Jangan Minta Cariin Jodoh Kalau Belum Niat

Judul ini bertahan hampir satu setengah tahun lamanya. Awalnya mau jadi ajang curahan kegemasan saya. Tapi urung dilakukan. Mungkin akan lebih baik bila ditahan dulu kegemasan saya itu daripada keluar tulisan yang kurang sedap dibaca.

Judul diatas mungkin bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain. Ya memang begitu adanya. Begini sejarahnya. Waktu itu berlandaskan niatan baik untuk menghubungkan teman-teman yang masih single maka kami berniat menjodohkan antara teman laki-laki dan perempuan. Awalnya saya sudah menanyakan ke pihak laki-laki (teman saya) serius atau tidak. Demi mengetahui kalau dia serius maka saya mantapkan diri untuk memprosesnya. Proses taaruf pun bermula.

Awal proses adalah nanting pihak perempuan, mau tidak kalau dicoba bantu cari jodoh. Kebetulan ada laki-laki yang siap. Dijawab olehnya mau. Yup gayung bersambut. Tahap pertama adalah bertukar biodata. Dan kami harus profesional bahwa biodata harus aman tanpa bocor informasinya ke pihak maisng-masing. Jelas sekali kami tidak berkepentingan untuk tahu isinya. Kami hanya sebagai penghubung, tidak lebih. Sempat kami tanyakan ke pihak perempuan bagaimana tanggapan awal setelah pertukaran itu. Dari pihak perempuan insya Allah lanjut. Alhamdulillah, demikian ucap kami saat itu. Gimana tidak, ganjalan atau kendala utama proses ta’aruf adalah bila pihak wanita tidak setuju lanjut.

Sampai saat itu saya yakin kalau ini bakal sukses mengingat pihak laki-laki pernah saya tanya bagaimana pendapat tentang perempuannya. Kebetulan pernah ketemu di apotek kami. Jadi jelas dalam pandangan kami pihak laki-laki tinggal menunggu kata iya dari pihak perempuan.

Waktu berlanjut. Setelah pertukaran biodata itu rupanya ada komunikasi antara mereka. Dan cukup kaget kami ketika tiba-tiba pihak perempuan membatalkan kemungkinan untuk lanjut. Telisik punya telisik, ternyata pihak laki-laki masih menunggu pihak lain perempuan). Sebenarnya saya juga pernah diceritai oleh teman saya itu bahwa saat ini masih menunggu kepastian dari temannya (masih ada kisah). Tapi saya juga sudah menanyakan keseriusan untuk proses taaruf ini yang tentunya dia juga sudah paham konsekuensinya.

Ya, pantesan saja pihak perempuan membatalkan. Memang harusnya diselesaikan dulu dengan yang masih berjalan. Kalau sudah jelas keputusannya, baru berproses dengan yang lain. Etikanya dalam proses taaruf, tidak seharusnya melakukan multiple ta’aruf. Selesaikan dahulu proses yang lebih awal sampai tuntas dan bila jelas tidak berhasil baru beralih ke proses berikutnya (yang lain).

Kami merasa dibohongi saja. Kalau tahu begitukan mending tidak usah kami bantu. Jelas itu artinya proses yang dibantu jalankan ini hanya sebagai pembanding saja. Atau lebih parah sebagai cadangan. Kalau dengan yang utama gagal, baru dengan yang ini. Kalau berhasil dengan yang utama maka jelas akan meninggalkan proses yang ini. Akhirnya saya ingin katakan saja Jangan minta cariin jodoh kalau belum niat.

Update, teman saya yang laki-laki alhamdulillah sudah menikah. Saya juga tidak tahu apakah dengan pilihan utamanya dulu atau juga nasibnya menerima yang cadangan. Sementara teman kami yang perempuan masih belum mengedarkan undangan. Namun dari kabar selentingan sudah ada jodohnya tinggal nunggu waktu.

Advertisements

Ketika hati ragu hendak memilih

Sebut saja namanya Budi, laki-laki 33 tahun. Melihat usianya yang sudah berkepala tiga memang sudah sepantasnya dia berumah tangga. Teman-teman sebayanya sebagian besar malah sudah punya anak, dua atau tiga. Sementara dia masih saja ‘menikmati’ status single-nya. Sudah berapa banyak teman dan relasi yang mencoba mengenalkan dengan perempuan, namun selalu saja berakhir tanpa berujung di pelaminan. Akibat sering gagal menjodohkan, sebagian besar temannya menganggap dia seorang yang terlalu pemilih, sulit untuk menemukan yang sesuai. Entah bagaimana kriteria yang diinginkannya. Perempuan yang cantik lagi sholihah pun sudah berapa banyak yang ditolaknya. Kalau ditanya jawabannya sama, belum jodoh, tidak cocok, belum waktunya.

Usut punya usut ternyata Budi memiliki hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Lita. Sudah beberapa tahun belakangan ini mereka saling menjajaki. Tak sadar benih-benih cinta muncul di hati keduanya. Namun mengapa tak juga berujung di pelaminan? Dalam ‘penjajakan’ tersebut terungkaplah kriteria ideal masing-masing tentang pasangannya. Dan Lita menurut Budi belum memenuhi kriteria ‘ideal’. Berjilbab, memiliki pemahaman agama yang baik dan bersikap dewasa. Sehingga sampai saat ini Budi masih berusaha untuk ‘mengubah’ Lita agar sesuai dengan kriterianya. Belum lagi kriteria-kriteria lain yang tidak begitu syar’i sebenarnya seperti apakah mau tinggal dengan mertua, apakah mau pindah kerja yang lebih dekat, bagaimana kalau belum memiliki rumah dan lain-lain.

Dalam pada itu ada seorang teman Budi yang ingin mengenalkannya dengan seorang perempuan. Sholihah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Pas dengan kriteria si Budi. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak. Namun apa daya, perjodohan kali inipun bernasib sama dengan sebelumnya. Padahal si perempuan sudah membuka pintu, sudah menyatakan bersedia bila itu memang yang terbaik. Ternyata hati si Budi masih belum bisa berpaling dari Lita yang beberapa tahun belakangan dekat dengannya. Di satu sisi Budi sudah ‘hampir’ menemukan sosok ideal untuk dijadikan istri andai dia mengiyakan. Namun di sisi lain hati Budi masih mengharapkan Lita bisa berubah sesuai dengan kriterianya. Dan akhirnya hati Budi terombang-ambing tidak jelas sementara usia terus bertambah. Dia pun semakin ragu bahwa dia akan menemukan sosok perempuan ideal dalam hidupnya.

Sepenggal cerita di atas merupakan contoh betapa dalam masalah jodohpun kita dituntut untuk tegas. Benar bahwa jodoh merupakan takdir, namun diantara kondisi tersebut ada peran kita dalam menentukan iya dan tidak. Seperti kasus Budi, ketegasan untuk memilih -antara menunggu Lita sampai ia berubah seperti keinginan Budi (yang entah sampai kapan) dan melupakan Lita untuk kemudian memilih perempuan yang sesuai kriterianya- menjadi kunci pokok masa depannya. Apakah akan tetap bertahan dengan Lita tanpa tahu kejelasannya atau memilih perempuan yang sesuai kriterianya (meski mungkin belum ada cinta)? Menurunkan kriteria bagi Lita bukanlah tipe Budi karena Budi adalah orang yang saklek dengan kriterianya. Namun berpaling dari Lita juga bukan pilihannya, berat rasanya. Jadi entah sampai kapan kisah Budi akan berakhir di pelaminan, hanya Allah yang tahu.

Sekali lagi memutuskan untuk menikah memerlukan ketegasan. Ketegasan yang disertai konsekuensi. Menikah yang didasari cinta sebelumnya memang lebih mudah, namun jangan sampai cinta menguasai idealisme kita. Jangan sampai terpekik semboyan ‘kalau tidak sama dia mending tidak (nikah) saja’. Biasanya cinta yang semacam ini sifatnya hanya sesaat, luapan perasaan sekali tempo. Menikahlah karena alasan-alasan logis. Oke.. dia sesuai yang aku inginkan, lamar dan nikahin saja. Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa? Kalau sudah jadi istri meski awalnya belum ada cinta, insya Allah cinta akan tumbuh seiring waktu kebersamaan. Kalau dalam posisi Budi, sebaiknya lupakan Lita dan pilihlah perempuan yang sesuai kriteria lalu nikah(i)lah.

love.jpg

Hal-Hal yang Memperlambat Jodoh (bagi laki-laki)

 

Jodoh, ada yang mengatakan adalah rejeki. Sebagaimana rejeki yang akan Allah berikan melalui usaha kita maka demikian juga jodoh perlu diusahakan. Jangan berharap jodoh bila kita saja tidak pernah berusaha menjemputnya. Menjemput jodoh dilakukan tidak hanya melalui usaha lahiriyah tetapi juga mesti diupayakan usaha secara batiniyah. Memperbanyak ibadah, sedekah, puasa sunnah, doa dan memperbaiki kualitas diri merupakan usaha – usaha secara batiniyah. Kemudian usaha-usaha lahiriyah semisal dengan memperbanyak silaturahim, menjalin persahabatan dengan banyak orang dan sebagainya.

Terlepas dari urusan takdir, ada hal-hal yang disadari atau tidak menyebabkan terlambatnya jodoh. Jodoh sebagaimana perlu diluruskan adalah seseorang yang sah menjadi pasangan sejak ijab qabul diucapkan. Sebelum itu tidak bisa disebut sebagai jodoh, meski mungkin telah terjalin kedekatan . Nah beberapa hal yang menyebabkan terlambatnya jodoh antara lain : Continue reading

Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya? Continue reading

(Mau) Menikah Itu Banyak Tantangannya

Telah banyak obrolan saya dengan beberapa teman mengenai menikah. Yah apa saja seputar pernikahan lah. Terutama peristiwa-peristiwa sebelum akad itu terjadi. Nyambung dengan judul di atas bahwa menikah itu memang banyak tantangannya. Lajang, bagaimanapun suatu saat akan menjadi status yang membuat dilema bagi sebagian kita. Ketika usia tak lagi muda, ketika kepala tiga itu hanya sejarak satu kali musim atau malah kepala tiga sudah lewat beberapa pergantian musim hujan yang lalu. Pada masa ini menurut, pembicaraan saya dan teman saya, adalah usia yang kritis. Usia yang menentukan tindakan selanjutnya. Jika pada usia yang menentukan tadi datang sang belahan jiwa, pujaan hati maka pernikahan itu menjadi sesuatu yang indah. Ketika kebutuhan itu mendapat penyaluran yang halal lagi tepat waktu. Namun jika dalam masa menentukan tersebut, gambaran tentang pernikahan itu terlewat, biasanya baru akan terealisasi beberapa tahun kemudian.

Ketika seseorang menginjak kepala tiga (usia tak lagi muda) maka semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang menggelayut. Merasa belum mapan, merasa minder takut tidak ada yang mau, terlalu pemilih, ingin yang sempurna. Terlalu banyak referensi yang sudah disaksikan dari pernikahan teman-temannya. Akhirnya muncul ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan tidak berani mengambil resiko (atau saya lebih suka bilang ‘tantangan’). Padahal kondisinya sebagaimana dikatakan dalam iklan “ kalau bukan sekarang kapan lagi? “.

Bagi kita yang telah menikah pasti setuju bahwa proses menuju pernikahan itu panjang dan berliku. Setidaknya yang berkaitan dengan tradisi dan pengurusan surat-surat. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini akan kita coba gali tantangan-tantangan dalam setiap tahap menuju pernikahan.

  1. Memilih calon

Saya yakin pada tahap inilah biasanya memakan energi paling besar. Bisa berupa waktu yang lama atau pemikiran yang serius nan panjang dalam memutuskan. Memang tidak mudah memilih calon, apalagi kalau posisi tawar kita sangat strategis. Bisa dibilang termasuk dalam kategori orang-orang yang ‘ siapa sih yang bisa menolak? ’. Kalau sudah begini perlu pemikiran serius kepada siapa hati kan dilabuhkan. Posisi strategis di satu sisi member poin tambahan tersendiri. Tetapi di sisi lain menjadi semacam beban. Ketika kita sudah menentukan satu nama, kemudian timbul bisikan ‘jangan-jangan ada yang lebih baik’.

Memilih calon memang tidak boleh sembarangan. Bibit, bobot dan bebetnya perlu dipertimbangkan. Hal ini senada dengan tuntunan Rasulullah SAW bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Dan ditekankan untuk lebih memberi porsi lebih kepada agamanya. Artinya lihat dulu lah agamanya. Kalau bagus ya jangan ditolak. Tapi sebagai manusia pasti ada pertimbangan yang lain. Itu wajar saja selama tidak menafikan faktor utama yaitu agamanya. Kalau ada dua orang yang agamanya setimbang, tetapi satu berparas arjuna dan satu berwajah kurawa maka tidak salah kan jika dipilih yang berparas arjuna. Itu manusiawi. Tetapi yang terjadi kebanyakan adalah lihat dulu fisiknya, agama nomer dua. Alasannya kalau agama kan bisa dipelajari, tetapi cantik atau tampan kan sudah bawaan lahir. Kalau yang begini ini saya tidak bisa komentar lebih.

  1. Mendapat Restu Orangtua

Calon sudah terpilih, 50% + 1 hati condong kepada satu nama, secara hukum telah memenuhi kuorum dan meyakinkan. Tidak bisa diganggu gugat meski dilaporkan ke MK. Tetapi itu baru melewati satu tantangan awal. Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan si calon kepada orangtua atau wali. Tujuannya jelas yaitu untuk mendapat restu dari orang tua. Jangan sampai menikah tidak dengan restu orang tua. Dijamin hidup takkan bahagia. Memang sekarang agaknya orangtua sudah memasrahkan sepenuhnya pilihan kepada si anak karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. Tetapi hal ini tidak menafikan bahwa restu orangtua itu penting. Kita perlu tahu bahwa orangtua memiliki feeling yang kuat terhadap seseorang yang ingin menjadi pendamping kita. Entah kekuatan darimana tetapi feeling itu sebagian besranya tepat nan jitu. Ketika orangtua tidak setuju maka mantaplah untuk mundur. Tak perlu lagi basa basi. Cari yang lain dan ajukan kembali. Lalu gimana masalah cinta? Biarkan Cinta pergi bersama Rangga. Toh cinta dapat ditemukan lagi. Kalau restu orangtua? Selama orangtua tidak merestui maka selama itu pula kehidupan rumah tangga jauh dari bahagia. Lalu dimana peranan cinta? Cinta tak berperan apa-apa, justru Cinta diperankan oleh Dian Satro Wardoyo. Intinya restu orangtua menjadi pertimbangan utama.

  1. Menjalani tradisi

Kita hidup dalam masyarakat yang tak lepas dari tradisi. Tradisi memang bukan hal wajib yang mana tanpa ikut tradisipun pernikahan kita bisa sah. Tetapi sekali lagi kita bhidup dalam masyarakat, kalau tidak ikut tradisi maka kita tidak dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Apa salahnya kita ikut tradisi asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama kita. Dalam tradisi Jawa misalnya, pembicaraan baru dianggap serius manakala keluarga pria datang kepada keluarga wanita. Kemudian dilanjutkan lamaran dan penentuan tanggal. Tapi di adat lain, justru pihak wanita yang mendatangi keluarga pria. Atau seperti di Makassar ada istilah uang pannai’ yaitu sejumlah uang yang dietentukan oleh pihak wanita sebagai syarat diterimanya sebuah lamaran. Dan masih banyak tradisi-tradisi yang lain. Nah ikuti saja tradisi-tradisi tersebut. Insya Allah akan lebih mempermudah prosesnya. Jangan sampai karena pengen cepetnya, begitu datang ke rumah si wanita langsung minta diakadkan. Yang ada malah menjadikan fitnah dan kecurigaan keluarga dan masyarakat. Jadi menikah itu kudu sabar menjalani prosesnya.

  1. Mengurus surat-surat

Yang tidak kalah penting dan menguras energi adalah mengurus surat-surat. Belum lagi kalau antar daerah, antar provinsi atau antar pulau. Dan semua itu harus diurus sebelum akad. Untuk itu silakan tanya ke KUA terdekat apa syarat-syaratnya dan bagaimana prosedurnya. Jangan malu datang ke KUA karena petugasnya gak malu-maluin kok. Lagian juga gak bakal ditanya perlunya apa. Karena hampir semua yang datang ke KUA pasti mengurus pernikahan. Mungkin karena tahunya KUA hanya untuk urusan pernikahan. Padahal banyak kok fungsi KUA selain mengurus pernikahan. Silakan tanya ke KUA saja.

  1. Tantangan malam pertama

Nah selamat bagi teman-teman yang akan melalui tantangan ini. Artinya sudah lolos tahap-tahap sebelumnya. Tapi jangan senang dulu, tantangan dalam berumahtangga baru saja akan dimulai. Yup malam pertama menjadi malam dimulainya kehidupan rumah tangga. Jadi persiapkan diri menghadapi malam tersebut. Jalani dengan ikhlas dan senang hati. Walau kata orang malam pertama adalah malam yang paling indah, tapi jangan lewatkan malam pertama hanya dengan melihat bintang melalui jendela takut momen indah itu terlewat. Yang perlu jadi perhatian adalah jangan sampai prosesi resepsi menguras energi sehingga malamnya justru tepar alias terkapar di atas ranjang, berdua dalam balutan baju pengantin. Keesokan harinya baru ingat kalau baju pengantin masih melekat. Sudah ditunggui pihak salon di depan pintu. Jadi banyak olahraga seminggu sebelum acara sehingga badan akan fit sepanjang hari.

Setelah malam pertama maka tantangan-tantangan itu akan muncul setiap hari. Mulai dari penyesuaian diri dengan kehidupan baru, penyesuaian diri dengan pasangan, mertua, masyarakat. Belum kalau sudah punya anak maka tantangan-tantangan itu akan semakin banyak. Tetapi jangan khawatir, insya Allah kita akan mampu menghadapinya. Sennatiasa belajar dari para professional dan senior-senior kita. #Okesip! Persiapkan dirimu hadapi tantangan !!!

Yang Kebelet Nikah Karena ‘Kompor’ : Pikir Dulu Deh !!!

Menikah. Suatu kata kerja yang agaknya begitu menggoda jiwa-jiwa muda, terlebih mahasiswa. Teringat semasa kuliah dulu, sekitar semester 3 saat pertama kali kenal dengan lebih dekat (ehem ehem…) dengan hal-hal bertemakan nikah. Saat itu entah bagaimana asal muasalnya tema nikah tiba-tiba menjadi tema favorit bagi sebagian mahasiswa terutama para aktivis dakwah. Kenapa saya bilang terutama aktivis dakwah? Karena merekalah yang , menurut saya,  lebih semangat membahas hal ini. Semangat untuk meraih setengah din itu begitu menggelora, ditambah lagi dengan buku-buku yang bertemakan seputar pernikahan semakin membuat semangat itu terpompa. Belum lagi ceramah-ceramah yang selalu mengumandangkan untuk segera menikah. Sungguh sebuah situasi yang klop untuk memunculkan semangat yang kalau boleh dibilang ‘ga ada habisnya’.

Selepas beberapa tahun meninggalkan dunia kampus, kemudian mengamati dari luar, saya menemukan suatu situasi yang tidak jauh beda mengenai semangat yang saya rasakan sejak duduk di semester 3 tadi. Yup, tema menikah tetep menjadi tema yang sanggup memompa semangat para aktivis untuk ‘membicarakannya’.

Ya ya ya. Menikah di usia muda bahkan usia kuliahpun tidak menjadi masalah. Bahkan sangat dianjurkan untuk menghindarkan fitnah dan meraih pahala yang banyak. Fakta membuktikan bahwa ada juga yang berhasil menjalani pernikahan di usia muda tersebut. Bahkan fakta inipun sudah tersiar kemana-mana. Para pelaku yang berhasil ini menggembor-gemborkan semangat untuk menikah muda di berbagai buku dan forum. Walhasil jadilah semacam ‘kompor’ yang mampu menyemangati para kaum muda untuk segera menikah.

Menyegerakan menikah lebih utama bagi mereka yang sudah siap dengan kehidupan berkeluarga. Namun bagi yang belum siap atau belum memahami betul bagaimana sih berkeluarga itu nanti, sebaiknya pikir-pikir dulu deh. Kalau kita cermati, kompor-kompor yang berbentuk buku maupun forum kajian itu lebih banyak memandang pernikahan dari sisi yang “mengenakkan”. Bagaimana tidak, kaum muda diiming-imingi dengan indahnya pernikahan usia muda, betapa nikmatnya hidup bersama pendamping yang sholihah/ sholeh, bisa berangkat kuliah bareng, ada yang memperhatikan dan lain sebagainya. Akibatnya para kaum muda ini memandang bahwa menikah itu enak dan menyenangkan.

Jarang ada buku yang secara adil mengungkapkan serba-serbi tentang kehidupan berkeluarga. Bagaimana mengelola keuangan, bagaimana memanajemen konflik dalam keluarga, bagaimana mengasuh anak dan lain sebagainya. Walhasil kaum muda ini hanya mempersiapkan diri mengenyam nikmatnya menikah. Bukan apa-apa sih, hanya saja jika nanti ternyata ditemui keadaan yang tidak seperti gambaran di buku-buku tadi maka akan timbul kecewa.  Ingatlah, menikah dengan wanita sholehah maupun laki-laki sholeh sekalipun tidak menjamin keluarga muda akan langsung menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah (SAMARA). Para orang yang telah lama membina keluarga pun mengatakan bahwa keluarga SAMARA itu tidak serta merta terbentuk melainkan perlu proses yang panjang bahkan selama usia pernikahan tersebut. Jadi sesholeh atau sesholihah apapun pasangan kita tetap saja butuh penyesuaian dan adaptasi. Dan hal inilah yang sedikit banyak menyebabkan konflik. Tidak cocok inilah, tidak suka itulah, ingin beginilah atau harusnya begitulah dan banyak hal lain. Yang mana jika hal ini tidak mendapat penanganan yang tepat sangat rawan bagi kelangsungan hidup pasangan muda.

Jadi ada baiknya bagi kaum muda yang memang belum siap menikah tidak perlu sering-sering membaca buku bertema pernikahan apalagi yang menyajikan pernikahan dari segi ‘enak’nya saja. Tujuannya agar kita tidak panjang angan-angan, sementara kita sendiri tidak tahu kapan punya niat serius menikah. Nah kalau memang dirasa sudah siap barulah baca buku-buku dan ikut kajian-kajian pra nikah. Kadang geli juga kalau lihat para aktivis muda ini bicara tentang nikah atau lebih tepatnya membicarakan angan-angan tentang pernikahan. Hmmm jangan-jangan saya juga menggelikan waktu kuliah dulu yaa..xixixixixi.

Yakinlah bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah SWT tentang waktu, siapa jodoh kita dan bagaimana caranya. Yang paling penting adalah mempersiapkan diri, baik siap untuk merasakan indahnya berkeluarga maupun menghadapi masalah-masalah keluarga. Banyak berdiskusi dengan para senior alias yang sudah menikah agar tahu seluk beluk beluk dunia keluarga. Bersegera menikah jika sudah mampu jauh lebih utama daripada menunda. Tapi bagi yang kebelet nikah karena ‘kompor’ : PIKIR DULU DEH !!!

 

GAGAL TA’ARUF, SALAH SIAPA?

Taaruf adalah suatu proses untuk saling mengenal antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dalam koridor syar’i dan bertujuan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius (pernikahan). Jadi taaruf bukanlah sebuah penghalus kata bagi mereka yang berpacaran tetapi tidak mau disebut berpacaran, sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh tayangan sinetron yang (katanya) bertema religius.

Taaruf merupakan sebuah proses yang bisa membuat deg-degan sekaligus dapat menimbulkan dilema. Deg-degan ketika siapa yang dita’arufi ternyata sesuai dengan keinginan kita, masuk dalam kriteria kita dan kita berharap-harap cemas apakah diterima atau ditolak. Tapi di sisi lain juga dapat memunculkan dilema ketika kita harus menolak dikarenakan tidak ada rasa sreg sementara si dia mengharapkan kita. Sebagaimana sebuah proses, taaruf tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada saja hal yang membuatnya gagal.

Hasil dari sebuah taaruf setidaknya mencakup empat hal : Continue reading