Sepuluh Tahun Pacaran

Membahas lebih lanjut tentang kegundahan seorang ibu yang anaknya sudah sepuluh tahun dipacari tetapi tidak ada kepastian kapan nikahnya.

Cerita ini bukan untuk membicarakan kejelekan orang lain, secara nama dan identitas lainnya saya sembunyikan. Ya sebagai perenungan bersama saja.

Jadi beberapa waktu lalu secara tidak terencana seorang ibu-ibu mengeluhkan atau mungkin tepatnya curhat tentang anaknya perempuan yang sudah sepuluh tahun ini dipacari tetapi belum juga ada kejelasan kapan nikahnya.

“Lha gimana to mas, anakku sudah pacaran sejak lulus SMA sampai sekarang belum ada kejelasan kapan nikahnya. Sementara teman-temannya sudah pada berkeluarga, sudah punya anak..”

“Sudah ditanyakan belum bu?”

“Uwis, tapi masih dijanjikan nanti-nanti. Alasannya kemarin baru saja orang tuanya renov rumah sehingga belum ada biaya untuk mengadakan pernikahan. Aku yo sudah bilang ke anakku mbok ya ditanyakan lagi kapan nikahnya.. Sebagai orang tua juga sudah risih, pacaran lama kok belum ada juga kepastian”

” Lha nggih minta ditanyakan lagi bu.. gimana kepastiannya..”

“Anakku bilang malu kalau perempuan ngoyak-oyak (ngejar-ngejar) minta dinikahi. Seperti opo wae.. Tapi usia semakin tua kalau tidak ada kejelasan ya gimana..”

“Nggih biar cari yang lain to bu.. Yang lebih pasti..”

“Iya sih.. tapi eman-eman (sayang) sudah sepuluh tahun pacaran masak tidak diteruskan ke pernikahan.. Padahal teman-temannya juga sempat menanyakan anakku untuk diajak menikah, tetapi anakku masih ngeboti milih dengan yang ini (yang masih dipacari)..”

“Ya gimana lagi bu.. Beri tenggang waktu mawon untuk kepastiannya..”

“Iya ini juga sudah rembugan dengan anak, kalau pertengahan tahun besok ( 2018 ini-red) belum jadi nikah, maka biar cari yang lain.. Masak mengharapkan yang tidak serius..”

“Nggih bu.. setuju niku..”

=======================================================================

Pacaran sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kalau dihitung lulus SMA 18 tahun maka sekarang sudah usia 28 tahun. Memang sudah usia yang terhitung matang sekali bagi perempuan untuk menikah. Sebaliknya bagi laki-laki masih terhitung usia yang aman-aman bila masih melajang.

Kenapa sih harus pacaran selama itu?

Jika dipikir pacaran selama itu ngapain aja? Apa masih belum cukup menjadikan masing-masing saling mengenal sehingga belum berani melangkah ke jenjang yang halal aka nikah. Atau mungkin memang benar bahwa pacaran itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap niat untuk menikah. Harus berapa lama lagi pacaran itu akan dijalani? Jangan-jangan ujungnya bosan lalu mencari yang lain.

Kenapa juga orangtua membolehkan anaknya sampai segitu lama pacaran?

Ini juga perlu ditanyakan. Kenapa dibiarkan begitu lama? Mengapa welcome, oke-oke saja permatanya dijamah laki-laki yang belum menjadi suaminya. Apa tidak kepikiran untuk menjaga permatanya sampai benar-benar ada laki-laki yang baik dan serius. Apa mungkin takut dibilang orangtua yang kolot?

Saya pribadi insya Allah tidak akan membiarkan anak saya kelak pacaran. Apapun itu alasannya, bagaimanapun kondisinya harus dijaga sebisa mungkin dari hal buruk itu. Pacaran hal buruk? Yup.

Seharusnya mulai usia 20an, yang berarti 2 tahun pacaran harus segera ditanting kapan nikah. Atau target misal usia 23 atau 25 nikah. Tapi selama itu masing-masing free tidak ada ikatan apapun. Jika memang jodoh maka akan nikah. Tapi kalau ada yang lain yang lebih dahulu serius maka ya nikahnya sama oranglain itu. Lebih enak kan?

Lalu bagaimana sebaiknya?

Ya mau gimana lagi. Tak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali segera minta kejelasan. Kejelasan disini bukan berarti kejelasan nikahnya beberapa tahun lagi tetapi pertengahan tahun 2018 ini memang harus sudah nikah. Itu baru serius.

Dan si ibu ini katanya akan menanyakan langsung ke orangtua laki-laki itu bagaimana kelanjutan hubungan anak-anaknya. Ya memang harus begitu. Pihak perempuan bagaimanapun akan merasa lebih gak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Daaaaan…..

Saya masih menunggu sambil berharap pertengahan tahun ini mendapat undangan.. 😀

 

Advertisements

Telat Nikah?

Pernah suatu kali di waktu yang lalu, diantara waktu senggang di saat kerja seorang senior, katakanlah begitu, bilang ke saya.

” Iyo mas, kalau bisa nikah itu jangan telat. Jangan seperti aku yang nikah sudah 30an sehingga usia segini anak masih kecil-kecil.”

Lain lagi ada ibu-ibu yang khawatir anaknya tidak segera dilamar oleh pacarnya (lama  pacaran sudah 10 tahun) ini ada cerita khususnya insya Allah

“Lha ini anakku gak segera ada kepastian dari pacarnya. Keburu tua.. Kalo telat nikah nanti sudah tua anaknya masih kecil-kecil..”

Telat Nikah…

Sebuah kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi mereka yang masih single sementara usia sudah semakin matang. Desakan orang tua untuk segera mencari jodoh sudah begitu kuat. Belum lagi gunjingan tetangga dan masyarakat yang seakan menganggap lajang matang adalah sebuah aib.

Tapi….

Sebenarnya ada gak sih terminologi Telat Nikah itu?

Telat. Padanan kata dari terlambat. telat/te·lat/ a kasip; terlambat:
Sementara terlambat/ter·lam·bat/ v lewat dari waktu yang ditentukan:

Jadi jelas bahwa telat berarti lewat dari waktu yang ditentukan.

Sebagai contoh. Jam masuk kerja 07.30 WIB, lalu kita datang jam 08.00 WIB. Berarti kita telat. Terlambat. Karena batas waktunya adalah 07.30 harus sudah di kantor.

Tapi kalau Nikah?

Siapa yang menentukan batas waktunya? Siapa yang bilang usia 25, misalnya, harus sudah nikah? Setelah itu dianggap telat. Atau haruskah yang menikah di usia 40 tahun dianggap telat, terlalu tua?

Kalau mau jujur, tidak ada yang membatasi usia seseorang untuk nikah. Usia berapapun nikah tetap tepat waktu. Karena apa? Karena tidak ada yang membatasi. Adapun batasan 23, 25, 27, 29, 30 itu bukanlah nilai yang pakem. Hanya menurut kebiasaan di masyarakat saja.

Di masyarakat yang umumnya menikah di usia 25 tahun ke bawah maka usia 26 sudah dikatakan telat. Tapi ukuran masyakarat ini juga bisa berubah-ubah. Dahulu jaman kakek-nenek kita, mereka menikah di usia 20an awal. Lalu semakin ke sini batasan bertambah. Usia 25an menjadi patokan ideal. Mungkin ke depan juga berubah lagi.

Tapi intinya bukan itu. Jangan sampai patokan-patokan itu menjadikan kita seakan terburu waktu, dikejar masa, harus segera menikah di usia sekian. Memiliki target menikah di usia, misal 25 atau 27, itu bagus. Setidaknya kita menjadi terpacu untuk segera memantaskan diri agar bisa segera menikah.

Tapi ketika target itu tidak tercapai, belum ada calon sampai usia 28 misalnya, ya sudah.. Tidak perlu galau.. Toh Allah saja tidak menentukan batasan kapan harus sudah nikah.. Tetap setia di jalur yang benar. Jangan tergoda untuk pacaran.

Pacaran walaupun tujuannya untuk nikah tetap saja sesuatu yang diharamkan. Pacaran Islami? Gak ada. Itu hanya akal-akalan nafsu saja biar pacaran terkesan tidak berdosa. Padahal pacaran itu sehina korupsi. Menikmati yang bukan haknya. kita bahas di lain waktu.. 😀

Jadi inti daripada tulisan ini adalah memberi sebuah sanggahan untuk kosakata telat nikah. Bahwa telat nikah itu tidak ada. Kapanpun usia menikah, itu adalah usia yang pas dan tepat bagi yang bersangkutan. Wis gitu aja.

#sudutruangkerja
#09januari2018
#telatnikahitugakada

Hebohnya kasus mantan datang di pernikahan…

Baru-baru ini sedang heboh-hebohnya berita tentang kasih tak sampai ke pelaminan. Singkat cerita di Rais menikah dengan seorang wanita dan pada pesta perkawinannya datanglah si mantan Rain bernama Risna. Tak diduga saat menyalami pengantin pria, Risna yang notabene adalah mantan pacar ( 7 tahun pacaran bro n sist… ngapain aja tuh 7 tahun pacaran…) tiba-tiba didekap oleh si Rais. Dan konon katanya menghadirkan haru bagi bagi pengantin maupun yang hadir. Rais, Risna dan pengantin wanita menitikkan air mata. Entah apakah bagi pengantin wanita juga merasakan keharuan atau justru kecewa. Ternyata si suami masih memiliki perasaan kepada mantannya. Usut punya usut ternyata si Rais pernah melamar Risna namun ditolak oleh keluarganya.

Apa sih yang membuat heboh atau haru? Saya rasa lebih kepada kasih tak sampai sebagaimana kisah di sinetron-sinetron dan si wanita sebagai korban kasih tak sampai dengan besar hati mau datang ke pernikahan mantannya. Tapi apakah sebegitu mengharukannya? Saya agaknya lebih tertarik melihat dari sisi yang berbeda. Ada ketidakpatutan di sana, ada perasaan yang terkorbankan dan tidak semestinya hal tersebut menjadikan sumber keharuan, justru kita harus merasa miris.

Pacaran selama 7 tahun. Hmmm waktu yang tidak sebentar untuk dihambur-hamburkan demi sebuah status pacaran. Entah bagaimana mereka menjalaninya, apakah sekedar status saja atau seperti remaja-remaja sekarang? Yang pasti cukup lama bro n sist… Ketika hati sekian lama tertambat dan tak pernah terpikirkan beralih ke lain hati (secara otomatis tidak punya gambaran pilihan lain) namun pada akhirnya tiada dapat bersanding.. Sakitnya tuh di sini… (sambil nunjuk kepala..) Padahal dikatakan pula bahwa si laki-laki sudah berusaha melamar si gadis tetapi ditolak. So bisa kita katakan bahwa hubungan mereka selama ini tidak direstui oleh orangtua si gadis atau setidaknya orangtua belum ridho jika si gadis menikah dengan laki-laki tersebut. Saya lebih melihat kepada ‘orangtua belum ridho’ sebagai alasan logis kasih tak sampai. Jika sudah begitu seharusnya ‘ridho orangtua’ menjadi hal yang wajib kita dapatkan ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang ( sebagai teman ). Terlebih lagi jika teman tersebut hendak dijadikan sebagai pendamping hidup. Tidak usahlah sebagai anak, kita merasa sok tahu apa yang kita inginkan, jangan pulalah menilai orangtua kolot dan sebagainya. Saya percaya bahwa feeling orangtua itu tajam, setajam silet… Ketika orangtua bilang ‘tidak’ maka mereka sudah mendapat feeling bahwa teman kita itu tidak akan bisa membawa kita dengan baik. Tetapi tenang saja hal ini tidak berlaku paten, mungkin saat ini orangtua belum ridho karena sesuatu hal, tetapi ketika sesuatu itu telah dimiliki, orang tua menjadi ridho. Tapi yang paling penting kantongi ‘ridho orangtua’ dan insya Allah berkah.

Kisah ini sekaligus memberi pelajaran bagi kita bahwa pacaran yang lama tidak menjamin akan bahagia dalam pernikahan, apalagi kasih tak sampai. Kalau sudah begitu sia-sialah waktu selama itu hanya digunakan untuk pacaran dengan segala hak dan kewajiban ‘bodoh’ nya itu. Kenapa tidak berteman saja tanpa embel-embel apa-apa. Setidaknya tidak ada investasi hati yang besar di sana. Masih fifty-fifty lah. Kalau jodoh ya syukur kalaupun enggak ya nothing to lose. Memang sih kita sebagai manusia punya fitrah meyukai lawan jenis dan melebihkannya dari sekedar teman, tetapi ketika kita mencintai seseorang janganlah gunakan sepenuh hati. Sisakan sebagian untuk merasakan kecewa jika cinta tak berbalas. Dan juga menyiapkan sebagian tersebut untuk menerima hati yang lain. Siapa tahu justru hati yang lain itu kunci yang bisa membuka hati kita. Kita mungkin sudah tahu bahwa gembok bisa dimasuki beberapa kunci yang sejenis, tetapi hanya satu yang bisa membukanya. Mungkin selama ini teman-teman yang pernah singgah merupakan kunci yang sejenis tersebut tetapi ternyata kunci yang bisa membuka gembok justru adalah orang lain. So daripada capek-capek pacaran mending bebaskan hati, serahkan pada Yang Maha Kuasa. Tidak punya pacar itu sebuah kebanggan bagi orang-orang yang bisa menjaga diri. Justru ketika suami atau istri adalah pacar pertama dan terakhir maka rasanya akan indah banget..You’re the only one, now and forever.

Yang selanjutnya saya merasa miris dengan adegan pelukan tersebut. Apa coba gunanya? Bukankah orang akan menjadi bertanya-tanya? Setelah tahu seluk beluknya apakah itu bukan berarti aib? Bagaimana perasaan pengantin wanitanya? Ketika suaminya ternyata masih menyimpan perasaan kepada gadis lain. Lebih dari itu si pengantin wanita merasa dia hanyalah sebagai pelarian, ketika yang dilamar menolak maka dia dijadikan penggantinya. Tetapi meskipun statusnya sebagai istri si alki-laki tetapi seberapa besar cinta yang tersisa untuknya? Ketika si laki-laki masih memiliki hati untuk si gadis. Dalam kondisi seperti ini memang sebaiknya mantan tidak perlu menunjukkan bahwa pernah ada apa-apa antara mereka berdua. Sewajarnya tamu biasa saja, sudah kubur saja masa lalu berdua. Toh tidak akan membuat segalanya lebih baik ketika hal tersebut masih diungkit-ungkit. Justru akan memperburuk keadaan yang ada. Kecuali kalau memang niatnya membuat buruk keadaan pernikahan sang mantan. Membuat si mantan merasa bersalah meninggalkan dirinya seorang diri dan mencoba berbahagia dengan orang lain.

Kalau saya sih mending tidak usah pacaran. Tunggu saja sampai waktunya. Kalau serius ya lamar saja (untuk laki-laki) , kalau sudah yakin ya terima lamarannya (untuk perempuan). Ngapain juga pacaran, manfaat minimalis (mendekati 0 -(nol)- ), maksiat maksimalis.

Jangan Dibaca : Enaknya Pacaran Islami…

 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan mereka yang mengaku melakukan pacaran islami. Tetapi tulisan ini bermaksud meluruskan kembali apa itu yang disebut pacaran islami. Pacar menurut kamus bahasa besar Indonesia teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Sedangkanpacaran merupakan kegiatan menjalin hubungan berdasarkan cinta kasih. Jika ditambahkan kata islami tentu menjadi ada tambahan berdasarkan aturan-aturan (syariat) islam. Jadi jangan disebut pacaran islami jika hanya dilakukan oleh dua insan beragama islam, bila ternyata aktifitasnya tidak sesuai dengan aturan islam. Islam telah mengatur bagaimana hubungan antara pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, ikhwan dan akhwat. Lalu bagaimana yang disebut pacaran islami itu?

Dalam konteks pacaran tentu hal pertama dan utama adalah pernyataan untuk menjalin hubungan. Dalam pacaran umum (non islami) pernyataan menjalin hubungan, yang oleh sebagian besar pasangan diabadikan sebagai tanggal jadian, diwakili dengan perkataan “ Mau enggak kamu menjadi pacar aku? “ dan pernyataan ini dijawab “ iya, mau… “ dan akhirnya mereka resmi berpacaran. Dalam pacaran islami pernyataan tersebut bukan seperti itu. Bukan pula ungkapan yang berasal dari arab semisal “ ana ukhibbuki fillah ya ukhti.. “. Meskipun menggunakan bahasa arab dan ada kata-kata fillah namun sejatinya itu bukan ungkapan pendahuluan dalam pacaran yang islami.

Pacaran islami diawali dari pernyataan yang diucapkan oleh ayah si gadis atau walinya yang kemudian dijawab langsung oleh si laki-laki di hadapan dua orang saksi dan dicatat di catatan pernikahan negara. Dengan kalimat yang sangat menyentuh. Ayah si gadis mengucapkan “ Aku nikahkan …… dst. “ yang kemudian dijawab oleh si laki-laki “ Saya terima nikahnya…..dst. “ Kemudian disambut ucapan “Sah” dari saksi dan hadirin. Yup benar,itulah ijab qabul.

Berbeda dengan pacaran umumnya yang perkataan jadian hanya antara dua orang insan saja disaksikan rembulan atau kolam ikan, tetapi pacaran islami diawali dengan sesuatu yang agung. Yang sanggup menggetarkan ‘arsy, yang akan membuat syetan lari terbirit-birit karena gagal membuat bujuk rayu agar laki-laki dan perempuan tersebut melakukan zina. Pernyataan yang menyiratkan pelimpahan segala kewajiban dan seluruh tanggugjawab dari ayah si gadis kepada si laki-laki.

Nah setelah pernyataan tersebut dinyatakan sah maka mau aktifitas apapun ya silahkan. Mau berduaan di taman sambil bergandengan tangan. Mau makan bareng sambil sesekali suap-suapan. Mau berciuman di kamar. SMS-an setiap saat. Telepon sampai panas kuping. Bahkan mau menginap berdua juga dipersilahkan. Dalam pacaran islami apapun boleh dilakukan. Asal tidak menyimpang dari aturan-aturan (syariat) islam dalam hal hidup berumahtangga dan juga tidak melalaikan dari mengingat Allah SWT.

Jadi, siapa hayo yang berani pacaran islami? J

Simpel Saja, Alasan Saya untuk Tidak Pacaran

Saya pribadi tidak tahu kapan pacaran itu dikenal oleh masyarakat kita. Tapi yang pasti istilah pacaran sudah ada ketika saya masih SD. Meskipun waktu itu juga tidak paham betul apa itu pacaran. Dalam perkembangannya pacaran seolah menjadi hal yang ‘ wajib’ bagi sebagian besar remaja. Bahkan di jaman sekarang agaknya akan dibilang ‘gak gaul’ kalau tidak punya pacar. Bahkan ada sebagian orang tua yang merasa khawatir karena anak gadisnya yang masih duduk di bangku SMA belum pernah punya pacar sama sekali. Sementara gaya berpacaran masa kini sungguh memprihatinkan. Seolah-olah ketika terucap ‘ aku mau jadi pacarmu’ maka sudah halal apapun yang dilakukan. Lihat saja betapa sering kita dengar berita kehamilan siswi-siswi sekolah baik SMP maupun SMA. Dan itu dilakukan bersama pacar. Na’udzubillah min dzalik.

Tapi diantara sekian banyak orang, bahkan sampai masanya beranjak dewasa belum pernah sekalipun berpacaran. Dan sampai gerbang pernikahan tetap bisa menjaga status kesuciannya dengan “tidak pernah berpacaran’ . Dan pada akhirnya saya selalu salut terhadap teman-teman yang sampai sekarang belum pernah sekalipun berpacaran atau teman-teman yang sudah menikah dan tidak memiliki riwayat ‘pernah pacaran’ sebelumnya. Terlepas dari apa latar belakangnya yang pasti mereka adalah orang-orang yang perlu diacungi jempol.

Teringat dulu ketika masih SMP, pada waktu itu ada seorang teman cewek yang awalnya hanya iseng dijodoh-jodohkan oleh guru tetapi akhirnya suka sama saya. Dan teman-teman geng-nya sempat menanyakan padaku “ Gimana, jadi mau gak? “. Maksudnya mau berpacaran dengan teman cewek tersebut. Pada waktu itu akhirnya saya menjawab “ Wah enggak aja… “. Mungkin terkesan sadis karena tidak ada basa-basi sama sekali. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya adalah saya tidak ingin ribet dengan punya pacar. Lagian saya tidak butuh seorang pacar.

Masa berlalu akhirnya romantika di SMP bisa terlampaui dengan tetap memiliki status ‘tidak pernah punya pacar’ yang artinya juga bukan bekas pacar orang lain. Agaknya saya risih dengan kata ‘mantan’ dalam hal pacaran. Mantan itu kan konotasinya untuk gelar yang baik. Mantan pejabat, mantan presiden, mantan guru dan lain-lain. Kalau pacar kan bukan gelar yang bagus, pantasnya adalah bekas pacar. Hehehe… Kemudian masa SMA juga pernah disukai oleh adik kelas dan teman seangkatan. Waktu itu pun saya tetap berpendirian bahwa saya tidak mau ribet dengan punya pacar dan lagipula tidak urgent punya pacar.

Kenapa saya bilang tidak mau ribet? Kita tentu paham dengan tradisi yang dilakukan oleh teman-teman yang berpacaran. Apel rutin malam minggu, antar jemput bepergian, belum lagi ada acara mendadak yang perlu kehadiran kita. Dan saya tidak mau terikat dengan itu semua. Saya sering melihat kasus mereka yang berpacaran kemudian suatu saat tidak ada apel malam minggu tanpa alasan yang jelas terus marahan. Ada konflik kecil, marahan. Kita kebetulan dapat kerja kelompok dengan temen cewek, dianya cemburu, marahan lagi. Belum lagi marahan-marahan yang lainnya. Dan marahan tersebut akan menguras energi kita. Kasihan ya… Padahal kedewasaan masa itu belum cukup ampuh untuk mengatasi permasalahan tersebut. Walhasil energi terkuras untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Belajar menjadi terganggu, prestasi tidak maju-maju. Simpel sekali alasan saya untuk tidak terikat dengan pacaran, TIDAK INGIN RIBET.

Menginjak masa kuliah agaknya saya menemukan alasan yang lebih kuat untuk tidak berpacaran. Saya tidak menemukan perintah dalam agama untuk berpacaran tetapi yang ada adalah perintah menjaga izzah. Banyak saya temukan perintah untuk menjaga diri, menjaga pandangan, tidak berdua-duaan dan larangan yang lain. Sejak saat itu prinsip untuk tidak berpacaran seolah menjelma menjadi sesuatu yang harus saya penuhi dan harus saya realisasikan. Pada masa inilah juga muncul suatu cita-cita yang mungkin bagi sebagian orang aneh, yaitu ingin punya istri yang tidak pernah pacaran. Dan konsekuensi dari hal tersebut adalah dengan tidak berpacaran. Agaknya akan lebih mudah kita cerna bahwa ketika kita ingin seorang istri yang tidak pernah berpacaran maka sebaiknyalah kita tempuh dengan cara tidak berpacaran juga. Akan lebih adil dan insya Allah akan lebih mudah.

Jadi setelah perjalanan waktu yang begitu panjang, terjadi perkembangan alasan kenapa saya tidak pacaran. Kalau dulunya ‘hanya’ karena tidak ingin ribet maka menjelma menjadi lebih bisa dipertanggungjawakan yaitu untuk menjaga izzah (kemuliaan, kesucian) diri. Dan itu pada akhirnya menjadi semacam semangat untuk menghadapi setiap orang yang agaknya memandang aneh bagi mereka yang tidak ingin berpacaran.

Kenapa Harus Pacaran ????

pacarankokgituSiapa sih yang tak tahu pacaran? Hari gini !!! Bahkan anak-anak SD pun sudah mulai mengerti pacaran entah itu hanya sekedar tahu istilah pacaran maupun benar-benar tahu pacaran itu seperti apa. Dan memang ini bisa dipahami (tapi bukan untuk dimaklumi) ketika anak-anak setingkat SD pun sudah tahu tentang pacaran.

Media-media informasi seperti televisi, majalah remaja dan masih ada lagi yang lain begitu gencarnya menyajikan tayangan-tayangan dan bahasan-bahasan mengenai hal yang satu ini. Dan entah mengapa tayangan-tayangan dan bahasan-bahasan tentang pacaran selalu menjadi topik yang menarik dan diminati masyarakat. Ini bisa dilihat dari banyaknya tayangan yang bertema pacaran. Kita tidak bisa dong hanya menyalahkan pembuat filmnya saja, karena kalau masyarakat tak antusias maka film seperti itu tak laku dan pastinya tak banyak diproduksi. Begitulah keadaan kebanyakan generasi muda kita.

Diantara berbagai kerusakan di segala segi kehidupan, kerusakan akibat tayangan televisi berbau pacaran mungkin bisa dikategorikan bencana besar ( bisa jadi kalau ada 10 besar bencana berbahaya, tayangan berbau pacaran bisa masuk tuh secara dampaknya sungguh merusak ).

Kebanyakan remaja mungkin tak sadar dan tak menelaah lebih lanjut kenapa dia pacaran atau pengen pacaran. Sebagian hanya ikut-ikutan temannya, kalau yang lain punya pacar maka harus punya pacar. Seakan pacaran itu wajib dan tak punya pacar itu dosa, padahal kan yang bener malah sebaliknya. Terlebih lagi banyaknya omongan yang bernada mengejek seperti
” Hari gini gak punya pacar? Normal gak sih loe?”

Atau yang paling memprihatinkan justru jika ada orangtua yang mendukung dan mengharuskan anaknya pacaran. Seperti pertanyaan :

” Mbak dah punya pacar belum? Kok ibu gak pernah liat temen cowok mbak main ke sini. Kapan-kapan diajak kesini ya.biar ibu bisa mengenalnya.”

Atau ada juga yang terkesan membatasi tapi ujung-ujungnya sama saja.

” Untuk sekarang mbak fokus sekolah dulu. Besok kalau dah kuliah baru ibu ngijinin mbak punya pacar.”

Dan hal-hal diatas bukanlah dilebih-lebihkan tetapi memang ada kenyataan seperti itu. Dan ini menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimana orangtua yang seharusnya melindungi dan menjaga anak-anaknya justru malah menjerumuskan anak-anaknya ke lembah hitam bernama pacaran.

Mungkin banyak diantara para remaja belum mengetahui bahwa pacaran itu ternyata banyak negatifnya dilihat dari berbagai segi. Atau sudah tahu tapi tidak menganggap itu sebagai dampak buruk. Disini akan dibahas sedikit mengenai dampak buruk pacaran bagi pelakunya.

1.Memboroskan waktu, uang dan pikiran

Dampak yang bisa dilihat langsung dan dirasakan adalah terbuangnya banyak waktu,uang dan pikiran secara sia-sia. Bagaimana tidak, orang yang punya pacar akan berusaha untuk selalu bersama pacarnya, setidaknya meluangkan waktu untuk lebih banyak bertemu dan bersama. Akibatnya dia tak punya waktu untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Selain itu kalau dia laki-laki juga harus rela untuk antar jemput sang pacar (sampai ini harusnya laki-laki tahu kalau dia cuma dimanfaatin sebagai tukang ojek saja, tapi anehnya kok ya mau-mau aja). Kalaupun memang jarang bisa bertemu dan barengan maka komunikasi lewat telpon. Mereka akan rela mengabiskan pulsa berpuluh2 ribu bahkan beratus2 ribu hanya untuk kegiatan yang satu ini.Belum lagi kalau harus jalan-jalan malem minguan, uang yang dihabiskan akan lebih banyak lagi. Ulangtahun belikan kado, membuat acara yang surprise pas valentine dan banyak lagi.

Selain itu pikiran kita juga tersita. Pelajaran tak masuk ke otak, bawaannya hanya mikirin pacar. Akibatnya pikiran tidak berkembang, hanya stagnan (diam tak bergerak). Bisa -bisa menjadi biang kebodohan. Dan yang lebih meng-HEBOH-kan setelah semua pengorbanan  ini hasilnya tak PASTI. Kok bisa? Kita lihat saja dalam dunia orang pacaran, berapa sih yang bisa bertahan lama. Apalagi sekarang, gampang gonta-ganti pacar. Berarti apa yang dilakukan sebegitu banyaknya hanya untuk mendapatkan hasil yang tak PASTI. Nah hasil yang pasti adalah KEKECEWAAN, Daftar panjang nama-nama mantan pacar dan satu lagi nambah daftar jadi BEKAS orang Lain. Lainnya tak ADA. Kalau kita mau berpikir maka MAU-kah kita mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang NOL. Berkorban sebesar-besarnya untuk mendapatkan hasil yang NOL. Inilah prinsip Pacaran, bertolak belakang dengan prinsip ekonomi konvensional.

2.Hidup jadi gelisah (cemburu, rindu, patah hati)

Mungkin dari poin pertama akan muncul sanggahan.
Lho aku malah lebih tenang dengan punya pacar. Karena aku sudah tak perlu lagi mikir untuk mencari lagi. Dan tiap hari ada yang memperhatikan. Bukankah itu menyenangkan dan menentramkan?” Yakiiin kayak gitu?
Di satu sisi memang bisa dikatakan hampir benar, namun disisi lain justru menghilangkan ketenangan dan ketentraman seperti yang dibilang. Pernah CEMBURU? Pernah Merasakan RINDU? Setiap orang tahu bahwa yang pernah merasakan cinta (baik yang pacaran maupun tidak) pasti pernah merasakan cemburu dan rindu. Namun dampak negatif muncul terhadap orang2 yang punya pacar. Setiap saat dia dilanda rindu, selalu ingin bertemu. Ujung2nya jadi melamun (wah perlu hati-hati, melamun bisa menyebabkan kesurupan :) ). Kalau sudah begini susah obatnya kecuali dengan bertemu.

Seorang penyair mengatakan:” obat dari kerinduan adalah dengan pertemuan.”

Yang kedua adalah Cemburu. Cemburu itu lebih panas dari api yang membakar, lebih gemuruh daripada angin topan. Cemburu akan membawa seseorang kepada pikiran dan tindakan buruk. Bawaannya selalu curiga.

Yang ketiga adalah PATAH HATI. Bagi para petualang cinta (katanya demikian), patah hati merupakan menu rutin dan makanan favorit. Mereka telah mengalami banyak momen patah hati. Tapi seberapapun banyaknya, setiap patah hati pasti menyisakan penderitaan yang panjang. Apalagi remaja saat ini, dengan patah hati maka segala hubungan terputus, akibatnya mengurangi daftar teman. Sudah RUGI berkorban banyak, ditambah HILANGnya teman.

3.Jadi suka berprasangka buruk

Orang yang pacaran berpotensi lebih besar untuk berprasangka buruk.Baik terhadap teman-temannya terutama seseorang yang jadi pacarnya maupun orang yang bahkan tak dikenal yang dekat dengan pacarnya. Dia sering berpikiran jangan-jangan pacarnya juga baik sama orang lain dan takut kalau diputus. Padahal pada kenyataannya juga biasa-biasa saja. Tapi itulah yang sering terjadi. Sungguh ini akan menyiksa diri sendiri dan merusak pikiran.

4.Pergaulan menjadi sempit

Dengan adanya prasangka-prasangka dan pikiran-pikiran buruk maka orang yang berpacaran senantiasa terbatasi pergaulannya. Kalau mau berteman dengan si A atau si B atau siapapun harus seijin dan sepengetahuan sang pacar. Akibatnya pergaulan menjadi sempit, karena terbatasi dan keadaan yang lebih buruk jika justru orang takut berkenalan dengan dia hanya karena takut dimarahi pacarnya.

Kalau dipikir-pikir, emangnya pacar itu seberapa besar sih hak terhadap seseorang? Bukankah tak ada haknya sama sekali.Terus kenapa harus dilarang kalau mau berteman dengan banyak orang (kalau teman beda gender emang tak usah banyak-banyak). Lha wong orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan (otomatis punya hak lebih besar terhadap kita) saja membolehkan banyak berteman, bahkan ada yang menyuruh untuk banyak teman. Kok berani-beraninya orang yang tak punya hak sama sekali mengatur hidup kita. Bukankah dengan banyak teman akan terbuka banyak peluang dan kesempatan? Lantas kenapa justru sebagian besar remaja merelakan banyak kesempatan dan peluang itu berlalu begitu saja HANYA demi seseorang yang belum tentu BERMANFAAT bagi diri mereka sendiri ( kecuali manfaat yang sebentar, yang itupun sebenarnya hampir tak ada sama sekali ).

5.Aktivitas menjadi terbatas

Dikarenakan jumlah teman sedikit maka aktivitas pun sedikit. Atau malah ada yang berani mengatur kegiatan sang pacar. Hanya boleh ikut kegiatan ZZZ dan VVV tapi kegiatan lainnya tak boleh. Sekali lagi apa hak pacar melarang seseorang beraktivitas. Makanya tak salah bila PACARAN bisa disebut PENGHAMBAT PENGEMBANGAN KREATIVITAS. Padahal banyak aktivitas akan membuat pikiran kita berkembang, anti stress dan menambah pengalaman dan kawan. Relakah kita terkungkung oleh seorang pacar yang notabenenya BUKAN SIAPA-SIAPA?

6.Menyakiti orangtua dan keluarga

Orang yang berpacaran akan menghabiskan banyak waktu dengan pacarnya, terlebih momen-momen liburan. Tahukah kamu bahwa sebenarnya orangtua pun menginginkan kebersamaan dengan anaknya? Entah dengan piknik bareng, bekerja di kebun bareng, membuat kerajinan atau yang lain-lain. Namun disisi lain kita malah menghabiskan waktu dengan orang lain. Tak jarang orangtua menjadi sedih dan merasa dianggap tidak penting. Tapi kalau tideak mau pergi bersama pacar nanti pacar marah.

Coba kalau ditanya balik kepada para remaja yang berpacaran, lebih berdosa mana membuat orang tua sedih dan marah atau membuat pacar marah (yang nota bene BUKAN SIAPA-SIAPA)? Bagaimanapun juga akal sehat akan lebih memilih untuk tidak membuat orangtua sedih dan marah. Namun terkadang setan lebih lihai dalam menjerumuskan manusia.

7.Merusak kesucian diri

Yang terakhir adalah merusak kesucian diri. Kesucian ini jangan diartikan dengan tidak melakukan hubungan terlarang, namun lebih luas kesucian itu menyangkut apakah diri kita sudah pernah ternoda dengan perasaan-perasaan yang pernah muncul, apalagi yang pernah jalan-jalan bareng pasti lebih merasakan kalau sebenarnya ternoda. Keadaan ini tidak akan terasa jika masih pacaran namun setelah nanti ketika masa akan menikah.

Secara jujur kalau ditanyakan kepada seseorang ingin memiliki istri/suami yang sudah pernah pacaran atau belum, maka bisa dijamin bahwa sebagian besar (atau malah semua) ingin yang belum pernah pacaran. So apakah kita ingin sesuatu yang suci sementara diri kita telah ternoda. Kalau bisa ya bersyukur banget, tapi kemungkinan itu sangat kecil kecuali bila kita telah bertobat.

Sebenarnya masih banyak lagi akibat-akibat buruk dari pacaran. Dengan beragam keburukan itu masih pantaskah dijadikan pilihan? Selamatkan hatimu, selamatkan dirimu dan selamatkan agamamu dengan TIDAK PACARAN.

Lalu ada lagi yang namanya pacaran islami yang katanya solusi dari pacaran yang sudah umum yang sangat merusak. Tapi pada kenyataannya tak ada tuh yang namanya pacaran islami yang katanya lebih menyelamatkan, sesuai syar’i. Ini hanya akal-akalan orang yang pengen pacaran tapi tak pengen disebut berbuat maksiat. Karena kriteria pacaran islami pun (yang pernah saya tahu) tak jauh-jauh amat dari pacaran pada umumnya.Kenapa masyarakat begitu mudahnya berlepas diri dari dosa hanya dengan menambahi embel-embel islami dibelakang aktivitas maksiat. Padahal kalau esensinya dosa ya bagaimanapun tetap dosa.

Mari jaga diri kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita dan lingkungan kita supaya tidak rusak oleh kegiatan yang namanya PACARAN. SAY NO TO PACARAN..

Apa iya Ta’aruf namanya?

Sebenernya tulisan ini sudah lama ingin saya posting. Tapi sejak tragedi lupanya user dan password blog yang satunya, keinginan itupun tertunda. Dan baru kali ini sempat mempostingkan di blog baru saya. Kali ini kita akan membahas tentang Ta’aruf.

Ta’aruf. Siapa sih yang gak tahu apa itu ta’aruf?  Saya kira hampir semua masyarakat kita tahu apa itu maksud ta’aruf. Secara, sekarang kan banyak sinetron yang berlatar dunia pesantren, meskipun jalan cerita dan tata cara kelakuan tokohnya gak beda dengan sinetron pada umumnya. Beda casing doang. Yang perempuan berjilbab, yang laki-laki ber-koko. Tapi karakter tetep sama saja. Lebih banyak menampilkan kejutekan, kejudesan, marah, pertengkaran, cinta-cintaan. Miris jadinya kalau mengingat kenyataan seperti itu. Efek dari sinetron semacam ini adalah mendistorsi keagungan Islam itu sendiri, yang dimungkinkan memang tujuannya seperti itu. Maklumlah paham liberal lebih seksi untuk ditampilkan daripada pemahaman Islam yang baik dan benar.

Kembali ke pembahasan tentang ta’aruf. Apa sih bedanya ta’aruf dan pacaran? Apakah bisa disebut ta’aruf itu pacaran islami? Sebelum kita bicara perbedaannya kita bicara dulu kesamaannya.

Continue reading