Karena Anak Memang Rejeki

Pepatah Jawa mengatakan ” Banyak Anak, Banyak Rejeki”

Orang-orang jaman now kemudian ada yang membantahnya dengan alasan kalau bila banyak anak maka akan kesulitan ekonomi keluarga. Tapi bagi saya sendiri pepatah itu masih relevan. Kenapa? Karena anak itu sendiri adalah rejeki. Jadi logis bila anak bertambah maka rejeki bertambah. Dan Sang Pencipta juga sudah menjamin bahwa setiap makhluk yang hidup pasti dijamin rejekinya (makan dan kebutuhan lainnya). Jangankan manusia, hewan melatapun sudah dijamin rejekinya selama hidup.

Karena anak memang rejeki. Dan sebagaimana rejeki dimana setiap orang bisa jadi mendapat hasil yang berbeda meski dengan cara yang sama, maka demikian pula dengan anak.

Ada pasangan yang sama sekali tidak diberikan amanah berupa anak. Ada pula yang harus menunggu agak lama hingga Allah menitipkan amanah anak. Ada juga yang diberikan momongan dengan segera. Bahkan ada yang sampai tega menghilangkan rejeki itu karena dibuat dengan cara yang tidak halal.

Lalu karena anak adalah rejeki dan juga sekaligus amanah maka yang harus kita lakukan adalah senantiasa mensyukurinya. Kemudian tanggungjawab kita sebagai orang tua adalah mendidiknya baik  melalui contoh maupun pengajaran. Selalu ajarkan anak tentang kebaikan sekaligus sebagai orang tua harus bisa menjadi figur teladan. Sekolahkan anak sebagai bentuk wujud tanggungjawab kita untuk membekali dengan ilmu dan akhlak, bukan sebagai bentuk melarikan anak karena merasa kewalahan mendampingi aktifitasnya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mensyukuri rejeki tersebut dan memberi kekuatan untuk menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Banyak anak, banyak rejeki. Insya Allah.

 

Advertisements

Uniknya Orangtua Bermuka Dua

unduhan

Uniknya orangtua bermuka dua. Di hadapan orang banyak, begitu lembut ia menyapa buah hatinya. Panggilan sayang begitu murah tercurah. Peluk dan cium dipamerkan, mengabarkan kalau ia begitu menyayangi anaknya. Sementara anaknya menanggapi dengan wajah ragu, benarkah ini orangtuaku. Kok tiba-tiba begitu lembut dan penyayang.

Uniknya orangtua bermuka dua. Di saat berdua saja atau di dalam kerajaan rumahnya, ia berubah menjadi monster nan menakutkan. Panggilan sayang serasa sudah habis ia tuangkan di hadapan khalayak ramai. Kalimat lembut pun menguap seiring suasana hatinya yang panas menahan kepura-puraan. Tinggallah hardikan, bentakan dan kadang sampai tanganpun dimainkan. Ia benar-benar menjadi raja di rumahnya. Yang segala inginnya haris dituruti, yang semua larangannya harus ditaati. Kalau berani melawan, awas hukuman menanti. Jadilah anak patuh dan taat, tapi berlatarkan takut, bukan kesadaran apalagi bukti sayang.

Wahai kita, iya kita, orangtua. Marilah didik anak-anak kita dengan kelembutan, agar mereka belajar menjadi lembut. Marilah ajari anak-anak kita dengan kesabaran, agar mereka belajar menjadi orang-orang yang sabar. Marilah kita menjadi orangtua yang sebenarnya. Yang senantiasa lembut dan sabar, entahlah di hadapan orang ramai atau hanya berdua saja.

Tengoklah ke dalam diri kita. Apakah anak-anak lebih sering tertawa riang bersama kita, ataukah anak-anak lebih sering menangis diiringi bentakan dan hardikan kita? Tegas itu bukan berarti membentak. Tegas adalah bagaimana kita tetap pada pendirian kita meski anak menangis namun seiring itu kita tetap bisa menghadapi dengan kelembutan.

Saya hanya takut jika saat ini tidak bisa berlaku lembut maka kelak di saat kita menua, tidak takutkah bila anak membentak hanya karena ketidak mampuan kita. Apakah kita akan kembali menghardik dengan mengatakan ‘ anak durhaka, berani sama orangtua ‘. Padahal kitalah yang mengajarkan bentakan dan hardikan itu semenjak kecil.

Yuk jadi orangtua yang lembut..lembut.. dan lembut.. Bukankah “tidaklah kelembutan itu berlaku pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”?

Pahamilah doa untuk kedua orangtua sebelum engkau mengajarkan pada anakmu.

Menjadi orangtua itu berjuta tugasnya. Mulai dari merawat semenjak lahir, mendidik sedari kecil dan menjadi kawan serta penasehat sepanjang hidup anak. Salah satu yang paling gampang dijumpai adalah mengajarkan anak untuk berdoa. Doa sebelum makan, doa sesuadah makan dan masih banyak yang lain. Tak lupa doa untuk kedua orangtua juga diajarkan. Tentu kita berharap bahwa ketika si anak yang suci tanpa dosa mendoakan maka akan mudah dikabulkan oleh Allah.

Tentu kita hafal doa untuk kedua orangtua kita bukan? Doa yang juga akan diajarkan kepada anak-anak kita. Doa yang artinya kurang lebih demikian “ Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “ Saya yakin bahwa banyak diantara kita berfokus kepada bagian pertama doa tersebut yaitu bagian memohon ampunan dosa. Tetapi apakah kita juga memperhatikan bagian kedua dari doa tersebut?

Beberapa lama ini saya sempat merenung, dan entah darimana sesuatu yang saya rasa mencerahkan datang begitu saja ke dalam alam pikiranku. Berpikir tentang bagian kedua dari doa untuk kedua orangtua tersebut. Tentu saya berpikir dengan saya berposisi sebagai orangtua. Bisakah kita membedakan antara bagian pertama dan kedua dalam doa tersebut?

Bagian pertama “Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku… “

Bagian kedua “…dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “

Bagian pertama tidak mensyaratkan sesuatu. Artinya doa agar dosa kedua orangtua diampuni bagaimanapun keadaannya. Tapi lihatlah di bagian kedua. Ada syarat atau permintaan agar dilakukan hal serupa yaitu agar Allah mengasihi (memperlakukan) mereka (orangtua) sebagaimana mereka mengasihi (memperlakukan) kita (anak) sewaktu kecil.

Dari sini ada sesuatu yang membuat dahi berkenyit. Ada syarat dalam doa tersebut. Ada hal yang jika kita lakukan kepada anak-anak maka hal serupa jugalah yang akan Allah lakukan pada kita. Dari sini saya mengambil suatu hal yang berharga yaitu bahwa bila kita ingin Allah mengasihi kita, maka kasihilah anak-anak dengan sebaik-baiknya, perlakukan dengan seelok-eloknya, didiklah dengan didikan yang bagus. Tidak memperlakukan anak semena-mena, ringan tangan kepada anak, suka membentak, melakukan kekerasan fisik dan verbal. Kesemuanya terkait bahwa apa yang kita lakukan kepada anak, maka itulah yang akan Allah lakukan pada kita.

Maka dari itu mari kita mulai untuk berlaku baik kepada anak. Sayangilah mereka, didiklah mereka dengan benar. Semoga dengan lantaran anak hidup kita akan lebih bahagia. Anak yang bisa menjadi penyejuk mata, bukan penguras harta. Anak bisa menjadi penjaga di masa tua, bukan anak yang menunggu warisan dibagi rata. Anak yang bisa membuat bangga, bukan anak yang menyebabkan cela keluarga.

Orang tua macam apa yang mendidik anaknya seperti ini?

Teringat sebuah kejadian di pagi hari. Tatkala sedang berjalan-jalan dengan si kecil di open space kompleks perumahan. Seorang gadis usia SMP dengan agak terburu-buru berpamitan kepada bapaknya. Cium tangan lalu si anak cium pipi kanan dan kiri bapaknya. Lengkap dua-duanya tidak hanya sebelah saja. Si bapak cukup diam saja. Setelah itu si gadis melajukan motornya. (Anak SMP sekarang ke sekolah sudah naik motor. Meski dilarang parkir di sekolah, tak kurang akal rumah warga dekat sekolah pun menjadi lahan parkir. Simbiosis mutualisme. Siswa butuh praktisnya, si empunya rumah butuh duitnya. Klop tiada keterpaksaan). Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, mencoba melakukan suatu penerawangan tentang kehidupan keluarga mereka. Jaman sekarang tidak melihat anak bersikap cuek kepada orangtuanya saja sudah lumayan bagus. Lha ini malah menunjukkan suatu sikap yang menurut saya sangat langka dan bagi saya pribadi pengen anakku kelak bisa seperti itu. Sebuah penghormatan sekaligus tanda sayang seorang anak kepada bapaknya (lebih luas kepada kedua orangtuanya). Memang saya akui bahwa kehidupan keluarga beliau terbilang religius. Mungkinkah ada pengaruh rumah tangga yang religius terhadap perilaku anak?

Di kompleks perumahan yang sama dengan contoh yang berbeda. Ada satu keluarga dimana sang bapak rajin ke masjid, kemudian anak-anak laki-lakinya pun juga demikian. Tiga atau empat anaknya jika pas berada di rumah (tidak bepergian) pasti ikut berjamaahn di masjid. Sebuah kesalutan tersendiri ketika melihat sebuah keluarga yang anggota laki-lakinya rajin ke masjid. Tidak sampai di situ saja kekaguman saya. Setiap anak selesai berdoa kemudian akan meninggalkan masjid maka tak lupa mendekati sang bapak kemudian meminta bersalaman dan mencium tangan bapaknya. Perlu dicatat bahwa ini dilakukan oleh anak-anak laki-laki sang bapak yang sedang beranjak remaja ( yang besar SMA, yang kedua dan ketiga masih SMP dan adiknya perempuan yang paling bontot masih sekitar 4 tahun) . Jaman sekarang mana umum anak laki-laki usia remaja bisa menghormati orangtuanya sedemikian rupa. Yang sering dijumpai adalah anak-anak remaja yang menganggap bapaknya seperti teman asing. Bicara jika hanya perlu dan seringnya meminta sesuatu yang kalau tidak dituruti berujung ngambek. Masih mending ngambek, yang lain malah minggat dari rumah. Kembali saya mencoba menerawang seperti apa sih pola asuh kedua orangtuanya? Saya pun perlu menyampaikan juga bahwa keluarga mereka termasuk yang religius. Sholat berjamaah rutin, ada pengajian selalu ikut. Semakin bertanya-tanya, mungkinkah ada kaitannya antara keluarga yang religius dengan perilaku anak?

Terlalu dini jika menyimpulkan bahwa keluarga yang religius-lah yang bisa menghasilkan anak-anak seperti yang saya sampaikan di atas. Butuh penelitian lebih lanjut. Tapi mohon ijinkan saya membuat hipotesis sebelum penelitian secara intensif itu diadakan. Bagaimanapun dari apa yang saya alami bahwa kondisi keluarga yang religius akan berpengaruh positif terhadap perilaku si anak. Ketika orangtua begitu dekat dengan Tuhannya maka setiap doa yang mengalir untuk anak-anaknya adalah doa yang mustajab. Ketika orangtua memohon kebaikan bagi keluarga maka Allah pun berkenan mengabulkannya. Memang faktor yang lain pun berperan. Latar belakang keluarga orangtua, tingkat pendidikan dan lain-lain juga memiliki peran yang penting. Tetapi saya dalam kasus ini lebih melihat kepada tingkat religiusitas keluarga terhadap perilaku anak. Dan hipotesis saya seperi yang saya sampaikan di awal paragraf ini.

Jika tolok ukurnya adalah religiusitas sebagai salah satu bagian dari cara pola asuh anak yang efektif, maka tak ada alasan lagi untuk bagaimana kita sebagai orangtua mulai membiasakan hidup penuh dengan nuansa religi. Kedekatan dengan Allah akan membentuk semacam sandaran yang kokoh serta memberi harapan nan nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa mendidik anak butuh kesabaran, butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Dan kita sebagai manusia tak jarang merasa kewalahan berhadapan dengan kesabaran, merasa pengorbanannya tidak dihiraukan dan perjuangannya dilupakan. Di saat itulah kita butuh sandaran yang kuat, butuh untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya dengan dekat dengan Allah-lah kita merasa kuat, tidak merasa sia-sia karena ada Allah yang senantiasa membimbing hidup kita. Selalu ada semangat bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Ada perhitungan superduper teliti yang akan mencatatnya. Yup hanya dengan dekat Allah-lah kita akan menjadi manusia yang siap dan semangat dalam menjalani hidup. Mari kita mulai menanamkan bibit-bibit religiusitas dalam kehidupan keluarga kita.

Anak adalah aset. Salah dalam mengelola aset ini maka hidup kita akan merugi.

3 Tipe Orangtua dalam menghadapi “kenakalan” anak balita

Usia balita merupakan masa dimana anak belajar banyak hal. Ada yang mengatakan bahwa periode ini adalah periode emas sehingga sayang jika pada masa ini keinginan anak untuk belajar justru dihambat oleh orangtuanya. Apa-apa serba tidak boleh. Keaktifan seorang anak balita merupakan hal yang sangat wajar. Rasa ingin tahu begitu besar. Dan untuk memuaskan rasa keingintahuannya tak jarang anak mencoba-coba banyak hal. Bisa dikatakan seolah-olah tiada rasa lelah dalam diri si anak. Memang energi balita itu besar dan butuh penyaluran berupa aktifitas fisik. Karena mobilitasnya yang tinggi tak jarang membuat orangtua kerepotan bahkan ada yang sampai dibuat pusing. Kalau sudah begini banyak orangtua yang melabeli anaknya “nakal”. Padahal hal seperti ini seharusnya disyukuri. Dengan aktifnya anak maka ia akan belajar banyak hal. Sebagai orangtua kita seharusnya menjadi guru bagi mereka dalam mengenal hal-hal di sekitarnya. Ada tiga tipe orangtua dalam menghadapi keaktifan anak.

1. Terlalu membatasi

Sedikit-sedikit dilarang, apa-apa tidak boleh. Kalimat yang sering keluar adalah kalimat larangan dengan nada bentakan.

” Eh makanan jangan ditumpahin, nanti kotor… “ atau
“ Jangan lari-larian nanti jatuh, sakit siapa yang repot… “ atau
“ Dah dibilangin jangan mainan kayu.. kalau kepukul gini sakitkan… “ atau
“ Kamu tuh bisanya ngrepotin mama saja… makanya denger omongan mama…” dan lain sebagainya.

Belum lagi ditambah dengan gerakan fisik seperti menarik anak dengan paksa, menjewer, memukul.

Sebagai orangtua memang sedang diuji kesabarannya. Anak yang sering bermain kotor-kotor, menumpahkan makanan atau minumannya, suka memukul apa saja sejatinya sedang belajar melalui tindakan. Tetapi sebagian orangtua menganggap itu sebuah kenakalan. Mereka cenderung berpikir dengan pola pikir orang dewasa bahwa tidak seharusnya baju yang baru saja ganti dibuat main kotor-kotor, tidak selayaknya makanan dan minuman ditumpahkan, tidak sepatutnya benda-benda sekitar dipukul-pukul. Orangtua seakan lupa bahwa anak-anak belum paham semua itu. Lha wong mereka sedang belajar kok. Apalagi kalau ditelusuri lebih lanjut bahwa kalimat larangan itu adalah untuk menghentikan anak beraktifitas yang ujung-ujungnya membuat rumah berantakan. Kalau sudah begitu siapa lagi yang harus repot membersihkan rumah? Tentu saja orangtuanya. Nah daripada bersusah payah kerepotan membersihkan rumah, sebagian orangtua memilih untuk menghentikan anak sebelum melakukan tindakan-tindakan tersebut. Apa yang terjadi? Justru anak tidak akan belajar banyak hal. Lebih parah dari itu anak enggan untuk mencoba hal-hal baru karena takut dimarahi.

2. Serba boleh.

Kebalikan dari tipe nomor satu di atas, tipe orangtua ini serba boleh. Anak mau melakukan apa saja dipersilahkan. Tidak ada kendali dari orangtua terhadap si anak. Atau kalau boleh dibilang tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua yang cuek. Tidak hanya bermain yang aman, bermain yang berbahaya pun dibiarkan saja. Dalam pikiran mereka biarlah anak belajar dengan merasakan sendiri. Maka tak jarang anak terlukapun tidak segera ditolong, bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan empati. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka anak tidak tahu apakah yang dilakukan benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Jangan heran jika sudah besar anak yang dididik oleh orangtua yang cuek akan menjadi anak yang tidak tahu adab kesopanan bahkan yang lebih parah bisa menjadi seorang kriminal.

3. Tipe pertengahan.

Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja karena paham bahwa itulah cara anak untuk belajar. Tetapi anak tetap dalam pengawasan orangtua. Sekiranya anak melakukan hal-hal yang berbahaya baik bagi dirinya sendiri atau oranglain maka saatnya orangtua memberitahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Selama hal tersebut baik untuk perkembangan anak baik fisik maupun non fisik maka orangtua memberikan kebebasan dan pendampingan. Orangtua tidak merasa repot jika akhirnya harus membereskan rumah yang berantakan. Orangtua sadar bahwa ini adalah kewajiban sebagai orangtua dan inilah salah satu bentuk kesiapan menjadi orangtua. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan tipe ini insya Allah akan menjadi anak yang cerdas dan pintar. Anak akan menjadi kebanggaan dan teladan bagi teman-temannya.

Nah tipe mana yang anda pilih?

Gaya Mendidik Warisan Orang Tua. Bagaimana menyikapinya?

Setiap orang tua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda-beda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Bahkan antara suami dan istri tidak jarang memiliki gaya yang berbeda dalam hal mendidik anak. Sebagian besar keluarga meniru gaya orangtuanya dalam mendidik anak. Mereka akan meniru cara orang tua mendidik mereka ketika masih kecil. Terlebih lagi pada komunitas dimana tingkat pertukaran informasi sangat rendah sehingga informasi yang diperoleh terkait mendidik anak hanya diperoleh dari orang tuanya dan lingkungan sekitarnya. Belum lagi bagi yang masih tinggal bersama orang tua dan belum ada kesepakatan bersama (antara orangtua anak dan kakek-neneknya) dalam mendidik anak maka dominasi kakek-nenek biasanya akan lebih besar daripada kedua orangtua.

Setidaknya ada tiga cara penyikapan yang biasa dilakukan oleh keluarga terhadap gaya mendidik warisan orangtua ini.

1. Meniru penuh gaya mendidik warisan orangtua.

Memang lebih mudah jika kita meniru gaya mendidik orangtua. Selama kita tumbuh dalam keluarga maka selama itu pulalah kita mempelajari dan menyerap apa yang diajarkan oleh orang tua. Ketika tiba saatnya mendidik anak maka kita tinggal meniru saja bagaimana orang tua mendidik kita. Cara ini relatif lebih mudah apalagi jika kita masih tinggal serumah dengan orang tua. Apa yang kita lakukan akan didukung penuh oleh orangtua kita. Meniru penuh gaya mendidik orangtua kita memang tidak sepenuhnya salah tapi juga tanpa resiko. Jika gaya mendidik orangtua kita baik maka tidak ada salahnya jika kita ingin meniru secara penuh. Cara mudahnya lihatlah diri kita. Inilah hasil dari gaya mendidik orangtua kita. Bisa jadi ketika kita meniru cara orangtua kita maka hasilnya seperti kita juga. Tetapi perlu pertimbangkan juga bahwa anak-anak kita hidup di jaman yang berbeda dengan kita. Sehingga mungkin saja akan ada perbedaan hasil, tetapi tidak akan jauh-jauh dari hasil nyata yang kita lihat yaitu diri kita.

2. Menolak sepenuhnya gaya mendidik warisan orangtua

Saya melihat bahwa sebagian besar menerapkan cara penyikapan seperti ini. Sebagian menganggap bahwa cara mendidik ala orangtua kita kurang baik. Boleh jadi ada trauma-trauma masa lalu, kekecewaan terhadap orangtua dan lain sebagainya sehingga tidak mau jika anak-anaknya mengalami hal serupa. Oleh sebab itu cara paling jitu adalah dengan menolak cara yang orangtua kita lakukan. Jika dulu kita merasa dikekang semasa kecil, tidak boleh ini, tidak boleh itu maka ketika menjadi orangtua kita akan lebih permisif terhadap banyak hal. Tapi juga sebaliknya ada yang ketika kecil diperlakukan dengan lemah lembut tetapi ternyata menjadikan dirinya anak yang juga lemah maka ketika menjadi orangtua akan bersikap lebih keras agar anak-anak menjadi orang yang kuat.

3. Mengambil sisi baik gaya mendidik warisan orangtua

Tipe cara penyikapan yang ketiga adalah mengambil sisi baik gaya mendidik ala orangtua kita. Tentu dalam setiap diri dan apa yang dilakukan oleh orang lain pasti ada sisi baik yang bisa diambil. Termasuk dalam hal ini adalah gaya atau cara mendidik anak yang dilakukan oleh orangtua kita. Nah memang cara yang terbaik menyikapi gaya mendidik warisan orangtua adalah dengan mengambil sisi baiknya dan menghindari sisi buruknya. Kita bisa mengambil cara-cara atau metode apa saja sih yang baik dari orangtua kita untuk kemudian kita terapkan kepada anak-anak kita. Misalnya orangtua kita mendidik dengan lemah lembut, jauh dari kekerasan maka kita perlu untuk meniru hal tersebut. Kemudian kita juga harus menghindari cara-cara yang tidak baik. Semisal orangtua mendidik dengan sangat keras atau justru malah tidak disiplin maka kita perlu menolak hal tersebut.

Dengan banyak belajar maka insya Allah kita akan lebih tahu bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak. Mengambil yang baik dari orangtua maupun lingkungan merupakan salah satu cara belajar kita. Mari kita nikmati peran sebagai orangtua. Butuh kesabaran? Itu pasti. Butuh perjuangan? Sudah barang tentu. Mudah? Tidak juga. Sulit? Bisa dibuat mudah juga kok. So… selamat menikmati..

Merayu Batita Agar Mau Mandi

Memandikan anak yang masih berusia batita (bawah tiga tahun) ternyata gampang-gampang susah. Tidak serta merta ketika kita ingin memandikan, mereka dengan segera dan sukarela untuk mandi. Terkadang butuh waktu yang lama dan perlu pendekatan (rayuan) agar mereka mau mandi. Hal ini disebabkan beberapa hal.

Yang pertama, mereka belum tahu apa itu manfaat mandi. Berbeda dengan kita orang dewasa yang merasa tak nyaman ketika badan kotor dan bau, batita belum menyadari hal tersebut. Bagaimanapun kondisi badannya, mau bersih mau kotor tetap merasa nyaman-nyaman saja. Dengan pemahaman yang seperti itu wajar kiranya jika merekapun tidak segera mau mandi, lha wong masih nyaman-nyaman saja kok.

Yang kedua, batita biasanya sangat menikmati apa yang sedang dilakukan. Apalagi jika sedang bermain, maka tidak mau jika dipaksa untuk melakukan hal yang lain, kecuali hal itu lebih mengasyikkan daripada permainan yang sedang dilakukan. Nah karena hal inilah kita sebagai orang tua harus pandai-pandai ‘mencari akal’ agar batita mau beralih aktifitas.

Yang ketiga, jika batita pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika mandi maka ketika diajak mandi pastinya tidak mau. Batita lebih cepat menanam memori di pikirannya sehingga ketika ada memori buruk maka dia akan taruma dengan hal serupa. Tentu kita pernah mengetahui ada seseorang yang trauma dengan sesuatu dikarenakan semasa kecilnya mempunyai pengalaman buruk mengenai sesuatu itu. Semisal, ada orang yang sangat takut berada di ketinggian karena semasa kecilnya pernah terjatuh saat naik tangga. Hal semacam ini akan lebih kuat terpatri di memori anak karena masa-masa batita adalah masa periode emas.

Nah lalu bagaimana caranya agar anak mau segera mandi? Ini beberapa tips yang mungkin bisa dipraktekkan.
1. Pembiasaan.
Anak terlahir bersih. Mau jadi apa anak kita tergantung bagaimana orangtuanya mengajari. Salah satu cara mengajari anak adalah dengan pembiasaan. Agar anak mudah untuk diajak mandi maka buatlah pembiasaan sejak kecil. Semisal tiap pagi jam 07.00 anak sudah dimandikan dan sore jam 16.00 juga sudah mandi. Maka biasanya anak akan sadar bahwa jam-jam tersebut waktunya mandi dan akan mudah jika disuruh mandi. Tapi tentu saja kita juga tidak boleh memaksakan jika anak sedang sakit sehingga tidak memungkinkan untuk mandi sepagi itu. Tetapi ketika anak dalam kondisi sehat maka pembiasaan itu perlu dilakukan secara disiplin.

2. Rayuan.
Tak jarang butuh rayuan agar anak mau mandi. Seperti yang dinyatakan diatas bahwa anak biasanya akan enjoy dengan apa yang sedang dilakukan, semisal bermain, dan akan sulit dialihkan perhatiannya. Salah satu cara agar perhatiannya teralihkan adalah dengan mengatakan ada hal yang menarik ketika mandi. Atau dengan mengajak bermain dengan mainan yang sedang dipegang tetapi dilakukan di kamar mandi. Sebagai contoh, jika si kecil sedang asyik bermain botol maka kita bisa katakan “ yuk botolnya diisi air, terus buat mengguyur perut.. byur byur byur… “ sambil menatap matanya dan dengan intonasi yang meyakinkan. Atau “ yuk main gelembung sabun lagi…ditiup lalu dor.. “ sambil memperagakan gaya meniup sabun dan gelembung meletus. Insya Allah anak akan lebih mudah diajak mandi.

3. Ajak dengan rayuan yang berbeda.
Adakalanya anak sudah tidak tertarik dengan rayuan yang kita berikan dikarenakan sudah terlalu sering dan bagi anak itu sudah tidak menarik lagi. Maka kita sebagai orangtua mesti pandai-pandai mencari rayuan baru yang lebih asyik dan menarik.

4. Konsisten dengan yang dirayukan.
Yang tidak kalah penting, kita harus konsisten dengan apa yang kita katakan. Ketika kita merayu dengan mengajak bermain sabun maka ketika anak sudah bersedia mandi maka kita harus bermain sabun. Dalam hemat saya, bahkan ketika anak lupa maka kita tetap memainkan sabun. Hal ini lebih kepada bagaimana mengajarkan konsistensi kepada anak. Jangan mentang-mentang anak sudah lupa maka kita tidak menepati janji. Padahal bisa saja anak ingat beberapa waktu kemudian dan minta main sabun. Kan malah lebih repot.

5. Beri pujian.
Jangan lupa memuji anak ketika dia sudah mau mandi semisal dengan mengatakan “ Wah anak bunda pintar sudah mau mandi.. “ Bisa juga ditambah dengan mereview lagi apa yang tadi dilakukan. “ Tadi main apa sayang? Main sabuun, main gelembung.. bunda tiup.. lalu.. dorrrr… “ Biasanya anak akan senang dengan hal tersebut. Juga hal ini mengajarkan kepada anak untuk mengingat apa yang sudah dilakukan. Kalau anak sudah bisa bicara biasanya akan nyambung-nyambung pembicaraan dengan orangtuanya.

Demikian cara yang bisa saya bagikan. Sangat mungkin sekali akan ada cara-cara lain karena setiap anak berbeda dan punya penanganan sendiri-sendiri. Tapi tentu kita sepakat bahwa mengajak anak dengan kelembutan jauh akan lebih efektif daripada dengan paksaan. Jika anak sulit diajak mandi, jangan salahkan mereka, tetapi salahkan orangtuanya yang tidak bisa memberikan alternatif hal yang lebih mengasyikkan dalam rutinitas bernama mandi.

// //