Jangan…

Jangan pernah
bermain hati
Jangan pernah
bermain api

Hati itu rapuh
saat lembut itu menyentuh
Tapi hati bisa membata
bila ia dibuat luka

Jangan pernah
memantik percik
Jika tak siap
dengan ricik

Hati ibarat kerontang
setitik percik dapat membakar
Bila ia sudah mengabu
tiada guna segayung banyu

Jangan pernah
menumbuh rasa
Jika tak siap
menjaga segenap jiwa

 

@sudut BLK
langit mendung, tanpa senyuman

S E N J A

Senja. Siapakah gerangan yang meragukan keindahannya? Siapakah dia yang tiada terpikat oleh jingganya? Senja selalu menawarkan eksotisme. Kita, aku dan kau, sepakat bahwa senja adalah momen terindah untuk melepas segala penat. Duduk di tepian sawah, bertatap dengan silau mentari sore, bersenandung gemerisik bulir-bulir padi yang mulai menguning. Dan kita duduk berdua saja di pematang. Tak ada seorangpun kan mengganggu. Kita begitu menghayati peran sebagai pencinta senja. Tak ada suara antara kita. Diam. Ya hanya diam. Masing-masing kita berbisik kepada jingga yang menjulurkan tangannya memeluk hati. Menyatukan bisik cinta di ujung kemilaunya.

Namun senja tak selalu secantik itu. Kala sendiri, senja justru menakutkanku. Senja selalu menjadi momok bagiku. Bagaimana tidak. Senja mulai merayuku. Kau tahu, tangan-tangan jingga yang menjulur itu tak sekedar memeluk hati. Ia ingin mencurinya dariku. Kemilau cahayanya tak sekedar menatapku. Ia ingin menghapus bayang wajahmu di sana. Bisik cinta di ujung kemilaunya tak lagi menyampaikan tutur katamu. Ia membisikkan dari hatinya sendiri. Kau tahu ia pernah bilang mencintaiku.

Aku takut bila harus menikmati senja sendirian. Aku butuh dirimu, setidaknya agar hatiku tak dicuri. Dan sebagai hadiahnya tentu kau tidak keberatan kan bila namamu aku ukir dalam hatiku. Ya hanya sebagai penanda bahwa kau yang telah menyelamatkan hatiku.

Continue reading

Agomo iku Ageman

Agomo iku Ageman
Ageman kanggo ngelakoni urip
Ageman kanggo sangu sakwuse urip
Ageman kang minulyo

Mulo menungso tanpa agomo
Prasasat urip tanpo ageman
Bakalane wudho
Koyoto saliwar lumaku ing dalan-dalan

Tanpo arah,Tanpo tujuan kang mesthi
Bakalane sengsoro
Urip ing donya
Opodene ing ngalam kono

 

Seuntai Doa Untuk Bidadariku

Mentari kemarin pagi tersaput mendung. Cericit pipit yang bertengger di dahan-dahan pohon, di antara pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh terdengar samar-samar. Seakan enggan mengabarkan hari itu. Dingin pagi itu mengabutkan udara yang semalaman menyelimuti peraduan. Sebuah pagi yang syahdu, mungkin bagi sebagian yang lain terasa kelu.

Namun ternyata suasana pagi itu terasa berbeda di wajahmu. Mungkin itu yang aku tahu. Tak sedikitpun mendung menghiasi wajahmu. Senyum manismu mengabarkan bahwa hari itu keceriaan meliputi dirimu. Dingin yang mengabut tak sedikitpun membuat kehangatan sikapmu memudar. Pagi itu benar-benar merona wajahmu yang ayu.

Sebuah kecupan kecil, ketika engkau tengah menyiapkan hidangan cinta untuk kami. Sebuah tanda yang mewakili berjuta kata. Bahwa kami mencintaimu. Tidakkah engkau rasakan tangan mungil itu menggenggam jemarimu, seakan ia mengatakan kepadamu. Bunda, barakallahu fi umrik.. Disertai untaian doa agar engkau senantiasa diberkahi oleh-Nya, selalu dalam lindungan dan ridho-Nya.

*teruntuk istriku yang kemarin berulangtahun, Ayah dan Aisha selalu mencintaimu.

Hujan Bulan Juni

Tak terasa kita sudah berada di awal penghujung pertengahan tahun. Yup, bulan keenam dalam kalender masehi ini telah memasuki hari kedua. Entah mengapa, Juni mengingatkanku pada sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono. Mungkin karena di sana ada namaku disebut. 😀

Hujan Bulan Juni pertama kali kukenal empat tahun silam lewat seorang pencinta puisi, teman diskusi yang ulung, penyuka nyinyir dan penyuka karya-karya yang tidak mainstream tetapi sangat menggugah. Meski pada akhirnya tak ada satupun talentanya yang menular padaku. 😀  Mari kita simak puisi Hujan Bulan Juni.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Dan satu lagi bagi penyuka musikalisasi puisi bisa lihat salah satunya disini.

Negeriku dan Kasut Kusutku

Bicara negeriku bicara kasut kusutku

Lihatlah kusutnya kasutku seperti karut marutnya negeriku
Tapi tak bisa kutinggalkan kasutku sebagaimana negeriku

Lihatlah kasut kusutku penuh dengan sobekan sana sini
Seperti negeriku yang dicabik-cabik tetikus berdasi

Lihatlah tambalan-tambalan yang menghias
Selayaknya mulut-mulut kotor penguasa, membalut kebohongan dengan citra

Kasut kusutku yang malang tapi kucinta
Takkan dapat ku berjalan tanpamu
Biar lusuh kumuh tapi tak dapat kutinggalkan

Kasut kusutku seperti negeriku
Apa adanya tetap kuterima

Hanya saja aku masih setia berharap
Jayalah negeriku