Karena Anak Memang Rejeki

Pepatah Jawa mengatakan ” Banyak Anak, Banyak Rejeki”

Orang-orang jaman now kemudian ada yang membantahnya dengan alasan kalau bila banyak anak maka akan kesulitan ekonomi keluarga. Tapi bagi saya sendiri pepatah itu masih relevan. Kenapa? Karena anak itu sendiri adalah rejeki. Jadi logis bila anak bertambah maka rejeki bertambah. Dan Sang Pencipta juga sudah menjamin bahwa setiap makhluk yang hidup pasti dijamin rejekinya (makan dan kebutuhan lainnya). Jangankan manusia, hewan melatapun sudah dijamin rejekinya selama hidup.

Karena anak memang rejeki. Dan sebagaimana rejeki dimana setiap orang bisa jadi mendapat hasil yang berbeda meski dengan cara yang sama, maka demikian pula dengan anak.

Ada pasangan yang sama sekali tidak diberikan amanah berupa anak. Ada pula yang harus menunggu agak lama hingga Allah menitipkan amanah anak. Ada juga yang diberikan momongan dengan segera. Bahkan ada yang sampai tega menghilangkan rejeki itu karena dibuat dengan cara yang tidak halal.

Lalu karena anak adalah rejeki dan juga sekaligus amanah maka yang harus kita lakukan adalah senantiasa mensyukurinya. Kemudian tanggungjawab kita sebagai orang tua adalah mendidiknya baik  melalui contoh maupun pengajaran. Selalu ajarkan anak tentang kebaikan sekaligus sebagai orang tua harus bisa menjadi figur teladan. Sekolahkan anak sebagai bentuk wujud tanggungjawab kita untuk membekali dengan ilmu dan akhlak, bukan sebagai bentuk melarikan anak karena merasa kewalahan mendampingi aktifitasnya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa mensyukuri rejeki tersebut dan memberi kekuatan untuk menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Banyak anak, banyak rejeki. Insya Allah.

 

Advertisements

Tiga sarana meraih keluarga SAMARA

Keluarga SAMARA bukanlah sebuah kondisi yang dapat terwujud dalam semalam. Bukan sebagaimana dongeng-dongeng semasa kecil kita yang sering menceritakan betapa sesuatu yang besar terwujud sebelum ayam berkokok. Dan keluarga SAMARA juga tidak terwujud begitu saja dengan bersatunya insan yang memiliki kesholihan yang tinggi. Tetapi keluarga SAMARA merupakan sebuah keluarga yang terbentuk melalui sebuah proses. Peran kesholihan anggota keluarga adalah menjadi katalisator (pemercepat) proses terbentuknya keluarga SAMARA. Ketika setiap anggota keluarga menyadari peran dan tanggungjawab terhadap keluarga insya Allah keluarga SAMARA akan lebih cepat diraih.

Untuk meraih keluarga yang SAMARA setidaknya ada tiga hal yang mesti kita perhatikan diantaranya :

1. Menjaga Adab

Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal adanya adab-adab dalam masyarakat. Misalnya saling sapa antar tetangga ketika bertemu, berbicara dengan sopan kepada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, saling memberi sebagai hadiah tanda kasih sayang dan lain-lain. Dalam membina keluarga pun harus dilaksanakan adab-adab tersebut. Tidak hanya sekedarnya saja tetapi justru harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ambil contoh ketika bertemu dengan tetangga atau orang lain kita menebar senyum, maka terhadap keluarga harus lebih sering kita menebar senyum, bahkan tertawa bersama anggota keluarga dalam suasana riang gembira. Senantiasa kita usahakan bermuka manis terhadap anggota keluarga. Peluk dan cium pun perlu kiranya kita seringkan agar ikatan batin semakin terjaga.

Demikian juga adab-adab yang lain, perlu ditanamkan agar setiap anggota keluarga saling menghormati, saling menghargai, yang tua menyayangi yang muda, anak-anak menghormati orang tua. Sebaik-baik kita adalah yang paling baik terhadap keluarga. Jangan sampai kita bermuka manis, berperilaku lembut terhadap orang lain tetapi justru sering pasang muka masam ketika di rumah, berkata kasar dan mengumpat kepada anggota keluarga. Hendaklah apa yang kita perbuat baik ketika berhadapan dengan orang lain, kita lipatkan kebaikan tersebut ketika berhadapan dengan keluarga.

2. Saling Membantu

Salah satu kunci keluarga bahagia adalah adanya sikap saling membantu. Urusan dalam rumah tangga tidak lagi terbagi menjadi “ini urusanku” dan “itu urusanmu”. Tetapi hendaknya setiap anggota keluarga berusaha untuk meringankan beban anggota keluarga yang lain. Ketika istri sedang sibuk memasak, suami bisa membantu dengan mengasuh anak. Ketika suami sedang dikejar tugas kantor, istri dengan sukarela meng-handle semua tugas tanpa mengeluh atas ketidakterlibatan suami untuk membantu. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah membantu mengayak tepung untuk dimasak oleh istri beliau. Di sisi lain setiap angggota keluarga hendaknya juga memiliki kemandirian. Apa-apa yang bisa dikerjakan sendiri sebisa mungkin tidak melimpahkan kepada orang lain. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah menjahit baju sendiri.

Untuk itu ada baiknya setiap anggota keluarga saling berbagi pengetahuan, saling mengajarkan hal-hal yang tidak diketahui oleh anggota keluarga yang lain sehingga ketika suatu saat terjadi masalah teknis bisa diselesaikan sendiri. Misal ketika lampu mati, si istri bisa mengganti sendiri tanpa harus menunggu suami yang pulangnya malam. Atau ketika istri sedang ada keperluan seharian sehingga tidak sempat masak, suami bisa memasak untuk dirinya dan anak-anak. Saling mengajarkan keterampilan juga akan semakin mengakrabkan hubungan emosional antar anggota keluarga.

3. Menjaga Kehalalan Rezeki

Tidak dipungkiri bahwa rezeki yang cukup menjadi salah satu penopang kekuatan rumah tangga. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kefakiran lebih berpotensi mendekatkan kepada kekufuran. Untuk itu sebagai keluarga muslim yang mendambakan SAMARA maka rezeki yang cukup perlu diupayakan. Namun tidak asal cukup, tetapi perlu diperhatikan kehalalannya. Rezeki yang halal akan membawa barakah dalam hidup kita. Sebaliknya rezeki yang haram alih-alih membahagiakan, justru menambah sempit kehidupan. Lihat saja para koruptor, bolehlah hidupnya bergelimang harta namun dalam hatinya tidak merasa bahagia. Nah untuk itu perlu kita upayakan rezeki yang halal mulai dari cara memperolehnya sampai mengeluarkannya. Bukankah rezeki yang kita makan akan menjadi daging dalam tubuh kita.

Dengan mengupayakan ketiga hal di atas kita berharap semoga Allah mengkaruniakan keluarga SAMARA kepada kita. Sekali lagi bahwa keluarga SAMARA adalah keluarga yang terbentuk karena proses bukan kondisi yang dapat dicapai dalam semalam saja. Untuk itu kita harus senantiasa bersabar dalam menjalani setiap prosesnya dan nikmati saja.

Note: SAMARA singkatan dari Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Inspirasi : Kajian ahad pagi masjid Al-Furqon 13 Desember 2015 oleh ustadz Suparman, M.Si.

Pembahasan tulisan ini sudah selesai sampai di sini. Bagian setelah ini mencantumkan beberapa hadits terkait pembahasan di atas.

Continue reading

Profesionalisme : Antara Kepuasan Pelanggan dan Kepentingan Keluarga

Pernah suatu kali saya mencetakkan nota ke salah satu teman saya. Dalam perjanjian awal bahwa nota tersebut disepakati selesai hari Jumat. Pada Jumat yang disepakati saya menanyakan hal ihwal proses nota tersebut. tentu dalam harapan saya bahwa nota tersebut sudah jadi sesuai dengan kesepakatan. Namun ketika saya konfirmasi ternyata belum jadi, karena ada kerabatnya yang meninggal dunia sehingga focus mengurusi hal tersebut. Meski demikian teman saya bersedia untuk menyelesaikan segera dan diusahakan Sabtu sudah jadi. Sebagai pelanggan tentu saja saya kecewa. Meski hanya selang satu hari tetapi bisa memundurkan rencana-rencana yang sudah disusun.

Lain waktu dan sering saya alami yaitu ketika menggunakan jasa penjahit untuk membuatkan baju atau celana. Dalam hal ini saya selalu menanyakan kapan bisa diselesaikan, tentu karena tidak mendesak sehingga saya mempersilahkan tukang jahit menentukan tenggat waktu penyelesaian pesanan saya. Namun apa yang terjadi, ketika sampai tanggal yang dijanjikan ternyata belum jadi. Alasannya beragam, mulai dari ada acara keluarga yang butuh waktu berhari-hari, terlalu banyak yang harus dijahit, sakit dan lain sebagainya. Lagi-lagi saya sebagai pelanggan merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi. Masih banyak pengalaman tentang hal-hal bernada demikian. Kecewa karena pihak lain tidak menepati kesepakatan. Tentu kita akan menyebut bahwa mereka tidak profesional karena memenuhi salah satu diantara ciri perilaku tidak profesional yaitu tidak tepat sesuai kesepakatan (komitmen). Belum lagi bila ditambah dengan hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, maka sempurnalah sudah sebutan ‘tidak profesional’ tersebut.

Sebagai pelanggan kita tentu berharap bahwa apa yang telah menjadi kesepakatan kiranya dapat ditepati. Kita tidak mau tahu bagaimana kondisi pihak lain yang penting barang kita jadi. Entah itu ada acara keluarga, sedang bepergian atau hal lain itu merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pihak lain tersebut. Bukankah pelanggan adalah raja, yang harus diutamakan dibanding keperluan yang lain, demikian dalam benak sebagian kita. Apakah itu salah? Tidak juga, karena itu adalah hak kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan sebuah penilaian dan tindak lanjut. Ketika sudah menilai tidak profesional maka selanjutnya tidak akan pernah lagi datang ke tempat tersebut, lebih baik cari yang baru lagi.

Namun bagaimana jadinya bila suatu saat kita menjadi pihak yang dipergunakan jasanya? Ketika kita sudah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, sesuai kesepakatan, namun rupanya di tengah perjalanan ada hal-hal yang menyebabkan keterlambatan penyelesaian tugas. Tentu saja merupakan hal yang berat. Memberitahukan kepada pelanggan mengenai kenyataan ini (pekerjaan tidak selesai) merupakan perjuangan tersendiri. Ada reputasi yang dipertaruhkan di sana. Bila salah maka kredibilitas dan eksistensi usaha menjadi terancam. Setidaknya terancam kehilangan satu pelanggan. Dan yang ditakutkan bahwa pelanggan yang kecewa akan melakukan promosi negatif ke masyarakat.Mengingat resiko ini sudah seharusnya ketika kita terposisikan sebagai pihak yang digunakan jasanya untuk sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jika terpaksa belum selesai beritahukan kepada pelanggan dan berikan waktu kedua yang bisa ditepati. Dengan demikian pelanggan tidak begitu kecewa dan mau menunggu.

Memang ketika kita berbicara mengenai profesional, maka selalu ada hal yang dibenturkan. Yaitu antara menjaga profesionalisme dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau mengorbankan profesionalisme dengan menjaga kepentingan pribadi. Sebenarnya kalau terkait masalah pribadi saja masih banyak yang dengan mudah bisa melewatinya. tetapi banyak yang gagal jka yang menjadi faktor penghambat adalah keluarga. Untuk itu ada hal yang bisa kita lakukan yaitu dengan menyeimbangkannya. Pekerjaan bagaimanapun harus selesai tepat waktu sementara itu kepentingan keluarga juga terpenuhi. Hanya konsekuensinya adalah kita perlu mengorbankan waktu pribadi kita. Lembur menjadi pilihan yang tak terelakkan. Namun itulah hal yang mesti kita lakukan demi menjaga profesionalisme kita.

Jangan biarkan gadget merenggut aktifitas si kecil

Gadget sudah menjadi sebuah kebutuhan hampir bagi setiap orang. Bahkan banyak juga orang yang memiliki lebih dari satu gadget. Dulu mungkin kita tidak berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki ketergantungan terhadap sesuatu. Tetapi kini kita sepakat bahwa hampir setiap orang yang memiliki gadget menjadi kecanduan dan sangat tergantung dengan gadget. Jika dulu orang sangat khawatir jika dompet ketinggalan, maka sekarang orang akan sangat khawatir jika ketinggalan gadget. Seakan-akan gadget meenjelma menjadi separuh dirinya. Jika tidak ebrsama serasa ada yang kurang.

Kecanduan atau ketergantungan gadget ternyata tidak hanya menjangkiti orang yang sudah dewasa saja, yang sudah mampu membeli sendiri, tetapi juga menjangkiti anak-anak bahkan yang masih balita. Bagi sebagian orang tua mengenalkan gadget sejak dini bertujuan agar anak tidak ketinggalan jaman dan teknologi.Tetapi apakah hal ini tidak memiliki resiko bagi anak-anak kita?

Sebelum menjawab hal tersebut, ijinkan saya untuk menyampaikan bahwa apa yang saya sampaikan ini masih sebatas hipotesis yang saya ambil dari pengamatan yang ada di lingkungan sekitar. Belum menengok bukti empiris yang mungkin sudah dilakukan oleh orang lain.

Anak-anak yang kecanduan gadget menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan gadget entah itu belajar maupun bermain. Akibat hal ini adalah anak menjadi lebih sedikit melakukan aktifitas fisik dan interaksi sosial. Boleh jadi mereka berkumpul tetapi satu sama lain tidak ada interaksi karena asyik dengan gadget masing-masing. Otomatis tidak ada aktifitas fisik kecuali tarian jempol dan kedipan mata. Anak menjadi lebih pasif. Padahal dunia anak-anak membutuhkan eksplorasi yang luas. Tak seharusnya kesempatan menjelajah dunia dan mengenal kehidupan terampas oleh kehadiran gadget. Untuk itu sebagai orang tua atau orang yang dewasa sudah sepantasnya kita bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak-anak. Jangan sampai anak menjadi kecanduan. Tetap beri kesempatan dan kalau bisa suruh anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Beri batas waktu penggunaan gadget misalnya hanya boleh 15 menit sehari atau bisa juga hanya boleh di akhir pekan, itupun hanya beberapa waktu saja tidak dibiarkan sepuasnya.

Namun terkadang sebagai orangtua dengan segala kesibukannya lebih memilih anaknya ditemani oleh gadget daripada bermain dengan teman-temannya. Alasannya sederhana, asal anak tenang dan diam tetapi tetap terawasi karena hanya beraktifitas di dalam rumah. Diakui atau tidak, ikut bermain bersama anak membutuhkan energi dan waktu yang besar. Belum lagi masih banyak orangtua yang enggan dan malu jika terlihat bermain bersama anak-anaknya. Dan menganggap bahwa hal seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Nah perlu kita ubah pola pikir yang seperti ini. Bagaimanapun, mendidik anak merupakan tugas dan tanggungjawab orangtua, termasuk di dalamnya mengajak bermain. Lebih baik orangtua berlelah-lelah tetapi anak bisa memperoleh pengalaman yang banyak daripada melihat anak diam dan tenang dengan gadgetnya.

Apakah dengan bermain gadget anak tidak bisa belajar? Terlalu banyak aplikasi edukasi yang bisa dipasang di perangkat gadget. Dan saya percaya bahwa itu juga menjadi sarana belajar yang baik. Tetapi sekali lagi anak-anak butuh mengapresiasi dan mengaktualisasi diri mereka melalui kegiatan fisik. Anak-anak yang cenderung memiliki energi berlebih jangan sampai tidak tersalurkan hanya karena sibuk bermain gadget. Bermain gadget meskipun dapat meningkatkan kecerdasan (aplikasi edukasi) tetapi tidak dapat membantu anak-anak untuk menumbuh kembangkan kemampuan motoriknya. Kemampuan motorik hanya bisa dicapai dengan beraktifitas. Penyaluran energi yang berlebih hanya bisa melalui kegiatan yang menguras energi, bukan menguras pikiran. Apa hebatnya anak pintar tetapi fisiknya lemah? Padahal fisik yang kuat akan mampu menopang kecerdasan anak dengan lebih optimal. Untuk itu marilah kita sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa bisa mengarahkan anak-anak untuk seminimal mungkin bermain dengan gadget. Ajak anak-anak untuk melakukan aktifitas fisik lebih banyak. Jangan sungkan dan malu bermain bersama anak.

Maaf, “maaf” pun belum cukup!

Maaf. Betapa sebuah kata yang cukup singkat ini mampu memberi makna yang besar bagi sebuah hubungan antar manusia. Sebuah kata yang termasuk dalam tiga kata yang sulit diucapkan oleh manusia (maaf, tolong dan terima kasih -red). Kata yang mampu membuat kita harus melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita atau setidaknya tidak mengungkit-ungkit lagi. Ataupun kata yang membuat kita berharap agar orang lain melupakan kesalahan kita.

Maaf, sungguh kata yang mulia, bahkan orang yang minta maaf dan memberi maaf mendapat kebaikan dan pahala, meskipun derajat orang yang memberi maaf lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang meminta maaf. Ini berlaku bila pihak yang meminta maaf benar-benar melakukan kesalahan, bukan sebaliknya. Karena ada kasus dimana sebenarnya orang lain yang berbuat salah kepada kita, namun dia tidak mengakui dan menyadari sehingga dari pihak kitalah yang meminta maaf agar hubungan kembali baik. Bagi saya, barang siapa yang mengawali meminta maaf berarti dia ingin memperbaiki hubungan yang ada, meluruskan segala kesalahan yang ada. Tapi sayangnya di masyarakat kita, siapa yang meminta maaf duluan maka dialah yang dianggap bersalah. Mungkin karena inilah meminta maaf merupakan hal yang paling sulit dilakukan sebagian masyarakat kita.

Dalam banyak hal kata “maaf” mampu untuk meredam amarah pihak-pihak yang berselisih. Namun dalam beberapa hal tertentu kata “maaf” pun tak cukup. Teringat penggalan dialog sebuah drama asia ” kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi..”. Mungkin ada benarnya bahwa kadang “maaf” pun tak mampu menyelesaikan masalah.

Banyak hal terutama berkaitan dengan hati, sulit untuk diselesaikan hanya dengan dengan kata maaf. Semisal, ketika kita menyakiti hati teman kita, atau ketika kita berbuat buruk kepada tetangga atau bagi yang sudah berkeluarga membiarkan anggota keluarganya terlantar. Semua itu tak cukup dengan kata maaf tetapi harus diikuti dengan perubahan sikap. Ketika kita menyakiti hati seorang teman, maka mungkin pada saat kita minta maaf belum tentu langsung dimaafkan. Kadang kita harus menunggu beberapa waktu dan selama itu kita harus menunjukkan itikad baik bahwa kita sudah mulai berubah. Atau ketika tetangga kita merasa dizholimi oleh kelakuan buruk kita, maka maaf pun tak cukup. Kita harus mampu merubah sikap kita dengan nyata. Dalam kehidupan rumah tangga akan lebih jelas lagi. Seorang kepala keluarga yang tidak mau bekerja sehingga anggota keluarganya menjadi kelaparan dan kekurangan, apakah cukup dengan minta maaf maka semuanya akan tercukupi? Tentunya tidak. Lapar tak akan menjadi kenyang dengan kata maaf. Kebutuhan pakaian dan rumah tak akan terpenuhi hanya dengan kata maaf. Memang kesalahan dalam menjalani hidup ini tak semuanya bisa diselesaikan dengan kata maaf, terutama berkaitan dengan orang lain.

Lalu, bila ada orang bertanya “apakah kita tidak boleh berbuat salah?” Maka kita menjawab “memangnya bisa?”. Selama kita mejadi manusia maka kesalahan itu pasti ada. Bahkan kalaupun kita tidak berinteraksi dengan siapapun maka kesalahan terhadap orang lain pun tetap ada. Kok bisa? Bukanlah orang yang baik itu bukanlah semata-mata orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun justru orang yang baik adalah orang yang pernah melakukan kesalahan kemudian menyadarinya, meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sekali lagi, bahwa dalam beberapa hal tertentu kata maaf” belum cukup menyelesaikan masalah. Perlu kita iringi dengan perubahan sikap. Selamat berjuang saudaraku untuk mengejar maaf itu!!!Sejauh mana kau kejar maaf…Tak perlu malu untuk minta maaf dan jangan terlalu angkuh untuk tidak mau memberi maaf. Semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya.

Kerjasama Cinta (2)

Bagian kedua dalam membicarakan kerjasama cinta. Apa itu kerjasama cinta? Yaitu kerjasama yang apik nan cantik antara suami dan istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga mulai dari urusan kecil sampai urusan besar. Kerjasama cinta bukan berarti semua pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama, pun tidak mendikotomi (memisah-misah) pekerjaan secara tegas. Dalam kerjasama cinta semua pekerjaan adalah tanggung jawab bersama. Meskipun kita masih menganut dikotomi pekerjaan antara suami dan istri, tetapi hendaknya tidak berlaku kaku. Suami bertanggungjawab terhadap pekerjaan rumah yang berat-berat, sementara istri bertanggung jawab terhadap pekerjaan di dalam rumah. Tetapi hal itu tidak lantas membuat sekat yang jelas. Artinya , ketika istri mengerjakan tugas yang memang menjadi tanggung jawabnya , maka suami tidak lantas berdiam diri. Ketika istri terlihat kerepotan maka suami mau membantu.

Kerjasama cinta tidak saja akan membuat kedekatan antar keduanya semakin lekat, tetapi juga akan menampilkan harmonisasi dalam keluarga. Apalagi jika sudah memiliki anak maka keteladanan orangtua dalam bekerja sama akan membuat si anak mau dan suka membantu orang tua. Kerjasama ini tidak hanya berlaku dalam hal pekerjaan rumah saja. Bahkan yang lebih dari itu, misal dalam hal pengasuhan anak. Suami dan istri masing-masing punya peran yang penting. Kekompakan kedua orangtua akan mempermudah anak dalam mempelajari kehidupan. Sebagai contoh kecil, si ibu melarang anaknya makan mie instan. Namun ternyata si ayah justru membolehkan, lebih tidak elok lagi si ayah berpesan kepada si kecil untuk tidak bilang ke ibu kalau makan mie instan. Dari contoh kecil ini, maka akan muncul kebingungan dalam diri anak. Mana yang benar, ibunya atau ayahnya. Juga akan mengajarkan kepada si kecil untuk makan mie instan secara diam-diam, jangan sampai ketahuan ibunya. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kepada anak ketidak-kompakan kedua orangtuanya. Yang satu melarang hal yang disukai, yang satunya membolehkan. Nantinya ketika dewasa si anak akan cenderung berlindung kepada salah satu dari orangtuanya yang mendukung keinginannya. Selain itu, melakukan hal secara diam-diam mengajarkan untuk tidak jujur dan tidak terbuka. Nantinya ketika dewasa, sang anak akan melakukan hal-hal yang disukainya, meskipun terlarang, asalkan tidak ketahuan orang lain.

Dalam kerjasama cinta, yang menjadi tujuan utama bukanlah bagaimana agar pekerjaan menjadi lebih ringan, tetapi lebih dari itu adalah untuk meraih Ridha Allah. Bukankah saling membantu antara suami istri mengandung pahala di sana. Boleh jadi suatu saat istri membantu pekerjaan suami demi mengharap ridha Allah. Atau suatu saat lain sang suami membantu pekerjaan istri demi mendapat ridha Allah. Pun ketika tugas itu diambil alih sepenuhnya, maka tiada keluh kesah yang terucap karena menyadari bahwa hal itu termasuk ibadah dan mendapat ridha Allah. Kalau sudah demikian maka kita akan ringan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Tidak ada ceritanya, salah satu merasa lebih lelah dari yang lain. Atau melihat pasangan lebih santai dari kita. Ketika semua dikerjakan bersama-sama dan dilandasi oleh cinta yang bermuara kepada Allah SWT maka insya Allah menjalani kehidupan di dunia ini laksana surga yang diawalkan. Sedangkan nanti di akhirat tinggal melanjutkan surga yang telah dibangun di dunia, bahkan lebih indah lagi. Yuk kita praktekkan kerjasama cinta agar tercipta baiti jannati.

Merendahkan diri sendiri BOLEH, Merendahkan diri anak JANGAN

“ Adek kelas berapa? “ tanyaku pada seorang anak kecil, anak si tuan rumah.

“ Kelas satu om.. “ jawab sang tuan rumah membahasakan untuk anaknya.

“ Wah dah pinter nggambar apa? “ tanyaku lebih lanjut.

“ Nakal kok om… maunya main terus.. gak mau belajar.. kalo dikasih tahu ngeyel… “ lanjut sang tuan rumah yang juga merangkap sebagai ayah kandung si anak.

Sudah sering saya jumpai hal semacam ini. Ketika ada yang bertanya tentang anaknya, biasanya orang tua akan merendahkan diri si anak. Entah dengan mengatakan nakal, bodoh, ngeyel, sulit diatur dan kosakata yang berkonotasi negatif lainnya. Mungkin bagi si orangtua maksudnya untuk merendahkan diri agar tidak terkesan sombong. Tapi hal ini justru akan membawa efek negatif bagi si anak.

Kita secara pribadi memang terbiasa untuk merendahkan diri kita. Ketika ditanya “kerja dimana mas?” biasanya akan dijawab “ ah cuma buruh kok pak.. “. Padahal dia kerja di kantoran yang cukup elit. Tujuannya tentu agar tidak dikira sombong. Meski itu juga akan ada dampak negatifnya bagi kita sendiri, tapi okelah selama kita nyaman dengan hal tersebut maka tidak apa-apa, karena kita merendahkan diri kita sendiri. Tapi ketika kita merendahkan anak, maka ingatlah bahwa anak adalah manusia secara utuh tersendiri. Dia punya tubuh sendiri, punya perasaan sendiri, punya akal dan kemampuan sendiri. Memang benar ia adalah darang daging kita, tetapi dia juga diciptakan sebagai makhluk utuh tersendiri. Dan ketika kita menyadari hal ini sebaiknya juga kita memperlakukan anak sebagaimana memperlakukan seorang manusia.

Ketika kita merendahkan anak, hakikatnya kita merendahkan seorang manusia, meski ia masih kecil. Kita juga perlu memperhatikan sisi psikologisnya. Kita juga perlu menerapkan pada diri kita, bagaimana seandainya ada orang yang meremehkan kita, meski itu adalah orang tua kita sendiri. Apakah kita tidak tersinggung, malu dan tidak terima? Sama juga dengan anak. Bisa jadi ketika kita mengatakan dia nakal, bandel, ngeyel, malas dan sebagainya, dalam hatinya ada perasaan tidak senang, ada perasaan tidak suka. Apalagi anak biasanya akan melakukan apa yang menjadi penilaian orang lain. Ketika anak sering dikatakan nakal, maka secara alamiah anak akan selalu berlaku sedemikian agar tetap dikatakan nakal. Apalagi ketika ia berbuat baik saja masih dikatakan nakal, maka dia akan mengubah perilakunya menjadi benar-benar nakal. “Buat apa aku berbuat baik jika masih dikatakan nakal juga, mending sekalian aja berbuat jelek, toh sama-sama dikatakan nakal “.

Kalau kita percaya dengan kekuatan kata-kata positif yang membangun maka tidak sepantasnya kita merendahkan anak, meskipun itu anak kita sendiri. Anak juga perlu diberikan kata-kata positif agar dia selalu percaya diri untuk berbuat baik. Jadi ketika ada yang bertanya

“ Anaknya sudah pintar nggambar ya?”

Maka perlu kita jawab,

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu… “

Dengan kata-kata seperti ini anak akan merasa bahwa dirinya dihargai, hasil karyanya diakui dan tahu bahwa orang tuanya bangga dengan dia. Anak yang tumbuh dengan dukungan orangtua yang penuh, orang tua yang tidak pelit kata-kata positif maka akan berkembang menjadi anak dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dia akan jauh lebih unggul dibandingkan anak yang asupan hariannya adalah kata-kata negatif.

Kemudian kita juga perlu membantu orang tua manapun untuk memberikan kata-kata positif. Misalkan kita ambil percakapan tadi.

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu…”

Kemudian ketika kita lihat ternyata hasilnya sangat jelek ya kita tidak serta merta bilang “ Loh kok gambarnya kayak gini adek… masih jelek ini… “ Tetapi kita perlu mendukung perkataan orang tua dengan mengatakan “ Wah iya gambarnya bagus… “

Bahkan ketika orang tuanya bilang “ hasil gambarnya jelek kok om… “ maka kita perlu untuk tetap memberikan kata positif  “ Wah gambar ini bagus kok… adek pinter banget nggambarnya.. “

Jadi pastikan bahwa kita selalu memberikan kata-kata yang positif kepada anak agar ia tumbuh dan berkembang dengan baik, baik itu fisik terlebih lagi psikologisnya. Hindari kata-kata negatif, apalagi sampai men-cap anak dengan kata tersebut. Merendahkan diri sendiri BOLEH saja, tetapi merendahkan diri anak JANGAN.