Bekerjaku Syukurku

Sukailah pekerjaanmu, apapun itu, kata orang. Sebagian bilang pilihlah pekerjaan di bidang yang kamu sukai. Namun apapun kondisinya, syukurilah pekerjaanmu. Karena betapa banyak orang yang menginginkan berada di posisimu. Di sisi lain bekerjalah sebagai tanda syukur. Bahwa engkau telah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk bekerja, mencari nafkah penghidupan. Maka bersyukurlah dengan senantiasa bekerja dengan baik. Iringi setiap pekerjaan dengan doa, bismillah.

Ayahku pahlawan keluargaku
Dengan bismillah ayahku bekerja
Setiap tetes keringatnya
Bagai mutiara
Ayahku pahlawan keluargaku

Demikian sebait lagu yang sering dinyanyikan oleh bidadari kecilku. Pengingat dan penyemangat setiap ayah dalam bekerja. Wahai ayah, bekerjalah. Karena melalui lelahmu, Allah menitipkan rejeki-Nya kepada keluargamu. Wahai ayah, bekerjalah. Karena lelah tubuhmu akan berbalas senyum bahagia keluargamu. Wahai ayah, bekerjalah sebagai tanda syukur.

Advertisements

Seuntai Doa Untuk Bidadariku

Mentari kemarin pagi tersaput mendung. Cericit pipit yang bertengger di dahan-dahan pohon, di antara pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh terdengar samar-samar. Seakan enggan mengabarkan hari itu. Dingin pagi itu mengabutkan udara yang semalaman menyelimuti peraduan. Sebuah pagi yang syahdu, mungkin bagi sebagian yang lain terasa kelu.

Namun ternyata suasana pagi itu terasa berbeda di wajahmu. Mungkin itu yang aku tahu. Tak sedikitpun mendung menghiasi wajahmu. Senyum manismu mengabarkan bahwa hari itu keceriaan meliputi dirimu. Dingin yang mengabut tak sedikitpun membuat kehangatan sikapmu memudar. Pagi itu benar-benar merona wajahmu yang ayu.

Sebuah kecupan kecil, ketika engkau tengah menyiapkan hidangan cinta untuk kami. Sebuah tanda yang mewakili berjuta kata. Bahwa kami mencintaimu. Tidakkah engkau rasakan tangan mungil itu menggenggam jemarimu, seakan ia mengatakan kepadamu. Bunda, barakallahu fi umrik.. Disertai untaian doa agar engkau senantiasa diberkahi oleh-Nya, selalu dalam lindungan dan ridho-Nya.

*teruntuk istriku yang kemarin berulangtahun, Ayah dan Aisha selalu mencintaimu.

Kisah Ayah dan Anak beserta Keledai

Kisah ini entah berasal darimana, yang pasti aku mendapatkannya ketika masih di Sekolah Dasar.

———–iIi————-

keledaiSuatu hari ada seorang ayah dan anaknya yang bepergian menuju ke pasar dengan menaiki keledai. Tujuannya untuk menjual keledai tersebut. Karena jaraknya yang cukup jauh diperlukan waktu hampir setengah hari.

Mereka membawa keledainya dengan dituntun. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang yang baru kembali dari pasar. Orang tersebut kemudian berkata “ Kenapa kalian capek-capek berjalan kaki. Bukankah keledai dapat dinaiki? Alangkah enaknya jika kalian naik saja keledai itu”

Mendengar perkataan itu, ayah dan anaknya kemudian menaiki keledai itu. Keledai itu ternyata tak cukup besar sehingga terlihat kepayahan. Tetapi karena lebih menghemat tenaga maka mereka tetap menaikinya.

Tak berapa lama, bertemulah mereka dengan penjual sayuran yang sedang menunggu pembeli memilih-milih sayurannya. Kemudian penjual sayuran itu melihat keledai yang kepayahan membawa ayah dan anaknya di punggungnya. “ Ah betapa kasihannya keledai itu, sudah badannya kecil dinaiki oleh ayah dan anaknya yang berat. Benar-benar tidak memiliki kepedulian kepada hewan.”

Mendengar perkataan tersebut, ayah dan anaknya turun dari keledai. Kemudian memutuskan bahwa sebaiknya satu orang saja yang menaiki keledai, satu orang yang menuntun keledai. Maka diputuskanlah anaknya yang naik keledai sementara ayahnya menuntun keledai.

Di tengah perjalanan, di sebuah persimpangan bertemulah mereka dengan penjual sapi dan anaknya. Si penjual sapi berceletuk “ Lihatlah nak, itu contoh anak yang tidak berbakti kepada orangtuanya. Sang ayah bercapek-capek sementara ia ber-enak-enak di atas keledai.”

Mendengar perkataan tersebut sang anak berkata kepada ayahnya “Yah sebaiknya ayah yang naik dan aku yang menuntun, aku tak mau dikatakan tidak berbakti.” Sang ayahpun menyetujuinya. Sekarang bergantian sang anak yang menuntun sementara sang ayah naik keledai.

Sepertiga jalan dari pasar, mereka bertemu dengan seorang kakek dan cucunya yang sedang berjalan-jalan. Sang kakek berkata “ Lihatlah cucuku, itulah contoh ayah yang tidak sayang kepada anaknya. Si anak bersusah payah berjalan sementara ayahnya naik keledai.”

Mendengar perkataan itu sang ayah menjadi merenung. Benar juga, pikirnya. Kemudian dia turun dan mengajak musyawarah anaknya. “ Nak kelihatannya kita sellau serba salah, kita tuntun keledai salah, naik berdua juga salah. Kamu yang naik, aku yang menuntun salah. Apalagi aku yang naik sementara kamu menuntun. Sebaiknya kita apakan keledai ini?”

Anaknya berpikir sejenak. “ Ayah bagaimana kalau kita pikul saja keledai ini. Siapa tahu memang itu cara terbaik.”

Sang ayah setuju. Kemudian mulai mengikat kaki keledai kemudian memanggul keledai itu bersama anaknya. Merasa sudah benar mereka dengan penuh percaya diri memasuki pasar. Tetapi banyak orang menertawakannya. Banyak yang bilang “ Keledai bisa berjalan sendiri kok dipanggul. Kan jadi memberatkan. Dasar orang yang aneh.”

Mendengar perkataan tersebut sang ayah kehabisan akal. Mau gimana lagi biar tidak salah membawa keledai itu.

————oOo————

Adakalanya kita tidak selalu harus mendengarkan perkataan orang lain yang selalu menyalahkan tindakan kita. Jika kita sudah mengambil keputusan yang dirasa tepat dan terbaik maka lakukanlah dan jangan hiraukan perkataan orang lain yang pada akhirnya akan melemahkan semangat kita. Meski begitu kritik dan saran orang lain perlu menjadi pertimbangan kita, tetapi tidak menjadi pengendali tindakan kita.