Jangan Minta Cariin Jodoh Kalau Belum Niat

Judul ini bertahan hampir satu setengah tahun lamanya. Awalnya mau jadi ajang curahan kegemasan saya. Tapi urung dilakukan. Mungkin akan lebih baik bila ditahan dulu kegemasan saya itu daripada keluar tulisan yang kurang sedap dibaca.

Judul diatas mungkin bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain. Ya memang begitu adanya. Begini sejarahnya. Waktu itu berlandaskan niatan baik untuk menghubungkan teman-teman yang masih single maka kami berniat menjodohkan antara teman laki-laki dan perempuan. Awalnya saya sudah menanyakan ke pihak laki-laki (teman saya) serius atau tidak. Demi mengetahui kalau dia serius maka saya mantapkan diri untuk memprosesnya. Proses taaruf pun bermula.

Awal proses adalah nanting pihak perempuan, mau tidak kalau dicoba bantu cari jodoh. Kebetulan ada laki-laki yang siap. Dijawab olehnya mau. Yup gayung bersambut. Tahap pertama adalah bertukar biodata. Dan kami harus profesional bahwa biodata harus aman tanpa bocor informasinya ke pihak maisng-masing. Jelas sekali kami tidak berkepentingan untuk tahu isinya. Kami hanya sebagai penghubung, tidak lebih. Sempat kami tanyakan ke pihak perempuan bagaimana tanggapan awal setelah pertukaran itu. Dari pihak perempuan insya Allah lanjut. Alhamdulillah, demikian ucap kami saat itu. Gimana tidak, ganjalan atau kendala utama proses ta’aruf adalah bila pihak wanita tidak setuju lanjut.

Sampai saat itu saya yakin kalau ini bakal sukses mengingat pihak laki-laki pernah saya tanya bagaimana pendapat tentang perempuannya. Kebetulan pernah ketemu di apotek kami. Jadi jelas dalam pandangan kami pihak laki-laki tinggal menunggu kata iya dari pihak perempuan.

Waktu berlanjut. Setelah pertukaran biodata itu rupanya ada komunikasi antara mereka. Dan cukup kaget kami ketika tiba-tiba pihak perempuan membatalkan kemungkinan untuk lanjut. Telisik punya telisik, ternyata pihak laki-laki masih menunggu pihak lain perempuan). Sebenarnya saya juga pernah diceritai oleh teman saya itu bahwa saat ini masih menunggu kepastian dari temannya (masih ada kisah). Tapi saya juga sudah menanyakan keseriusan untuk proses taaruf ini yang tentunya dia juga sudah paham konsekuensinya.

Ya, pantesan saja pihak perempuan membatalkan. Memang harusnya diselesaikan dulu dengan yang masih berjalan. Kalau sudah jelas keputusannya, baru berproses dengan yang lain. Etikanya dalam proses taaruf, tidak seharusnya melakukan multiple ta’aruf. Selesaikan dahulu proses yang lebih awal sampai tuntas dan bila jelas tidak berhasil baru beralih ke proses berikutnya (yang lain).

Kami merasa dibohongi saja. Kalau tahu begitukan mending tidak usah kami bantu. Jelas itu artinya proses yang dibantu jalankan ini hanya sebagai pembanding saja. Atau lebih parah sebagai cadangan. Kalau dengan yang utama gagal, baru dengan yang ini. Kalau berhasil dengan yang utama maka jelas akan meninggalkan proses yang ini. Akhirnya saya ingin katakan saja Jangan minta cariin jodoh kalau belum niat.

Update, teman saya yang laki-laki alhamdulillah sudah menikah. Saya juga tidak tahu apakah dengan pilihan utamanya dulu atau juga nasibnya menerima yang cadangan. Sementara teman kami yang perempuan masih belum mengedarkan undangan. Namun dari kabar selentingan sudah ada jodohnya tinggal nunggu waktu.

Advertisements

Laki-Laki Juga Butuh Perhatian Lho…

Dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan (suami-istri *) , perhatian menjadi salah satu hal yang mesti ada. Ada yang butuh perhatian dan ada yang memberi perhatian. Tetapi agaknya jamak dalam masyarakat kita bahwa rumus yang berlaku yaitu laki-laki yang memberi perhatian dan perempuan yang perlu diberi perhatian. Seakan-akan laki-laki dibebani lebih berat dengan kewajiban memberi perhatian kepada perempuan. Kita mungkin sering mendengar umpatan semacam “ dasar laki-laki tak perhatian !!!” . Tapi jarang kita mendengar ucapan serupa tetapi dengan objek pelakunya perempuan. Bisa jadi hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perempuan lebih sering mengungkapkan uneg-unegnya mengenai ketidak perhatian seorang laki-laki kepadanya. Entah itu secara langsung atau kepada teman gosipnya. Sementara laki-laki kadang lebih memilih tutup mulut dan jarang mengungkapkan bahwa dia butuh perhatian. Lalu apakah diam itu berarti tidak butuh?

Dalam suatu hubungan, kata ‘saling’ perlu mendapat porsi yang lebih untuk dipraktekkan bersama. Artinya ketika salah satu butuh, maka pihak lainnya juga butuh. Ketika perempuan butuh perhatian, maka laki-laki pun sebenarnya butuh perhatian juga. Laki-laki butuh untuk diperhatikan, butuh untuk dipahami suasana hatinya sebagaimana perempuan. Tentu kadarnya tidak sama mengingat, katanya, wanita itu lebih mengedepankan perasaan daripada logika, sementara laki-laki ,katanya pula, lebih unggul dalam hal logika daripada perasaan. Tetapi kan sama-sama punya perasaan. Berarti sama-sama perlu diperhatikan dan dipahami suasana hatinya.

Laki-laki itu memang lebih banyak -terkesan- kuat. Mungkin karena hal inilah yang menjadikan perempuan menganggap bahwa laki-laki itu tegar dan tidak butuh perhatian. Sementara itu justru harus memberikan perhatian yang cukup (banyak?) kepada perempuan. Memang sih laki-laki itu tidak selalu peduli dengan perhatian, karena lebih banyak kecenderungannya kepada sikap cuek. Bahkan ada laki-laki yang tidak suka jika diberi perhatian yang berlebihan. Tapiiiii sekali lagi hal itu bukan berarti laki-laki tidak butuh perhatian. Ada masa dimana seorang laki-laki itu butuh perhatian. Kapan itu?

Terlalu sulit untuk memastikan kapan seorang laki-laki membutuhkan perhatian. Nah ini jadi tantangan bagi perempuan untuk bisa memahami suaminya. So so lah…

* mohon maaf hubungan di luarpernikahan tidak saya maksudkan di sini