Seleksi Peserta Pelatihan BLK Sleman

Mengawali bulan kedua tahun ini  BLK Sleman menyelenggarakan seleksi pelatihan. Ada 13 sub kejuruan yang dibuka. Sehingga ada 208 kesempatan mengikuti pelatihan bagi sekitar 800-an pendaftar yang berasal dari warga Sleman dan beberapa dari luar. Antusiasme masyarakat tahun ini begitu besar dibuktikan dengan jumlah peserta yang mengikuti seleksi. Ya tentu saja tidak semuanya hadir, sehingga klaim 800-an itu juga perlu diklarifikasi. Tapi setidaknya lebih dari 500 peserta. Buktinya? Ya percaya saja deh.. Hehehe..

Sebagai salah satu kejuruan yang mendapat jatah membagikan ilmu, saya pun tak ketinggalan ikut bersibuk ria menyeleksi calon peserta pelatihan. Ya mulai dari tes tertulis sampai wawancara. Ini sudah pakem alias SOP harus dilakukan kedua tes itu untuk menggali seberapa besar keinginan dan motivasi mereka untuk ikut di kejuruan saya. Jelas bahwa informasi akan lebih tergali dengan metode wawancara dan inilah yang memakan waktu paling lama. Ini saja alhamdulillah dari 54 pendaftar hanya 28 yang ikut. Tak terbayangkan kejuruan lain yang jumlahnya ratusan itu harus berapa lama prosesnya.. Sampai tulisan ini dibuat saja belum selesai proses di kejuruan sebelah. Saking banyaknya.

Saya sendiri menargetkan rata-rata 5 menit saja untuk satu orang. Jadi 28 orang itu sekitar 2 jam 20 menit. Lalu untuk mempermudah saya hanya bertanya beberapa hal saja.

  1. Motivasi ikut pelatihan
    Hal ini untuk melihat motivasi seseorang ikut pelatihan itu apa. Motif ekonomi atau apa. Gak dipungkiri kadang ikut pelatihan hanya untuk mendapatkan uang. Maka dari itu perlu diantisipasi agar hal ini bisa dihindari.
  2. Latar belakang pendidikan
    Seseorang dengan latar belakang pendidikan S1 jelas memiliki posisi tawar yang berbeda dari mereka yang berlatar belakang SMA kebawah. Lulusan sarjana sudah memiliki bekal, punya senjata untuk langsung memasuki dunia kerja. Berbeda halnya dengan mereka yang lulusan SMA kebawah. Kalau tidak memiliki keterampilan maka peluang mendapat kerjaan juga kecil. Sementara jaman now ijazah SMA ke bawah kurang dihargai. Jangankan yang SMA ke bawah, ijazah Sarjana saja kadang tidak cukup.
  3. Latar belakang keluarga
    Nah ini juga penting untuk digali. Kenapa? Karena latar belakang keluarga sedikit banyak menentukan bagaimana seseorang itu harus mendapat prioritas. Itu bagi saya sih.. Jelas seseorang dengan latar belakang keluarga seorang petani harus lebih diprioritaskan daripada anak seorang pegawai (ASN, Polisi, Tentara atau perangkat desa). Jadi yaa gitu…
  4. Gambaran setelah selesai kursus
    Ini juga penting untuk mengetahui seberapa maju kesiapan calon peserta untuk memasuki dunia kerja atau bekerja mandiri. Tapi ya itu sih sebagian besar sepertinya belum siap masuk dunia kerja atau kerja mandiri. Terlihat dari jawaban mereka yang tidak begitu yakin menjawab pertanyaan ini. Ya itulah realitanya.

Begitulah sekilas cerita bagaimana proses seleksi di BLK Sleman. Semata-mata agar proses seleksi benar-benar tepat sasaran. Benar-benar bisa bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah.

Advertisements

Sepuluh Tahun Pacaran

Membahas lebih lanjut tentang kegundahan seorang ibu yang anaknya sudah sepuluh tahun dipacari tetapi tidak ada kepastian kapan nikahnya.

Cerita ini bukan untuk membicarakan kejelekan orang lain, secara nama dan identitas lainnya saya sembunyikan. Ya sebagai perenungan bersama saja.

Jadi beberapa waktu lalu secara tidak terencana seorang ibu-ibu mengeluhkan atau mungkin tepatnya curhat tentang anaknya perempuan yang sudah sepuluh tahun ini dipacari tetapi belum juga ada kejelasan kapan nikahnya.

“Lha gimana to mas, anakku sudah pacaran sejak lulus SMA sampai sekarang belum ada kejelasan kapan nikahnya. Sementara teman-temannya sudah pada berkeluarga, sudah punya anak..”

“Sudah ditanyakan belum bu?”

“Uwis, tapi masih dijanjikan nanti-nanti. Alasannya kemarin baru saja orang tuanya renov rumah sehingga belum ada biaya untuk mengadakan pernikahan. Aku yo sudah bilang ke anakku mbok ya ditanyakan lagi kapan nikahnya.. Sebagai orang tua juga sudah risih, pacaran lama kok belum ada juga kepastian”

” Lha nggih minta ditanyakan lagi bu.. gimana kepastiannya..”

“Anakku bilang malu kalau perempuan ngoyak-oyak (ngejar-ngejar) minta dinikahi. Seperti opo wae.. Tapi usia semakin tua kalau tidak ada kejelasan ya gimana..”

“Nggih biar cari yang lain to bu.. Yang lebih pasti..”

“Iya sih.. tapi eman-eman (sayang) sudah sepuluh tahun pacaran masak tidak diteruskan ke pernikahan.. Padahal teman-temannya juga sempat menanyakan anakku untuk diajak menikah, tetapi anakku masih ngeboti milih dengan yang ini (yang masih dipacari)..”

“Ya gimana lagi bu.. Beri tenggang waktu mawon untuk kepastiannya..”

“Iya ini juga sudah rembugan dengan anak, kalau pertengahan tahun besok ( 2018 ini-red) belum jadi nikah, maka biar cari yang lain.. Masak mengharapkan yang tidak serius..”

“Nggih bu.. setuju niku..”

=======================================================================

Pacaran sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kalau dihitung lulus SMA 18 tahun maka sekarang sudah usia 28 tahun. Memang sudah usia yang terhitung matang sekali bagi perempuan untuk menikah. Sebaliknya bagi laki-laki masih terhitung usia yang aman-aman bila masih melajang.

Kenapa sih harus pacaran selama itu?

Jika dipikir pacaran selama itu ngapain aja? Apa masih belum cukup menjadikan masing-masing saling mengenal sehingga belum berani melangkah ke jenjang yang halal aka nikah. Atau mungkin memang benar bahwa pacaran itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap niat untuk menikah. Harus berapa lama lagi pacaran itu akan dijalani? Jangan-jangan ujungnya bosan lalu mencari yang lain.

Kenapa juga orangtua membolehkan anaknya sampai segitu lama pacaran?

Ini juga perlu ditanyakan. Kenapa dibiarkan begitu lama? Mengapa welcome, oke-oke saja permatanya dijamah laki-laki yang belum menjadi suaminya. Apa tidak kepikiran untuk menjaga permatanya sampai benar-benar ada laki-laki yang baik dan serius. Apa mungkin takut dibilang orangtua yang kolot?

Saya pribadi insya Allah tidak akan membiarkan anak saya kelak pacaran. Apapun itu alasannya, bagaimanapun kondisinya harus dijaga sebisa mungkin dari hal buruk itu. Pacaran hal buruk? Yup.

Seharusnya mulai usia 20an, yang berarti 2 tahun pacaran harus segera ditanting kapan nikah. Atau target misal usia 23 atau 25 nikah. Tapi selama itu masing-masing free tidak ada ikatan apapun. Jika memang jodoh maka akan nikah. Tapi kalau ada yang lain yang lebih dahulu serius maka ya nikahnya sama oranglain itu. Lebih enak kan?

Lalu bagaimana sebaiknya?

Ya mau gimana lagi. Tak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali segera minta kejelasan. Kejelasan disini bukan berarti kejelasan nikahnya beberapa tahun lagi tetapi pertengahan tahun 2018 ini memang harus sudah nikah. Itu baru serius.

Dan si ibu ini katanya akan menanyakan langsung ke orangtua laki-laki itu bagaimana kelanjutan hubungan anak-anaknya. Ya memang harus begitu. Pihak perempuan bagaimanapun akan merasa lebih gak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Daaaaan…..

Saya masih menunggu sambil berharap pertengahan tahun ini mendapat undangan.. ūüėÄ

 

Mengatasi Komputer Yang Tidak Bisa Browsing Padahal Terkoneksi Internet

Ceritanya kemarin dikirimi pasien (laptop) dengan keluhan tidak bisa browsing padahal terkoneksi dengan internet. Pihak keluarga pasien (aka pemilik laptop) mengirimkan gejala yang ditunjukkan oleh pasien sebagaimana foto berikut.

IMG-20180110-WA0013.jpg

Tertantang untuk menyembuhkannya maka guglinglah saya. Dan alhamdulillah saya dapatkan solusinya di sebuah forum diskusi.¬†Sobat bisa langsung menuju ke link tersebut. Atau kalau tidak sempat maka baca di sini saja.. Insya Allah sama kok… ūüėÄ

Terjadinya hal tersebut dikarenakan ada masalah dengan konfigurasi DNS di komputer. Untuk mengatasinya bisa mengikuti beberapa langkah penyelesaian ini:

Metode 1:
>> Membetulkan pengaturan DNS memakai DNS Google
Buka pengaturan LAN
Control Panel > Network and Internet > Change adapter settings > Klik kanan pada Local Area Connections > Properties > Klik pada IPv4 > Properties > Pilih Use following DNS server address >

Preferred DNS: 8.8.8.8
Alternate DNS: 8.8.4.4.

Centang opsi validate settings upon exit. Ulangi langkah tersebut jika belum berhasil dan hilangkan centang pada opsi validate settings.

>>>>>>>> (Langkah ini saya coba dan belum berhasil) 

Metode 2:
>> Reset WINSOCK
Buka file .exe command prompt (cmd.exe).
Lokasi normalnya di C:\Windows\System32 . Jika kesulitan mencarinya gunakan file search pada windows explorer dengan kata kunci cmd.

Klik kanan dan pilih Run as administrator)
Ketik “netsh int ip reset resetlog.txt” dan tekan Enter¬† >> Ngetiknya tidak termasuk tanda petik lho..
Ketik “netsh winsock reset” dan tekan Enter¬†>> Ngetiknya tidak termasuk tanda petik juga lho..
Restart komputer.

>>>>>>>> (Langkah ini saya coba dan BERHASILLLLLL) 

Metode 3:
>> Flush DNS

Jalankan cmd seperti metode 2 di atas. Run as Administrator..
Ketik “ipconfig /flushdns” dan tekan Enter¬†¬†>> Ngetiknya tidak termasuk tanda petik juga nih..
Restart komputer.
>>>>>>>> (Langkah ini tidak saya coba. lha wong yang sebelumnya sudah berhasil..hehehe… :D)¬†

Demikian sharing pengalaman tips ini. Semoga berguna.

Telat Nikah?

Pernah suatu kali di waktu yang lalu, diantara waktu senggang di saat kerja seorang senior, katakanlah begitu, bilang ke saya.

” Iyo mas, kalau bisa nikah itu jangan telat. Jangan seperti aku yang nikah sudah 30an sehingga usia segini anak masih kecil-kecil.”

Lain lagi ada ibu-ibu yang khawatir anaknya tidak segera dilamar oleh pacarnya (lama  pacaran sudah 10 tahun) ini ada cerita khususnya insya Allah

“Lha ini anakku gak segera ada kepastian dari pacarnya. Keburu tua.. Kalo telat nikah nanti sudah tua anaknya masih kecil-kecil..”

Telat Nikah…

Sebuah kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi mereka yang masih single sementara usia sudah semakin matang. Desakan orang tua untuk segera mencari jodoh sudah begitu kuat. Belum lagi gunjingan tetangga dan masyarakat yang seakan menganggap lajang matang adalah sebuah aib.

Tapi….

Sebenarnya ada gak sih terminologi Telat Nikah itu?

Telat. Padanan kata dari terlambat. telat/te·lat/ a kasip; terlambat:
Sementara terlambat/ter·lam·bat/ v lewat dari waktu yang ditentukan:

Jadi jelas bahwa telat berarti lewat dari waktu yang ditentukan.

Sebagai contoh. Jam masuk kerja 07.30 WIB, lalu kita datang jam 08.00 WIB. Berarti kita telat. Terlambat. Karena batas waktunya adalah 07.30 harus sudah di kantor.

Tapi kalau Nikah?

Siapa yang menentukan batas waktunya? Siapa yang bilang usia 25, misalnya, harus sudah nikah? Setelah itu dianggap telat. Atau haruskah yang menikah di usia 40 tahun dianggap telat, terlalu tua?

Kalau mau jujur, tidak ada yang membatasi usia seseorang untuk nikah. Usia berapapun nikah tetap tepat waktu. Karena apa? Karena tidak ada yang membatasi. Adapun batasan 23, 25, 27, 29, 30 itu bukanlah nilai yang pakem. Hanya menurut kebiasaan di masyarakat saja.

Di masyarakat yang umumnya menikah di usia 25 tahun ke bawah maka usia 26 sudah dikatakan telat. Tapi ukuran masyakarat ini juga bisa berubah-ubah. Dahulu jaman kakek-nenek kita, mereka menikah di usia 20an awal. Lalu semakin ke sini batasan bertambah. Usia 25an menjadi patokan ideal. Mungkin ke depan juga berubah lagi.

Tapi intinya bukan itu. Jangan sampai patokan-patokan itu menjadikan kita seakan terburu waktu, dikejar masa, harus segera menikah di usia sekian. Memiliki target menikah di usia, misal 25 atau 27, itu bagus. Setidaknya kita menjadi terpacu untuk segera memantaskan diri agar bisa segera menikah.

Tapi ketika target itu tidak tercapai, belum ada calon sampai usia 28 misalnya, ya sudah.. Tidak perlu galau.. Toh Allah saja tidak menentukan batasan kapan harus sudah nikah.. Tetap setia di jalur yang benar. Jangan tergoda untuk pacaran.

Pacaran walaupun tujuannya untuk nikah tetap saja sesuatu yang diharamkan. Pacaran Islami? Gak ada. Itu hanya akal-akalan nafsu saja biar pacaran terkesan tidak berdosa. Padahal pacaran itu sehina korupsi. Menikmati yang bukan haknya. kita bahas di lain waktu.. ūüėÄ

Jadi inti daripada tulisan ini adalah memberi sebuah sanggahan untuk kosakata telat nikah. Bahwa telat nikah itu tidak ada. Kapanpun usia menikah, itu adalah usia yang pas dan tepat bagi yang bersangkutan. Wis gitu aja.

#sudutruangkerja
#09januari2018
#telatnikahitugakada

Karena Anak Memang Rejeki

Pepatah Jawa mengatakan ” Banyak Anak, Banyak Rejeki”

Orang-orang jaman now kemudian ada yang membantahnya dengan alasan kalau bila banyak anak maka akan kesulitan ekonomi keluarga. Tapi bagi saya sendiri pepatah itu masih relevan. Kenapa? Karena anak itu sendiri adalah rejeki. Jadi logis bila anak bertambah maka rejeki bertambah. Dan Sang Pencipta juga sudah menjamin bahwa setiap makhluk yang hidup pasti dijamin rejekinya (makan dan kebutuhan lainnya). Jangankan manusia, hewan melatapun sudah dijamin rejekinya selama hidup.

Karena anak memang rejeki. Dan sebagaimana rejeki dimana setiap orang bisa jadi mendapat hasil yang berbeda meski dengan cara yang sama, maka demikian pula dengan anak.

Ada pasangan yang sama sekali tidak diberikan amanah berupa anak. Ada pula yang harus menunggu agak lama hingga Allah menitipkan amanah anak. Ada juga yang diberikan momongan dengan segera. Bahkan ada yang sampai tega menghilangkan rejeki itu karena dibuat dengan cara yang tidak halal.

Lalu karena anak adalah rejeki dan juga sekaligus amanah maka yang harus kita lakukan adalah senantiasa mensyukurinya. Kemudian tanggungjawab kita sebagai orang tua adalah mendidiknya baik  melalui contoh maupun pengajaran. Selalu ajarkan anak tentang kebaikan sekaligus sebagai orang tua harus bisa menjadi figur teladan. Sekolahkan anak sebagai bentuk wujud tanggungjawab kita untuk membekali dengan ilmu dan akhlak, bukan sebagai bentuk melarikan anak karena merasa kewalahan mendampingi aktifitasnya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mensyukuri rejeki tersebut dan memberi kekuatan untuk menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Banyak anak, banyak rejeki. Insya Allah.

 

(direkomendasikan) KOMPETEN

“……dengan ini Anda direkomendasikan KOMPETEN”

Legaaaaa…. Setelah kata itu diucapkan oleh master asesor yang mengujiku. Seakan seluruh pengorbanan terbayar lunas.

Mengikuti diklat asesor ini memang menjadi salah satu target dalam karirku sebagai seorang instruktur. Sempat di-PHP sama mantan kepala beberapa tahun yang lalu, dijanjikan ‘tahun depan’ diikutkan diklat asesor. Tapi setelah tahun berlalu tidak juga ada geliat kabar pemanggilan. Fix, aku dibohongi. Akhirnya gerilya mencari informasi dan membangun koneksi dengan ketua LSP , akhirnya panggilan itu datang. Tak perlu ditunda-tunda langsung saya iya-in aja, tentu dengan memikirkan konsekuensinya (jauh dari keluarga).

Tepat 13 November 2017, saya meluncur ke BLK Surakarta. Berpisah sementara waktu dengan orang-orang tersayang, memang memunculkan sebuah drama tersendiri. Tapi selalu saya jelaskan bahwa ini demi karir dan tentu saja demi keluarga. Dan alhamdulillah mereka bisa memahami.

Tiba di halaman BLK Surakarta sekitar jam 08.20 WIB, langsung menuju ke ruangan untuk segera mengikuti acara. Ternyata hari itu langsung dimulai pembelajaran. Full day sampai maghrib. Sudah tak terkira badan ini. Rupanya masuk angin gara-gara AC. Ya untuk ukuran makhluk ndeso seperti saya ini, AC bukan sahabat yang baik. Tapi kok ya ndilalah duduh tepat di bawah AC. Semalaman rasanya gak karuan. Adem panas awakku, gara-gara itu. Tidur awal menjadi satu-satunya solusi untuk esok bangun pagi. Bagaimana lagi, esoknya harus ikut lomba MTQ tingkat DIY. Kudu setrong, harus fit.

Tanggal 14 November, bangun pagi terus mandi, tak lupa gosok gigi. Meski badan agak ga nyaman tapi harus dipaksakan demi sebuah tanggung jawab dan pengalaman. Setengah enam meluncurlah ke BKD DIY. Belum sarapan lagi. Sepanjang perjalanan terasa sepi. Bukan karena jalanan sepi, tetapi hati ini yang sepi. Biasanya ketika duduk dibelakang stang bulat itu pasti diiringi celoteh bidadari-bidadari kecilku (yang besar juga ding..hehehe). Hampir belum pernah bepergian sendirian menggunakan kotak bermesin itu. Kenapa gak nyetel radio? Ya itulah.. baru kepikiran setelah beberapa hari kemudian.. ūüėÄ Lagian juga jarang dengerin radio kalo kemana-mana. Dua jam berlalu dan sampailah di tempat tujuan.

Sampai di BKD DIY bersiap diri, berpakaian rapi, sholat dhuha, langsung menuju tempat lomba. Dapat urut nomor 5, tapi majunya ketiga. Nomor satu dua entah kemana. Jatah saya adalah dakwah putra daaaan masya Allah saingannya ustadz semua. Juara satu dua tahun lalu juga ikut. Dah.. kalah ngustadznya, kalah pengalamannya dan kalah nggantengnya. Ya sudah hasil lomba itu sudah bisa ditebak. Oke terima, bahwa yang penting aku sudah mencoba.

“Tidak menang bukan berarti kita buruk, tetapi karena banyak yang lebih bagus.”

Dan kembali lagi harus meluncur ke tempat diklat. Dua jam juga. Badan ini rasanya sudah gak karuan. Mengikuti pelajaran sampai maghrib lagi.

(akan dilanjutkan…… )

(…..ini lanjutannya. Sebulan berlalu baru sempat nulis lagi.. hadeh..)

Tanggal 15 November. Dini hari bangun sendiri (gak ada yang mau bangunin, lagian juga tidak mau dibangunin. Wis gitu aja). Sengaja untuk memilih berbeda dengan kawan-kawan yang lain, selain karena kondisi badan yang sedang tidak bersahabat. Di saat yang lain selepas makan malam (pesan via ojek online) dilanjut dengan mengerjakan tugas, maka saya sedang bergelut dengan demam yang sedang asyik memulai tugasnya menghangatkan badan. Rasa lemas dan pusing tentu tidak memungkinkan untuk dibawa mengerjakan tugas. Yang ada badan tidak membaik, tugas juga tidak tertunaikan dengan bagus.

Berencana bangun tengah malam di saat yang lain sudah selesai dengan tugasnya sementara saya baru akan memulai. Namun sebuah keuntungan bagi saya dengan mengerjakan sendirian. Bisa fokus dan lebih tenang. Tidak terprovokasi karena ada teman yang sudah nge-print, biasa leluasa menggunakan printer tanpa harus mengganggu dan menunggu saat digunakan oleh orang lain.

Dan setelah 3 jam berjibaku berjuang sendirian akhirnya sesi perjuangan diakhiri dengan mencetak tugas. Fix. Alhamdulillah. Sejurus kemudian berusaha mengambil waktu untuk istirahat sebelum nantinya bangun subuh.

Siang hari materi diklat adalah bagaimana menyiapkan asesmen. Bagaimana menyiapkan perangkat untuk melakukan asesmen. Membuat materi soal. Mengambil satu unit kompetensi dan mengerjakan perangkat-perangkat asesmen berdasarkan unit tersebut. Tidak ada yang menarik karena saya lebih fokus pada kondisi tubuh yang tidak fit. materi yang disampaikan bagai angin lalu. Tugas dikerjakan sesuai pemahaman saya sendiri. Salah? Tak masalah. Toh juga kalau disuruh revisi tinggal revisi saja. Simpel.

Materi siang itu diakhiri dengan pemberian tugas. Dan seperti malam sebelumnya ritual bangun tengah malampun menjadi pilihan.

Tanggal 16 November. Dini hari bangun, ngerjain tugas dan menghafalkan skenario asesmen. Tiga jam lebih bahkan sampai subuh tidak tidur. Walhasil sehabis subuh terasa ngantuk sekali. Tertidur di mushola.

Pagi hari mencari sesuap nasi di angkringan barat BLK. Nasib diklat kali ini, makan malam dan sarapan mandiri.  Belum lagi asrama juga bayar sendiri. Diklat yang berbeda dari umumnya. Tapi tak mengapa, yang penting saya bisa mendapatkan kesempatan ini demi karir di masa mendatang.

Materi hari ini, mandiri. Mulai dari mempersiapkan materi yang berbeda dari yang sudah dibuat juga harus bermain peran menjadi asesor. Mulai dari menerima pendaftaran sampai melakukan asesmen. Dan sayapun juga sempat melakukan simulasi dengan beberapa teman meskipun juga tidak bisa fokus. Lha gimana mau fokus? Di saat yang lain sudah secara jelas siapa partner bermain dramanya, sementara saya menunggu teman yang kebetulan sedang luang untuk diajak belajar. Belum lagi ternyata untuk ujian besok (17 November 2017) harus mencari asesi (orang yang akan diuji) sendiri. Dan beruntungnya lagi tak ada satupun yang saya kenal. Mau cari siswa pelatihan, jelas saya gak mengajar di sana. Mau cari karyawan BLK juga tidak ada yang kenal, kecuali teman instruktur, itupun bersedia sebagai cadangan saja.

Tapi alhamdulillah ada yang berinisiatif dari BLK yang mencarikan. Dan agenda siang itu adalah melobi calon asesi saya tentang ujian esok hari. Setelah deal dan paham maka disepakati untuk esoknya berjuang untuk bermain drama.

Tanggal 17 November. Hari penentuan. Hari ujian. Deg-degan. Wajar sih. Meskipun pada simulasi drama saya sebagai asesor, tetapi sesungguhnya sayalah yang sedang di asesmen oleh master asesor. Belum lagi master asesornya terlihat tidak bersahabat, kaku dan saklek. Tapi yaa asesor memang harus seperti itu. Hitam dan putih. Tak ada wilayah abu-abu. Bisa katakan bisa. Kompeten katakan kompeten. Gagal katakan gagal.

Rasa deg-degan semakin bertambah ketika tahu saya ternyata urutan terakhir. Dan bagusnya lagi, saat yang urutan pertama selesai dengan proses asesmennya dan mengumpulkan berkas ujiannya saya masih menunggu untuk sekedar dipanggil mengumpulkan materi untuk dikoreksi. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah takdirnya begitu. Jalani, Nikmati dan Syukuri saja.

Sekira pukul sembilan lebih saya dipanggil untuk diberi perintah selanjutnya. Daaaan ternyata perintahnya adalah memperbaiki materi untuk asesmen karena masih ada yang salah. Yup ada kesalahan sedikit dan alhamdulillah tidak ada koreksi lain selain yang hanya selembar itu. Kerjakan secepatnya, cetak lalu serahkan. Setelah dikoreksi dan tidak ada kesalahan lagi maka saya baru boleh melakukan proses asesmen. Mulai dari adegan drama, proses asesmen sampai pada penyampaian hasil kepada asesi.

Prosesnya sebenarnya tidak terlalu lama. Sekira 45 menit sudah selesai. Tapi yang lama adalah menyelesaikan administrasi laporannya. Karena pada ujian ini lebih kepada bagaimana menyampaikan laporan yang lengkap. Yang pasti setiap lembar harus diteliti dengan baik. Penyakit Kurap (kurang rapi), Kutil (kurang teliti) dan Kudis (kurang disiplin) harus dihindari.

Tolong dong jangan pakai foto pasangan

Jaman sekarang siapa sih yang tidak menggunakan sosial media? Hampir semuanya menggunakan, entah karena kemanfaatan yang diperoleh atau karena ngikutin tren saja. Tapi saya yakin karena kemanfaatannyalah sosial media digunakan oleh banyak orang.

Sosial media, sebut saja semacam WA, IG, Line mempermudah komunikasi kita. Salah satunya kita bisa melihat wujud (baca:foto) orang yang diajak chat atau call melalui foto yang dipasang atau biasa disebut pp (profile picture).

Saya yakin hampir semua memasang foto favorit sebagai pp. Perkara pp ditampilkan ke semua orang atau hanya yang dalam kontak saja itu urusan lain. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka memajang pp dengan foto diri apalagi close-up. Terkecuali dalam hal saya butuh memperkenalkan diri di sebuah grup baru atau menghubungi orang lain untuk urusan penting.

Seberapa penting sih pp itu? Ya tergantung masing-masing orang sih. Kalau saya penting gak penting. Saya sendiri malas membalas chat orang yang tidak ada foto profilnya. Hehehe…

Di sisi lain saya (laki-laki) agak risih ketika ada teman laki-laki yang pasang pp foto perempuan (entah foto istrinya atau entah siapa). Sebenarnya haknya dia juga sih mau pasang pp apapun.

Hanya saja ketika yang dipasang adalah foto istri atau perempuan lain akan berpotensi menimbulkan fitnah. Bisa jadi menimbulkan ketertarikan. Atau ketika tidak sengaja kita chat dan terlihat oranglain dikiranya chat dengan perempuan lain. Yang lebih parah kalau dicurigai yang enggak-enggak, dikiranya modus penipuan, nomer sengaja diberi nama laki-laki padahal perempuan.

Nah untuk menghindari hal-hal tersebut sebaiknya kita hindari pasang pp foto istri (tanpa ada kita). Sama-sama saling menjaga agar gak timbul fitnah. Jangan sampai orang lain mengagumi istri kita, jangan sampai menimbulkan masalah di seberang sana.