek yang tidak bisa dipandang enteng.Kita akan selalu dihantui pertanyaan yang tidak kunjung usai. Apakah dia juga mencintai saya? Sebenarnya ada jalan keluar yang dijamin dapat menyelesaikan apa yang selalu menjadi pertanyaan kita. Yaitu menanyakan kepada yang bersangkutan baik secara langsung maupun melalui perantara. Namun kiranya tak semudah yang kita bayangkan. Ada konsekuensi lanjutan terhadap jawaban atas pertanyaan itu.

 

Seandainya memang diterima lantas apakah cukup sampai disitu saja. Untuk selanjutnya tidak melakukan apa-apa. Sama sekali tidak. Kita harus siap untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kalau kita memang sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan,maka itu bukanlah sebuah persoalan besar. Atau kemungkinan kedua tidak diterima maka sudah siapkah kita menenangkan hati ini. Sungguh derita karena cinta ditolak itu sangat menyakitkan. Atau kemungkinan ketiga dia tidak memberikan jawaban apa-apa maka sudah siapkah kita untuk menjawab sendiri rasa penasaran kita. Sungguh kesemuanya memerlukan kesiapan jiwa kita.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika cinta itu datang dan kita belum siap untuk segala konsekuensinya? Sebenarnya di dalam setiap hal akan selalu ada konsekuensinya. Namun kita diberi pilihan untuk memilih solusi dengan konsekuensi yang terkecil.

Yang pertama kita harus segera mempersiapkan diri kita. Semakin cepat maka semakin baik. Namun ingat bahwa untuk merubah diri kita itu tidak cukup waktu satu dua jam , satu dua hari namun butuh waktu yang lebih dari itu. Mungkin selama masa pembentukan kesiapan itu kita terus merasakan ketidaknyamanan, ketidaktenangan dan sebagainya.

Pilihan kedua adalah berusaha untuk menghilangkan hati kita dari berharap padanya. Memang cara ini terkesan sulit untuk dipraktekkan. Namun bukan berarti yang sulit itu tidak bisa dilakukan. Memang ini butuh energi ekstra dan rasa sakit ketika kita harus melupakan dirinya dari hati kita. Namun ini memerlukan waktu yang lebih cepat daripada pilihan pertama tadi. Namun bukan berarti kita tidak menerimanya ketika memang dia dapat menerima kita. Yang kita lakukan adalah menjauhkan harapan kita terhadapnya, sehingga ketika memang dia tidak dapat mendampingi kita maka kita dapat dengan rela mengatakan ” berarti dia bukan jodohku” , dan bila ternyata dia bersedia menjadi pendamping kita maka kita dapat berucap syukur sambil tersenyum ” Ya Alloh inilah karunia yang terbaik dari Sisi-Mu untukku”. Jadi mau pilih yang mana?

#glesek-glesek file 08 september 2008
edited

GAGAL TA’ARUF, SALAH SIAPA?

Taaruf adalah suatu proses untuk saling mengenal antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dalam koridor syar’i dan bertujuan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius (pernikahan). Jadi taaruf bukanlah sebuah penghalus kata bagi mereka yang berpacaran tetapi tidak mau disebut berpacaran, sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh tayangan sinetron yang (katanya) bertema religius.

Taaruf merupakan sebuah proses yang bisa membuat deg-degan sekaligus dapat menimbulkan dilema. Deg-degan ketika siapa yang dita’arufi ternyata sesuai dengan keinginan kita, masuk dalam kriteria kita dan kita berharap-harap cemas apakah diterima atau ditolak. Tapi di sisi lain juga dapat memunculkan dilema ketika kita harus menolak dikarenakan tidak ada rasa sreg sementara si dia mengharapkan kita. Sebagaimana sebuah proses, taaruf tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada saja hal yang membuatnya gagal.

Hasil dari sebuah taaruf setidaknya mencakup empat hal : Continue reading