Mendewasa Bersamamu

Seringkali saya membaca entah itu status di FB, twit dari teman atau status WhatsApp yang menuliskan kalimat “Menua Bersamamu”. Yang tentu maksudnya adalah memiliki seorang pendamping hidup yang akan selalu bersama sampai tua. Menjalani segala liku hidup bersama dalam suka dan duka.

Namun saya merasa bahwa kalimat “menua bersamamu” belumlah merupakan tujuan atau harapan ideal bagi kita yang mendamba pendamping hidup sejati. Ada harapan yang menurut saya jauh lebih baik yaitu “mendewasa bersamamu”. Ketika kita bicara tentang “menua bersamamu” maka ukurannya adalah usia. Ya, tua adalah bicara tentang banyaknya usia kita. Kita tentu paham bahwa usia adalah sesuatu yang diberikan (given) oleh Allah swt. Setiap kita sudah punya jatah sendiri-sendiri, meski kita tak tahu sampai kapan. Sebagaimana usia yang merupakan sesuatu yang given, tua juga merupakan sesuatu yang pasti (jika Allah berkehendak memanjangkan usia kita). Jika demikian mengapa kita mengharap sesuatu yang sudah pasti kita dapatkan (jika Allah memberikan usia panjang) ?

Tentu kita pernah mendengar kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Nah sebenarnya dari sinilah saya menemukan kalimat “mendewasa bersamamu”. Saya memilih kata ‘mendewasa’ karena dengan menikah dan memiliki pendamping hidup maka proses menuju kedewasaan itu semakin baik. Dari pasangan, kita bisa belajar bagaimana menjadi dewasa. Bagimana menyikapi perbedaan diantara kita, bagaimana harus mengalah, bagaimana mengelola suasana hati dan masih banyak lagi. Dan ini tidak kita dapatkan secara gratis, atau dalam bahasa lain tidak given melainkan kita perlu belajar dan senantiasa berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Maka dari itulah ‘mendewasa bersamamu’ memiliki makna bahwa bersama pasangan kita menuju pribadi yang semakin baik.

Dewasa itu berarti kita mampu menahan diri
Dewasa itu berarti kita mampu memahami
Dewasa itu berarti kita memberi empati
Dewasa itu berarti kita peduli

Dewasa itu bukan ‘pokoknya begini’
Dewasa itu bukan ‘kamu tak boleh begini’
Dewasa itu bukan pengekangan
Dewasa itu pilihan

Advertisements

Semuda Apapun, seorang GURU wajib bersikap dewasa

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai kedewasaan. Bahwa kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang. Boleh jadi ada seseorang yang dari segi usia masih relatif muda tetapi ia bisa bersikap lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya. Meskipun kedewasaan tidak ada kaitan dengan usia dalam artian tidak linear, tetapi menurut saya ada salah satu profesi yang mana mau tidak mau harus bisa bersikap dewasa seberapapun usianya. Salah satunya adalah profesi GURU.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, perlu kita sepakati bahwa yang akan kita bahas adalah mengenai sikap dan pola pikir seseorang guru bukan bagaimana metode ia mengajar. Sebagai contoh sebagai metode mengajar, seorang guru TK memang harus bertingkah seperti anak-anak agar dapat menyampaikan ilmu dengan baik. Kita kadang merasa geli juga melihat tingkah laku guru yang meniru gaya anak-anak. Tetapi kita sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa guru tersebut tidak bersikap dewasa. Ini yang saya maksud bahwa yang kita bahas lebih kepada sikap dan pola pikir tadi.

Guru adalah profesi yang mulia karena guru bertugas mengajarkan ilmu kepada siswanya dan juga yang tidak kalah penting harus bisa menjadi contoh teladan bagi siswanya selain juga berperan sebagai orangtua di sekolah. Kita masih ingat hal tersebut bukan? Guru berperan sebagai orangtua di sekolah yang artinya guru mesti bersikap sebagaimana orangtua dalam mendidik anak. Seberapa mudanya guru tersebut harus bisa bersikap demikian.

Tetapi kiranya untuk jaman sekarang, profesi guru agaknya mulai mengalami penyempitan tugas. Kalau dulu guru bertugas sebagai pengajar dan pendidik, agaknya tugas sebagai pendidik ini mulai dilupakan. Guru hanya bertugas menyampaikan ilmu saja. Mengenai pendidikan akhlak dan budi pekerti itu diserahkan kepada masing-masing anak. Dalam pikiran saya, seorang guru itu tetap menjadi panutan dan teladan dimanapun ia berada. Baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang guru harus menunjukkan sikap yang baik. Seorang guru yang bijaksana, dewasa dan ngemong harus selalu dijaga. Ini semata-mata agar pendidikan berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin akan menjadi suatu pendidikan jika di sekolah bu guru dan siswa perempuan wajib memakai jilbab, tetapi ketika diluar sekolah bu guru malah berpakaian terbuka. Atau pak guru yang menyampaikan bahwa siswa dilarang merokok tetapi kenyataannya pak gurunya saja merokok di luar sekolah. Bukankah pendidikan berbasis teladan akan lebih mengena bila dibandingkan dengan yang hanya sekedar bicara.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan istri saya, lebih tepatnya mendengar curhat yang ia dapat dari siswanya yang curhat. Bahwa ternyata ada sebagian guru di sekolah yang menurut siswa istri saya tersebut kurang bersikap dewasa dan masih kekanak-kanakan. Apa pasal?

Siswa ini pernah menyampaikan bahwa ada guru yang suka membicarakan kejelekan seorang siswa (menunjuk nama, tidak sekedar inisial) di kelas lain. Begitu juga ketika mendapat gosip dari suatu kelas maka dibicarakan di kelas lain. Hal ini menurut saya bukan sikap dewasa seorang guru. Bagaimana mungkin sebagai orangtua malah membicarakan kejelekan seorang anak kepada anak-anak yang lain? Bukankah justru sebagai guru bisa menyikapi dengan lebih baik. Jika melihat kejelekan pada siswanya ya lebih baik mendiskusikan dengan yang bersangkutan secara personal. Apa sebabnya siswa berlaku demikian, kesepakatan apa yang harus menjadi solusi? Bukan malah mengobral di depan siswa lain.

Kemudian pernah juga seorang siswa yang mengajukan beasiswa tidak mampu, tetapi begitu menyerahkan formulir malah ditanya dengan ketus oleh guru. “ Kok kamu mengajukan beasiswa tidak mampu? Kan kamu sekolah naik motor?”. Padahal setelah curhat dengan istri saya, anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang memang tidak mampu. Ayahnya sudah meninggal semenjak kecil dan hanya bergantung pada ibunya. Motorpun juga hanya punya satu, itupun harus bergantian dengan kakak-kakaknya. Belum lagi karena keterbatasan ekonomi adik yang kecil dititipkan panti asuhan. Bukankah seharusnya guru melakukan klarifikasi dengan lebih santun. Kalau perlu diajak bicara alasan apa yang membuatnya mengajukan beasiswa tidak mampu sehingga akan lebih bisa memandang permasalahan dengan lebih luas dan bijaksana.

Dan masih banyak cerita mengenai bagaimana ada beberapa guru yang menunjukkan sikap yang kurang bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Ini mengenai hubungan guru dengan siswanya. Ada lagi beberapa sikap yang juga tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang guru. Kita perlu tekankan bahwa ini adalah profesi guru yang tugasnya mengajar dan mendidik. Diceritakan bahwa ada seorang guru yang sering menulis status mengenai apapun yang ia lakukan. Dia sedang beraktifitas apapun, ketika mendapat jam tangan mahal dari ayahnya, sedang merasa capek dan masih banyak yang lain. Intinya eksis di medsos. Kita tentu sepakat bahwa hak setiap orang mau menulis apapun di medsos-nya. Tapi ketika dibenturkan dengan profesi guru yang mana dia harus menjadi panutan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah maka tentu ada sedikit kekhawatiran mengenai hal ini. Bagaimanapun juga siswa akan mengetahui status guru tersebut dan pasti ada penilaian tersendiri mengenai guru tersebut. Jika ternyata guru tersebut tak lebih dewasa dari siswanya bagaimana bisa guru tersebut disegani oleh murid-muridnya. Bagaimana ia bisa mendidik murid-muridnya. Belum lagi foto-foto ‘selfie’ yang dipajang di medsos-nya. Sekali lagi bahwa siswa akan melihat bagaimana sikap guru ketika di luar sekolah. Memang kita boleh mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan kita, tetapi sekali lagi sebagai seorang guru wajib menjaga diri agar tetap menjadi panutan siswanya. Bukankah lebih elok menulis status yang mengajarkan kebaikan, memberi motivasi dan mencerahkan. Akan lebih elok memajang foto-foto yang biasa saja, bukan selfie atau narsis.

Sebagai guru juga seseorang dituntut untuk bisa menjadi tempat curhat siswanya. Tempat curhat yang bisa dipercaya dan juga bisa memberi solusi. Memang tidak semua guru bisa mengambil peran ini. Butuh waktu ekstra, tenaga ekstra dan perhatian yang ekstra. Tapi memang baiknya guru mengenal murid secara lebih mendalam termasuk keluarga murid tersebut dan latar belakangnya sehingga akan terhindar dari pandangan yang sempit. Dan dengan mengenal murid lebih mendalam akan lebih mendekatkan guru dan murid secara personal sehingga proses pendidikan juga berjalan dengan efektif dan efisien.

Sudah Dewasakah Aku?

Ada yang mengatakan bahwa kedewasaan seseorang tidak terkait dengan usia. Artinya ada orang yang usianya sudah tua tetapi kalah dewasa dengan yang masih muda. Misal ada anak kuliahan yang tingkat kedewasaannya justru di bawah anak yang masih berseragam putih abu-abu. Ada anak kecil yang ternyata kedewasaannya melebihi usianya. Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi terletak pada sejauh mana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2000, Faktor-faktor yang mempengaruhi Kematangan Emosi, para. 1), antara lain:

a Pola asuh orang tua

Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalaman berinteraksi dalam keluarga ini akan menentukan pula pola perilaku anak. Biasanya anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan orang tua yang sering memanjakannya akan lebih lambat dewasa. Sebaliknya pola pengasuhan yang relatif lebih disiplin akan lebih membuat seorang anak bisa bersikap dewasa.

b.Pengalaman traumatik

Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Kejadian-kejadian traumatis dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga.

c.Temperamen

Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional seseorang. Pada tahap tertentu masing-masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, dimana temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia. Bagaimana seseorang mengelola suasana hati ini menjadi salah satu tolok ukur tentang tingkat kedewasaan seseorang. Tentu kita akan mengatakan ‘terlalu kekanak-kanakan’ terhadap seseorang yang selalu marah-marah ketika menghadapi persoalan dan justru melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Dalam pikiran kita bahwa orang tersebut belum bisa mengelola suasana hati.

d. Jenis kelamin

Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya. Umumnya wanita dikatakan akan lebih cepat dewasa dibandingkan pria. Coba kita lihat saja, anak-anak perempuan setingkat SLTP akan jauh terlihat dewasa daripada teman-teman laki-lakinya. Semakin bertambah usia maka tingkat kedewasaannya semakin berjarak. Maka tak heran jika dalam memilih pasanganpun umumnya akan wanita akan memilih pria dengan jarak usia 4-6 tahun di atasnya. Karena dianggap bahwa dengan jarak tersebut tingkat kematangan emosi antara pria dan wanita bisa seimbang.

e. Usia

Meskipun dikatakan bahwa usia tidak berkaitan langsung dengan tingkat kedewasaan tetapi perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usia, hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Jadi hal ini sebenarnya tetap ada korelasi dengan apa yang dinyatakan oleh Marc & Angel (2007) tersebut. Memang benar bahwa tingkat kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang, tetapi tentu kita juga setuju bahwa bagi seseorang pertambahan usia juga diikuti oleh perkembangan kematangan emosinya. Seseorang yang berusia 25 tahun pastinya akan jauh lebih bisa bersikap dewasa bila dibandingkan ketika ia masih berusia 15 tahun. Tetapi ketika membandingkan antar personal maka di sinilah inti apa yang kita bahas. Bahwa seseorang yang berusia 25 tahun, misalnya, boleh jadi tidak lebih dewasa dari orang lain yang mungkin usianya baru menginjak 20 tahun.

Tingkat kedewasaan seseorang memang tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja. Tetapi hampir melibatkan semua faktor di atas. Misalkan pada poin 4 disebutkan bahwa wanita cenderung lebih cepat dewasa daripada pria. Tetapi pada kenyataannya kita juga menjumpai seorang wanita usia 25 tahun tetapi tingkat kedewasaannya setara dengan pria yang berusia 20 tahun. Maka bisa jadi pola asuh orangtua atau lingkungan tempat tinggalnya yang lebih berpengaruh.

Lalu bagaimana sih seseroang itu dikatakan dewasa? Ciri-cirinya seperti apa saja? Berikut ini pemikiran dari Marc & Angel (2007) tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.

  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan birahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan

Nah demikian pembahasan kita mengenai Kedewasaan. Yang pasti kedewasaan itu perlu kita miliki sebagai seorang manusia agar bisa menjalani hidup dengan baik. Secara umum bahwa kedewasaan itu lebih terkait kepada sikap kita dalam menghadapi sesuatu baik itu berupa manusia ataupun permasalahan.

 

 

 

 

Jodoh dan kedewasaan

Jodoh. Hmmmmm… Jodoh adalah masalah yang serius hampir bagi setiap orang. Tapi terutama bagi para Muslimah. Bagaimana tidak, kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Entah itu dari dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitar. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Yah meskipun ada juga muslimah yang kalau menurut hitungan umum harusnya sudah menikah tapi berhubung memang belum pengen, jadi masih betah menyendiri. Dan semuanya memang tergantung individunya masing-masing. Dan yang pasti bahwa kita tidak boleh menyalahkan mereka yang masih tetap setia menyendiri meski usianya mungkin sudah memenuhi ( karena pasti ada alasan tersendiri.. )

Kalo dari sudut pandang laki-laki memang lebih nyantai. Semisal ada laki-laki yang berumur 35 keatas tapi belum menikah. Maka secara umum dalam menanggapi tidak seheboh kalau yang belum menikah itu wanita. Masyarakat paling-paling cuma komentar “kok belum nyari pendamping to?”. Mereka jarang yang usil dengan pertanyaan macem-macem atau dugaan buruk lainnya.

Jodoh..Serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Dan pastinya bikin was-was bagi sebagian orang. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal dan menyenangkan tentang kehidupan rumah tangga ( seperti yang banyak disampaikan lewat buku-buku yang menyerukan untuk nikah dini…., padahal Rasulullah aja gak nikah dini..).Dari hal tersebut otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Permasalahan bermula.

Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Apalagi seperti diketahui bahwa setiap orang cenderung untuk meninggikan kriteria seiring pertambahan usia sampai pada titik usia tertentu. Namun setelah melewati batas tersebut biasanya akan banting harga alias menurunkan kriteria. Kalo wanita mulai dari usia 19 sampai 28 cenderung akan menaikkan kriteria. Makanya ketika ada laki-laki yang menghendaki mereka, maka harus siap dengan jawaban dari pertanyaan ” Emangnya Lu siapa berani berani meminang gue?”…hehehe ..ni hanya ektrimnya saja. Saya kira gak semuanya begitu..

Kalo laki-laki kira-kira usia 21 sampai 30 tahun adalah masa dimana kriteria itu akan menaik..bagi yang masih usia 21-23 tahun biasanya kriterianya belum tinggi-tinggi, mengingat bekal mereka juga belum cukup untuk bisa mendapatkan wanita yang berkriteria tinggi..hehehhe…yah sadar diri lah… namun seiring perkembangan usia sampai 30 mereka juga akan meninggikan kriteria.. mereka siap untuk mengatakan ” Nih gue” dengan kepercayaan diri yang bagus ( tapi bukan bermaksud sombong lho…)

Pada masa-masa tersebut orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan ( cantik ato tampan ), berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua terpandang, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Hmmmmm….Atau jawaban lain yang kelihatannya sederhana tetapi sebenarnya gak beda jauh. ” Kalo saya sih yang penting kepribadiannya ( rumah pribadi, mobil pribadi , tabungan pribadi dan barang milik pribadi lainnya) dan wibawanya ( wi bawa mobil, wi bawa HP keren, wi bawa Motor mahal dan wi wi yang lain)” hehehe……

Memang, ada juga jawaban lain yang terkesan lebih bijaksana, “Kalo saya mah tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih /sholihah saja.”Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika masa-masa keemasannya mulai pudar, gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun yang menyangkal, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul) entah itu fisik maupun rohaniahnya. Namun jika melihat ke masyarakat umum faktor fisik memang lebih dominan untuk menentukan apakah orang tersebut banyak peminatnya atau tidak.. semakin banyak peminatnya semakin besar peluangnya..meski gak semuanya seperti itu sih…

Tapi bagi sebagian orang memang rohaniah yang utama..Syukur-syukur ditunjang fisik yang baik.. Hal inilah yang sempat menjadi perbedaan pendapat antara dua orang sahabat…mau yang 10/8 atau 8/10?…Yang satu  bersikukuh dengan 10/8 dengan argumennya yang bisa diterima sedangkan sahabat satunya cenderung ke 8/10 yang juga punya argumen yang kuat.. Boleh lah kita menentukan penilaian seperti itu tapi perlu juga ditanyakan pada diri kita “emange modal saya berapa?”

Memperhitungkan kriteria calon memang harus sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Justru orang-orang yang menginginkan kriteria tinggi mereka akan semakin sulit peluangnya untuk mendapat jodoh mengingat semakin tinggi kriteria maka semakin sedikit orang yang masuk. Namun juga jangan diobral…terlalu mudah menerima orang, termasuk yang gak jelas kualitasnya…yang baik adalah yang pertengahan..

Tapi ada hal yang perlu diperhatikan. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka dan pemahaman kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Ya…tergantung kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka membayangkan kehidupan rumah tangga itu indah dan menyenangkan..(memang orang-orang yang membuat buku tentang indahnya menikah seharusnya berkewajiban menyampaikan perjuangan dan permasalahan dalam rumah tangga..jadinya adil.. Jangan sampai kita hanya disuguhkan tentang indahnya sesuatu , padahal tak selamanya sesuatu itu indah melulu..dan ketika kita menghadapi yang buruk kita jadi gak siap…dan malah menimbulkan penyesalan..)

Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat, karena kita hanya hidup untuk diri kita tetapi juga yang menjadi bagian diri kita yaitu pasangan kita. Jika seseorang masih sendiri, lalu dibuai penyakit malas dan manja, lantas kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh.
Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan, tanpa harus diminta sampai berdarah-darah. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Ingatlah bahwa Alloh lebih mengetahui seberapa kesiapan kita. Alloh tahu yang terbaik bagi kita..

Ketika kita belum menemukan jodoh, berarti memang oleh Alloh kita dianggap belum mampu, kita belum siap..Dan sudah menjadi fitrah kita untuk mempersiapkan diri…Namun yang perlu juga diperhatikan bahwa usia tidak menentukan tingkat kesiapan / kedewasaan kita…Belum tentu yang usianya lebih tua dia lebih dewasa dari yang muda… meski memang kebanyakan seperti itu..Dan juga bahwa terkadang kita harus nekad… dalam artian bahwa ketika kita sudah merasa mampu maka harus nekad…karena kalau ditanya siap atau enggak kemungkinan sih gak bakal siap-siap….Kita harus menjemputnya…jangan pernah seratus persen mengamalkan semboyan ” Toh jodoh di tangan Tuhan.” emangsih bener semboyan itu..cuman kalo kita gak berusaha meraihnya takutnya sampai kita tua jodoh itu tetep di tangan Tuhan selamanya…kapan dapetnya kita?
Tapi terlepas dari itu semua yang pasti adalah bahwa bagi yang belum mendapat jodoh ( kayak penulise ini ) maka jangan patah semangat untuk memperbaiki diri dan mengasah kedewasaan diri…

Saudaraku, Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a’lam bisshawaab.
(kolaborasi dari berbagai sumber |repost 14 Januari 2010)

Masalah ada untuk mendewasakan kita

problemsMasalah. Setiap orang pasti punya. Entah itu masalah yang ringan atau masalah yang berat. Masalah memang akan senantiasa menghinggapi pohon kehidupan kita. Semakin tinggi pohon kehidupan kita ( semakin bertambah usia) semakin kompleks masalah yang kita hadapi.

Masalah kehidupan yang bermacam-macam mungkin saja akan dialami oleh beberapa orang yang berbeda. Contohnya saja masalah kekurangan harta (baca kemiskinan). Masih banyak orang-orang miskin di sekitar kita. Namun akan kita jumpai berbagai cara berbeda antara orang-orang tersebut dalam mengatasi permasalahan itu. Ada yang menjadi pemulung, ada yang menjadi pengemis, ada yang rela makan sehari satu kali dan masih ada lagi. Satu masalah yang sama tetapi bisa memunculkan cara untuk mengatasi yang berbeda-beda. Cara yang berbeda itu sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan lingkungan sekitar.

Masalah ada bukan tanpa maksud dan tujuan. Allah memberikan ujian kepada manusia yang salah satunya berupa masalah tentu ada maksud dan tujuannya. Salah satu nya adalah untuk mendewasakan kita. Masalah hadir dalam kehidupan kita untuk membantu kita, melecutkan potensi yang ada. Dengan adanya masalah maka manusia menjadi berpikir bagaimana mengatasi masalah tersebut. Hasil pemikiran tersebut lantas diaplikasikan lalu dilihat hasilnya. Ketika berhasil maka itu menjadi suatu tambahan pengalaman bagi yang bersangkutan.

Masalah kadang diberikan kepada manusia agar manusia tersadar kembali, ingat kembali kepada Sang Pemberi Hidup. Bahwa Allah sangat rindu bila ada hamba yang memohon penuh harap kepada-Nya. Bukankah ketika ada masalah maka kebanyakan kita menjadi ingat kepada Sang Maha Pencipta? Jika demikian adanya maka dalam menyikapi suatu masalah maka pertama-tama yang kita lakukan adalah memohon ampunan kepada Allah. Boleh jadi masalah itu muncul karena banyaknya dosa kita. Kemudian kita mohon petunjuk Allah bagaimana kita harus berbuat, karena tiadalah yang sanggup menolong kita selain Allah SWT. Kalaupun nantinya ada orang lain yang membantu kita, itu adalah seseorang yang memang Allah kirim sebagai jawaban atas masalah kita.

Yuk kita sikapi setiap masalah yang ada sebagai sebuah tantangan, yang mana ketika kita berhasil melaluinya maka naiklah kita satu tingkat lebih tinggi. Anggap masalah sebagai sebuah seni yang perlu penyelesaian yang berseni pula. Mudah? Tentu saja tidak. Tak pernah ada dalam ‘kamus masalah’ bahwa perkataan lebih mudah dari perbuatan. Tapi tentu saja jika kita ingin naik tingkat kita harus berhasil melaluinya. Tetap berjalan pada koridor yang diperbolehkan oleh Allah.

(Turi, 13 Desember 2013)