Jangan Hanya Sisa-sisa

Tamparan hati bisa datang dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Saat mendapatkan hal itu, syukurilah bahwa Allah masih sayang kita. Allah sedang memberikan nasehat kepada kita. Seperti pagi kemarin. Ceritanya sepulang dari upacara rutin tanggal 17, saya ndilalah barengan dengan pak Suhadi di parkiran kantor. Kebetulan semalam ada miscall dari beliau via WA ya akhirnya saya tanya saja.

” Tadi malam ada apa e pak kok miscall saya? ”

” Gak ada apa-apa, cuma kepencet. Lagi bersihin chat di WA yang terlalu penuh. Nah pas itu kepencet nomere mas Arif ”

” Oh.. saya kira ada apa. Kebetulan pas jam segitu saya baru ngaji.. ”

” Ngaji? Dah jam setengah 10 malam lho..”

” Maksud saya ngaji tadarus pak.. Baca Kahfi.. Lha saya sempatnya jam segitu e..”

” Lho untuk urusan akhirat tuh jangan sempatnya, tapi diluangkan waktu untuk tadarus.. Jangan hanya sisa-sisa waktu..”

Jleb… Plak-plak-plak… Keras sekali tamparan itu, menghunjam sekali nasehat itu. Memang benar untuk urusan akhirat (salah satunya tadarus, baca Quran) seharusnya kita menentukan waktu rutin dalam 24 jam kehidupan kita. Terserah mau ambil pagi, siang, malam atau kapanpun. Namun seringkali kita punya alibi, alasan yang selalu menjadi pembenaran untuk tidak ada waktu bagi urusan akhirat. Entah sibuk dengan pekerjaan sehingga terlalu lelah, atau terlalu banyak waktu bermain dengan anak-anak sehingga lupa untuk melakukan aktifitas ukhrowi.

Ya Allah… Semakin sadar bahwa dalam keseharianku ini, waktu untuk mengingat-Mu hanyalah sisa-sisa waktu setelah jenuh untuk urusan dunia. Sementara urusan dunia ini tidak akan berguna saat bertemu dengan-Mu jika tidak mendukung urusan akhirat. Sudah semestinya fokus kita adalah akhirat, insya Allah dunia mengikuti. Ibarat menanam padi, pasti ilalang tumbuh. Tapi jika menanam ilalang, jangan harap padi kan tumbuh. Kalau fokus ke akhirat insya Allah dunia mengikuti, tapi kalau sebaliknya fokus ke dunia maka pastilah akhiratnya terlalaikan. Naudzubillah.

 

Advertisements

Jangan…

Jangan pernah
bermain hati
Jangan pernah
bermain api

Hati itu rapuh
saat lembut itu menyentuh
Tapi hati bisa membata
bila ia dibuat luka

Jangan pernah
memantik percik
Jika tak siap
dengan ricik

Hati ibarat kerontang
setitik percik dapat membakar
Bila ia sudah mengabu
tiada guna segayung banyu

Jangan pernah
menumbuh rasa
Jika tak siap
menjaga segenap jiwa

 

@sudut BLK
langit mendung, tanpa senyuman

Tamparan Hati

Jumat, 13 Januari 2017. Tepat sepuluh hari sejak tanggal 03 (sebuah tanggal yang spesial di setiap bulannya bagi saya) Januari. Rehat sejenak selepas kerja bakti di kantor. Haus yang sangat memaksaku membeli Evita 3 botol. Kebetulan ada dua rekan kerja bakti  lagi yang satu grup denganku.

Sambil duduk berselonjor kaki, kusodorkan sebotol kepada seorang rekan yang tak lama lagi pensiun.

Wah nembe poso e mas” (wah lagi puasa mas-terj.) jawabnya.

Poso nopo pak?” (puasa apa pak?-terj.) tanyaku.

Poso ndawud mas” (puasa daud mas-terj.) jawabnya.

Deg. Puasa daud? Puasa sunnah yang paling utama. Puasa selang seling, sehari puasa, sehari tidak . Terkejut. Sungguh terkejut, beneran.

Mpun dangu pak?” (sudah lama pak?-terj.) tanyaku.

Yo wis ket 2014 mas.. dadi entheng awakke.. mundhak semangat le sholat bengi, ora keri le sholat wajib neng mesjid.. jam setengah telu ki mesthi wis tangi.. sholat tahajjud.. kabehe dadi berkah mas..” ( Ya sejak 2014 mas.. jadi ringan badannya.. tambah semangat sholat malamnya, tidak ketinggalan sholat wajib di masjid.. jam setengah tiga pasti sudah bangun.. sholat tahjjud.. semuanya jadi serba berkah mas..-terj.) jawab beliau.

Plak!!! Hati ini serasa tertampar. Seakan ada yang berkata kepadaku: Lihat!!! Lihat !!! Sosok di sebelahmu itu. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk tahu keutamaan puasa daud. Lihat dirimu, senin-kamis saja acapkali lewat. Puasa 3 hari tiap bulannya boro-boro inget. Lalu apa yang mau kamu banggain di hadapan Allah? Sholat malam saja entah berapa kali sebulan. Padahal kamu sudah tahu keutamaan semuanya itu. Nyesek dengernya.. Suara hatiku itu memang selalu begitu. Tak pernah pandang kondisiku. Nyeplos sekenanya begitu ada yang perlu disampaikan. Tapi bersyukurlah masih ada dia yang mengingatkanku. Alhamdulillah…

Benarlah bila ada yang mengatakan beragama itu awalnya ilmu sebagai dasarnya, tapi kemudian amal yang menjadikannya bermakna. Apa guna ilmu banyak kalau tidak diamalkan. Lebih mending ilmu cukup lalu diamalkan sebisa mungkin.

Ya Allah.. terimakasih untuk pelajaran, untuk tamparan yang engkau tunjukkan pagi itu. Semoga bisa menginspirasiku untuk menjadi lebih baik lagi. Lakukan amal sekuat tenaga, sebisa mungkin asal ada dasarnya. Terimakasih pak Warindi, semoga Allah memberkahi beliau.

S E N J A

Senja. Siapakah gerangan yang meragukan keindahannya? Siapakah dia yang tiada terpikat oleh jingganya? Senja selalu menawarkan eksotisme. Kita, aku dan kau, sepakat bahwa senja adalah momen terindah untuk melepas segala penat. Duduk di tepian sawah, bertatap dengan silau mentari sore, bersenandung gemerisik bulir-bulir padi yang mulai menguning. Dan kita duduk berdua saja di pematang. Tak ada seorangpun kan mengganggu. Kita begitu menghayati peran sebagai pencinta senja. Tak ada suara antara kita. Diam. Ya hanya diam. Masing-masing kita berbisik kepada jingga yang menjulurkan tangannya memeluk hati. Menyatukan bisik cinta di ujung kemilaunya.

Namun senja tak selalu secantik itu. Kala sendiri, senja justru menakutkanku. Senja selalu menjadi momok bagiku. Bagaimana tidak. Senja mulai merayuku. Kau tahu, tangan-tangan jingga yang menjulur itu tak sekedar memeluk hati. Ia ingin mencurinya dariku. Kemilau cahayanya tak sekedar menatapku. Ia ingin menghapus bayang wajahmu di sana. Bisik cinta di ujung kemilaunya tak lagi menyampaikan tutur katamu. Ia membisikkan dari hatinya sendiri. Kau tahu ia pernah bilang mencintaiku.

Aku takut bila harus menikmati senja sendirian. Aku butuh dirimu, setidaknya agar hatiku tak dicuri. Dan sebagai hadiahnya tentu kau tidak keberatan kan bila namamu aku ukir dalam hatiku. Ya hanya sebagai penanda bahwa kau yang telah menyelamatkan hatiku.

Continue reading

Apalah Arti Memberi Sebuah Nama…

Hadirnya buah hati tentu menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua. Apalagi bagi mereka yang tlah menunggu begitu lama, tentu merupakan suatu kebahagiaan yang berlipat-lipat tatkala Allah mengkaruniakan amanah berupa anak. Menyambut kehadiran sang buah hati, para orangtua biasanya telah mempersiapkan segalanya semenjak belum lahir. Mulai dari keperluan bayi sampai hal yang paling pokok yaitu memberikan nama. Bahkan saking pentingnya nama, para orangtua berusaha sedapat mungkin memberikan nama yang terbaik. Mulai dari minta pendapat orang sekitar, kyai, ustadz atau dengan mencari di kamus nama-nama indah.

Sebagai orangtua, salah satu kewajiban pertama ketika bayi lahir adalah memberikan nama. Memberi nama bukanlah suatu hal gampang, namun juga tidak perlu dipersulit. Berikanlah nama yang baik dan panggilan yang baik. Karena nama juga berarti doa atau harapan. Dengan memberikan nama yang baik, harapannya anak tersebut akan menjadi anak yang baik sesuai makna yang terkandung di dalamnya.

Namun memberi nama saja tidak cukup. Memberi nama yang baik hanya merupakan langkah awal, selanjutnya orangtua wajib mendidik anak dengan baik sehingga nantinya nama yang baik itu juga akan menjelma menjadi pribadi yang baik juga. Apalah arti memberi sebuah nama jika akhirnya tidak ada upaya merealisasikanya.

Mari para orang tua, ketika kita dengan senang hati merangkai kata-kata indah sehingga menjadi sebuah nama yang baik maka begitu pula kita mendidiknya. Lakukan dengan senang hati, disertai kesabaran dan kesungguhan, insya Allah nantinya anak-anak akan menjadi penyejuk mata baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Dasar Pemalas !!!

“Dasar Pemalas !!!! ” teriaknya kepadaku.
“Ah kayak kamu enggak malas juga !!!” kubalas teriakan itu.
Malas sekali menanggapi kata-katanya yang hampir tiap hari disuapkan padaku. Kadang kesal juga mendengar ocehannya yang tak kunjung berganti topik. Tapi bagaimana lagi, ada manfaatnya juga aku berkawan dengan dia. Dengannya aku menjadi lebih terkontrol meski tak jarang sih aku sesekali membohonginya..xixixixi. “Rasain Lu….” umpatku dalam hati. Tapi seakan tanpa diberitahu, selalu saja ia tahu. Ah menyebalkan, jangan-jangan dia punya intel dimana-mana..Huh…

Kalau sudah begitu tak ada cara lain. Untuk membungkam suaranya cuma satu cara. Melakukan kebalikan dari perkataannya.. Memang dia itu agak cerewet kalau menyangkut hal-hal yang gak baik. “Ah sok baik Lu…” ejekku suatu ketika saat ia terlalu banyak ngomel. Dan seperti biasanya ia menanggapi dengan senyum. Hah menyebalkan.  Tanggapan yang bagiku lebih terkesan mencibirku. “Oke oke aku tuh emang pemalas, malasnya minta ampuuuun…so what gitu Loh?” kesabaranku tak kuasa lagi membendung luapan emosi.

“Aha….” jawabnya sambil cengar cengir gak jelas..Matanya menggambarkan semacam kemenangan kayak nelayan dapat ikan. Ah ekspresi ini sudah berapa kali kulihat, aku sudah jengah menghitungnya. Dan selalu berujung satu statement “menyebalkan”… Secara tidak langsung di telah meng-KO diriku dengan pukulan yang telak meski sedikit meleset..Hahaha selalu saja kuanggap seperti itu. Tapi tetap saja aku kalah.. Huh…

” Nah begini saudaraku…” dia mulai membuka sesi ceramah ala ustadz yang sok kenal sok akrab.. “Siapa pula kamu, mengaku saudaraku ” gumamku dalam hati.. Dia itu bukannya jelek atau apa, tapi bagiku dia itu sosok yang perfeksionis. Nah aku yang kadang berseberangan dengannya ibarat seperti air sumur dan air got.. Tahu sendiri kan aku orangnya suka celelekan ( bahasa jawa : sembrono ). Nah kalau ketemu dia yang perfeksionis pasti akan muncul percik-percik peperangan. Dan andai aku tidak mengalah pastilah pertempuran sengit akan terjadi. “Baiklah daripada kelamaan, mending aku fokus mendengarkan ocehannya yang aku rasa sama saja, itu-itu aja…Tapi sok dekatnya itu lho yang bikin gimanaaa gitu… huaaaaaaahh..” gumamku dalan hati.

“Ingat pemalas itu seperti orang yang tidur di rel-kereta. Ia akan terlindas oleh kereta yang lewat karena ia tidak segera menghindar.” Nah benerkan, cerita kereta ini emang sudah berkali-kali ia lontarkan..Mana menjelang romadhon tiket kereta sudah habis lagi.. Tapi untung sudah beli..

” Pemalas berarti memboroskan waktu dengan sia-sia, padahal banyak banget yang bisa dilakukan. Sayangnya waktu gak bisa diberikan atau diminta dari orang lain. Jadi gak ad atuh ceritanya orang jual waktu.So kita bisa beli kapanpun kita mau.. Kalo waktu bisa diberikan, kan kita bisa sedekah waktu biar dipake mereka yang kekurangan waktu. Tapi gak bisa bro.. tiap orang ya punya jatah waktu 24 jam sehari semalam. Mau dipake serius ya segitu, mau dipakai main-main ya segitu..”  Aku tersenyum lucu..ah baru kali ini dia pake bahasa gak formal..biasanya formal banget..kayaknya dia dah stress, karena aku gak mempan pake bahasa formal. xixixixi….

” Nah dari yang 24 jam itu setiap detiknya adalah pertanggungjawaban di hadapan Allah. Orang yang rugi kalo hari ni sama kayak kemaren, palagi lebih jelek. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih baik, getting better gitu bro..Indikasinya salah satunya adalah memanfaatkan waktu dengan baik. Gak ada orang besar yang dulunya adalah pemalas..Mereka semua orang yang rajin..bahkan mereka kadang kurang waktu saking banyaknya tugas. Nah dari situ Lu harus jadi orang yang rajin, rajin menuhin kebutuhan dunia, rajin kuadrat ngejar akhirat. Ingat kalo kita berhenti kita akan dilindas kereta jaman. Kita jalan-pun masih bisa terlindas. Satu-satunya cara biar selamat yaaa harus lebih cepat daripada kereta.”

“Kalo alih jalur aja gimana..weekssss” cibirku menyadari kekurangan kalimatnya..

” Ow tidak bisa..”jawabnya..”kita cuma punya satu jalur waktu saja bro, gak ada yang lain..mau pindah, pindah ka mana atuh kang?”

” Owwww gitu ya…”gumamku. Logat sundanya benar-benar bikin ketawa. mending kalo nadanya orang sunda, ini mah katanya aja yang sunda, logatnya jawa aseli.

” Ni bro yang terakhir buat hari ini…kalo pengen maju..ni waktunya buat ngerubah diri. jadi orang yang rajin. gak ada kata terlambat bro, yang ada tinggal mau apa kagak. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan istiqomah….” penutup ceramahnya yang singkat itu. Selepas itu dia berlalu kembali ke rumahnya di dalam hatiku.

Bagaimanapun kadang aku risih dengan ocehannya. Tapi gimana lagi dia yang selalu mengingatkanku di kala salah. Tetap sabar menasehati meski berulang-ulang aku tak jua mengamalkan nasehatnya. Baru-baru ini dia menyinggung-nyinggung tentang taubat. Ah dia emang bagus kok, aku akui itu, cuma aku saja yang belum bisa mengikuti kata-katanya di dalam hatiku.

Nah setelah nasehatnya itu, kayaknya biar dia gak ngomel lagi, aku perlu merubah diri sedikit-demi sedikit. Gak ada salahnya dicoba, toh jadi pemalas juga gak ngasilin apa-apa. Hahahaha tetep motivasinya materi.. Ups jangan sampe dia tahu, soalnya pasti akan ceramah lagi soal keikhlasan. Tapi bilang dalam batin aja dah ketahuan..baiklah nyerah aja deh..

– Bandung, minggu pagi tujuh hari sebelum Ramadhan 1432 H
kode xxiv-vii-mmxi

…dan pada akhirnya semua mesti dipertanggungjawabkan…

percakapanWuih panjang nian judulnya e… hehehe… Mungkin judul terpanjang yang pernah saya bikin. Eh maaf kali ini mau nulis yang tanpa bercanda.  Ya mungkin out of my mainstream sih jadinya. Tapi ya gak papa lah ya..

 

Mengawali tahun baru 1435 H ini ada baiknya kita sejenak merenung, mengheningkan cipta dan merasai tubuh dan jiwa kita, menyepi.  Mari kita rasakan, betapa sesungguhnya diri ini lemah tiada berdaya di hadapan-Nya. Namun kebanyakan kita merasa yang paling gagah, paling unggul, paling serba diantara yang lain. Dalam pikir kita, dalam laku kita, dalam ucap kita terkadang terselip salah dan khilaf, justru bukan yang tiada kita sengaja.   Ada kesengajaan untuk melukai oranglain, membuat orang lain merasa terdzolimi.

Saya selalu terinspirasi oleh sebuah ayat inna sam’a wal bashara wal fu’aada kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’uulan. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.(QS. Al-Isra : 36). Mendengar ayat ini seakan hati ini dicambuk agar bangun dari kelalaian.  Betapa tidak, apa yang selama ini kita dengarkan, apa yang selama ini menjadi kenikmatan dalam pandangan dan apa yang terbetik dalam hati, yang selama ini kita anggap enteng, suatu hari nanti akan diminta pertanggung jawabannya.

Kemudian bila kita kembangkan lebih lanjut, termasuk apa yang kita tulis juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Tulisan-tulisan kita di media cetak, media elektronik, social media, sms-sms, WA dan masih banyak yang lain, semua akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau sudah begitu masihkah kita akan mengeluh melalui tulisan, apakah kita juga akan mencaci, memaki, mengumpat? Ketika nanti di hari dimana tiada lagi amal, yang tinggal hanyalah penghitungan dan kita diperlihatkan itu semua, akankah kita masih bisa berkelit?

Teknologi yang pesat memang membawa kemudahan di satu sisi. Tetapi juga melahirkan dilema di sisi yang lain.  Tiada mengikutinya maka akan terlindas jaman, mengikutinya tanpa kendali yang baik juga akan menghancurkan diri kita. Masih mending jika hanya menghancurkan di dunia, tetapi akan ironis sekali ketika justru akan menghancurkan diri kita di akhirat nanti.

Yuk mari senantiasa kita bangkitkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya. Setiap kita akan melakukan sesuatu bersitkan dalam hati “… dan pada akhirnya semua mesti dipertanggungjawabkan…

Selamat Tahun Baru 1435 H, semoga semakin berkah dan semakin sholih (ah) dari waktu ke waktu.  🙂