Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya? Continue reading

Advertisements