Membalas Doa yang Buruk

jika-didoakan-buruk

Advertisements

Tips Memilih Tempat Duduk di Kereta Api Ekonomi

Bepergian darat jarak jauh menggunakan kereta api memang sebuah pilihan yang tepat. Apalagi bagi yang ingin berhemat (uang pas-pasan), maka layanan kereta api ekonomi menjadi solusi. Tinggal duduk, nikmati perjalanan dan sampai tujuan. Hal ini juga meminimalkan resiko kelekahan akibat mengemudi jika menggunakan mobil pribadi.
Berdasarkan pengalaman, pemilihan tempat duduk turut serta mempengaruhi kenyamanan. Jika kita masih bisa memilih (eciee… *nyanyi) tempat duduk maka beberapa tips yang bisa diamalkan antara lain:

  1. Pilihlah gerbong yang tengah ( gerbong 4-6) agar ketika kita akan naik kereta, tidak perlu berjalan jauh menuju gerbong yang dituju (hemat energi). Biasanya ketika akan naik kereta api, kita sudah diposisikan untuk sesuai dengan gerbong yang kita naiki, sementara pintu masuk/ keluar penumpang di stasiun biasanya tepat di depan gerbong tengah kereta api.
  2. Untuk tempat duduk pilihlah yang berada di tengah sehingga jauh dari toilet dan pintu keluar masuk dimana biasanya lalu lalang penumpang paling banyak di kedua area tersebut.
  3. Untuk yang membawa keluarga sebaiknya memilih tempat duduk yang berdekatan, kalau bisa mengumpul jadi satu lokasi sehingga akan lebih tenang. Untuk kelas ekonomi biasanya kursi berhadap-hadapan. Kursi 1 -2, 3-4, 5-6, 7-8, 9-10, 11-12, 13-14, 15-16, 17-18, 19-20, 21-22, 23-24. Maka jika anggota keluarga ada 4 pilihlah kursi 15 DE dan 16 DE yang berhadap-hadapan. Jika anggota keluarga ada 6 pilihlah kursi 15 ABC dan 16 ABC yang berhadap-hadapan.

Demikian tips memilih tempat duduk di kereta api ekonomi. Semoga bermanfaat.

Yang cantik-cantik selalu bikin heboh. Lebay gak sih?

Setiap berita yang memuat kosakata ‘wanita cantik’ selalu menjadi viral di dunia maya. Sumber beritanya langsung menyebar di mana-mana. Bahkan tak jarang kita membaca hal yang sama dari sumber yang berbeda-beda. Tengok saja judul semacam “ wanita cantik ini menjadi tukang tambal ban “ atau “ penjaja camilan yang cantik “ atau “ wanita cantik ini berprofesi sebagai pemulung” pasti akan menjadi trending topic meskipun untuk tempo yang tidak lama. Dalam kasus ini saya lebih melihat bahwa sebagian kita penasaran. Masak sih cantik-canti jadi tukang tambal ban? Masak sih cantik-cantik cuma jadi penjaja camilan? Masak sih pemulung kok cantik?

Nah dari dasar berpikir inilah saya ingin berkomentar. Kayaknya bagi sebagian kita masih sulit memahami ketika ada wanita cantik menjalani profesi yang bagi sebagian kita termasuk dalam kasta nomor dua. Atau dengan kata lain awalnya kita membuat kalimat yang menyatakan keraguan “ Ah gak mungkin wanita cantik mau jadi tukang tambal ban atau penjaja camilan atau pemulung…“ Tapi persepsi seperti itu LEBAY gak sih?

Bukankah setiap kita berhak punya pekerjaan tanpa harus dikaitkan dengan wujud fisik kita. Yang namanya fisik kan sudah pemberian Yang Maha Kuasa dari sononya. Lantas apakah hal tersebut menjadikan seseorang pantas dan tidak pantas menjalani sebuah pekerjaan tertentu. Apakah yang cantik tidak boleh menjadi tukang tambal ban atau pemulung? Kok seakan kita justru mengatakan bahwa tukang tambal ban atau pemulung itu pekerjaan orang-orang berfisik jelek, yang cantik gak pantas. Lalu ketika kenyataan memang demikian, yang cantik dengan pekerjaan tidak cantik maka akan timbul simpati, dorongan dan penyemangat. Bukankah itu artinya diskriminasi bagi yang tidak berfisik cantik nan rupawan. Kenapa mereka tidak mendapat simpati dan penyemangat juga.

Setiap pekerjaan halal adalah mulia sehingga siapapun boleh mengerjakannya, baik cantik maupun tidak. Tidak perlulah kita memperlakukan spesial apalagi hanya karena si wajah cantik. Jika demikian adanya berarti kita memperlakukan secara spesial seseorang yang sudah spesial dengan diberi fisik yang menarik.Lagipula tidak semua yang cantik beruntung mendapat pekerjaan sesuai menurut keadaan fisiknya. Jangan sampai gara-gara komentar yang menyayangkan akhirnya dia merasa tidak cocok dan tidak totalitas. Atau mungkin sebagian kita lebih menyukai wanita cantik yang nganggur saja daripada kerja tetapi pekerjaan kasta dua. Hmmm… entahlah.

Satu Hari Satu Juz, Bisa kok…

Teringat semasa jaman kuliah dulu, ketika masih semangat dalam kegiatan kampus. Jauh sebelum program satu hari satu juz yang di-ngetrend-kan dalam bahasa Inggris menjadi begitu terkenal, menjadi sesuatu yang fenomenal dan juga tentu mengandung kontroversial bagi kalangan tertentu. Saya sempat mendengar cerita tentang seorang mahasiswa kedokteran UGM yang bisa membaca 5 juz dalam satu hari. Waaaah… Masya Allah… begitu pekik hati saya ketika mendengar hal itu. Bayangkan mahasiswa kedokteran dengan seabrek aktifitasnya masih bisa membaca 5 juz dalam sehari.. Lalu memandang diri sendiri. Dengan aktifitas yang secuil saja untuk membaca satu juz masih pontang-panting. Duh… malunya…

Tapi dengan adanya hal tersebut menjadi sebuah perenungan bagi saya bagaimana agar setidaknya bisa memenuhi target minimal yaitu khatam dalam sebulan atau maksimal dalam 40 hari. Tapi tentu saja hal itu tidak begitu mudahnya dilakukan. Seperti biasanya bahwa hukum alam menyatakan bahwa orang cenderung akan tetap pada keadaan tertentu (bertahan dalam posisinya) kecuali ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan bertahannya. Atau kalau dalam fisika ada hukum kelembaman. Untuk itu perlu tekan atau ‘azzam yang kuat untuk mau melaksanakannya. Sedikit demi sedikit , hari demi hari jumlah ayat yang dibaca semakin ditambah. Dan istiqomah dengan pertambahan ini sampai nanti mencapai target yaitu satu hari satu juz.

Kenapa satu hari satu juz? Bukankah yang penting satu bulan (30hari) khatam satu kali? Ya ini hanya untuk mempermudah saja dan juga memperingan diri kita. Al Quran terdiri dari 30 juz yang ingin kita khatamkan dalam 30 hari berarti satu hari satu juz. Kemudian masih perlu dilakukan sebuah strategi agar jatah satu juz bisa dengan mudah dilaksanakan. Kalau yang saya lakukan adalah dengan sistem  mencicil artinya tidak dalam satu waktu sekaligus. Biasanya sih dibagi dua antara waktu ba’da subuh setengah juz dan waktu ba’da maghrib setengah juz. Atau kalau masih berat membaca setengah juz sekaligus ya masih bisa dibagi lagi. Misalnya dengan membaca 2 lembar sehabis sholat fardhu sehingga tidak terlalu terasa berat . Tapi tidak menutup kemungkinan cara lain terserah masing-masing orang.

Kalaupun dalam satu hari ternyata tidak mencapai satu juz maka jatah sisa perlu diganti dengan menambah membaca lebih di hari berikutnya. Yang penting dalam satu bulan diusahakan untuk khatam satu kali. Tetap semangat !!!

BERALIH KE LPG 3 KG

Menuliskan hal ini mungkin sudah tidak hot topic lagi, secara heboh-hebonhya sudah beberapa waktu yang lalu. Kenaikan harga LPG 12 Kg. Yup, itulah latar belakang kenapa saya akhirnya harus memutuskan untuk beralih ke gas LPG 3 kg. Memang selama ini saya menggunakan tabung biru tersebut untuk memasak. Bukan karena merasa sok kaya, tetapi dikarenakan memang adanya itu. Hehehehe…. Dan dulu kan tidak begitu terasa mencolok perbedaan harganya. Memang sih masih lebih mahal untuk harga perkilonya, tetapi saya rasa masih belum perlu berganti.

Tapiiiiii… Continue reading

Plisss, Berikan Kami Kesempatan…

pemudamasjidHari Jumat kemarin menjadi hari yang cukup bersejarah. Untuk kali kedua saya berkesempatan menjadi khatib Jumat. Setelah sebelumnya pernah menjadi khatib ketika saya kelas XII SMA. Sebenarnya saya sendiri merasa tidak enak ketika ditawari untuk menjadi salah satu khatib di masjid Al Furqon. Pasalnya saya termasuk orang baru dan ketika tawaran itu datang saya baru satu bulan menempati rumah di sebelah timur masjid itu. Dan kesempatan untuk menjadi khatib datang dua bulan sejak penawaran itu. Tentu saja ada perasaan tidak enak. Bagaimanapun saya sebagai orang baru pastinya merasa rikuh dengan warga di sana, meskipun sebagian besar juga sudah saya kenal. Tapi rasa itu tetap ada. Namun di sisi lain saya berkata bahwa inilah kesempatan. Faktanya, menjadi khatib, tidak semua orang diberi kesempatan.  Bahkan ketika kita merasa mampu namun bila tidak diberi kesempatan juga akhirnya tidak akan pernah menjadi khatib. Makanya ketika kesempatan itu datang saya sanggupi saja. Saya mencoba menepis ke-tidak enak-an yang ada. Toh ini sebagai pembelajaran bagi saya, dan saya yakin insya Allah pengalaman menjadi khatib ini akan berguna di masa mendatang sebagai sarana untuk regenerasi.

Bicara tentang kesempatan, saya ingin berbicara tentang keadaan masjid di kampung saya dulu, masjid Thayyiban. Masjid dengan tradisi yang masih kental. Maklumlah kampung saya berbasis NU. Dan setiap warganya juga warga NU. Tradisi-tradisi seperti kenduri peringatan kematian mulai dari 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun, 1000 hari masih tetap dilestarikan. Pengajian peringatan Maulid, dan Isra’ Mi’raj. Kemudian tradisi Saparan, Rejeban, Ruwahan (nyadran). Dan masih banyak yang lain, kesemuanya masih lestari. Bedanya jika jaman dahulu, jaman orang-orang tua dahulu melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut didasari kepada semangat ibadah maka generasi sekarang agaknya memandang kegiatan-kegiatan itu layaknya sebuah tradisi. Sehingga semangat melaksanakan kegiatan tersebut lebih kepada bagaimana melestarikan kebiasaan yang ada dan bagi yang lain ada yang lebih kepada agar tetap membaur dengan masyarakat.

Lalu apa kaitannya dengan kesempatan yang saya katakan di atas? Continue reading

Alon-alon Waton Kelakon

Alon-alon waton kelakon. Sebuah pepatah Jawa yang menjadi prinsip hidup masyarakat pada jaman dahulu. Sebuah prinsip yang jika di telaah lebih lanjut maka akan menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

Namun sayang, pepatah Alon-alon waton kelakon diterjemahkan dengan “biar lambat asal selamat (terlaksana)”. Akibat pengertian yang salah ini banyak diantara masyarakat yang menyebut pepatah Alon-alon waton kelakon ini tidak relevan lagi di jaman sekarang. Bahkan pepatah ini menjadi bahan ejekan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak punya prinsip, yang tidak mau bekerja dengan cepat dan efisien, yang tidak punya komitmen yang tegas dan berbagai stereotip lain yang kurang baik.

Cobalah kita tengok makna sebenarnya dari pepatah Alon-alon waton kelakon ini. Pepatah ini terdiri dari tiga kata yaitu Alon-alon, Waton dan Kelakon.

1. Alon-alon ( pelan-pelan)
Mengandung arti bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan hendaknya kita lakukan dengan pelan-pelan. Pelan-pelan di sini mengandung pengertian hati-hati, cermat dan meminimalisir kesalahan yang bisa terjadi. Selain itu juga mengandung pengertian bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan tidak boleh tergesa-gesa (bedakan dengan cepat dan efisien). Kalau suatu pekerjaan itu sudah terikat dengan waktu maka pengertiannya adalah melakukan dengan penuh hati-hati dan terencana sehingga dapat selesai tepat waktu.

2. Waton (dasar)
Waton dalam bahasa Jawa yang berarti dasar. Berasal dari kata Watu (batu) yang sering digunakan untuk membuat dasar bangunan baik rumah maupun bangunan-bangunan lain seperti jembatan, bendungan dan lain-lain.

Prinsip ini mengajarkan bahwa dalam melakukan sesuatu kita harus tahu dasarnya (dasar hukumnya). Tidak boleh melakukan sesuatu tanpa dasar yang jelas, hanya berdasarkan perkiraan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam perkembangan jaman sekarang dasar ini juga bisa dimaknai dengan visi, misi dan tujuan yang jelas. Sehingga seseorang menjadi lebih mantap dalam melangkah, lebih terpacu untuk bekerja lebih giat dan tahu dengan jelas arah dan hasil yang akan diperoleh.

3. Kelakon (terlaksana)
Hasil yang diinginkan dari melakukan suatu pekerjaan adalah terlaksananya tujuan yang ingin dicapai, seberapapun panjang proses yang harus dilalui. Prinsip ini mengajarkan bahwa tujuan utama kita melakukan sesuatu adalah tercapainya suatu hasil, karena ukuran kesuksesan dalam bekerja tidak hanya dinilai dari prosesnya tetapi juga hasil akhirnya. Oleh sebab itu tercapainya tujuan pekerjaan menjadi syarat mutlak bahwa pekerjaan itu telah diselesaikan dengan baik.

Dengan demikian Alon-alon waton kelakon tidak lagi diartikan biar lambat asal selamat, tetapi diartikan sebagai mengerjakan sesuatu dengan dasar yang jelas, dengan cara yang efektif dan efisien dan tujuan tercapai dengan baik.