Tolong dong jangan pakai foto pasangan

Jaman sekarang siapa sih yang tidak menggunakan sosial media? Hampir semuanya menggunakan, entah karena kemanfaatan yang diperoleh atau karena ngikutin tren saja. Tapi saya yakin karena kemanfaatannyalah sosial media digunakan oleh banyak orang.

Sosial media, sebut saja semacam WA, IG, Line mempermudah komunikasi kita. Salah satunya kita bisa melihat wujud (baca:foto) orang yang diajak chat atau call melalui foto yang dipasang atau biasa disebut pp (profile picture).

Saya yakin hampir semua memasang foto favorit sebagai pp. Perkara pp ditampilkan ke semua orang atau hanya yang dalam kontak saja itu urusan lain. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka memajang pp dengan foto diri apalagi close-up. Terkecuali dalam hal saya butuh memperkenalkan diri di sebuah grup baru atau menghubungi orang lain untuk urusan penting.

Seberapa penting sih pp itu? Ya tergantung masing-masing orang sih. Kalau saya penting gak penting. Saya sendiri malas membalas chat orang yang tidak ada foto profilnya. Hehehe…

Di sisi lain saya (laki-laki) agak risih ketika ada teman laki-laki yang pasang pp foto perempuan (entah foto istrinya atau entah siapa). Sebenarnya haknya dia juga sih mau pasang pp apapun.

Hanya saja ketika yang dipasang adalah foto istri atau perempuan lain akan berpotensi menimbulkan fitnah. Bisa jadi menimbulkan ketertarikan. Atau ketika tidak sengaja kita chat dan terlihat oranglain dikiranya chat dengan perempuan lain. Yang lebih parah kalau dicurigai yang enggak-enggak, dikiranya modus penipuan, nomer sengaja diberi nama laki-laki padahal perempuan.

Nah untuk menghindari hal-hal tersebut sebaiknya kita hindari pasang pp foto istri (tanpa ada kita). Sama-sama saling menjaga agar gak timbul fitnah. Jangan sampai orang lain mengagumi istri kita, jangan sampai menimbulkan masalah di seberang sana.

Advertisements

Ketika Aku Memilih Mundur

Rabu, 18 Januari 2017 menjadi sebuah penanda peristiwa yang mungkin aku akan lupa harinya dan tanggalnya namun tidak akan lupa momennya. Setelah menimbang, berpikir sejak akhir tahun 2016, akhirnya tepat tanggal itu berani mengambil keputusan yang ‘aneh’?

Resmi mulai tanggal tersebut saya mengembalikan amanah sebagai khotib di masjid depan rumah. Dan alhamdulillah disetujui oleh ketua takmir dengan catatan hanya sepanjang tahun 2017. Lega…

Kenapa pada akhirnya saya memilih mundur? Sebenarnya gak penting banget untuk diketahui khalayak ramai, sama gak pentingnya isi tulisan ini.. Hehehe.. Tapi mungkin esensinya bisa menjadi sebuah pembelajaran.

Sejak 2015 saya secara resmi dimasukkan dalam jadwal khotib dengan jadwal khusus Jumat Kliwon. Tentu saja saya tidak sendirian, ada tandemnya. Sehingga ya setidaknya setiap 2 lapan sekali saya bertugas sebagai khotib. Dan tercatat saya yang termuda diantara yang dijadwal tersebut. Yang lain lebih dari 10 tahun diatas saya. Bangga? Tidak juga. Kok ditulis? Biarin aja. Biar nyambung sama kelanjutan tulisan ini.

Menjadi yang termuda tidak selalu enak.. Jelas karena bagaimanapun yang enak-enak jatah yang tua-tua. Apaan sih? Kalau pas khotib terjadwal berhalangan hadir pastilah yang termuda sebagai sasarannya. Siapa lagi kalau  bukan saya, meski sempat juga menolak dan berhasil.

Terjadwal demikian menjadikan saya dalam posisi tidak nyaman. Semacam ada beban. Sebuah keharusan. Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya mundur. Yakin? Enggak. Tapi lebih kepada tidak ada kesempatan bagi kawan sebaya saya untuk memunculkan potensinya sebagai khotib, penerus masa mendatang. Saya sendiri selalu sadar bahwa saya pendatang di lignkungan ini. Jelas mengkader saya tidak banyak memberi manfaat di kemudian hari. Maka mau tak mau harus ada sebuah situasi dimana terjadi kekosongan sehingga bisa menjadi tempat bagi yang lain untuk masuk.

Kita tentu mafhum bahwa proses regenerasi kadermasjid di pelosok tidak bisa seideal di kota-kota atau yang pemikirannya sudah maju. Biasanya kalau sudah itu ya ituuuu terus. Sampai akhirnya maut yang memisahkan. Setelah itu kelabakan nyari gantinya. Oleh karena itu memang harus ada yang dikorbankan agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Kader-kader yang disiapkan tidak cuma sebiji doang, tetapi berbiji-biji.

Dan terbukti dengan pernah ogahnya saya ( ditambah kata-kata manis penuh logika yang saya sampaikan ke yang minta ganti) akhirnya ada satu kawan saya yang diberanikan tampil. Dan kemarin ada satu lagi yang berani tampil. Saya senyumin saja. Tujuan saya berhasil. Kelowongan posisi saya sudah ada yang ngisi. Gak menyesal? Enggaklah… asal bukan posisi di hatinya aja yang tergantikan..ups..

Dan setiap segala sesuatu keputusan yang kita ambil akan membawa konsekuensi masing-masing. Berpikirlah dengan baik, pertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Hindari mengambil keputusan dalam kondisi emosi yang tidak baik semisal marah, ngambek, sebel dan lain sebagainya.

 

*1 lapan= 35 hari, penanda hitungan Jawa. Jarak antara hari dan pasaran yang sama adalah 35 hari. Misal jumat kliwon – jumat kliwon = 35 hari atau sabtu wage – sabtu wage = 35 hari.

Tolong dan Terimakasih

Three Magic Words: Maaf, Tolong, Terima Kasih

” Yah, tolong ambilkan keset di dekat tempat parkir.. ” pinta seorang istri kepada suaminya. Suami dengan sigap segera mengambilkan keset dan diberikan kepada istrinya.

” Terimakasih Yah… ” jawab istri sambil menerima keset yang dimaksud.

Betapa indahnya suasana seperti itu. Tidak ada kesan istri suka menyuruh-nyuruh atau suami merasa tidak dihargai meski sudah melakukan permintaan istri. Sungguh indahnya permintaan yang disertai kata ‘tolong’ dan ucapan ‘terimakasih’. Bahkan dalam kehidupan keluarga, yang notabene-nya sudah tidak ada rasa sungkan diantara anggotanya, kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ tetap menjadi kata ampuh dan indah dalam komunikasi kita. Namun kebanyakan kita, kata ‘tolong’ dan ‘terimakasih’ itu akan lebih mudah diucapkan ketika kita berkomunikasi dengan orang lain.  Kita akan merasa rikuh dan tidak enak hati jika tidak mengucapkannya. Padahal ketika kita mampu mengucapkan kepada oranglain tentunya kepada keluarga juga mampu bahkan harus.

‘Tolong’ dan ‘terimakasih’ termasuk dua kata dalam golongan tiga kata yang memiliki efek dahsyat, selain ‘maaf’. Kata ‘tolong’ digunakan sebagai pendahulu kalimat perintah atau permintaan. Kata ‘tolong’ akan membuat seseorang  merasa dibutuhkan sehingga seseorang akan senang hati melakukan apa yang diminta (diperintahkan). Sebaliknya, hilangnya kata ‘tolong’ akan membuat seseorang merasa disuruh-suruh, diletakkan kedudukannya lebih rendah dan merasa diperlakukan sebagai pembantu. Oleh karena itu jangan lupa untuk melekatkan kata ‘tolong’ pada saat kita meminta bantuan orang lain. Bahkan dalam lingkungan kerja sekalipun akan elok jika pimpinan memberikan perintah kepada bawahannya dengan tetap menyertakan kata ‘tolong’.

Kata ‘tolong’ biasanya dekat hubungannya dengan ‘terimakasih’. Kata ‘terimakasih’ merupakan perwujudan kerendahan hati kita untuk mau mengakui bahwa kita telah menerima bantuan, yang secara tidak langsung mengakui kelemahan kita dan sebaliknya mengakui kelebihan orang lain. Oleh karena itu selalu usahakan mengucapkan ‘terimakasih’ kepada orang lain seberapapun mereka telah membantu bahkan sekedar dibawakan sesuatu yang mungkin bagi kita tidak terlalu berharga.

Yuk mari kita budayakan mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terimakasih’ agar hubungan kita dengan sesama menjadi lebih hangat dan komunikasi berjalan dengan baik.

 

Ketika hati ragu hendak memilih

Sebut saja namanya Budi, laki-laki 33 tahun. Melihat usianya yang sudah berkepala tiga memang sudah sepantasnya dia berumah tangga. Teman-teman sebayanya sebagian besar malah sudah punya anak, dua atau tiga. Sementara dia masih saja ‘menikmati’ status single-nya. Sudah berapa banyak teman dan relasi yang mencoba mengenalkan dengan perempuan, namun selalu saja berakhir tanpa berujung di pelaminan. Akibat sering gagal menjodohkan, sebagian besar temannya menganggap dia seorang yang terlalu pemilih, sulit untuk menemukan yang sesuai. Entah bagaimana kriteria yang diinginkannya. Perempuan yang cantik lagi sholihah pun sudah berapa banyak yang ditolaknya. Kalau ditanya jawabannya sama, belum jodoh, tidak cocok, belum waktunya.

Usut punya usut ternyata Budi memiliki hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Lita. Sudah beberapa tahun belakangan ini mereka saling menjajaki. Tak sadar benih-benih cinta muncul di hati keduanya. Namun mengapa tak juga berujung di pelaminan? Dalam ‘penjajakan’ tersebut terungkaplah kriteria ideal masing-masing tentang pasangannya. Dan Lita menurut Budi belum memenuhi kriteria ‘ideal’. Berjilbab, memiliki pemahaman agama yang baik dan bersikap dewasa. Sehingga sampai saat ini Budi masih berusaha untuk ‘mengubah’ Lita agar sesuai dengan kriterianya. Belum lagi kriteria-kriteria lain yang tidak begitu syar’i sebenarnya seperti apakah mau tinggal dengan mertua, apakah mau pindah kerja yang lebih dekat, bagaimana kalau belum memiliki rumah dan lain-lain.

Dalam pada itu ada seorang teman Budi yang ingin mengenalkannya dengan seorang perempuan. Sholihah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Pas dengan kriteria si Budi. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak. Namun apa daya, perjodohan kali inipun bernasib sama dengan sebelumnya. Padahal si perempuan sudah membuka pintu, sudah menyatakan bersedia bila itu memang yang terbaik. Ternyata hati si Budi masih belum bisa berpaling dari Lita yang beberapa tahun belakangan dekat dengannya. Di satu sisi Budi sudah ‘hampir’ menemukan sosok ideal untuk dijadikan istri andai dia mengiyakan. Namun di sisi lain hati Budi masih mengharapkan Lita bisa berubah sesuai dengan kriterianya. Dan akhirnya hati Budi terombang-ambing tidak jelas sementara usia terus bertambah. Dia pun semakin ragu bahwa dia akan menemukan sosok perempuan ideal dalam hidupnya.

Sepenggal cerita di atas merupakan contoh betapa dalam masalah jodohpun kita dituntut untuk tegas. Benar bahwa jodoh merupakan takdir, namun diantara kondisi tersebut ada peran kita dalam menentukan iya dan tidak. Seperti kasus Budi, ketegasan untuk memilih -antara menunggu Lita sampai ia berubah seperti keinginan Budi (yang entah sampai kapan) dan melupakan Lita untuk kemudian memilih perempuan yang sesuai kriterianya- menjadi kunci pokok masa depannya. Apakah akan tetap bertahan dengan Lita tanpa tahu kejelasannya atau memilih perempuan yang sesuai kriterianya (meski mungkin belum ada cinta)? Menurunkan kriteria bagi Lita bukanlah tipe Budi karena Budi adalah orang yang saklek dengan kriterianya. Namun berpaling dari Lita juga bukan pilihannya, berat rasanya. Jadi entah sampai kapan kisah Budi akan berakhir di pelaminan, hanya Allah yang tahu.

Sekali lagi memutuskan untuk menikah memerlukan ketegasan. Ketegasan yang disertai konsekuensi. Menikah yang didasari cinta sebelumnya memang lebih mudah, namun jangan sampai cinta menguasai idealisme kita. Jangan sampai terpekik semboyan ‘kalau tidak sama dia mending tidak (nikah) saja’. Biasanya cinta yang semacam ini sifatnya hanya sesaat, luapan perasaan sekali tempo. Menikahlah karena alasan-alasan logis. Oke.. dia sesuai yang aku inginkan, lamar dan nikahin saja. Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa? Kalau sudah jadi istri meski awalnya belum ada cinta, insya Allah cinta akan tumbuh seiring waktu kebersamaan. Kalau dalam posisi Budi, sebaiknya lupakan Lita dan pilihlah perempuan yang sesuai kriteria lalu nikah(i)lah.

love.jpg

Ketika kamu cowok dan dia cewek

Persahabatan adalah sebuah kata yang menunjukkan sebuah keindahan, seharusnya. Dengan sahabat kita bisa berbagi ceri(t)a, namun kepada sahabat pula kita bisa menyampaikan keluh kesah. Intinya sahabat adalah orang yang paling mengerti dalam kondisi apapun kita, seharusnya (lagi).

Sebagaimana umumnya kita gak pernah tahu kapan jadian (jadi sahabat maksudnya). Tahu-tahu saja sudah jadi sahabat. Sahabatpun tak pandang bulu (eh gender). Tidak selamanya cowok harus bersahabat dengan cowok, cewek dengan cewek. Boleh percaya atau tidak jaman sekarang lebih banyak persahabatan antara cowok dan cewek. Iya sahabatan doang (ngakunya).

Tapi eh tapi, percaya deh, persahabatan cowok dan cewek itu tidak mungkin, sekali lagi tidak mungkin, murni tulus tanpa disertai sebuah perasaan yang lain. Silahkan buktikan (tanyakan), itu juga kalau korbannya (eh respondennya) jujur, pasti diantara mereka salah satu atau bahkan dua-duanya memiliki rasa sayang (suka yang tidak sekedar suka itu).

Lalu apa masalahnya? Ya tidak masalah sih kalau tidak ada yang jadi pihak korban. Maksudnya si cewek atau cowoknya? Bukan itu. Maksudnya pihak lain yang menjadi korban kedekatan mereka. Aelah belibet sih.. Intinya? Jadi intinya hati-hati saja kalau kamu cowok dan dia cewek tapi sudah punya suami. Atau kalau kamu cewek dan dia cowok beristri. Jangan pernah terjalin persahabatan. Hindari hal-hal yang bisa menuju ke sana. Cukup berteman saja bukan “berteman”. Kalau “berteman” itu biasanya modus laki-laki  (eh..).

Jangan sampai persahabatan itu mengorbankan perasaan pasangan yang sah, suami atau istri (pacar tidak termasuk karena itu pasangan tidak sah, baik secara agama maupun negara). Jadi berhati-hatilah. Mencegah itu lebih baik dari mengobati bukan? Menghindari bersahabat dengan lawan jenis itu lebih mudah (seharusnya) daripada menyelesaikan kondisi yang berantakan akibat persahabatan itu karena persahabatan cowok dan cewek itu tidak mungkin, sekali lagi tidak mungkin, murni tulus tanpa disertai sebuah perasaan yang lain.