Uniknya Orangtua Bermuka Dua

unduhan

Uniknya orangtua bermuka dua. Di hadapan orang banyak, begitu lembut ia menyapa buah hatinya. Panggilan sayang begitu murah tercurah. Peluk dan cium dipamerkan, mengabarkan kalau ia begitu menyayangi anaknya. Sementara anaknya menanggapi dengan wajah ragu, benarkah ini orangtuaku. Kok tiba-tiba begitu lembut dan penyayang.

Uniknya orangtua bermuka dua. Di saat berdua saja atau di dalam kerajaan rumahnya, ia berubah menjadi monster nan menakutkan. Panggilan sayang serasa sudah habis ia tuangkan di hadapan khalayak ramai. Kalimat lembut pun menguap seiring suasana hatinya yang panas menahan kepura-puraan. Tinggallah hardikan, bentakan dan kadang sampai tanganpun dimainkan. Ia benar-benar menjadi raja di rumahnya. Yang segala inginnya haris dituruti, yang semua larangannya harus ditaati. Kalau berani melawan, awas hukuman menanti. Jadilah anak patuh dan taat, tapi berlatarkan takut, bukan kesadaran apalagi bukti sayang.

Wahai kita, iya kita, orangtua. Marilah didik anak-anak kita dengan kelembutan, agar mereka belajar menjadi lembut. Marilah ajari anak-anak kita dengan kesabaran, agar mereka belajar menjadi orang-orang yang sabar. Marilah kita menjadi orangtua yang sebenarnya. Yang senantiasa lembut dan sabar, entahlah di hadapan orang ramai atau hanya berdua saja.

Tengoklah ke dalam diri kita. Apakah anak-anak lebih sering tertawa riang bersama kita, ataukah anak-anak lebih sering menangis diiringi bentakan dan hardikan kita? Tegas itu bukan berarti membentak. Tegas adalah bagaimana kita tetap pada pendirian kita meski anak menangis namun seiring itu kita tetap bisa menghadapi dengan kelembutan.

Saya hanya takut jika saat ini tidak bisa berlaku lembut maka kelak di saat kita menua, tidak takutkah bila anak membentak hanya karena ketidak mampuan kita. Apakah kita akan kembali menghardik dengan mengatakan ‘ anak durhaka, berani sama orangtua ‘. Padahal kitalah yang mengajarkan bentakan dan hardikan itu semenjak kecil.

Yuk jadi orangtua yang lembut..lembut.. dan lembut.. Bukankah “tidaklah kelembutan itu berlaku pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”?

Advertisements

Ironi dibalik sebuah Testpack

Beberapa hari yang lalu seorang perempuan seusia SMA datang ke Apotek kami. DIa membeli sebuah testpack. Karena ada 3 macam jenis dengan harga berbeda maka kami tawarkan untuk memilih yang mana. Dia pun memilih yang paling murah, sesuai kantong usianya mungkin. Entah maksudnya untuk meng-counter dugaan kami atau apa dia bilang :

“ Ini cuma titipan kok.. titipan bocah edan… “ seraya membayar seharga 3000 rupiah.

Ada sedikit tanya ketika dia bilang ‘titipan’ dan ‘bocah edan’. Tentu dengan usianya yang masih seusia SMA, ‘bocah edan’ itu adalah teman sebayanya. Tentu kita semua tahu apa kegunaan dari benda bernama testpack. Yup, tidak lain tidak bukan adalah untuk mengecek kehamilan. Berarti perempuan seusia SMA itu ada kemungkinan hamil. Dan tidak mungkin ada kehamilan kalau tidak melakukan hubungan seksual. Dan tidak mungkin sudah menikah karena ada kata-kata ‘bocah edan’. Dan kosakata ‘bocah edan’ mengacu kepada sesuatu yang buruk. Jadi apakah kesimpulan kita sama? Bahwa perempuan seusia SMA itu sudah melakukan hubungan terlarang, entah dengan pacarnya atau entah dengan siapa. Tetapi dari hubungan itu telah memunculkan sesuatu yang untuk mengetahuinya butuh sebuah alat bernama testpack. Na’udzubillah min dzalik.

Mungkin kita sudah berkali-kali mendengar cerita bahwa jaman sekarang banyak perempuan usia sekolah sudah tidak suci lagi. Mereka menggadaikan kehormatannya atas nama cinta (nafsu). Betapa rusaknya moral sebagian (besar) remaja kita. Apa yang ada di benak mereka ketika melakukan hal terlaknat itu? Apakah perwujudan cinta nan suci ataukah pelampiasan nafsu semata? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga seusia mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan hukum tetapi lebih jauh lagi bertentangan dengan hukum Allah.

Lalu salah siapakah ini?

Jika kita mencari siapa yang salah maka menunjuk hanya kepada mereka saja bukanlah hal yang adil. Bagaimanapun kondisi moral mereka yang rusak tidak terlepas dari hal-hal seperti berikut :

  1. Kurangnya pendidikan moral dan agama dari orangtua sekaligus kurangnya kontrol terhadap anak. Entah mengapa jaman sekarang orangtua cenderung bersikap permisif, apa-apa serba boleh, apa-apa dituruti. Dan parahnya lagi hampir di semua segi kehidupan. Apa yang terjadi kemudian adalah orangtua tidak lagi peduli dengan anak. Anak mau berbuat apa saja terserah. Yang penting masih mau sekolah. Sementara itu anak yang kehilangan perhatian orangtua mencari sumber perhatian di luar sana. Beruntung bila bertemu dengan teman-teman yang baik, tetapi bila bertemu dengan manusia-manusia ‘serigala berbulu domba’ maka habislah sudah.
  2. Lingkungan yang serba tidak peduli. Ketika orangtua si anak sudah tidak peduli maka apalah arti lingkungan. Apalagi lingkungan sekarang juga cenderung cuek. Alih-alih mengurusi anak orang lain, anak sendiri saja keteteran. Begitu kondisi sebagian besar masyarakat kita. Anak yang hidup dalam keluarga yang tidak peduli, ditambah lingkungan yang cuek semakin menjauhkan anak dari kehidupan yang penuh kasih dan sayang.
  3. Tontonan yang tidak mendidik. Kurangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua memberi kesempatan kepada tayangan televisi untuk menggantikan peran dalam mendidik. Dan sayangnya suguhan yang diberikan oleh orangtua kedua bernama televise sama sekali tidak mendidik.
  4. Sistem Pendidikan yang tidak kondusif bagi pembentukan moral. Sekolah sekarang nampaknya lebih bangga jika murid-muridnya lebih pandai dalam hal yang bersifat kognitif dibanding cerdas dalam akhlak. Pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam seminggu dengan harapan murid-murid berakhlak mulia kiranya bagaikan punguk merindukan bulan. Belum lagi tidak adanya keteladanan dari seluruh pegawai di sekolah. Bahkan ada yang berstatus guru tetapi berbuat amoral. Lalu bagaimana nasibnya dengan murid-muridnya.
  5. Yang terakhir tentu saja pemerintah menjadi pihak yang juga mesti bertanggungjawab. Pemerintah perlu membuat sebuah system pendidikan yang bisa mengcounter pembentukan akhlak siswa. Tidak mengapa jika kiblat sistem pendidikan kita tidak mengekor sistem Barat. Justru dengan memiliki sistem pendidikan sendiri, yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran akan membawa perubahan yang signifikan.

Jangan sampai generasi masa depan dihancurkan oleh sikap lepas tangan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap pembentukan moral anak. Orangtua, Keluarga, Lingkungan, Sekolah dan Pemerintah harus saling bahu membahu. Merasa bahwa tanggungjawab ini beban bersama, tidak saling lepas tangan.

Jangan biarkan gadget merenggut aktifitas si kecil

Gadget sudah menjadi sebuah kebutuhan hampir bagi setiap orang. Bahkan banyak juga orang yang memiliki lebih dari satu gadget. Dulu mungkin kita tidak berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki ketergantungan terhadap sesuatu. Tetapi kini kita sepakat bahwa hampir setiap orang yang memiliki gadget menjadi kecanduan dan sangat tergantung dengan gadget. Jika dulu orang sangat khawatir jika dompet ketinggalan, maka sekarang orang akan sangat khawatir jika ketinggalan gadget. Seakan-akan gadget meenjelma menjadi separuh dirinya. Jika tidak ebrsama serasa ada yang kurang.

Kecanduan atau ketergantungan gadget ternyata tidak hanya menjangkiti orang yang sudah dewasa saja, yang sudah mampu membeli sendiri, tetapi juga menjangkiti anak-anak bahkan yang masih balita. Bagi sebagian orang tua mengenalkan gadget sejak dini bertujuan agar anak tidak ketinggalan jaman dan teknologi.Tetapi apakah hal ini tidak memiliki resiko bagi anak-anak kita?

Sebelum menjawab hal tersebut, ijinkan saya untuk menyampaikan bahwa apa yang saya sampaikan ini masih sebatas hipotesis yang saya ambil dari pengamatan yang ada di lingkungan sekitar. Belum menengok bukti empiris yang mungkin sudah dilakukan oleh orang lain.

Anak-anak yang kecanduan gadget menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan gadget entah itu belajar maupun bermain. Akibat hal ini adalah anak menjadi lebih sedikit melakukan aktifitas fisik dan interaksi sosial. Boleh jadi mereka berkumpul tetapi satu sama lain tidak ada interaksi karena asyik dengan gadget masing-masing. Otomatis tidak ada aktifitas fisik kecuali tarian jempol dan kedipan mata. Anak menjadi lebih pasif. Padahal dunia anak-anak membutuhkan eksplorasi yang luas. Tak seharusnya kesempatan menjelajah dunia dan mengenal kehidupan terampas oleh kehadiran gadget. Untuk itu sebagai orang tua atau orang yang dewasa sudah sepantasnya kita bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak-anak. Jangan sampai anak menjadi kecanduan. Tetap beri kesempatan dan kalau bisa suruh anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Beri batas waktu penggunaan gadget misalnya hanya boleh 15 menit sehari atau bisa juga hanya boleh di akhir pekan, itupun hanya beberapa waktu saja tidak dibiarkan sepuasnya.

Namun terkadang sebagai orangtua dengan segala kesibukannya lebih memilih anaknya ditemani oleh gadget daripada bermain dengan teman-temannya. Alasannya sederhana, asal anak tenang dan diam tetapi tetap terawasi karena hanya beraktifitas di dalam rumah. Diakui atau tidak, ikut bermain bersama anak membutuhkan energi dan waktu yang besar. Belum lagi masih banyak orangtua yang enggan dan malu jika terlihat bermain bersama anak-anaknya. Dan menganggap bahwa hal seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Nah perlu kita ubah pola pikir yang seperti ini. Bagaimanapun, mendidik anak merupakan tugas dan tanggungjawab orangtua, termasuk di dalamnya mengajak bermain. Lebih baik orangtua berlelah-lelah tetapi anak bisa memperoleh pengalaman yang banyak daripada melihat anak diam dan tenang dengan gadgetnya.

Apakah dengan bermain gadget anak tidak bisa belajar? Terlalu banyak aplikasi edukasi yang bisa dipasang di perangkat gadget. Dan saya percaya bahwa itu juga menjadi sarana belajar yang baik. Tetapi sekali lagi anak-anak butuh mengapresiasi dan mengaktualisasi diri mereka melalui kegiatan fisik. Anak-anak yang cenderung memiliki energi berlebih jangan sampai tidak tersalurkan hanya karena sibuk bermain gadget. Bermain gadget meskipun dapat meningkatkan kecerdasan (aplikasi edukasi) tetapi tidak dapat membantu anak-anak untuk menumbuh kembangkan kemampuan motoriknya. Kemampuan motorik hanya bisa dicapai dengan beraktifitas. Penyaluran energi yang berlebih hanya bisa melalui kegiatan yang menguras energi, bukan menguras pikiran. Apa hebatnya anak pintar tetapi fisiknya lemah? Padahal fisik yang kuat akan mampu menopang kecerdasan anak dengan lebih optimal. Untuk itu marilah kita sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa bisa mengarahkan anak-anak untuk seminimal mungkin bermain dengan gadget. Ajak anak-anak untuk melakukan aktifitas fisik lebih banyak. Jangan sungkan dan malu bermain bersama anak.

Pahamilah doa untuk kedua orangtua sebelum engkau mengajarkan pada anakmu.

Menjadi orangtua itu berjuta tugasnya. Mulai dari merawat semenjak lahir, mendidik sedari kecil dan menjadi kawan serta penasehat sepanjang hidup anak. Salah satu yang paling gampang dijumpai adalah mengajarkan anak untuk berdoa. Doa sebelum makan, doa sesuadah makan dan masih banyak yang lain. Tak lupa doa untuk kedua orangtua juga diajarkan. Tentu kita berharap bahwa ketika si anak yang suci tanpa dosa mendoakan maka akan mudah dikabulkan oleh Allah.

Tentu kita hafal doa untuk kedua orangtua kita bukan? Doa yang juga akan diajarkan kepada anak-anak kita. Doa yang artinya kurang lebih demikian “ Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “ Saya yakin bahwa banyak diantara kita berfokus kepada bagian pertama doa tersebut yaitu bagian memohon ampunan dosa. Tetapi apakah kita juga memperhatikan bagian kedua dari doa tersebut?

Beberapa lama ini saya sempat merenung, dan entah darimana sesuatu yang saya rasa mencerahkan datang begitu saja ke dalam alam pikiranku. Berpikir tentang bagian kedua dari doa untuk kedua orangtua tersebut. Tentu saya berpikir dengan saya berposisi sebagai orangtua. Bisakah kita membedakan antara bagian pertama dan kedua dalam doa tersebut?

Bagian pertama “Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku… “

Bagian kedua “…dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “

Bagian pertama tidak mensyaratkan sesuatu. Artinya doa agar dosa kedua orangtua diampuni bagaimanapun keadaannya. Tapi lihatlah di bagian kedua. Ada syarat atau permintaan agar dilakukan hal serupa yaitu agar Allah mengasihi (memperlakukan) mereka (orangtua) sebagaimana mereka mengasihi (memperlakukan) kita (anak) sewaktu kecil.

Dari sini ada sesuatu yang membuat dahi berkenyit. Ada syarat dalam doa tersebut. Ada hal yang jika kita lakukan kepada anak-anak maka hal serupa jugalah yang akan Allah lakukan pada kita. Dari sini saya mengambil suatu hal yang berharga yaitu bahwa bila kita ingin Allah mengasihi kita, maka kasihilah anak-anak dengan sebaik-baiknya, perlakukan dengan seelok-eloknya, didiklah dengan didikan yang bagus. Tidak memperlakukan anak semena-mena, ringan tangan kepada anak, suka membentak, melakukan kekerasan fisik dan verbal. Kesemuanya terkait bahwa apa yang kita lakukan kepada anak, maka itulah yang akan Allah lakukan pada kita.

Maka dari itu mari kita mulai untuk berlaku baik kepada anak. Sayangilah mereka, didiklah mereka dengan benar. Semoga dengan lantaran anak hidup kita akan lebih bahagia. Anak yang bisa menjadi penyejuk mata, bukan penguras harta. Anak bisa menjadi penjaga di masa tua, bukan anak yang menunggu warisan dibagi rata. Anak yang bisa membuat bangga, bukan anak yang menyebabkan cela keluarga.

Orang tua macam apa yang mendidik anaknya seperti ini?

Teringat sebuah kejadian di pagi hari. Tatkala sedang berjalan-jalan dengan si kecil di open space kompleks perumahan. Seorang gadis usia SMP dengan agak terburu-buru berpamitan kepada bapaknya. Cium tangan lalu si anak cium pipi kanan dan kiri bapaknya. Lengkap dua-duanya tidak hanya sebelah saja. Si bapak cukup diam saja. Setelah itu si gadis melajukan motornya. (Anak SMP sekarang ke sekolah sudah naik motor. Meski dilarang parkir di sekolah, tak kurang akal rumah warga dekat sekolah pun menjadi lahan parkir. Simbiosis mutualisme. Siswa butuh praktisnya, si empunya rumah butuh duitnya. Klop tiada keterpaksaan). Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, mencoba melakukan suatu penerawangan tentang kehidupan keluarga mereka. Jaman sekarang tidak melihat anak bersikap cuek kepada orangtuanya saja sudah lumayan bagus. Lha ini malah menunjukkan suatu sikap yang menurut saya sangat langka dan bagi saya pribadi pengen anakku kelak bisa seperti itu. Sebuah penghormatan sekaligus tanda sayang seorang anak kepada bapaknya (lebih luas kepada kedua orangtuanya). Memang saya akui bahwa kehidupan keluarga beliau terbilang religius. Mungkinkah ada pengaruh rumah tangga yang religius terhadap perilaku anak?

Di kompleks perumahan yang sama dengan contoh yang berbeda. Ada satu keluarga dimana sang bapak rajin ke masjid, kemudian anak-anak laki-lakinya pun juga demikian. Tiga atau empat anaknya jika pas berada di rumah (tidak bepergian) pasti ikut berjamaahn di masjid. Sebuah kesalutan tersendiri ketika melihat sebuah keluarga yang anggota laki-lakinya rajin ke masjid. Tidak sampai di situ saja kekaguman saya. Setiap anak selesai berdoa kemudian akan meninggalkan masjid maka tak lupa mendekati sang bapak kemudian meminta bersalaman dan mencium tangan bapaknya. Perlu dicatat bahwa ini dilakukan oleh anak-anak laki-laki sang bapak yang sedang beranjak remaja ( yang besar SMA, yang kedua dan ketiga masih SMP dan adiknya perempuan yang paling bontot masih sekitar 4 tahun) . Jaman sekarang mana umum anak laki-laki usia remaja bisa menghormati orangtuanya sedemikian rupa. Yang sering dijumpai adalah anak-anak remaja yang menganggap bapaknya seperti teman asing. Bicara jika hanya perlu dan seringnya meminta sesuatu yang kalau tidak dituruti berujung ngambek. Masih mending ngambek, yang lain malah minggat dari rumah. Kembali saya mencoba menerawang seperti apa sih pola asuh kedua orangtuanya? Saya pun perlu menyampaikan juga bahwa keluarga mereka termasuk yang religius. Sholat berjamaah rutin, ada pengajian selalu ikut. Semakin bertanya-tanya, mungkinkah ada kaitannya antara keluarga yang religius dengan perilaku anak?

Terlalu dini jika menyimpulkan bahwa keluarga yang religius-lah yang bisa menghasilkan anak-anak seperti yang saya sampaikan di atas. Butuh penelitian lebih lanjut. Tapi mohon ijinkan saya membuat hipotesis sebelum penelitian secara intensif itu diadakan. Bagaimanapun dari apa yang saya alami bahwa kondisi keluarga yang religius akan berpengaruh positif terhadap perilaku si anak. Ketika orangtua begitu dekat dengan Tuhannya maka setiap doa yang mengalir untuk anak-anaknya adalah doa yang mustajab. Ketika orangtua memohon kebaikan bagi keluarga maka Allah pun berkenan mengabulkannya. Memang faktor yang lain pun berperan. Latar belakang keluarga orangtua, tingkat pendidikan dan lain-lain juga memiliki peran yang penting. Tetapi saya dalam kasus ini lebih melihat kepada tingkat religiusitas keluarga terhadap perilaku anak. Dan hipotesis saya seperi yang saya sampaikan di awal paragraf ini.

Jika tolok ukurnya adalah religiusitas sebagai salah satu bagian dari cara pola asuh anak yang efektif, maka tak ada alasan lagi untuk bagaimana kita sebagai orangtua mulai membiasakan hidup penuh dengan nuansa religi. Kedekatan dengan Allah akan membentuk semacam sandaran yang kokoh serta memberi harapan nan nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa mendidik anak butuh kesabaran, butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Dan kita sebagai manusia tak jarang merasa kewalahan berhadapan dengan kesabaran, merasa pengorbanannya tidak dihiraukan dan perjuangannya dilupakan. Di saat itulah kita butuh sandaran yang kuat, butuh untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya dengan dekat dengan Allah-lah kita merasa kuat, tidak merasa sia-sia karena ada Allah yang senantiasa membimbing hidup kita. Selalu ada semangat bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Ada perhitungan superduper teliti yang akan mencatatnya. Yup hanya dengan dekat Allah-lah kita akan menjadi manusia yang siap dan semangat dalam menjalani hidup. Mari kita mulai menanamkan bibit-bibit religiusitas dalam kehidupan keluarga kita.

Anak adalah aset. Salah dalam mengelola aset ini maka hidup kita akan merugi.

3 Tipe Orangtua dalam menghadapi “kenakalan” anak balita

Usia balita merupakan masa dimana anak belajar banyak hal. Ada yang mengatakan bahwa periode ini adalah periode emas sehingga sayang jika pada masa ini keinginan anak untuk belajar justru dihambat oleh orangtuanya. Apa-apa serba tidak boleh. Keaktifan seorang anak balita merupakan hal yang sangat wajar. Rasa ingin tahu begitu besar. Dan untuk memuaskan rasa keingintahuannya tak jarang anak mencoba-coba banyak hal. Bisa dikatakan seolah-olah tiada rasa lelah dalam diri si anak. Memang energi balita itu besar dan butuh penyaluran berupa aktifitas fisik. Karena mobilitasnya yang tinggi tak jarang membuat orangtua kerepotan bahkan ada yang sampai dibuat pusing. Kalau sudah begini banyak orangtua yang melabeli anaknya “nakal”. Padahal hal seperti ini seharusnya disyukuri. Dengan aktifnya anak maka ia akan belajar banyak hal. Sebagai orangtua kita seharusnya menjadi guru bagi mereka dalam mengenal hal-hal di sekitarnya. Ada tiga tipe orangtua dalam menghadapi keaktifan anak.

1. Terlalu membatasi

Sedikit-sedikit dilarang, apa-apa tidak boleh. Kalimat yang sering keluar adalah kalimat larangan dengan nada bentakan.

” Eh makanan jangan ditumpahin, nanti kotor… “ atau
“ Jangan lari-larian nanti jatuh, sakit siapa yang repot… “ atau
“ Dah dibilangin jangan mainan kayu.. kalau kepukul gini sakitkan… “ atau
“ Kamu tuh bisanya ngrepotin mama saja… makanya denger omongan mama…” dan lain sebagainya.

Belum lagi ditambah dengan gerakan fisik seperti menarik anak dengan paksa, menjewer, memukul.

Sebagai orangtua memang sedang diuji kesabarannya. Anak yang sering bermain kotor-kotor, menumpahkan makanan atau minumannya, suka memukul apa saja sejatinya sedang belajar melalui tindakan. Tetapi sebagian orangtua menganggap itu sebuah kenakalan. Mereka cenderung berpikir dengan pola pikir orang dewasa bahwa tidak seharusnya baju yang baru saja ganti dibuat main kotor-kotor, tidak selayaknya makanan dan minuman ditumpahkan, tidak sepatutnya benda-benda sekitar dipukul-pukul. Orangtua seakan lupa bahwa anak-anak belum paham semua itu. Lha wong mereka sedang belajar kok. Apalagi kalau ditelusuri lebih lanjut bahwa kalimat larangan itu adalah untuk menghentikan anak beraktifitas yang ujung-ujungnya membuat rumah berantakan. Kalau sudah begitu siapa lagi yang harus repot membersihkan rumah? Tentu saja orangtuanya. Nah daripada bersusah payah kerepotan membersihkan rumah, sebagian orangtua memilih untuk menghentikan anak sebelum melakukan tindakan-tindakan tersebut. Apa yang terjadi? Justru anak tidak akan belajar banyak hal. Lebih parah dari itu anak enggan untuk mencoba hal-hal baru karena takut dimarahi.

2. Serba boleh.

Kebalikan dari tipe nomor satu di atas, tipe orangtua ini serba boleh. Anak mau melakukan apa saja dipersilahkan. Tidak ada kendali dari orangtua terhadap si anak. Atau kalau boleh dibilang tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua yang cuek. Tidak hanya bermain yang aman, bermain yang berbahaya pun dibiarkan saja. Dalam pikiran mereka biarlah anak belajar dengan merasakan sendiri. Maka tak jarang anak terlukapun tidak segera ditolong, bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan empati. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka anak tidak tahu apakah yang dilakukan benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Jangan heran jika sudah besar anak yang dididik oleh orangtua yang cuek akan menjadi anak yang tidak tahu adab kesopanan bahkan yang lebih parah bisa menjadi seorang kriminal.

3. Tipe pertengahan.

Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja karena paham bahwa itulah cara anak untuk belajar. Tetapi anak tetap dalam pengawasan orangtua. Sekiranya anak melakukan hal-hal yang berbahaya baik bagi dirinya sendiri atau oranglain maka saatnya orangtua memberitahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Selama hal tersebut baik untuk perkembangan anak baik fisik maupun non fisik maka orangtua memberikan kebebasan dan pendampingan. Orangtua tidak merasa repot jika akhirnya harus membereskan rumah yang berantakan. Orangtua sadar bahwa ini adalah kewajiban sebagai orangtua dan inilah salah satu bentuk kesiapan menjadi orangtua. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan tipe ini insya Allah akan menjadi anak yang cerdas dan pintar. Anak akan menjadi kebanggaan dan teladan bagi teman-temannya.

Nah tipe mana yang anda pilih?

Gaya Mendidik Warisan Orang Tua. Bagaimana menyikapinya?

Setiap orang tua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda-beda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Bahkan antara suami dan istri tidak jarang memiliki gaya yang berbeda dalam hal mendidik anak. Sebagian besar keluarga meniru gaya orangtuanya dalam mendidik anak. Mereka akan meniru cara orang tua mendidik mereka ketika masih kecil. Terlebih lagi pada komunitas dimana tingkat pertukaran informasi sangat rendah sehingga informasi yang diperoleh terkait mendidik anak hanya diperoleh dari orang tuanya dan lingkungan sekitarnya. Belum lagi bagi yang masih tinggal bersama orang tua dan belum ada kesepakatan bersama (antara orangtua anak dan kakek-neneknya) dalam mendidik anak maka dominasi kakek-nenek biasanya akan lebih besar daripada kedua orangtua.

Setidaknya ada tiga cara penyikapan yang biasa dilakukan oleh keluarga terhadap gaya mendidik warisan orangtua ini.

1. Meniru penuh gaya mendidik warisan orangtua.

Memang lebih mudah jika kita meniru gaya mendidik orangtua. Selama kita tumbuh dalam keluarga maka selama itu pulalah kita mempelajari dan menyerap apa yang diajarkan oleh orang tua. Ketika tiba saatnya mendidik anak maka kita tinggal meniru saja bagaimana orang tua mendidik kita. Cara ini relatif lebih mudah apalagi jika kita masih tinggal serumah dengan orang tua. Apa yang kita lakukan akan didukung penuh oleh orangtua kita. Meniru penuh gaya mendidik orangtua kita memang tidak sepenuhnya salah tapi juga tanpa resiko. Jika gaya mendidik orangtua kita baik maka tidak ada salahnya jika kita ingin meniru secara penuh. Cara mudahnya lihatlah diri kita. Inilah hasil dari gaya mendidik orangtua kita. Bisa jadi ketika kita meniru cara orangtua kita maka hasilnya seperti kita juga. Tetapi perlu pertimbangkan juga bahwa anak-anak kita hidup di jaman yang berbeda dengan kita. Sehingga mungkin saja akan ada perbedaan hasil, tetapi tidak akan jauh-jauh dari hasil nyata yang kita lihat yaitu diri kita.

2. Menolak sepenuhnya gaya mendidik warisan orangtua

Saya melihat bahwa sebagian besar menerapkan cara penyikapan seperti ini. Sebagian menganggap bahwa cara mendidik ala orangtua kita kurang baik. Boleh jadi ada trauma-trauma masa lalu, kekecewaan terhadap orangtua dan lain sebagainya sehingga tidak mau jika anak-anaknya mengalami hal serupa. Oleh sebab itu cara paling jitu adalah dengan menolak cara yang orangtua kita lakukan. Jika dulu kita merasa dikekang semasa kecil, tidak boleh ini, tidak boleh itu maka ketika menjadi orangtua kita akan lebih permisif terhadap banyak hal. Tapi juga sebaliknya ada yang ketika kecil diperlakukan dengan lemah lembut tetapi ternyata menjadikan dirinya anak yang juga lemah maka ketika menjadi orangtua akan bersikap lebih keras agar anak-anak menjadi orang yang kuat.

3. Mengambil sisi baik gaya mendidik warisan orangtua

Tipe cara penyikapan yang ketiga adalah mengambil sisi baik gaya mendidik ala orangtua kita. Tentu dalam setiap diri dan apa yang dilakukan oleh orang lain pasti ada sisi baik yang bisa diambil. Termasuk dalam hal ini adalah gaya atau cara mendidik anak yang dilakukan oleh orangtua kita. Nah memang cara yang terbaik menyikapi gaya mendidik warisan orangtua adalah dengan mengambil sisi baiknya dan menghindari sisi buruknya. Kita bisa mengambil cara-cara atau metode apa saja sih yang baik dari orangtua kita untuk kemudian kita terapkan kepada anak-anak kita. Misalnya orangtua kita mendidik dengan lemah lembut, jauh dari kekerasan maka kita perlu untuk meniru hal tersebut. Kemudian kita juga harus menghindari cara-cara yang tidak baik. Semisal orangtua mendidik dengan sangat keras atau justru malah tidak disiplin maka kita perlu menolak hal tersebut.

Dengan banyak belajar maka insya Allah kita akan lebih tahu bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak. Mengambil yang baik dari orangtua maupun lingkungan merupakan salah satu cara belajar kita. Mari kita nikmati peran sebagai orangtua. Butuh kesabaran? Itu pasti. Butuh perjuangan? Sudah barang tentu. Mudah? Tidak juga. Sulit? Bisa dibuat mudah juga kok. So… selamat menikmati..