Berjuta kata di dalam, satu kata kepada dunia luar.

Sebuah lembaga atau organisasi yang dihuni oleh banyak orang maka banyak pula pemikiran yang muncul di sana. Semakin banyak anggota yang terlibat maka semakin kaya pula pemikiran yang ada. Dan setiap pemikiran ini harus mendapat tempat yang sama, artinya sama-sama mempunyai nilai bagi lembaga atau organisasi tersebut. Hierarki fungsi dalam lembaga, mencakup ketua, sekretaris, bendahara, divisi-divisi dan anggota yang lain seharusnya tidak menjadi pembatas bahwa suatu pemikiran itu mempunyai nilai lebih dibanding yang lain. Tentu kita paham bahwa seseorang yang kita beri amanah duduk di pucuk pimpinan adalah seseorang yang kita anggap punya kelebihan dibanding yang lain terutama sisi manajerialnya. Tetapi hal ini tidak menjadikan seseorang itu makhluk sempurna, tidak mungkin salah. Bertolak dari hal ini maka kita katakan tidaklah pendapatnya lebih berharga dari anggota yang lain.

Obrolan ringan, diskusi bahkan debat seharusnya bukan situasi asing lagi bagi sebuah lembaga atau organisasi. Apalagi yang sudah berjalan lama bahkan sudah puluhan tahun. Dan tentu saja akan kita jumpai dalam diskusi atau debat adanya perbedaan-perbedaan pendapat, bahkan dalam hal yang tidak terlalu prinsip. Itu sangat wajar menurut saya sebagai sebuah lembaga yang sehat akan berisi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Justru tidak sehat sebuah lembaga yang setiap orang yang berada di dalamnya wajib satu kata, meskipun itu masih dalam ranah internal. Hal ini justru mematikan aspirasi dari anggota. Jika ada sebuah lembaga yang melakukan hal demikian biasanya tidak terlepas dari kultus terhadap sebagian pemuncak hierarki bahwa merekalah sang penentu kebijakan dan anggota lain tidak berhak menyatakan pendapat terkait hal itu.

Perbedaan pendapat selama itu masih dalam ranah internal maka tidak menjadi masalah bahkan jika sampai debat sekalipun. Memang sebaiknya perdebatan kita hindari, cukuplah diskusi menjadi solusi bersama. Selama masih dalam ranah internal lembaga atau organisasi saya rasa sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat. Kita biasa untuk saling bertukar pendapat, menghargai pendapat yang berbeda dan tidak memaksakan satu pendapat kepada yang lain hanya karena tingkatan jabatan yang tidak sama. Dengan banyaknya pendapat lalu kita diskusikan sehingga membentuk satu kata bersama. Nah satu kata bersama inilah yang nanti kita bawa keluar sebagai wajah lembaga atau organisasi di mata masyarakat. Justru pada tahap inilah sudah tidak boleh ada perpecahan, perbedaan kata. Yang perlu ditampilkan adalah satu kata yang telah disepakati bersama melalui forum diskusi yang kita bahas di atas.

Kita sebagai anggota dari sebuah lembaga atau organisasi, setidaknya dalam lembaga bernama masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk berpendapat dan kewajiban melaksanakan keputusan bersama. Jangan sampai ada segelintir orang yang dengan sengaja mematikan aspirasi dengan dalih apapun, apalagi hanya karena dia mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Justru sebagai orang yang dianggap dewasa dalam cara berpikir, sekelompok orang yang duduk di pucuk pimpinan bisa membimbing anggotanya yang memiliki pemikiran berbeda agar perbedaan itu tidak mencolok dan bisa disamakan persepsinya dengan pemikiran bersama. Inilah kenapa kita berlembaga. Kalau hanya ingin memaksakan pendapat, apa bedanya dengan penjajah. Marilah kita dewasa dalam berlembaga, termasuk dalam masyarakat sebagai lembaga non resmi.

Advertisements

Menyoroti Quick Count: Pilpres Usai, Pertarungan Jalan Terus..

Pilpres telah usai. Tanggal 09 Juli kemarin merupakan penentuan rakyat dalam memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Dalam hemat saya melalui pemberitaan di televisi, untuk sementara bisa dikatakan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut berjalan dengan lancar. Tapi seiring berjalannya waktu akan ada banyak temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa pilpres tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Temuan yang paling banyak terjadi diprediksikan adalah bentuk kecurangan-kecurangan dan money politics atau politik uang. Kita tunggu saja beritanya di media-media nasional.

Semenjak 10 tahun lalu, hadirnya quick count atau hitung cepat menjadi referensi tersendiri dalam dunia perpolitikan nasional. Ketika sebuah proses pemilihan selesai maka akan diikuti oleh hasil quick count yang memprediksi hasil perhitungan suara nyata. Dan hasil quick count ini bukanlah hasil dari peramalan tanpa ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Hasil quick count adalah hasil analisa dan perhitungan secara ilmiah sehingga bisa dijadikan rujukan. Dan pada banyak kasus hasil hitung quick count mendekati hasil hitung nyata. Kalaupun ada selisih itu dalam kisaran di bawah 4%. Jadi quick count sering dijadikan prediksi kemenangan. Tak jarang pasangan yang unggul dalam quick count segera mendeklarasikan kemenangannya. Hal ini karena selama ini hasil quick count bisa dijadikan rujukan.

Berbeda dengan proses pemilihan sebelumnya dan hasil quick count yang menyertainya, pilpres kali ini menghadirkan nuansa berbeda. Jika dalam pil-pil yang sebelumnya hasil quick count antar lembaga survey menghasilkan satu pemahaman tunggal yang artinya merujuk ke satu pasangan pemenang walau dengan angka yang berbeda-beda. Tetapi hasil quick count pilpres kali ini menghadirkan hasil yang berbeda. Perbedaan itu semakin mencolok karena menghadirkan pemenang yang berbeda. Dan ini terkait lagi dengan media (tv nasional) pendukung kedua pasangan. TV yang mendukung pasangan no 1 menayangkan bahwa hasil quick count menunjukkan pasangan no 1 menang. Sementara TV pendukung no 2 menayangkan hasil quick count menunjukkan pasangan no 2 menang. Dan ini sangat berpotensi menimbulkan kerawanan politik dan keamanan.

Dengan berakhirnya pilpres dalam artian proses pencoblosan selesai, saya kira tadinya segala sesuatu akan kembali ke kondisi normal. Artinya kita tinggal menunggu hasilnya saja. Tetapi ternyata keliru. Bahkan pilpres usai , pertarungan masih jalan terus. Dan setiap kubu mengklaim bahwa dirinya yang menang. Dengan persaingan yang ketat perolehan suara hasil quick count maka margin error yang kecil-pun seakan tidak menjadi jaminan ke akuratan untuk menentukan siapa pemenangnya. Kedua kubu masih berpotensi untuk menang juga berpotensi untuk kalah. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah menunggu hasil resmi dari KPU. Untuk mengurangi potensi konflik ada baiknya setiap kubu menahan diri untuk tidak larut dalam euforia kemenangan hasil quick count. Tetap menunggu hasil resmi dan harus siap menerima apapun hasilnya. Kalau menang jangan jumawa karena ini bukanlah akhir dari pesta demokrasi 5 tahunan. Justru ini menjadi awal mula perjuangan untuk mensejahterakan rakyat, melaksanakan amanah yang dimandatkan. Sementara pihak yang kalah harus legowo karena bagaimanapun rakyat sudah menentukan. Dan jika janji-janji kampanye untuk mensejahterakan rakyat masih dipegang maka tugas itupun bisa diwujudkan dalam bentuk lain tanpa harus menjadi presiden. Kalau orang jawa bilang Menang Ojo Umuk, Kalah Ojo Ngamuk. Mari kita tunggu hasil resmi dari KPU.

Situasi Politik Yang Kian Memanas : NOTHING TO LOSE AJA…

Ini berbicara mengenai kondisi politik Indonesia yang kian memanas seiring akan digelarnya pemilihan presiden 09 Juli 2014 mendatang, maka tak lepas juga membicarakan tentang debat-debat yang terjadi. Tidak hanya di kalangan elit politik saja, tetapi merambah sampai lapisan terbawah masyarakat. Contoh mudah adalah grup WA (whatsapp) yang saya ikuti, kian ramai ketika membahas tentang dua calon presiden. Beberapa orang berdiri di kubu nomor satu, sementara lainnya di kubu nomor dua. Tapi ada juga yang tidak ikut kubu manapun, tetapi ikut nimbrung mana yang sedang di atas angin. Dan debatpun akan segera menjadi ramai. Apalagi jika salah satu kubu menyerang kubu lain. Dipastikan kubu yang diserang pun akan melakukan perlawanan. Entah itu dengan bertahan atau dengan menyerang balik. Tak jarang menimbulkan situasi panas yang entah kemana arahnya.

Debat menjadi kegemaran sebagian besar masyarakat kita. Saya akui bahwa sayapun sempat terlibat debat di grup WA atau FB. Tapi kemudian saya berpikir lebih jauh, merenung. Apa sih untungnya saya ikut terlibat debat bahkan sampai ngotot? Apa yang ingin saya peroleh? Apakah ingin agar oranglain mengetahui kebenaran yang saya miliki. Apakah ingin agar orang lain berubah pikiran mengikuti pola pikir saya. Dan setelah ini semua (pilpres) selesai apa yang saya dapat. Apakah jika seandainya jagoan saya menang, saya akan mendapat keuntungan yang besar. Atau sebaliknya jika jagoan saya kalah, kemana larinya segudang pembelaan yang selama ini mati-matian saya sampaikan. Padahal jelas, akibat dari debat ini adalah penilaian buruk teman-teman terhadap saya. Boleh jadi mereka berpikir bahwa saya orangnya ngotot, tidak mau mengalah dan memberikan bukti dari sumber-sumber yang tidak valid hanya demi membela jagoannya. Lalu siapa yang rugi?

Saya teringat dengan perkataan Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People yang menyatakan bahwa  “Satu-satunya cara mengambil keuntungan dari debat adalah dengan meninggalkannya (debat-red)”.  Memang benar adanya jika mau merenungkan bersama. Debat , dalam hal apapun, seharusnya merupakan ajang untuk mencari kebenaran dari situasi yang ada. Mencari fakta yang tersembunyi. Debat seharusnya mencari kesepakatakan bagi kedua belah pihak mengenai hal yang dibicarakan. Tetapi sayangnya di masyarakat kita, debat justru menjadi ajang adu argumen, entah itu memang benar atau itu justru salah. Dengan sekuat tenaga kita akan mempertahankan apa yang menjadi keyakinan kita. Kita akan ngotot bahwa apa yang kita katakan paling benar, apa yang kita ketahui paling valid sumbernya dan yang pasti tidak mau mengalah atau menerima argumen pihak lain yang berseberangan. Dan sayangnya, pihak lainpun bersikap demikian. Kalau sudah begini bagaimana mau menghasilkan titik temu? Tak jarang dalam debat itupun sampai menyinggung masalah pribadi teman kita, mengungkit aib yang tak seharusnya disebar. Nah kalau sudah begini yang jadi taruhan adalah hubungan pertemanan yang akan merenggang. Atau paling buruk adalah putusnya hubungan.

Dari hal-hal demikian, saya kemudian memutuskan untuk tidak lagi aktif dalam forum perdebatan ataupun melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan perdebatan. Apalagi ini ‘hanya’ masalah politik yang tentu kita semua paham bahwa dalam politik tidak ada lawan atau kawan abadi. Bisa jadi mereka yang kita bela mati-matian sampai mengorbankan hubungan kita dengan teman-teman, eh suatu saat menjadi akrab karena kepentingan yang sama. Apakah lantas mereka akan membantu memulihkan persahabatan kita. Mungkin terkesan apatis, tetapi ijinkan saya menyampaikan kesimpulan saya, bahwa siapapun nantinya yang akan jadi presiden, tidak akan terlalu berpengaruh kepada kehidupan kita sebagai individu. Kalau kita tidak bekerja ya kita tidak makan. Jangan berharap mereka lantas memberikan makan.  Lagian ini bukan masalah yang pokok dalam kehidupan sehingga kita harus keukeuh dengan apa yang kita yakini. Sekali lagi bersikap nothing to lose bagi saya merupakan suatu pilihan yang logis. Tentu saya juga punya kecenderungan kepada salah satu pasangan calon, tetapi biarlah itu saya ekspresikan di bilik suara. Untuk saat ini, diam agaknya lebih baik daripada debat tiada manfaat.

Oto-Black Campaign : Strategi kuno mencari simpati

Beberapa hari yang lalu sempat heboh adanya selebaran duka cita atas meninggalnya salah satu capres 2014. Padahal beliaunya masih sehat walafiat dan masih suka blusukan kemana-mana. Kemudian oleh tim suksesnya itu disebut sebagai black campaign yang tujuannya untuk menjatuhkan sang capres. Dan tentu saja tuduhan itu mengarah kepada saingan utamanya. Dalam hal ini logika kita sebagai masyarakat pasti akan berpikir bahwa ini perbuatan si lawan sang capres. Tetapi ternyata tidak demikian kenyataannya. Setelah di trace atau ditelusuri ternyata si pembuat selebaran itu adalah tim suksesnya sang capres tadi.

Lho?! Kok bisa?! Masak sih?! Ah gak mungkin…  Masak tim suksesnya mau menjatuhkan jagoannya.. Itu mungkin tanggapan sebagian besar kita. Tapi kenyataannya memang demikian adanya. Kalau kita lihat sebagai sebuah strategi maka hal ini sangat mungkin terjadi, bahkan dahulu sempat menjadi sebuah strategi yang banyak digunakan. Lalu apa tujuannya?

Strategi ini bisa disebut sebagai Oto-Black campaign yaitu kampanye hitam yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Black campaign adalah kampanye yang lebih menyoroti sisi buruk personal seseorang baik itu asal-usul, keluarga, sifat-sifat dan hal-hal personal lainnya. Berbeda dengan negative campaign yang lebih menyoroti kepada sisi buruk profesional seseorang entah itu kinerja, visi-misi, rekam jejak dan lain sebagainya. Nah kembali kepada pembahasan, maka yang dimaksud dengan oto black campaign adalah upaya membuat black campaign terhadap dirinya sendiri. Lalu apa tujuannya? Tujuannya ada dua yaitu meraih simpati masyarakat dan menjatuhkan lawan. Kok bisa?!

Gampang saja, dengan masyarakat kita yang umumnya masih menggunakan logika yang sederhana bahwa tidak mungkin seseorang itu membuat kampanye hitam, menyebarkan aib sendiri maka sudah pasti masyarakat akan menuduh pihak lawan yang membuatnya. Kemudian akan muncul simpati karena sang capres telah didzalimi oleh pihak lawan. Bukankah masyarakat kita sangat mudah tersulut empatinya ketika ada pihak yang didzalimi? Sementara itu seiring hal tersebut maka akan timbul kebencian terhadap lawan sang capres. Masyarakat akan mengatakan “kok tega ya berbuat seperti itu?” Dan hasil akhirnya tentu bisa kita tebak yaitu bertambahnya dukungan bagi sang capres dan merosotnya dukungan bagi lawannya.

Tapi masyarakat sekarang sudah pandai. Sumber informasi yang luas memungkinkan masyarakat untuk mengetahui mana yang sebenarnya terjadi mana yang berita bohong. Oleh karena itu kita patut waspada jika ada seseorang yang melakukan oto black campaign. Tentu saja hal itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk tidak memilihnya. Ketika dalam masa kampanye dia sudah melakukan kebohongan apatah lagi nanti jika berkuasa.

KOALISI = Politik Transaksional

Pemilihan Presiden (Pilpres) akan digelar beberapa bulan lagi. Sampai saat ini bursa capres baru menghasilkan dua nama. Belum ada pilihan yang lain. Bahkan dua nama itupun masih belum memastikan nama cawapresnya. Saya melihat setiap partai masih menunggu aksi partai lain. Ada yang menarik ketika ada salah satu capres yang mengatakan bahwa a kabinet yang dibentuk jika terpilih nantinya tidak berdasarkan transaksional. Artinya pemasangan nama-nama tidak terkait dengan partai koalisinya. Tapi pertanyaannya apakah itu mungkin?

Melihat peta persebaran pemilih yang hampir merata. Bahkan untuk partai papan menengah selisih tidak jauh bahkan partai pemenang tidak mampu menembus angka 20 %. Untuk mampu mengajukan capres-cawapres maka setiap partai wajib berkoalisi karena minimal butuh 25% suara. Nah inilah yang saat ini menjadi hal yang ramai dibicarakan. Karena tidak ada partai yang dominan maka koalisi menjadi kewajiban dan setiap partai memiliki posisi tawar yang sama. Konsekuensinya setiap partai yang berkoalisi harus memiliki kesepakatan-kesepakatan termasuk pembagian jatah menteri atau bahkan nama cawapres.

Hal ini sangat bisa dipahami dengan mudah. Ketika partai dengan ‘sukarela’ berkoalisi maka pastia da deal-deal di belakang. Sukarela artinya partai yang sudah punya nama capres akan suka ketika partai lain bergabung karena masih butuh suara. Dan juga harus rela menerima persayaratn yang diajukan oleh partai lain yang akan bergabung. Jika tidak mau mengikuti persyaratan maka bisa saja tidak jadi bergabung. Akibatnya adalah suara tidak mencukupi untuk mengajukan capres-cawapres. Kembali lagi hal ini karena tidak ada partai yang suaranya sangat dominan (setidaknya mencapai 30 %).

Maka dari itu, kiranya akan sulit bagi partai manapun untuk bergabung tanpa mengharapkan apapun. Saya termasuk yang sangsi dengan wacana kabinet profesional (bukan kabinet transaksional). Tapi apapun itu sebenarnya kabinet profesional masih bisa diwujudkan dengan syarat partai koalisi sepakat dengan ide ini atau opsi kedua partai mengkhianati kesepakatan bagi-bagi kekuasaan. Melihat kondisi perpolitikan Indonesia yang seperti ini rasanya sulit untuk mewujudkan kabinet profesional.

JANGAN PILIH PARTAI YANG BEGINI !!!!

Musim kampanye telah bergulir hampir seminggu yang lalu. Jamaknya, musim kampanye menyajikan berbagai macam hal yang tidak akan kita jumpai selain di masa kampanye saja. Mulai dari atribut parpol, alat peraga kampanye sampai kampanye massal. Demi menyukseskan agenda kampanye ini tak jarang parpol jor-joran menggelontorkan sejumlah dana yang susah untuk dibilang sedikit. Dan semua itu tujuannya adalah menggaet simpati masyarakat agar memilih dirinya dan partainya.

Kita sebagai pemilih yang cerdas hendaknya bisa menilai kualitas caleg dan partai politik dari apa yang dilakukan selama masa kampanye tersebut. Harapannya kita bisa menghindari untuk memilih caleg dan partai politik yang salah. Dan di sini kita akan membahas mengenai partai-partai yang bagaimana yang sebaiknya tidak kita pilih.

1. Partai yang melakukan kampanye dan mengundang musik (biasanya dangdut) di mana ditampilkan goyangan-goyangan erotis yang mengarah kepada pornoaksi.

Jelas partai yang begini sudah tidak memikirkan moral generasi penerus bangsa. Sesuatu yang tidak pantas ditonton dan bahkan akan merusak pikiran generasi muda justru malah digunakan sebagai sarana menggaet simpati masyarakat. Apapun alasannya sangat tidak dibenarkan kampanye menggunakan hal-hal berbau pornoaksi ( maupun pornografi ).

Akan lebih simpatik bila kampanye dilakukan dengan cara yang lebih santun dan bermanfaat seperti melakukan kerja bakti, bakti sosial dan terjun langsung ke masyarakat. Selain visi dan misinya tersampaikan juga akan lebih memberi manfaat kepada masyarakat langsung.

2. Partai yang memasang APK dengan memaku di pohon.

Kita tentu sering melihat pohon dijadikan tempat memasang APK (alat peraga kampanye). Khusus mengenai memasang APK dengan dipaku di pohon setidaknya memberi gambaran kepada kita bahwa sang caleg dan partainya tidak mencintai lingkungan. Apalagi setelah selesai masa kampanye bekas APK tersebut hanya dibiarkan saja sampai rusak sendiri. Mungkin bagi sebagian kita  hal itu tidak menjadikan perhatian. Tetapi hal itu memberikan gambaran bahwa sang caleg dan partainya tidak cinta lingkungan ( termasuk tanaman ). Caleg yang baik maka dia akan peduli dengan masyarakat dan juga lingkungan sekitarnya. Dia tidak memandang remeh terhadap kelestarian tanaman di sekitarnya.

Pilihlah partai yang tidak memaku APK di pohon, yang menempatkan APK dengan baik sehingga tidak memberi kesan kumuh.

3. Partai yang bagi bagi uang.

Politik uang kiranya bukan suatu hal yang baru lagi. Caleg dan partai akan bagi-bagi uang demi membeli suara dari masyarakat. Dan parahnya, bak gayung bersambut masyarakatpun cukup memaklumi hal tersebut. “ Ya kalau mau mendapat suara ya harus berani keluar biaya… “ Begitu kira-kira alasan sebagian kita. Tetapi tahukah kita bahwa politik uang ibaratnya seperti memancing. Tahu kan memancing? Dengan umpan yang kecil berharap ikan yang besar. Demikian juga politik uang. Dengan uang paling banter 50.000 bisa mendapatkan suara. Dan nantinya setelah jadi pasti akan mencari uang untuk balik modal. Uang darimana? Tentu uang yang dimiliki Negara, uang yang merupakan kumpulan dari masyarakat melalui pajak. Semakin besar uang yang dibagi-bagi maka akan semakin besar pula nanti uang Negara yang akan dikorupsi. Marilah kita cerdas untuk bisa menghargai suara kita. Kita memilih memang karena pilihan bukan karena uang.

4. Partai yang banyak koruptornya

“Partai mana sih yang tidak korupsi? “ demikian pertanyaan yang dilontarkan ketika diminta memilih partai yang tidak korupsi. Memang perlu diakui bahwa – menurut data- tidak ada partai yang anggotanya tidak terjerat kasus korupsi. Dan ini merupakan sebuah ironi bagi bangsa kita. Betapa korupsi sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh para pejabat publik. Dengan demikian jangan pilih partai yang paling banyak koruptornya. Semakin banyak koruptornya menandakan bahwa partai tersebut tidak punya kontrol yang baik terhadap anggotanya. Seakan korupsi menjadi sebuah budaya dalam partai tersebut. Apalagi jika ternyata hasil korupsi dinikmati bersama-sama bahkan digunakan untuk membiayai konvensi ataupun kampanye. Maka jelaslah bagi kita untuk tidak memilih tersebut.

Pilihlah partai yang bersih. Atau kalaupun memang tidak ada, maka pilihlah yang tingkat korupsinya paling kecil. Sekali lagi bukan bermaksud memaafkan perilaku korupsi partai, tetapi partai yang korupsinya kecil menandakan bahwa budaya bersih masih menjadi poin utama perjuangan partai tersebut. Ibaratnya memilih rumah tentu kita memilih yang bangunannya masih bersih dan kokoh.

5. Partai yang mendekati rakyat hanya ketika menjelang pemilu

Masa kampanye merupakan masa di mana banyak sekali aleg dan caleg yang terjun ke masyarakat. Mereka begitu sangat pedulinya dengan rakyat. Memberi bantuan, melayani masyarakat bawah, mendengarkan aspirasi rakyat. Intinya agar terkesan merakyat. Tetapi sebelum itu dan juga setelah itu mereka bagai hilang ditelan bumi, pergi entah kemana. Bahkan mungkin merekapun sudah lupa pernah berkunjung ke daerah tersebut. Jangan pilih caleg dan partai yang hanya merakyat ketika menjelang pemilu. Sementara di waktu yang lain tidak pernah muncul.

Pilihlah partai yang senantiasa berbuat bagi masyarakat tidak hanya menjelang pemilu tetapi ketika masyarakat membutuhkan. Pilih partai yang kadernya setia mendampingi warga ketika terjadi bencana, memberi bantuan tanpa diminta dan selalu berusaha menolong warga yang kesulitan.

Itulah sebagian gambaran tentang ciri-ciri partai yang sebaiknya kita hindari dalam pemilu nanti. Di sini saya tidak berkepentingan terhadap partai tertentu. Tetapi jika ternyata ada partai yang tidak melakukan ke-lima hal di atas atau setidaknya lebih banyak tidak melakukan hal-hal di atas, menurut penafsiran teman-teman, maka kenapa tidak kita pilih saja partai itu.

Tanggal 09 April 2014… Nyoblos ya….. JANGAN GOLPUT !!!

TIPS CERDAS MENENTUKAN PILIHAN DI PEMILU 2014

Memilih wakil rakyat merupakan hak setiap warga negara. Tentu bagi yang sudah memiliki hak pilih. Tapi memilih wakil rakyat tidak boleh sembarang pilih. Seperti halnya memilih jodoh, memilih wakil rakyat juga perlu pertimbangan matang. Bibit, Bobot dan Bebetnya mesti jelas. Jangan sampai kita salah pilih dan akhirnya menyesal. Memang sih paling lama 5 tahun menyesalnya, tapi kan bukan waktu yang sebentar. So cerdas-cerdaslah dalam memilih wakil rakyat.

1. Kenali siapa calegnya.

Mengenali caleg menjadi bagian utama dalam rangka memilih wakil rakyat yang tepat. Kenali secara utuh. Mulai dari mana asalnya, track recordnya selama ini, latar belakang agama, latar belakang pendidikan, latar belakang keluarga, karakternya dan kenali hal-hal yang memang perlu. Untuk itu sangat tidak disarankan memilih seseorang yang sama sekali tidak dikenali dari segi manapun. Iya kalau baik, tapi kalau ternyata sebaliknya.

2. Kenali partai pengusungnya.

Selain mengenali caleg secara pribadi, perlu juga kenali partai pengusungnya. Memang ini menjadi prioritas kedua setelah pertimbangan siapa calegnya. Bagaimanapun, platform, visi dan misi partai akan mewarnai caleg yang bersangkutan. Entah seberapa banyak warna yang tergoreskan tersebut. Untuk itu pastikan dahulu bahwa partainya juga baik. Ibaratnya mencari calon pendamping, setelah kenal orangnya, kenali juga keluarganya.

3. Kenali visi dan misinya.

Setiap calon pemimpin wajib memiliki visi dan misi. Dan visi misi inipun bukan sekedar pemanis saat kampanye saja. Lihatlah bagaimana kesehariannya atau track recordnya selama menjabat bagi mereka yang emncalonkan dirinya lagi. Visi dan misi akan menentukan kemana arah perjuangannya dalam rangka menyejahterakan rakyat. Buang jauh-jauh caleg yang tidak punya visi dan misi yang jelas.

4. Yakinkan dengan doa

Setelah menentukan pilihan, maka imbangi dengan doa. Salah satunya dengan sholat istikharah agar ditunjukkan pilihan yang tepat. Boleh jadi kita punya lebih dari satu pilihan dan kita bingung memilihnya. Apalagi kalau beda partai. Atau boleh jadi kita bingung mau memilih caleg ini atau golput saja. Nah untuk memantapkan diri maka perlu diiringi doa agar berkah apapun hasilnya.

5. Pilih dengan doa

Setelah yakin dan mantap akan memilih caleg mana, jangan lupa pula iringi dengan doa saat melakukan pencoblosan. Sekali lagi agar berkah.

6. Terima hasil dengan hati lapang

Setelah kita memberikan hak suara kita maka soal hasil pasrahkan pada Allah. Kalah atau menang mesti kita terima. Tentu saja setelah memastikan tidak ada kecurangan. Doakan bagi yang menang agar bisa membawa Indonesia maju, masyarakatnya makmur sentausa. Syukur bila yang kita pilih yang menang, lebih kita doakan agar bisa amanah. Prinsip kita adalah menang tidak jumawa, kalah tidak ngamuk.

Mari kita gunakan hak pilih kita dengan baik. Jangan golput.