Kau Ditakdirkan Untukku…

Lama tidak bersentuhan dengan lagu-lagu islami, sekalinya ketemu dengan lagu ini yang entah kenapa langsung berkesan bagi saya. Awal pencarian iseng-iseng mengetik Edcoustic (secara lagu-lagunya sempat jadi teman mengerjakan skripsi dulu, apalagi yang Nantikanku di Batas Waktu.. hehe). Dan dengan kondisi yang sudah berbeda, agaknya lagu ini pas untuk mewakili ungkapan syukur karena telah dipertemukan dengannya. Seseorang yang telah  mengisi hati ini. Ini dia…

Terucap syukurku
aku memilihmu
tuk menjadi teman
hidup setia selamanya

Belahan hati ini
kini telah terisi
aku dan dirimu
mengikat janji bahagia

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
pegang tanganku
tataplah mataku
engkau ditakdirkan untukku

Ikatan suci ini
selalu kan ku jaga
meniti sakinah penuh kasih sayang
dan rahmat-Nya

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta
engkau ditakdirkan untuk-ku

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta engkau ditakdirkan untuk-ku

Lirik dan Lagu oleh – Inteam feat. Suhaimi & Aden Edcoustic

Link https://www.youtube.com/watch?v=BwR9oFngvXE

#challenge #2
#ODOP
#OneDayOnePost

Advertisements

Ketika hati ragu hendak memilih

Sebut saja namanya Budi, laki-laki 33 tahun. Melihat usianya yang sudah berkepala tiga memang sudah sepantasnya dia berumah tangga. Teman-teman sebayanya sebagian besar malah sudah punya anak, dua atau tiga. Sementara dia masih saja ‘menikmati’ status single-nya. Sudah berapa banyak teman dan relasi yang mencoba mengenalkan dengan perempuan, namun selalu saja berakhir tanpa berujung di pelaminan. Akibat sering gagal menjodohkan, sebagian besar temannya menganggap dia seorang yang terlalu pemilih, sulit untuk menemukan yang sesuai. Entah bagaimana kriteria yang diinginkannya. Perempuan yang cantik lagi sholihah pun sudah berapa banyak yang ditolaknya. Kalau ditanya jawabannya sama, belum jodoh, tidak cocok, belum waktunya.

Usut punya usut ternyata Budi memiliki hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Lita. Sudah beberapa tahun belakangan ini mereka saling menjajaki. Tak sadar benih-benih cinta muncul di hati keduanya. Namun mengapa tak juga berujung di pelaminan? Dalam ‘penjajakan’ tersebut terungkaplah kriteria ideal masing-masing tentang pasangannya. Dan Lita menurut Budi belum memenuhi kriteria ‘ideal’. Berjilbab, memiliki pemahaman agama yang baik dan bersikap dewasa. Sehingga sampai saat ini Budi masih berusaha untuk ‘mengubah’ Lita agar sesuai dengan kriterianya. Belum lagi kriteria-kriteria lain yang tidak begitu syar’i sebenarnya seperti apakah mau tinggal dengan mertua, apakah mau pindah kerja yang lebih dekat, bagaimana kalau belum memiliki rumah dan lain-lain.

Dalam pada itu ada seorang teman Budi yang ingin mengenalkannya dengan seorang perempuan. Sholihah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Pas dengan kriteria si Budi. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak. Namun apa daya, perjodohan kali inipun bernasib sama dengan sebelumnya. Padahal si perempuan sudah membuka pintu, sudah menyatakan bersedia bila itu memang yang terbaik. Ternyata hati si Budi masih belum bisa berpaling dari Lita yang beberapa tahun belakangan dekat dengannya. Di satu sisi Budi sudah ‘hampir’ menemukan sosok ideal untuk dijadikan istri andai dia mengiyakan. Namun di sisi lain hati Budi masih mengharapkan Lita bisa berubah sesuai dengan kriterianya. Dan akhirnya hati Budi terombang-ambing tidak jelas sementara usia terus bertambah. Dia pun semakin ragu bahwa dia akan menemukan sosok perempuan ideal dalam hidupnya.

Sepenggal cerita di atas merupakan contoh betapa dalam masalah jodohpun kita dituntut untuk tegas. Benar bahwa jodoh merupakan takdir, namun diantara kondisi tersebut ada peran kita dalam menentukan iya dan tidak. Seperti kasus Budi, ketegasan untuk memilih -antara menunggu Lita sampai ia berubah seperti keinginan Budi (yang entah sampai kapan) dan melupakan Lita untuk kemudian memilih perempuan yang sesuai kriterianya- menjadi kunci pokok masa depannya. Apakah akan tetap bertahan dengan Lita tanpa tahu kejelasannya atau memilih perempuan yang sesuai kriterianya (meski mungkin belum ada cinta)? Menurunkan kriteria bagi Lita bukanlah tipe Budi karena Budi adalah orang yang saklek dengan kriterianya. Namun berpaling dari Lita juga bukan pilihannya, berat rasanya. Jadi entah sampai kapan kisah Budi akan berakhir di pelaminan, hanya Allah yang tahu.

Sekali lagi memutuskan untuk menikah memerlukan ketegasan. Ketegasan yang disertai konsekuensi. Menikah yang didasari cinta sebelumnya memang lebih mudah, namun jangan sampai cinta menguasai idealisme kita. Jangan sampai terpekik semboyan ‘kalau tidak sama dia mending tidak (nikah) saja’. Biasanya cinta yang semacam ini sifatnya hanya sesaat, luapan perasaan sekali tempo. Menikahlah karena alasan-alasan logis. Oke.. dia sesuai yang aku inginkan, lamar dan nikahin saja. Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa? Kalau sudah jadi istri meski awalnya belum ada cinta, insya Allah cinta akan tumbuh seiring waktu kebersamaan. Kalau dalam posisi Budi, sebaiknya lupakan Lita dan pilihlah perempuan yang sesuai kriteria lalu nikah(i)lah.

love.jpg

S E N J A

Senja. Siapakah gerangan yang meragukan keindahannya? Siapakah dia yang tiada terpikat oleh jingganya? Senja selalu menawarkan eksotisme. Kita, aku dan kau, sepakat bahwa senja adalah momen terindah untuk melepas segala penat. Duduk di tepian sawah, bertatap dengan silau mentari sore, bersenandung gemerisik bulir-bulir padi yang mulai menguning. Dan kita duduk berdua saja di pematang. Tak ada seorangpun kan mengganggu. Kita begitu menghayati peran sebagai pencinta senja. Tak ada suara antara kita. Diam. Ya hanya diam. Masing-masing kita berbisik kepada jingga yang menjulurkan tangannya memeluk hati. Menyatukan bisik cinta di ujung kemilaunya.

Namun senja tak selalu secantik itu. Kala sendiri, senja justru menakutkanku. Senja selalu menjadi momok bagiku. Bagaimana tidak. Senja mulai merayuku. Kau tahu, tangan-tangan jingga yang menjulur itu tak sekedar memeluk hati. Ia ingin mencurinya dariku. Kemilau cahayanya tak sekedar menatapku. Ia ingin menghapus bayang wajahmu di sana. Bisik cinta di ujung kemilaunya tak lagi menyampaikan tutur katamu. Ia membisikkan dari hatinya sendiri. Kau tahu ia pernah bilang mencintaiku.

Aku takut bila harus menikmati senja sendirian. Aku butuh dirimu, setidaknya agar hatiku tak dicuri. Dan sebagai hadiahnya tentu kau tidak keberatan kan bila namamu aku ukir dalam hatiku. Ya hanya sebagai penanda bahwa kau yang telah menyelamatkan hatiku.

Continue reading

Bila harus berhenti mengharapkannya

Rasa ingin mencintai dan dicintai serta ingin memiliki merupakan fitrah setiap manusia.Tidak ada manusia yang tidak ingin dicintai begitu pula tidak ada manusia yang bisa terlepas dari rasa mencintai sesuatu. Hal ini adalah wajar saja ketika memang kita bisa me-manaje diri kita di dalam menghadapinya, sehingga jangan sampai berlebihan di dalam meluapkan rasa tersebut.Karena tidak sedikit manusia terjerumus ke dalam kehinaan karena terlalu berlebihan. Namun tidak juga kita lantas ( berusaha ) meniadakan rasa tersebut .Yang harus dilakukan adalah pertengahannya yaitu menjaga agar rasa itu tidak hilang dan menghindari agar tidak terlalu berlebihan.

” khoirul umuuri ausathuha”
sebaik-baik urusan adalah pertengahannya.

Tidak terlepas dari bagian rasa ini adalah kecenderungan terhadap lawan jenis. Malahan justru inilah yang terkadang membuat sebagian dari kita merasa kewalahan di dalam menghadapinya. Ada sebagian dari kita yang larut oleh rasa ini sehingga seolah-olah tujuan hidupnya hanya terisi oleh bagaimana meraih cinta dari yang diharapkannya. Mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah makan gak enak , tidurpun tak nyenyak selalu terbayang wajah sang kekasih tersayang.Lalu muncullah puisi puisi, nyanyian, syair untuk mengungkapkan rasa itu.

Memang ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengharapkannya untuk juga mencintai kita. Dan itulah sesuatu yang terkadang kita lupa bahwa ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan sangat bergantung kepadanya sehingga seolah-olah kita menjadi tawanannya .Bagaimana tidak , ketika kita mencintai seseorang maka kita rela untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan kita lakukan untuk orang lain. Benarlah ” man ahabba syaiaan fahuwa asiirulah” Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi tawanannya.

Namun kadangkala kenyataan tak seindah harapan. Terkadang kita harus kecewa karena apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan.Ketika kita melamarnya ternyata kita tidak diterima. Namun ini lebih jelas keadaannya meskipun menyakitkan memang. Namun ada yang juga tidak kalah menyedihkan ketika kita tidak tahu apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Ini akan menimbulkan efek yang tidak bisa dipandang enteng.Kita akan selalu dihantui pertanyaan yang tidak kunjung usai. Apakah dia juga mencintai saya? Sebenarnya ada jalan keluar yang dijamin dapat menyelesaikan apa yang selalu menjadi pertanyaan kita. Yaitu menanyakan kepada yang bersangkutan baik secara langsung maupun melalui perantara. Namun kiranya tak semudah yang kita bayangkan. Ada konsekuensi lanjutan terhadap jawaban atas pertanyaan itu.

 

Seandainya memang diterima lantas apakah cukup sampai disitu saja. Untuk selanjutnya tidak melakukan apa-apa. Sama sekali tidak. Kita harus siap untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kalau kita memang sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan,maka itu bukanlah sebuah persoalan besar. Atau kemungkinan kedua tidak diterima maka sudah siapkah kita menenangkan hati ini. Sungguh derita karena cinta ditolak itu sangat menyakitkan. Atau kemungkinan ketiga dia tidak memberikan jawaban apa-apa maka sudah siapkah kita untuk menjawab sendiri rasa penasaran kita. Sungguh kesemuanya memerlukan kesiapan jiwa kita.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika cinta itu datang dan kita belum siap untuk segala konsekuensinya? Sebenarnya di dalam setiap hal akan selalu ada konsekuensinya. Namun kita diberi pilihan untuk memilih solusi dengan konsekuensi yang terkecil.

Yang pertama kita harus segera mempersiapkan diri kita. Semakin cepat maka semakin baik. Namun ingat bahwa untuk merubah diri kita itu tidak cukup waktu satu dua jam , satu dua hari namun butuh waktu yang lebih dari itu. Mungkin selama masa pembentukan kesiapan itu kita terus merasakan ketidaknyamanan, ketidaktenangan dan sebagainya.

Pilihan kedua adalah berusaha untuk menghilangkan hati kita dari berharap padanya. Memang cara ini terkesan sulit untuk dipraktekkan. Namun bukan berarti yang sulit itu tidak bisa dilakukan. Memang ini butuh energi ekstra dan rasa sakit ketika kita harus melupakan dirinya dari hati kita. Namun ini memerlukan waktu yang lebih cepat daripada pilihan pertama tadi. Namun bukan berarti kita tidak menerimanya ketika memang dia dapat menerima kita. Yang kita lakukan adalah menjauhkan harapan kita terhadapnya, sehingga ketika memang dia tidak dapat mendampingi kita maka kita dapat dengan rela mengatakan ” berarti dia bukan jodohku” , dan bila ternyata dia bersedia menjadi pendamping kita maka kita dapat berucap syukur sambil tersenyum ” Ya Alloh inilah karunia yang terbaik dari Sisi-Mu untukku”. Jadi mau pilih yang mana?

#glesek-glesek file 08 september 2008
edited

‘Ana Uhibbuki Fillah…’ ???

Mungkin sebagian dari kita tidak familiar dengan kalimat tersebut. Kalimat tersebut kurang lebih bermakna Aku Mencintaimu (perempuan) karena Allah. Dengan demikian jelas kepada siapa kalimat ini diucapkan, yaitu kepada perempuan. Perempuan mana yang dimaksud? Bisa itu kepada ibu, istri, saudara kandung yang perempuan atau kepada teman perempuan. Tentu saja kepada ibu atau saudara perempuan bisa diucapkan oleh siapa saja baik laki-laki atau perempuan. Kepada istri hanya boleh diucapkan oleh sang suami. Tetapi jika itu ditujukan kepada teman perempuan maka tidak lain tidak bukan hanya boleh diucapkan oleh perempuan saja. Laki-laki tidak boleh. Lho kok tidak boleh? Bukankah ini perwujudan cinta karena Allah? Continue reading

Seuntai Doa Untuk Bidadariku

Mentari kemarin pagi tersaput mendung. Cericit pipit yang bertengger di dahan-dahan pohon, di antara pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh terdengar samar-samar. Seakan enggan mengabarkan hari itu. Dingin pagi itu mengabutkan udara yang semalaman menyelimuti peraduan. Sebuah pagi yang syahdu, mungkin bagi sebagian yang lain terasa kelu.

Namun ternyata suasana pagi itu terasa berbeda di wajahmu. Mungkin itu yang aku tahu. Tak sedikitpun mendung menghiasi wajahmu. Senyum manismu mengabarkan bahwa hari itu keceriaan meliputi dirimu. Dingin yang mengabut tak sedikitpun membuat kehangatan sikapmu memudar. Pagi itu benar-benar merona wajahmu yang ayu.

Sebuah kecupan kecil, ketika engkau tengah menyiapkan hidangan cinta untuk kami. Sebuah tanda yang mewakili berjuta kata. Bahwa kami mencintaimu. Tidakkah engkau rasakan tangan mungil itu menggenggam jemarimu, seakan ia mengatakan kepadamu. Bunda, barakallahu fi umrik.. Disertai untaian doa agar engkau senantiasa diberkahi oleh-Nya, selalu dalam lindungan dan ridho-Nya.

*teruntuk istriku yang kemarin berulangtahun, Ayah dan Aisha selalu mencintaimu.