Sepuluh Tahun Pacaran

Membahas lebih lanjut tentang kegundahan seorang ibu yang anaknya sudah sepuluh tahun dipacari tetapi tidak ada kepastian kapan nikahnya.

Cerita ini bukan untuk membicarakan kejelekan orang lain, secara nama dan identitas lainnya saya sembunyikan. Ya sebagai perenungan bersama saja.

Jadi beberapa waktu lalu secara tidak terencana seorang ibu-ibu mengeluhkan atau mungkin tepatnya curhat tentang anaknya perempuan yang sudah sepuluh tahun ini dipacari tetapi belum juga ada kejelasan kapan nikahnya.

“Lha gimana to mas, anakku sudah pacaran sejak lulus SMA sampai sekarang belum ada kejelasan kapan nikahnya. Sementara teman-temannya sudah pada berkeluarga, sudah punya anak..”

“Sudah ditanyakan belum bu?”

“Uwis, tapi masih dijanjikan nanti-nanti. Alasannya kemarin baru saja orang tuanya renov rumah sehingga belum ada biaya untuk mengadakan pernikahan. Aku yo sudah bilang ke anakku mbok ya ditanyakan lagi kapan nikahnya.. Sebagai orang tua juga sudah risih, pacaran lama kok belum ada juga kepastian”

” Lha nggih minta ditanyakan lagi bu.. gimana kepastiannya..”

“Anakku bilang malu kalau perempuan ngoyak-oyak (ngejar-ngejar) minta dinikahi. Seperti opo wae.. Tapi usia semakin tua kalau tidak ada kejelasan ya gimana..”

“Nggih biar cari yang lain to bu.. Yang lebih pasti..”

“Iya sih.. tapi eman-eman (sayang) sudah sepuluh tahun pacaran masak tidak diteruskan ke pernikahan.. Padahal teman-temannya juga sempat menanyakan anakku untuk diajak menikah, tetapi anakku masih ngeboti milih dengan yang ini (yang masih dipacari)..”

“Ya gimana lagi bu.. Beri tenggang waktu mawon untuk kepastiannya..”

“Iya ini juga sudah rembugan dengan anak, kalau pertengahan tahun besok ( 2018 ini-red) belum jadi nikah, maka biar cari yang lain.. Masak mengharapkan yang tidak serius..”

“Nggih bu.. setuju niku..”

=======================================================================

Pacaran sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kalau dihitung lulus SMA 18 tahun maka sekarang sudah usia 28 tahun. Memang sudah usia yang terhitung matang sekali bagi perempuan untuk menikah. Sebaliknya bagi laki-laki masih terhitung usia yang aman-aman bila masih melajang.

Kenapa sih harus pacaran selama itu?

Jika dipikir pacaran selama itu ngapain aja? Apa masih belum cukup menjadikan masing-masing saling mengenal sehingga belum berani melangkah ke jenjang yang halal aka nikah. Atau mungkin memang benar bahwa pacaran itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap niat untuk menikah. Harus berapa lama lagi pacaran itu akan dijalani? Jangan-jangan ujungnya bosan lalu mencari yang lain.

Kenapa juga orangtua membolehkan anaknya sampai segitu lama pacaran?

Ini juga perlu ditanyakan. Kenapa dibiarkan begitu lama? Mengapa welcome, oke-oke saja permatanya dijamah laki-laki yang belum menjadi suaminya. Apa tidak kepikiran untuk menjaga permatanya sampai benar-benar ada laki-laki yang baik dan serius. Apa mungkin takut dibilang orangtua yang kolot?

Saya pribadi insya Allah tidak akan membiarkan anak saya kelak pacaran. Apapun itu alasannya, bagaimanapun kondisinya harus dijaga sebisa mungkin dari hal buruk itu. Pacaran hal buruk? Yup.

Seharusnya mulai usia 20an, yang berarti 2 tahun pacaran harus segera ditanting kapan nikah. Atau target misal usia 23 atau 25 nikah. Tapi selama itu masing-masing free tidak ada ikatan apapun. Jika memang jodoh maka akan nikah. Tapi kalau ada yang lain yang lebih dahulu serius maka ya nikahnya sama oranglain itu. Lebih enak kan?

Lalu bagaimana sebaiknya?

Ya mau gimana lagi. Tak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali segera minta kejelasan. Kejelasan disini bukan berarti kejelasan nikahnya beberapa tahun lagi tetapi pertengahan tahun 2018 ini memang harus sudah nikah. Itu baru serius.

Dan si ibu ini katanya akan menanyakan langsung ke orangtua laki-laki itu bagaimana kelanjutan hubungan anak-anaknya. Ya memang harus begitu. Pihak perempuan bagaimanapun akan merasa lebih gak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Daaaaan…..

Saya masih menunggu sambil berharap pertengahan tahun ini mendapat undangan.. 😀

 

Advertisements

Telat Nikah?

Pernah suatu kali di waktu yang lalu, diantara waktu senggang di saat kerja seorang senior, katakanlah begitu, bilang ke saya.

” Iyo mas, kalau bisa nikah itu jangan telat. Jangan seperti aku yang nikah sudah 30an sehingga usia segini anak masih kecil-kecil.”

Lain lagi ada ibu-ibu yang khawatir anaknya tidak segera dilamar oleh pacarnya (lama  pacaran sudah 10 tahun) ini ada cerita khususnya insya Allah

“Lha ini anakku gak segera ada kepastian dari pacarnya. Keburu tua.. Kalo telat nikah nanti sudah tua anaknya masih kecil-kecil..”

Telat Nikah…

Sebuah kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi mereka yang masih single sementara usia sudah semakin matang. Desakan orang tua untuk segera mencari jodoh sudah begitu kuat. Belum lagi gunjingan tetangga dan masyarakat yang seakan menganggap lajang matang adalah sebuah aib.

Tapi….

Sebenarnya ada gak sih terminologi Telat Nikah itu?

Telat. Padanan kata dari terlambat. telat/te·lat/ a kasip; terlambat:
Sementara terlambat/ter·lam·bat/ v lewat dari waktu yang ditentukan:

Jadi jelas bahwa telat berarti lewat dari waktu yang ditentukan.

Sebagai contoh. Jam masuk kerja 07.30 WIB, lalu kita datang jam 08.00 WIB. Berarti kita telat. Terlambat. Karena batas waktunya adalah 07.30 harus sudah di kantor.

Tapi kalau Nikah?

Siapa yang menentukan batas waktunya? Siapa yang bilang usia 25, misalnya, harus sudah nikah? Setelah itu dianggap telat. Atau haruskah yang menikah di usia 40 tahun dianggap telat, terlalu tua?

Kalau mau jujur, tidak ada yang membatasi usia seseorang untuk nikah. Usia berapapun nikah tetap tepat waktu. Karena apa? Karena tidak ada yang membatasi. Adapun batasan 23, 25, 27, 29, 30 itu bukanlah nilai yang pakem. Hanya menurut kebiasaan di masyarakat saja.

Di masyarakat yang umumnya menikah di usia 25 tahun ke bawah maka usia 26 sudah dikatakan telat. Tapi ukuran masyakarat ini juga bisa berubah-ubah. Dahulu jaman kakek-nenek kita, mereka menikah di usia 20an awal. Lalu semakin ke sini batasan bertambah. Usia 25an menjadi patokan ideal. Mungkin ke depan juga berubah lagi.

Tapi intinya bukan itu. Jangan sampai patokan-patokan itu menjadikan kita seakan terburu waktu, dikejar masa, harus segera menikah di usia sekian. Memiliki target menikah di usia, misal 25 atau 27, itu bagus. Setidaknya kita menjadi terpacu untuk segera memantaskan diri agar bisa segera menikah.

Tapi ketika target itu tidak tercapai, belum ada calon sampai usia 28 misalnya, ya sudah.. Tidak perlu galau.. Toh Allah saja tidak menentukan batasan kapan harus sudah nikah.. Tetap setia di jalur yang benar. Jangan tergoda untuk pacaran.

Pacaran walaupun tujuannya untuk nikah tetap saja sesuatu yang diharamkan. Pacaran Islami? Gak ada. Itu hanya akal-akalan nafsu saja biar pacaran terkesan tidak berdosa. Padahal pacaran itu sehina korupsi. Menikmati yang bukan haknya. kita bahas di lain waktu.. 😀

Jadi inti daripada tulisan ini adalah memberi sebuah sanggahan untuk kosakata telat nikah. Bahwa telat nikah itu tidak ada. Kapanpun usia menikah, itu adalah usia yang pas dan tepat bagi yang bersangkutan. Wis gitu aja.

#sudutruangkerja
#09januari2018
#telatnikahitugakada

Jangan Minta Cariin Jodoh Kalau Belum Niat

Judul ini bertahan hampir satu setengah tahun lamanya. Awalnya mau jadi ajang curahan kegemasan saya. Tapi urung dilakukan. Mungkin akan lebih baik bila ditahan dulu kegemasan saya itu daripada keluar tulisan yang kurang sedap dibaca.

Judul diatas mungkin bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain. Ya memang begitu adanya. Begini sejarahnya. Waktu itu berlandaskan niatan baik untuk menghubungkan teman-teman yang masih single maka kami berniat menjodohkan antara teman laki-laki dan perempuan. Awalnya saya sudah menanyakan ke pihak laki-laki (teman saya) serius atau tidak. Demi mengetahui kalau dia serius maka saya mantapkan diri untuk memprosesnya. Proses taaruf pun bermula.

Awal proses adalah nanting pihak perempuan, mau tidak kalau dicoba bantu cari jodoh. Kebetulan ada laki-laki yang siap. Dijawab olehnya mau. Yup gayung bersambut. Tahap pertama adalah bertukar biodata. Dan kami harus profesional bahwa biodata harus aman tanpa bocor informasinya ke pihak maisng-masing. Jelas sekali kami tidak berkepentingan untuk tahu isinya. Kami hanya sebagai penghubung, tidak lebih. Sempat kami tanyakan ke pihak perempuan bagaimana tanggapan awal setelah pertukaran itu. Dari pihak perempuan insya Allah lanjut. Alhamdulillah, demikian ucap kami saat itu. Gimana tidak, ganjalan atau kendala utama proses ta’aruf adalah bila pihak wanita tidak setuju lanjut.

Sampai saat itu saya yakin kalau ini bakal sukses mengingat pihak laki-laki pernah saya tanya bagaimana pendapat tentang perempuannya. Kebetulan pernah ketemu di apotek kami. Jadi jelas dalam pandangan kami pihak laki-laki tinggal menunggu kata iya dari pihak perempuan.

Waktu berlanjut. Setelah pertukaran biodata itu rupanya ada komunikasi antara mereka. Dan cukup kaget kami ketika tiba-tiba pihak perempuan membatalkan kemungkinan untuk lanjut. Telisik punya telisik, ternyata pihak laki-laki masih menunggu pihak lain perempuan). Sebenarnya saya juga pernah diceritai oleh teman saya itu bahwa saat ini masih menunggu kepastian dari temannya (masih ada kisah). Tapi saya juga sudah menanyakan keseriusan untuk proses taaruf ini yang tentunya dia juga sudah paham konsekuensinya.

Ya, pantesan saja pihak perempuan membatalkan. Memang harusnya diselesaikan dulu dengan yang masih berjalan. Kalau sudah jelas keputusannya, baru berproses dengan yang lain. Etikanya dalam proses taaruf, tidak seharusnya melakukan multiple ta’aruf. Selesaikan dahulu proses yang lebih awal sampai tuntas dan bila jelas tidak berhasil baru beralih ke proses berikutnya (yang lain).

Kami merasa dibohongi saja. Kalau tahu begitukan mending tidak usah kami bantu. Jelas itu artinya proses yang dibantu jalankan ini hanya sebagai pembanding saja. Atau lebih parah sebagai cadangan. Kalau dengan yang utama gagal, baru dengan yang ini. Kalau berhasil dengan yang utama maka jelas akan meninggalkan proses yang ini. Akhirnya saya ingin katakan saja Jangan minta cariin jodoh kalau belum niat.

Update, teman saya yang laki-laki alhamdulillah sudah menikah. Saya juga tidak tahu apakah dengan pilihan utamanya dulu atau juga nasibnya menerima yang cadangan. Sementara teman kami yang perempuan masih belum mengedarkan undangan. Namun dari kabar selentingan sudah ada jodohnya tinggal nunggu waktu.

Ketika hati ragu hendak memilih

Sebut saja namanya Budi, laki-laki 33 tahun. Melihat usianya yang sudah berkepala tiga memang sudah sepantasnya dia berumah tangga. Teman-teman sebayanya sebagian besar malah sudah punya anak, dua atau tiga. Sementara dia masih saja ‘menikmati’ status single-nya. Sudah berapa banyak teman dan relasi yang mencoba mengenalkan dengan perempuan, namun selalu saja berakhir tanpa berujung di pelaminan. Akibat sering gagal menjodohkan, sebagian besar temannya menganggap dia seorang yang terlalu pemilih, sulit untuk menemukan yang sesuai. Entah bagaimana kriteria yang diinginkannya. Perempuan yang cantik lagi sholihah pun sudah berapa banyak yang ditolaknya. Kalau ditanya jawabannya sama, belum jodoh, tidak cocok, belum waktunya.

Usut punya usut ternyata Budi memiliki hubungan dengan seorang perempuan, sebut saja Lita. Sudah beberapa tahun belakangan ini mereka saling menjajaki. Tak sadar benih-benih cinta muncul di hati keduanya. Namun mengapa tak juga berujung di pelaminan? Dalam ‘penjajakan’ tersebut terungkaplah kriteria ideal masing-masing tentang pasangannya. Dan Lita menurut Budi belum memenuhi kriteria ‘ideal’. Berjilbab, memiliki pemahaman agama yang baik dan bersikap dewasa. Sehingga sampai saat ini Budi masih berusaha untuk ‘mengubah’ Lita agar sesuai dengan kriterianya. Belum lagi kriteria-kriteria lain yang tidak begitu syar’i sebenarnya seperti apakah mau tinggal dengan mertua, apakah mau pindah kerja yang lebih dekat, bagaimana kalau belum memiliki rumah dan lain-lain.

Dalam pada itu ada seorang teman Budi yang ingin mengenalkannya dengan seorang perempuan. Sholihah dan memiliki pemahaman agama yang baik. Pas dengan kriteria si Budi. Rasanya tidak ada alasan untuk menolak. Namun apa daya, perjodohan kali inipun bernasib sama dengan sebelumnya. Padahal si perempuan sudah membuka pintu, sudah menyatakan bersedia bila itu memang yang terbaik. Ternyata hati si Budi masih belum bisa berpaling dari Lita yang beberapa tahun belakangan dekat dengannya. Di satu sisi Budi sudah ‘hampir’ menemukan sosok ideal untuk dijadikan istri andai dia mengiyakan. Namun di sisi lain hati Budi masih mengharapkan Lita bisa berubah sesuai dengan kriterianya. Dan akhirnya hati Budi terombang-ambing tidak jelas sementara usia terus bertambah. Dia pun semakin ragu bahwa dia akan menemukan sosok perempuan ideal dalam hidupnya.

Sepenggal cerita di atas merupakan contoh betapa dalam masalah jodohpun kita dituntut untuk tegas. Benar bahwa jodoh merupakan takdir, namun diantara kondisi tersebut ada peran kita dalam menentukan iya dan tidak. Seperti kasus Budi, ketegasan untuk memilih -antara menunggu Lita sampai ia berubah seperti keinginan Budi (yang entah sampai kapan) dan melupakan Lita untuk kemudian memilih perempuan yang sesuai kriterianya- menjadi kunci pokok masa depannya. Apakah akan tetap bertahan dengan Lita tanpa tahu kejelasannya atau memilih perempuan yang sesuai kriterianya (meski mungkin belum ada cinta)? Menurunkan kriteria bagi Lita bukanlah tipe Budi karena Budi adalah orang yang saklek dengan kriterianya. Namun berpaling dari Lita juga bukan pilihannya, berat rasanya. Jadi entah sampai kapan kisah Budi akan berakhir di pelaminan, hanya Allah yang tahu.

Sekali lagi memutuskan untuk menikah memerlukan ketegasan. Ketegasan yang disertai konsekuensi. Menikah yang didasari cinta sebelumnya memang lebih mudah, namun jangan sampai cinta menguasai idealisme kita. Jangan sampai terpekik semboyan ‘kalau tidak sama dia mending tidak (nikah) saja’. Biasanya cinta yang semacam ini sifatnya hanya sesaat, luapan perasaan sekali tempo. Menikahlah karena alasan-alasan logis. Oke.. dia sesuai yang aku inginkan, lamar dan nikahin saja. Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa? Kalau sudah jadi istri meski awalnya belum ada cinta, insya Allah cinta akan tumbuh seiring waktu kebersamaan. Kalau dalam posisi Budi, sebaiknya lupakan Lita dan pilihlah perempuan yang sesuai kriteria lalu nikah(i)lah.

love.jpg

Hal-Hal yang Memperlambat Jodoh (bagi laki-laki)

 

Jodoh, ada yang mengatakan adalah rejeki. Sebagaimana rejeki yang akan Allah berikan melalui usaha kita maka demikian juga jodoh perlu diusahakan. Jangan berharap jodoh bila kita saja tidak pernah berusaha menjemputnya. Menjemput jodoh dilakukan tidak hanya melalui usaha lahiriyah tetapi juga mesti diupayakan usaha secara batiniyah. Memperbanyak ibadah, sedekah, puasa sunnah, doa dan memperbaiki kualitas diri merupakan usaha – usaha secara batiniyah. Kemudian usaha-usaha lahiriyah semisal dengan memperbanyak silaturahim, menjalin persahabatan dengan banyak orang dan sebagainya.

Terlepas dari urusan takdir, ada hal-hal yang disadari atau tidak menyebabkan terlambatnya jodoh. Jodoh sebagaimana perlu diluruskan adalah seseorang yang sah menjadi pasangan sejak ijab qabul diucapkan. Sebelum itu tidak bisa disebut sebagai jodoh, meski mungkin telah terjalin kedekatan . Nah beberapa hal yang menyebabkan terlambatnya jodoh antara lain : Continue reading

Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya? Continue reading

(Mau) Menikah Itu Banyak Tantangannya

Telah banyak obrolan saya dengan beberapa teman mengenai menikah. Yah apa saja seputar pernikahan lah. Terutama peristiwa-peristiwa sebelum akad itu terjadi. Nyambung dengan judul di atas bahwa menikah itu memang banyak tantangannya. Lajang, bagaimanapun suatu saat akan menjadi status yang membuat dilema bagi sebagian kita. Ketika usia tak lagi muda, ketika kepala tiga itu hanya sejarak satu kali musim atau malah kepala tiga sudah lewat beberapa pergantian musim hujan yang lalu. Pada masa ini menurut, pembicaraan saya dan teman saya, adalah usia yang kritis. Usia yang menentukan tindakan selanjutnya. Jika pada usia yang menentukan tadi datang sang belahan jiwa, pujaan hati maka pernikahan itu menjadi sesuatu yang indah. Ketika kebutuhan itu mendapat penyaluran yang halal lagi tepat waktu. Namun jika dalam masa menentukan tersebut, gambaran tentang pernikahan itu terlewat, biasanya baru akan terealisasi beberapa tahun kemudian.

Ketika seseorang menginjak kepala tiga (usia tak lagi muda) maka semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang menggelayut. Merasa belum mapan, merasa minder takut tidak ada yang mau, terlalu pemilih, ingin yang sempurna. Terlalu banyak referensi yang sudah disaksikan dari pernikahan teman-temannya. Akhirnya muncul ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan tidak berani mengambil resiko (atau saya lebih suka bilang ‘tantangan’). Padahal kondisinya sebagaimana dikatakan dalam iklan “ kalau bukan sekarang kapan lagi? “.

Bagi kita yang telah menikah pasti setuju bahwa proses menuju pernikahan itu panjang dan berliku. Setidaknya yang berkaitan dengan tradisi dan pengurusan surat-surat. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini akan kita coba gali tantangan-tantangan dalam setiap tahap menuju pernikahan.

  1. Memilih calon

Saya yakin pada tahap inilah biasanya memakan energi paling besar. Bisa berupa waktu yang lama atau pemikiran yang serius nan panjang dalam memutuskan. Memang tidak mudah memilih calon, apalagi kalau posisi tawar kita sangat strategis. Bisa dibilang termasuk dalam kategori orang-orang yang ‘ siapa sih yang bisa menolak? ’. Kalau sudah begini perlu pemikiran serius kepada siapa hati kan dilabuhkan. Posisi strategis di satu sisi member poin tambahan tersendiri. Tetapi di sisi lain menjadi semacam beban. Ketika kita sudah menentukan satu nama, kemudian timbul bisikan ‘jangan-jangan ada yang lebih baik’.

Memilih calon memang tidak boleh sembarangan. Bibit, bobot dan bebetnya perlu dipertimbangkan. Hal ini senada dengan tuntunan Rasulullah SAW bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Dan ditekankan untuk lebih memberi porsi lebih kepada agamanya. Artinya lihat dulu lah agamanya. Kalau bagus ya jangan ditolak. Tapi sebagai manusia pasti ada pertimbangan yang lain. Itu wajar saja selama tidak menafikan faktor utama yaitu agamanya. Kalau ada dua orang yang agamanya setimbang, tetapi satu berparas arjuna dan satu berwajah kurawa maka tidak salah kan jika dipilih yang berparas arjuna. Itu manusiawi. Tetapi yang terjadi kebanyakan adalah lihat dulu fisiknya, agama nomer dua. Alasannya kalau agama kan bisa dipelajari, tetapi cantik atau tampan kan sudah bawaan lahir. Kalau yang begini ini saya tidak bisa komentar lebih.

  1. Mendapat Restu Orangtua

Calon sudah terpilih, 50% + 1 hati condong kepada satu nama, secara hukum telah memenuhi kuorum dan meyakinkan. Tidak bisa diganggu gugat meski dilaporkan ke MK. Tetapi itu baru melewati satu tantangan awal. Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan si calon kepada orangtua atau wali. Tujuannya jelas yaitu untuk mendapat restu dari orang tua. Jangan sampai menikah tidak dengan restu orang tua. Dijamin hidup takkan bahagia. Memang sekarang agaknya orangtua sudah memasrahkan sepenuhnya pilihan kepada si anak karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. Tetapi hal ini tidak menafikan bahwa restu orangtua itu penting. Kita perlu tahu bahwa orangtua memiliki feeling yang kuat terhadap seseorang yang ingin menjadi pendamping kita. Entah kekuatan darimana tetapi feeling itu sebagian besranya tepat nan jitu. Ketika orangtua tidak setuju maka mantaplah untuk mundur. Tak perlu lagi basa basi. Cari yang lain dan ajukan kembali. Lalu gimana masalah cinta? Biarkan Cinta pergi bersama Rangga. Toh cinta dapat ditemukan lagi. Kalau restu orangtua? Selama orangtua tidak merestui maka selama itu pula kehidupan rumah tangga jauh dari bahagia. Lalu dimana peranan cinta? Cinta tak berperan apa-apa, justru Cinta diperankan oleh Dian Satro Wardoyo. Intinya restu orangtua menjadi pertimbangan utama.

  1. Menjalani tradisi

Kita hidup dalam masyarakat yang tak lepas dari tradisi. Tradisi memang bukan hal wajib yang mana tanpa ikut tradisipun pernikahan kita bisa sah. Tetapi sekali lagi kita bhidup dalam masyarakat, kalau tidak ikut tradisi maka kita tidak dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Apa salahnya kita ikut tradisi asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama kita. Dalam tradisi Jawa misalnya, pembicaraan baru dianggap serius manakala keluarga pria datang kepada keluarga wanita. Kemudian dilanjutkan lamaran dan penentuan tanggal. Tapi di adat lain, justru pihak wanita yang mendatangi keluarga pria. Atau seperti di Makassar ada istilah uang pannai’ yaitu sejumlah uang yang dietentukan oleh pihak wanita sebagai syarat diterimanya sebuah lamaran. Dan masih banyak tradisi-tradisi yang lain. Nah ikuti saja tradisi-tradisi tersebut. Insya Allah akan lebih mempermudah prosesnya. Jangan sampai karena pengen cepetnya, begitu datang ke rumah si wanita langsung minta diakadkan. Yang ada malah menjadikan fitnah dan kecurigaan keluarga dan masyarakat. Jadi menikah itu kudu sabar menjalani prosesnya.

  1. Mengurus surat-surat

Yang tidak kalah penting dan menguras energi adalah mengurus surat-surat. Belum lagi kalau antar daerah, antar provinsi atau antar pulau. Dan semua itu harus diurus sebelum akad. Untuk itu silakan tanya ke KUA terdekat apa syarat-syaratnya dan bagaimana prosedurnya. Jangan malu datang ke KUA karena petugasnya gak malu-maluin kok. Lagian juga gak bakal ditanya perlunya apa. Karena hampir semua yang datang ke KUA pasti mengurus pernikahan. Mungkin karena tahunya KUA hanya untuk urusan pernikahan. Padahal banyak kok fungsi KUA selain mengurus pernikahan. Silakan tanya ke KUA saja.

  1. Tantangan malam pertama

Nah selamat bagi teman-teman yang akan melalui tantangan ini. Artinya sudah lolos tahap-tahap sebelumnya. Tapi jangan senang dulu, tantangan dalam berumahtangga baru saja akan dimulai. Yup malam pertama menjadi malam dimulainya kehidupan rumah tangga. Jadi persiapkan diri menghadapi malam tersebut. Jalani dengan ikhlas dan senang hati. Walau kata orang malam pertama adalah malam yang paling indah, tapi jangan lewatkan malam pertama hanya dengan melihat bintang melalui jendela takut momen indah itu terlewat. Yang perlu jadi perhatian adalah jangan sampai prosesi resepsi menguras energi sehingga malamnya justru tepar alias terkapar di atas ranjang, berdua dalam balutan baju pengantin. Keesokan harinya baru ingat kalau baju pengantin masih melekat. Sudah ditunggui pihak salon di depan pintu. Jadi banyak olahraga seminggu sebelum acara sehingga badan akan fit sepanjang hari.

Setelah malam pertama maka tantangan-tantangan itu akan muncul setiap hari. Mulai dari penyesuaian diri dengan kehidupan baru, penyesuaian diri dengan pasangan, mertua, masyarakat. Belum kalau sudah punya anak maka tantangan-tantangan itu akan semakin banyak. Tetapi jangan khawatir, insya Allah kita akan mampu menghadapinya. Sennatiasa belajar dari para professional dan senior-senior kita. #Okesip! Persiapkan dirimu hadapi tantangan !!!