Ketika iman naik dan turun

Sudah menjadi keniscayaan bagi kita sebagai manusia biasa bila iman kita naik turun. Kita bukan malaikat yang imannya stabil, tidak naik dan tidak turun. Kita bukan termasuk golongan nabi dan rasul yang imannya senantiasa naik. Pun kita masih jauh dari level para ulama yang imannya memiliki potensi untuk naik lebih besar daripada turunnya. Kita hanyalah manusia biasa yang imannya kadang naik, namun suatu masa akan turun. Yazzidu wa yanqus sudah menjadi sunatullah.

Ketika iman kita naik tak hanya sholat wajib yang kita kerjakan, berbagai sholat sunnahpun kita jalankan dengan ringan tanpa rasa berat sekalipun. Tak hanya banyak namun kualitas sholat kitapun bagus, khusyuk. Doa-doa di penghujung dzikir pun mengalun dengan indahnya, benar-benar berdialog dengan Allah. Namun tatkala iman sedang turun jangankan shalat sunnah, shalat wajib saja keteteran. Mendapati rakaat pertama sudah merupakan sebuah peningkatan yang signifikan. Lebih banyak kita mendapati rakaat-rakaat penghujung sholat. Sudah begitu khusyuk menjadi kondisi langka. Doa-doa pun mengalir sekenanya. Apa yang diminta pun seolah hanya kata tanpa jiwa.

Continue reading

Advertisements

Dan bahkan sebelum kita terlahir, takdir itu sudah tertulis.

Segala sesuatu itu sudah tertulis. Sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu pasti akan engkau dapatkan. Pun sesuatu yang Allah tetapkan bukan untukmu pasti juga tidak akan engkau dapatkan bagaimanapun engkau berusaha sekuat tenaga. Allah sudah merancang apa yang terbaik bagi kita. Apapun itu, entah itu menyenangkan atau justru sebaliknya hal yang membuat kita berdarah-darah. Memang kita sebagai manusia tiada mengetahui sedikitpun tentang apa yang tertulis dalam buku takdir kita. Untuk itulah kita mengupayakan suatu usaha. Kita mesti berusaha yang terbaik untuk kehidupan kita. Tentu saja terbaik menurut kita. Kita upayakan sebisa mungkin sebagai usaha kita sebagai manusia.

Nah soal hasilnya serahkan kepada Allah. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Ingat…, bisa jadi sesuatu itu baik menurut pandangan kita, tetapi ternyata dalam Ilmu Allah sesuatu yang kita pandang baik itu ternyata dapat menghancurkan kita. Maka karena kasih sayang Allah, kita dihindarkan dari hal tersebut. Lalu Allah ganti dengan yang lebih baik bagi kehidupan kita.

Memang perlu kita akui bahwa tidak mudah menerima sesuatu yang berbeda dari apa yang kita inginkan. Perlu kekuatan iman untuk bisa memahaminya, untuk bisa menerimanya dengan ikhlas dan mengambil hikmah, rahasia dan pelajaran dibalik hal tersebut. Sedih, kecewa, mungkin marah, itu hal yang wajar dalam hal kita sebagai manusia. Kitapun sesekali membutuhkan perasaan-perasaan itu. Kita butuh sedih agar kita mensyukuri kebahagiaan. Kita perlu kecewa agar kita berusaha untuk lebih baik. Tetapi yang perlu engkau ingat bahwa seberapapun sedihnya dirimu, sebetapapun kecewanya dirimu, jangan pernah tinggalkan Allah. Justru karena hal-hal itulah engaku seharusnya lebih mendekat kepada-Nya.

Ketika engkau bersedih, mohonlah pertolongan Allah. Ketika engkau kecewa, mohonlah kekuatan kepada Allah. Ketika engkau marah, ingatlah selalu Allah. Allah adalah tempat kita bergantung, Allah adalah tempat kita meminta. Berdoalah kepada Allah. Karena Allah menjamin bahwa “barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan.” Mungkin sebagian kita malu meminta kepada Allah. Kenapa mesti malu mengadukan segala keluh kesahmu. Mengapa mesti berat untuk mengakui segala kelemahan diri. Memang Allah Maha Tahu apa yang ada dalam hati kita. Bahkan apa yang masih terbetik dalam hati. Dan Allah-pun tahu apa yang kita inginkan. Tapi marilah kita sadari bahwa Allah sayang kepada hamba yang memohon pertolongan-Nya. Allah senang kepada hamba yang mengingat-Nya. Tidakkah kita akan bahagia jika Allah sayang kepada kita? Tidakkah kita senang jika Allah sayang kepada kita?

Kembali kepada bahwa semua yang terjadi kepada kita adalah takdir Allah, dan takdir Allah adalah yang terbaik bagi kita. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berusaha, selebihnya hak Allah untuk memberikan sekehendak-Nya. Syukurilah jika memang apa yang Allah berikan sesuai keinginan kita teriring doa agar senantiasa berlimpah berkah di dalamnya. Pun terimalah dengan ikhlas jika apa yang diberikan Allah bukanlah seperti apa yang kita minta teriring doa agar diberikan ganti yang lebih baik dan lebih berkah. Jangan lupa untuk senantiasa meminta keberkahan dalam segala hal. Karena dengan keberkahan maka hidup kita akan bahagia. Jika ada orang yang akan mendoakan kita mintalah mendoakan untuk keberkahan. Barakallah. Pun ketika kita mendoakan orang lain maka ucapan Barakallah sudah mencukupinya.

Dan akhirnya saya berharap bahwa kini engkau sudah menemukan setitik cahaya. Yang akan menuntunmu menuju sumber cahaya. Yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Saudaraku ingatlah Allah di setiap saat, hingga Allah-pun akan mengingatmu dalam segala keadaanmu. Mari kita senantiasa berdoa agar kita diangkat derajatnya oleh Allah. Semoga Allah meringankan kita dalam setiap tahap ujian kehidupan dan lulus dengan hasil yang memuaskan yaitu hamba yang beriman. Saudaraku inilah nasehatku kepadamu. Barakallah… 🙂

*nasehat seorang sahabat

Dan Syetan-pun Tertawa

Syetan memang telah berjanji kepada Alloh bahwa syetan akan mengajak sebanyak mungkin pengikut dari golongan manusia untuk masuk ke dalam neraka. Berbagai cara ditempuh syetan untuk bisa menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Ketika syetan berhasil memperdaya manusia sehingga manusia itu melanggar aturan-Nya maka ia akan tertawa. Ia merasa menang dan berhasil.

Suatu hari syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu  itu. Dulu ketika Engkau beri dia sehat, betapa bersyukurnya ia, rajin ke masjid, ibadahnya banyak,suka berbuat kebaikan. Namun kini ketika ia sakit, tak pernah terputus keluhan darinya.Hatinya jauh dari mengingat-Mu. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.” Malaikat Atid pun dengan berurai air mata mencatat keburukan hamba tersebut. Malaikat Rokib-pun tersedan menyaksikan.

Suatu hari yang lain syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau pertemukan ia dengan orang-orang yang lemah lagi miskin ia begitu bersyukur pada-Mu bahwa ia masih lebih beruntung daripada orang-orang yang lemah itu. Dia begitu rajin bersilaturahim demi menjaga kekuatan ukhuwah. Tak jarang di sebagian malamnya ia selalu berdoa pada-Mu untuk kebaikan saudara-saudaranya. Namun begitu ia Engkau kawankan dengan para pejabat, dengan orang-orang kaya, dia mulai menjauhi si lemah dan si miskin. Bahkan ia-pun merasa rendah jika harus berkawan dengan si lemah dan si miskin. Silaturahimnya telah berganti. Namun itu tidak tulus karena-Mu. Ada harapan-harapan duniawi, taktik-taktik politik yang kotor demi keuntungannya. bahkan dia-pun lupa mendoakan saudara-saudaranya. Jangankan mendoakan saudaranya, mendoakan dirinya saja ia lupa. Waktunya lebih banyak dihabiskan di cafe-cafe, hotel, bar, bioskop dan tempat hiburan lain.Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari yang lain lagi syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau beri dia kekurangan harta, ia selalu bersabar dan berusaha. Tiada putus ia mengharapkan belas kasih-Mu agar tercukupi kebutuhannya. Tapi begitu ia Engkau beri kelebihan rejeki, dia menjadi sombong, kikir tak mau bersedekah dan ia lupa bahwa semua Engkau yang memberikan. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari syetan lain berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau beri dia perasaan bodoh, ia menjadi haus akan ilmu,Banyak majelis ilmu ia datangi.Tak peduli seberapa jauhnya itu. Dia juga rajin membaca Al-Quran dan kitab-kitab masyhur. Dan dengan ijin-Mu ilmu dan hafalannya bertambah. Namun ya Robb saksikanlah, ia menjadi takabur. Ia merasa menjadi paling pintar. Dengan mudahnya ia menganggap oranglain salah dan dirinya paling benar.Padahal masih banyak orang yang jauh lebih alim, yang lebih fakih dan lebih tawadhu’ darinya. Rupanya sedikit tambahan ilmu tanpa disertai sikap tawadhu’ telah melalaikannya. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari syetan yang lain lagi berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika ia masih muda dan melajang dia begitu taat kepadamu. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk beribadah kepada-Mu. Bahkan dia begitu mendekatkan diri kepada-Mu agar mendapat jodoh yang sholehah. Kecintaan kepada-Mu terasa besar. Tapi kini ketika Engkau menganugerahinya istri dan anak-anak, dia menjadi agak menjauh darimu. Waktu untuk-Mu tersita untuk keluarganya. Kemudian aku hembuskan ke telinganya bahwa “kini engkau sudah menikah, maka bersenang-senang dengan keluargamu juga ibadah, bahkan ibadah yang utama.” Dan akhirnya ia tenggelam dalam urusan dunia dan keluarganya saja . Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Jika kita bisa mendengarkan tertawanya syetan dan apa yang (mungkin) ia katakan kepada Alloh maka bagaimanakah kita? Apakah rela kita menjadi bahan tertawaan syetan sementara di akhir nanti kita akan menangis? Atau kita akan membalik keadaan dengan membuat syetan menangis?

Syetan akan bahagia ketika kita berbuat dosa dan senantiasa berbuat dosa. Namun syetan akan menangis ketika hamba yang berbuat dosa tersebut kembali pada-Nya dengan bertaubat. Selagi masih ada waktu marilah kita bertaubat. Jangan mau menjadi bahan tertawaan syetan. Justru bikinlah syetan menangis, kurus badannya dan gelisah hidupnya. Syetan jelas ke neraka tujuannya, maka jangan sampai kita menjadi temannya di sana. Kita masih diberi pilihan, dermaga mana kita akan berlabuh. Hanya ada dua surga atau neraka.

* merenungkan apakah syetan mentertawakanku.

Ketika Langkah Kaki Tak Boleh Terhenti

Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian , di saat ia totalitas dalam berdoa tapi belum melihat pengaruh apapun dari doanya.
Ketika ia tetap tidak mengubah keinginan dan harapannya meski sebab-sebab untuk putus asa semakin kuat.
Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu yang lebih baik untuk dirinya (Ibnu Jauzi)

Jika duri tertancap di kaki
Bukan alasan untuk berhenti selamanya
Ambil duri yang menancap
Lalu mulailah melangkah lagi

Ketika langkah tertatih
menahan sakit dan perih
yakinlah bahwa itu bukanlah derita
melainkan sebagian cara-Nya mengajari kita

<mengapa harus bersedih, jika pilihan bahagia itu masih ada>

#repost postingan tertanggal 03 desember 2009

langkah kaki