Nikah (lagi) itu Sunnah, tapi….

Saya tidak tahu siapa yang menuliskan kalimat ini. Mohon jika ada yang tahu bisa memberikan info kepada saya. Isinya menggelitik…

“Menikah (lagi) itu sunnah. Tapi menjaga keutuhan keluarga itu wajib.”

Intinya jelas. Bagi yang pengen nikah lagi pikir-pikir dulu deh. Kalau keputusan itu justru mengganggu keutuhan keluarga yang sudah terbangun yaa mending jangan deh. Apakah gak boleh? Boleeeeh… Tapi ya itu tadi. Kita tentu juga sudah paham bahwa wajib harus didahulukan daripada sunnah. Ya kan???

Advertisements

Uniknya Orangtua Bermuka Dua

unduhan

Uniknya orangtua bermuka dua. Di hadapan orang banyak, begitu lembut ia menyapa buah hatinya. Panggilan sayang begitu murah tercurah. Peluk dan cium dipamerkan, mengabarkan kalau ia begitu menyayangi anaknya. Sementara anaknya menanggapi dengan wajah ragu, benarkah ini orangtuaku. Kok tiba-tiba begitu lembut dan penyayang.

Uniknya orangtua bermuka dua. Di saat berdua saja atau di dalam kerajaan rumahnya, ia berubah menjadi monster nan menakutkan. Panggilan sayang serasa sudah habis ia tuangkan di hadapan khalayak ramai. Kalimat lembut pun menguap seiring suasana hatinya yang panas menahan kepura-puraan. Tinggallah hardikan, bentakan dan kadang sampai tanganpun dimainkan. Ia benar-benar menjadi raja di rumahnya. Yang segala inginnya haris dituruti, yang semua larangannya harus ditaati. Kalau berani melawan, awas hukuman menanti. Jadilah anak patuh dan taat, tapi berlatarkan takut, bukan kesadaran apalagi bukti sayang.

Wahai kita, iya kita, orangtua. Marilah didik anak-anak kita dengan kelembutan, agar mereka belajar menjadi lembut. Marilah ajari anak-anak kita dengan kesabaran, agar mereka belajar menjadi orang-orang yang sabar. Marilah kita menjadi orangtua yang sebenarnya. Yang senantiasa lembut dan sabar, entahlah di hadapan orang ramai atau hanya berdua saja.

Tengoklah ke dalam diri kita. Apakah anak-anak lebih sering tertawa riang bersama kita, ataukah anak-anak lebih sering menangis diiringi bentakan dan hardikan kita? Tegas itu bukan berarti membentak. Tegas adalah bagaimana kita tetap pada pendirian kita meski anak menangis namun seiring itu kita tetap bisa menghadapi dengan kelembutan.

Saya hanya takut jika saat ini tidak bisa berlaku lembut maka kelak di saat kita menua, tidak takutkah bila anak membentak hanya karena ketidak mampuan kita. Apakah kita akan kembali menghardik dengan mengatakan ‘ anak durhaka, berani sama orangtua ‘. Padahal kitalah yang mengajarkan bentakan dan hardikan itu semenjak kecil.

Yuk jadi orangtua yang lembut..lembut.. dan lembut.. Bukankah “tidaklah kelembutan itu berlaku pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”?

Tiga sarana meraih keluarga SAMARA

Keluarga SAMARA bukanlah sebuah kondisi yang dapat terwujud dalam semalam. Bukan sebagaimana dongeng-dongeng semasa kecil kita yang sering menceritakan betapa sesuatu yang besar terwujud sebelum ayam berkokok. Dan keluarga SAMARA juga tidak terwujud begitu saja dengan bersatunya insan yang memiliki kesholihan yang tinggi. Tetapi keluarga SAMARA merupakan sebuah keluarga yang terbentuk melalui sebuah proses. Peran kesholihan anggota keluarga adalah menjadi katalisator (pemercepat) proses terbentuknya keluarga SAMARA. Ketika setiap anggota keluarga menyadari peran dan tanggungjawab terhadap keluarga insya Allah keluarga SAMARA akan lebih cepat diraih.

Untuk meraih keluarga yang SAMARA setidaknya ada tiga hal yang mesti kita perhatikan diantaranya :

1. Menjaga Adab

Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal adanya adab-adab dalam masyarakat. Misalnya saling sapa antar tetangga ketika bertemu, berbicara dengan sopan kepada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, saling memberi sebagai hadiah tanda kasih sayang dan lain-lain. Dalam membina keluarga pun harus dilaksanakan adab-adab tersebut. Tidak hanya sekedarnya saja tetapi justru harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ambil contoh ketika bertemu dengan tetangga atau orang lain kita menebar senyum, maka terhadap keluarga harus lebih sering kita menebar senyum, bahkan tertawa bersama anggota keluarga dalam suasana riang gembira. Senantiasa kita usahakan bermuka manis terhadap anggota keluarga. Peluk dan cium pun perlu kiranya kita seringkan agar ikatan batin semakin terjaga.

Demikian juga adab-adab yang lain, perlu ditanamkan agar setiap anggota keluarga saling menghormati, saling menghargai, yang tua menyayangi yang muda, anak-anak menghormati orang tua. Sebaik-baik kita adalah yang paling baik terhadap keluarga. Jangan sampai kita bermuka manis, berperilaku lembut terhadap orang lain tetapi justru sering pasang muka masam ketika di rumah, berkata kasar dan mengumpat kepada anggota keluarga. Hendaklah apa yang kita perbuat baik ketika berhadapan dengan orang lain, kita lipatkan kebaikan tersebut ketika berhadapan dengan keluarga.

2. Saling Membantu

Salah satu kunci keluarga bahagia adalah adanya sikap saling membantu. Urusan dalam rumah tangga tidak lagi terbagi menjadi “ini urusanku” dan “itu urusanmu”. Tetapi hendaknya setiap anggota keluarga berusaha untuk meringankan beban anggota keluarga yang lain. Ketika istri sedang sibuk memasak, suami bisa membantu dengan mengasuh anak. Ketika suami sedang dikejar tugas kantor, istri dengan sukarela meng-handle semua tugas tanpa mengeluh atas ketidakterlibatan suami untuk membantu. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah membantu mengayak tepung untuk dimasak oleh istri beliau. Di sisi lain setiap angggota keluarga hendaknya juga memiliki kemandirian. Apa-apa yang bisa dikerjakan sendiri sebisa mungkin tidak melimpahkan kepada orang lain. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah menjahit baju sendiri.

Untuk itu ada baiknya setiap anggota keluarga saling berbagi pengetahuan, saling mengajarkan hal-hal yang tidak diketahui oleh anggota keluarga yang lain sehingga ketika suatu saat terjadi masalah teknis bisa diselesaikan sendiri. Misal ketika lampu mati, si istri bisa mengganti sendiri tanpa harus menunggu suami yang pulangnya malam. Atau ketika istri sedang ada keperluan seharian sehingga tidak sempat masak, suami bisa memasak untuk dirinya dan anak-anak. Saling mengajarkan keterampilan juga akan semakin mengakrabkan hubungan emosional antar anggota keluarga.

3. Menjaga Kehalalan Rezeki

Tidak dipungkiri bahwa rezeki yang cukup menjadi salah satu penopang kekuatan rumah tangga. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kefakiran lebih berpotensi mendekatkan kepada kekufuran. Untuk itu sebagai keluarga muslim yang mendambakan SAMARA maka rezeki yang cukup perlu diupayakan. Namun tidak asal cukup, tetapi perlu diperhatikan kehalalannya. Rezeki yang halal akan membawa barakah dalam hidup kita. Sebaliknya rezeki yang haram alih-alih membahagiakan, justru menambah sempit kehidupan. Lihat saja para koruptor, bolehlah hidupnya bergelimang harta namun dalam hatinya tidak merasa bahagia. Nah untuk itu perlu kita upayakan rezeki yang halal mulai dari cara memperolehnya sampai mengeluarkannya. Bukankah rezeki yang kita makan akan menjadi daging dalam tubuh kita.

Dengan mengupayakan ketiga hal di atas kita berharap semoga Allah mengkaruniakan keluarga SAMARA kepada kita. Sekali lagi bahwa keluarga SAMARA adalah keluarga yang terbentuk karena proses bukan kondisi yang dapat dicapai dalam semalam saja. Untuk itu kita harus senantiasa bersabar dalam menjalani setiap prosesnya dan nikmati saja.

Note: SAMARA singkatan dari Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Inspirasi : Kajian ahad pagi masjid Al-Furqon 13 Desember 2015 oleh ustadz Suparman, M.Si.

Pembahasan tulisan ini sudah selesai sampai di sini. Bagian setelah ini mencantumkan beberapa hadits terkait pembahasan di atas.

Continue reading

Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya? Continue reading

Mendewasa Bersamamu

Seringkali saya membaca entah itu status di FB, twit dari teman atau status WhatsApp yang menuliskan kalimat “Menua Bersamamu”. Yang tentu maksudnya adalah memiliki seorang pendamping hidup yang akan selalu bersama sampai tua. Menjalani segala liku hidup bersama dalam suka dan duka.

Namun saya merasa bahwa kalimat “menua bersamamu” belumlah merupakan tujuan atau harapan ideal bagi kita yang mendamba pendamping hidup sejati. Ada harapan yang menurut saya jauh lebih baik yaitu “mendewasa bersamamu”. Ketika kita bicara tentang “menua bersamamu” maka ukurannya adalah usia. Ya, tua adalah bicara tentang banyaknya usia kita. Kita tentu paham bahwa usia adalah sesuatu yang diberikan (given) oleh Allah swt. Setiap kita sudah punya jatah sendiri-sendiri, meski kita tak tahu sampai kapan. Sebagaimana usia yang merupakan sesuatu yang given, tua juga merupakan sesuatu yang pasti (jika Allah berkehendak memanjangkan usia kita). Jika demikian mengapa kita mengharap sesuatu yang sudah pasti kita dapatkan (jika Allah memberikan usia panjang) ?

Tentu kita pernah mendengar kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Nah sebenarnya dari sinilah saya menemukan kalimat “mendewasa bersamamu”. Saya memilih kata ‘mendewasa’ karena dengan menikah dan memiliki pendamping hidup maka proses menuju kedewasaan itu semakin baik. Dari pasangan, kita bisa belajar bagaimana menjadi dewasa. Bagimana menyikapi perbedaan diantara kita, bagaimana harus mengalah, bagaimana mengelola suasana hati dan masih banyak lagi. Dan ini tidak kita dapatkan secara gratis, atau dalam bahasa lain tidak given melainkan kita perlu belajar dan senantiasa berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Maka dari itulah ‘mendewasa bersamamu’ memiliki makna bahwa bersama pasangan kita menuju pribadi yang semakin baik.

Dewasa itu berarti kita mampu menahan diri
Dewasa itu berarti kita mampu memahami
Dewasa itu berarti kita memberi empati
Dewasa itu berarti kita peduli

Dewasa itu bukan ‘pokoknya begini’
Dewasa itu bukan ‘kamu tak boleh begini’
Dewasa itu bukan pengekangan
Dewasa itu pilihan

Jangan biarkan gadget merenggut aktifitas si kecil

Gadget sudah menjadi sebuah kebutuhan hampir bagi setiap orang. Bahkan banyak juga orang yang memiliki lebih dari satu gadget. Dulu mungkin kita tidak berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki ketergantungan terhadap sesuatu. Tetapi kini kita sepakat bahwa hampir setiap orang yang memiliki gadget menjadi kecanduan dan sangat tergantung dengan gadget. Jika dulu orang sangat khawatir jika dompet ketinggalan, maka sekarang orang akan sangat khawatir jika ketinggalan gadget. Seakan-akan gadget meenjelma menjadi separuh dirinya. Jika tidak ebrsama serasa ada yang kurang.

Kecanduan atau ketergantungan gadget ternyata tidak hanya menjangkiti orang yang sudah dewasa saja, yang sudah mampu membeli sendiri, tetapi juga menjangkiti anak-anak bahkan yang masih balita. Bagi sebagian orang tua mengenalkan gadget sejak dini bertujuan agar anak tidak ketinggalan jaman dan teknologi.Tetapi apakah hal ini tidak memiliki resiko bagi anak-anak kita?

Sebelum menjawab hal tersebut, ijinkan saya untuk menyampaikan bahwa apa yang saya sampaikan ini masih sebatas hipotesis yang saya ambil dari pengamatan yang ada di lingkungan sekitar. Belum menengok bukti empiris yang mungkin sudah dilakukan oleh orang lain.

Anak-anak yang kecanduan gadget menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan gadget entah itu belajar maupun bermain. Akibat hal ini adalah anak menjadi lebih sedikit melakukan aktifitas fisik dan interaksi sosial. Boleh jadi mereka berkumpul tetapi satu sama lain tidak ada interaksi karena asyik dengan gadget masing-masing. Otomatis tidak ada aktifitas fisik kecuali tarian jempol dan kedipan mata. Anak menjadi lebih pasif. Padahal dunia anak-anak membutuhkan eksplorasi yang luas. Tak seharusnya kesempatan menjelajah dunia dan mengenal kehidupan terampas oleh kehadiran gadget. Untuk itu sebagai orang tua atau orang yang dewasa sudah sepantasnya kita bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak-anak. Jangan sampai anak menjadi kecanduan. Tetap beri kesempatan dan kalau bisa suruh anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Beri batas waktu penggunaan gadget misalnya hanya boleh 15 menit sehari atau bisa juga hanya boleh di akhir pekan, itupun hanya beberapa waktu saja tidak dibiarkan sepuasnya.

Namun terkadang sebagai orangtua dengan segala kesibukannya lebih memilih anaknya ditemani oleh gadget daripada bermain dengan teman-temannya. Alasannya sederhana, asal anak tenang dan diam tetapi tetap terawasi karena hanya beraktifitas di dalam rumah. Diakui atau tidak, ikut bermain bersama anak membutuhkan energi dan waktu yang besar. Belum lagi masih banyak orangtua yang enggan dan malu jika terlihat bermain bersama anak-anaknya. Dan menganggap bahwa hal seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Nah perlu kita ubah pola pikir yang seperti ini. Bagaimanapun, mendidik anak merupakan tugas dan tanggungjawab orangtua, termasuk di dalamnya mengajak bermain. Lebih baik orangtua berlelah-lelah tetapi anak bisa memperoleh pengalaman yang banyak daripada melihat anak diam dan tenang dengan gadgetnya.

Apakah dengan bermain gadget anak tidak bisa belajar? Terlalu banyak aplikasi edukasi yang bisa dipasang di perangkat gadget. Dan saya percaya bahwa itu juga menjadi sarana belajar yang baik. Tetapi sekali lagi anak-anak butuh mengapresiasi dan mengaktualisasi diri mereka melalui kegiatan fisik. Anak-anak yang cenderung memiliki energi berlebih jangan sampai tidak tersalurkan hanya karena sibuk bermain gadget. Bermain gadget meskipun dapat meningkatkan kecerdasan (aplikasi edukasi) tetapi tidak dapat membantu anak-anak untuk menumbuh kembangkan kemampuan motoriknya. Kemampuan motorik hanya bisa dicapai dengan beraktifitas. Penyaluran energi yang berlebih hanya bisa melalui kegiatan yang menguras energi, bukan menguras pikiran. Apa hebatnya anak pintar tetapi fisiknya lemah? Padahal fisik yang kuat akan mampu menopang kecerdasan anak dengan lebih optimal. Untuk itu marilah kita sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa bisa mengarahkan anak-anak untuk seminimal mungkin bermain dengan gadget. Ajak anak-anak untuk melakukan aktifitas fisik lebih banyak. Jangan sungkan dan malu bermain bersama anak.

Laki-Laki Juga Butuh Perhatian Lho…

Dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan (suami-istri *) , perhatian menjadi salah satu hal yang mesti ada. Ada yang butuh perhatian dan ada yang memberi perhatian. Tetapi agaknya jamak dalam masyarakat kita bahwa rumus yang berlaku yaitu laki-laki yang memberi perhatian dan perempuan yang perlu diberi perhatian. Seakan-akan laki-laki dibebani lebih berat dengan kewajiban memberi perhatian kepada perempuan. Kita mungkin sering mendengar umpatan semacam “ dasar laki-laki tak perhatian !!!” . Tapi jarang kita mendengar ucapan serupa tetapi dengan objek pelakunya perempuan. Bisa jadi hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perempuan lebih sering mengungkapkan uneg-unegnya mengenai ketidak perhatian seorang laki-laki kepadanya. Entah itu secara langsung atau kepada teman gosipnya. Sementara laki-laki kadang lebih memilih tutup mulut dan jarang mengungkapkan bahwa dia butuh perhatian. Lalu apakah diam itu berarti tidak butuh?

Dalam suatu hubungan, kata ‘saling’ perlu mendapat porsi yang lebih untuk dipraktekkan bersama. Artinya ketika salah satu butuh, maka pihak lainnya juga butuh. Ketika perempuan butuh perhatian, maka laki-laki pun sebenarnya butuh perhatian juga. Laki-laki butuh untuk diperhatikan, butuh untuk dipahami suasana hatinya sebagaimana perempuan. Tentu kadarnya tidak sama mengingat, katanya, wanita itu lebih mengedepankan perasaan daripada logika, sementara laki-laki ,katanya pula, lebih unggul dalam hal logika daripada perasaan. Tetapi kan sama-sama punya perasaan. Berarti sama-sama perlu diperhatikan dan dipahami suasana hatinya.

Laki-laki itu memang lebih banyak -terkesan- kuat. Mungkin karena hal inilah yang menjadikan perempuan menganggap bahwa laki-laki itu tegar dan tidak butuh perhatian. Sementara itu justru harus memberikan perhatian yang cukup (banyak?) kepada perempuan. Memang sih laki-laki itu tidak selalu peduli dengan perhatian, karena lebih banyak kecenderungannya kepada sikap cuek. Bahkan ada laki-laki yang tidak suka jika diberi perhatian yang berlebihan. Tapiiiii sekali lagi hal itu bukan berarti laki-laki tidak butuh perhatian. Ada masa dimana seorang laki-laki itu butuh perhatian. Kapan itu?

Terlalu sulit untuk memastikan kapan seorang laki-laki membutuhkan perhatian. Nah ini jadi tantangan bagi perempuan untuk bisa memahami suaminya. So so lah…

* mohon maaf hubungan di luarpernikahan tidak saya maksudkan di sini