Jangan Hanya Sisa-sisa

Tamparan hati bisa datang dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Saat mendapatkan hal itu, syukurilah bahwa Allah masih sayang kita. Allah sedang memberikan nasehat kepada kita. Seperti pagi kemarin. Ceritanya sepulang dari upacara rutin tanggal 17, saya ndilalah barengan dengan pak Suhadi di parkiran kantor. Kebetulan semalam ada miscall dari beliau via WA ya akhirnya saya tanya saja.

” Tadi malam ada apa e pak kok miscall saya? ”

” Gak ada apa-apa, cuma kepencet. Lagi bersihin chat di WA yang terlalu penuh. Nah pas itu kepencet nomere mas Arif ”

” Oh.. saya kira ada apa. Kebetulan pas jam segitu saya baru ngaji.. ”

” Ngaji? Dah jam setengah 10 malam lho..”

” Maksud saya ngaji tadarus pak.. Baca Kahfi.. Lha saya sempatnya jam segitu e..”

” Lho untuk urusan akhirat tuh jangan sempatnya, tapi diluangkan waktu untuk tadarus.. Jangan hanya sisa-sisa waktu..”

Jleb… Plak-plak-plak… Keras sekali tamparan itu, menghunjam sekali nasehat itu. Memang benar untuk urusan akhirat (salah satunya tadarus, baca Quran) seharusnya kita menentukan waktu rutin dalam 24 jam kehidupan kita. Terserah mau ambil pagi, siang, malam atau kapanpun. Namun seringkali kita punya alibi, alasan yang selalu menjadi pembenaran untuk tidak ada waktu bagi urusan akhirat. Entah sibuk dengan pekerjaan sehingga terlalu lelah, atau terlalu banyak waktu bermain dengan anak-anak sehingga lupa untuk melakukan aktifitas ukhrowi.

Ya Allah… Semakin sadar bahwa dalam keseharianku ini, waktu untuk mengingat-Mu hanyalah sisa-sisa waktu setelah jenuh untuk urusan dunia. Sementara urusan dunia ini tidak akan berguna saat bertemu dengan-Mu jika tidak mendukung urusan akhirat. Sudah semestinya fokus kita adalah akhirat, insya Allah dunia mengikuti. Ibarat menanam padi, pasti ilalang tumbuh. Tapi jika menanam ilalang, jangan harap padi kan tumbuh. Kalau fokus ke akhirat insya Allah dunia mengikuti, tapi kalau sebaliknya fokus ke dunia maka pastilah akhiratnya terlalaikan. Naudzubillah.

 

Tamparan Hati

Jumat, 13 Januari 2017. Tepat sepuluh hari sejak tanggal 03 (sebuah tanggal yang spesial di setiap bulannya bagi saya) Januari. Rehat sejenak selepas kerja bakti di kantor. Haus yang sangat memaksaku membeli Evita 3 botol. Kebetulan ada dua rekan kerja bakti  lagi yang satu grup denganku.

Sambil duduk berselonjor kaki, kusodorkan sebotol kepada seorang rekan yang tak lama lagi pensiun.

Wah nembe poso e mas” (wah lagi puasa mas-terj.) jawabnya.

Poso nopo pak?” (puasa apa pak?-terj.) tanyaku.

Poso ndawud mas” (puasa daud mas-terj.) jawabnya.

Deg. Puasa daud? Puasa sunnah yang paling utama. Puasa selang seling, sehari puasa, sehari tidak . Terkejut. Sungguh terkejut, beneran.

Mpun dangu pak?” (sudah lama pak?-terj.) tanyaku.

Yo wis ket 2014 mas.. dadi entheng awakke.. mundhak semangat le sholat bengi, ora keri le sholat wajib neng mesjid.. jam setengah telu ki mesthi wis tangi.. sholat tahajjud.. kabehe dadi berkah mas..” ( Ya sejak 2014 mas.. jadi ringan badannya.. tambah semangat sholat malamnya, tidak ketinggalan sholat wajib di masjid.. jam setengah tiga pasti sudah bangun.. sholat tahjjud.. semuanya jadi serba berkah mas..-terj.) jawab beliau.

Plak!!! Hati ini serasa tertampar. Seakan ada yang berkata kepadaku: Lihat!!! Lihat !!! Sosok di sebelahmu itu. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk tahu keutamaan puasa daud. Lihat dirimu, senin-kamis saja acapkali lewat. Puasa 3 hari tiap bulannya boro-boro inget. Lalu apa yang mau kamu banggain di hadapan Allah? Sholat malam saja entah berapa kali sebulan. Padahal kamu sudah tahu keutamaan semuanya itu. Nyesek dengernya.. Suara hatiku itu memang selalu begitu. Tak pernah pandang kondisiku. Nyeplos sekenanya begitu ada yang perlu disampaikan. Tapi bersyukurlah masih ada dia yang mengingatkanku. Alhamdulillah…

Benarlah bila ada yang mengatakan beragama itu awalnya ilmu sebagai dasarnya, tapi kemudian amal yang menjadikannya bermakna. Apa guna ilmu banyak kalau tidak diamalkan. Lebih mending ilmu cukup lalu diamalkan sebisa mungkin.

Ya Allah.. terimakasih untuk pelajaran, untuk tamparan yang engkau tunjukkan pagi itu. Semoga bisa menginspirasiku untuk menjadi lebih baik lagi. Lakukan amal sekuat tenaga, sebisa mungkin asal ada dasarnya. Terimakasih pak Warindi, semoga Allah memberkahi beliau.

Andai Kulakukan Dari Dulu

Ini sebuah kisah yang menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin dapat diambil hikmahnya bagi teman-teman pembaca sekalian. Ceritanya ada dua buah tugas kuliah dari dua mata kuliah yang berbeda namun diampu oleh dosen yang sama. Tapi masalahnya bukan karena dosennya sama, tetapi lebih kepada waktu pengumpulannya yang bersamaan. Tetapi sebenarnya bukan itu juga masalahnya, melainkan karena tugasnya cukup berbobot dan harus selesai dalam tempo 2 minggu. Tapi sebenarnya bukan pula itu permasalahannya.Lalu apa dong? Buruan gih kasih tahu… keburu kerempeng nih…

Oke oke. Jadi inti masalahnya adalah dua tugas itu harus selesai dalam satu hari. Lho katanya 2 minggu? Mana yang bener??? Bentar dulu to.. Biarkan beta menyelesaikan intronya dulu. Selesai dalam satu hari plus dalam kondisi badan yang tidak sehat. Sungguh sebuah perjuangan yang berat. Kalaulah tidak ada pertolongan-Nya pastilah tidak akan selesai. Lha tulisan ini ditulis setelah selesai mengerjakan tugas dan mengirimkannya.

Lho mana penjelasan dari 2 minggu menjadi cuma 1 hari? Jangan mencla mencle ah… kayak pemerintah aja… Sabar… jangan bawa-bawa pemerintah. Ntar diciduk baru tahu rasa. Ceritanya tugas yang dua minggu itu, karena melihat dua minggu itu lumayan lama kan ya.. seharusnya tak perlu sampai berpeluh-peluh kan ya, tapi ternyata membuat diri ini terlena. Ah besok besok saja.. itu adalah bisikan jahat yang merasuk ke dalam pikiranku. Dan payahnya aku terjerat bisikan itu. Kalimat itu seakan berulang ketika aku hendak mengerjakan. Walhasil tinggal 3 hari lagi dikumpulkan aku belum juga mengerjakan. Dalam pada itu datanglah sesuatu yang tak pernah aku perhitungkan sebelumnya. Sakit. Yang membuatku demam selama 2 malam, sementara siang tak cukup berdaya untuk berpikir yang berat. Terasa sekali seakan pipi ini ditampar, tapi bukan oleh bidadari. Sehingga sakitnya tuh disini (nunjuk hidung..). Walhasil waktu sehari harus selesai, mau tidak mau, bisa tidak bisa harus selesai. harus.. harus.. harus..

Qadarullah dengan pertolongan Allah SWT tugas itupun selesai. Berakhir dengan dikirimkannya tugas-tugas tersebut di bawah pohon ketapang, dihiasi lampu taman, tapi saya menggelandang di tepi jalan, memanfaatkan wifi gratisan yang oleh sang pemiliknya sudah diikhlaskan . Alhamdulillah bersyukur bahwa episode sakit datangnya tepat waktu. Artinya sakit sudah menjelang sehat sehingga masih punya waktu untuk menyelesaikan tugas.

Benar-benar menjadikan sebuah pelajaran bagi saya. Bahwa sikap menunda-nunda itu tidak baik akibatnya. Mungkin saya terlupa pernah menulis seperti ini sehingga perlu diberi tamparan agar ingat kembali. Teringat nasehat Umar ra “ Jangan kau tunggu sampai sore apa yang bisa kau kerjakan pagi hari, jangan kau tunggu esok apa yang bisa kau kerjakan hari ini.” Sebuah nasehat yang jaaaauuuuh sudah disampaikan beberapa generasi sebelum kita dan itu masih sangat relevan bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Waktu bagaikan sebuah pedang, siapa yang tidak pandai memanfaatkannya maka akan terbunuh oleh pedang tersebut. Mungkin seperti puisi penjahat berdasi. Mati tercekik dasinya sendiri.

Dan akhirnya saya menemukan sebuah formula yang lebih hebat dari sekedar resep krepi patty yaitu “jika waktumu ada, kesehatanmu terjaga, jangan tunggu sampai lusa, segeralah bekerja”. Dan semoga ini terakhir kalinya saya merasakan kemrungsung seakan diburu waktu, dikejar dateline. Ke depan insya Allah harus lebih semangat dalam mengerjakan tugas, lebih bisa menghargai waktu. Itu.

NB: Judul diatas sebenarnya lebih tepat jika ditulis Andai Kukerjakan Dari Kemarin-kemarin, tetapi agar lebih dramatis saja saya pilih kalimat tersebut. Semoga pembaca tidak merasa gimanaaa gitu.

 

Satu Celupan Yang Membuat Lupa Dunia

Kelak pada hari kiamat Allah akan memanggil dua orang dari hamba-hamba-Nya yang mewakili dua tempat kembali yang berbeda. Satu orang adalah ahli neraka dan seorang lagi ahli surga. Pertama-tama dipanggillah ahli neraka. Seseorang yang bergelimang harta dan kemewahan ketika di dunia. Sungguh banyak nikmat Allah yang dimilikinya. Tiada rasanya kesusahan dan kesedihan menghampiri sepanjang hidupnya. Namun pada akhirnya dia justru menjadi ahli neraka. Lalu dicelupkanlah ia ke dalam neraka barang sesaat. Lalu kembalilah dihadapkan kepada Sang Pencipta.

Lalu Allah SWT bertanya, “ wahai hamba-Ku apakah engkau pernah merasakan nikmat sebelum ini? “ Lalu iapun menjawab “ Belum pernah ya Allah.. Hamba sama sekali belum pernah merasakan apa itu kenikmatan hidup.”

Kemudian didatangkanlah hamba kedua. Seseorang yang semasa hidupnya penuh dengan kesengsaraan. Jalan hidupnya terlalu nestapa untuk dikenang. Rasanya dapat dihitung dengan jari saat-saat dimana dia merasakan secuil kebahagiaan. Hidupnya dihabiskannya dalam suasana penuh derita. Namun rupanya di akhirat ia menjadi ahli surga. Lalu dicelupkanlah ia ke dalam surga barang sesaat. Lalu kembalilah dihadapkan kepada Sang Pencipta.

Lalu Allah SWT bertanya, “ wahai hamba-Ku apakah engkau pernah merasakan penderitaan sebelum ini?“ Lalu iapun menjawab “ Belum pernah ya Allah.. Hamba sama sekali belum pernah merasakan apa itu kesengsaraan dan penderitaan dalam hidup hamba.”

Lihatlah. Betapa siksa neraka walau sekejap mata telah membuat orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya mengalami penderitaan yang sangat. Saking menderitanya seakan-akan tiada belum pernah sekalipun ia merasakan kebahagiaan dalam hidup. Padahal ketika hidup di dunia, gelimang harta, rumah dan kendaraan. Jabatan nan tinggi, pelayanan terbaik dari para pembantu-pembantunya. Namun semua itu tiada diingat lagi gegara satu celupan sesaat di neraka.

Lalu Lihatlah. Betapa nikmat surga dan keindahannya membuat sesiapa yang dimasukkan ke dalamnya merasakan kebahagiaan dan keberuntungan yang sangat. Seoalh-olah tiada pernah sekalipun ia merasakan penderitaan. Serba kekurangan, kelaparan dan kesulitan semasa hidupnya seakan tiada pernah terjadi. Dan itu semua karena surga.

Maka marilah kita renungkan bersama. Berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita apakah jusru akan menjadikan kita jauh dari-Nya? Apakah segala nikmat itu akan menjadi sebab terlemparnya kita ke neraka? Na’udzubillah mindzalik. Sudah semestinya kelapangan harta dan nikmat-nikmat yang banyak itu akan membawa kita kepada surga. Jangan sampai kenikmatan yang kita rasakan di dunia ini hanya sampai berakhirnya usia kita.

Demikian pula bila kondisi sebaliknya yang kita alami. Apakah penderitaan, kesusahan yang dialami akan mampu membuat kita masuk ke surga atau malah mengantar kepada neraka? Bukankah penderitaan itu tak lagi terasa bilamana nikmat di akhirnya. Jangan sampai di dunia sengsara, di akhirat neraka. Na’udzubillah mindzalik.

Marilah kita senantiasa berdoa agar bagaimanapun keadaan kita, kita senantiasa mengingat Allah, semakin bertambah dekat dengan-Nya dan di akhirat nanti beroleh rahmat-Nya dan ditempatkan-Nya di surga. Aamiin.

===========================================================================

Rujukan Hadits-Rasulullah SAW. bersabda:
“Pada Hari Kiamat, didatangkanlah penghuni neraka yang paling nikmat kehidupannya di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam neraka, kemudian ia ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kenikmatan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ Lalu didatangkan pula penghuni surga yang (dahulu) paling sengsara di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam surga, kemudian ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kesengsaraan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ … (H.R. Muslim, Shahih Muslim)

 

Dan Syetan-pun Tertawa

Syetan memang telah berjanji kepada Alloh bahwa syetan akan mengajak sebanyak mungkin pengikut dari golongan manusia untuk masuk ke dalam neraka. Berbagai cara ditempuh syetan untuk bisa menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Ketika syetan berhasil memperdaya manusia sehingga manusia itu melanggar aturan-Nya maka ia akan tertawa. Ia merasa menang dan berhasil.

Suatu hari syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu  itu. Dulu ketika Engkau beri dia sehat, betapa bersyukurnya ia, rajin ke masjid, ibadahnya banyak,suka berbuat kebaikan. Namun kini ketika ia sakit, tak pernah terputus keluhan darinya.Hatinya jauh dari mengingat-Mu. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.” Malaikat Atid pun dengan berurai air mata mencatat keburukan hamba tersebut. Malaikat Rokib-pun tersedan menyaksikan.

Suatu hari yang lain syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau pertemukan ia dengan orang-orang yang lemah lagi miskin ia begitu bersyukur pada-Mu bahwa ia masih lebih beruntung daripada orang-orang yang lemah itu. Dia begitu rajin bersilaturahim demi menjaga kekuatan ukhuwah. Tak jarang di sebagian malamnya ia selalu berdoa pada-Mu untuk kebaikan saudara-saudaranya. Namun begitu ia Engkau kawankan dengan para pejabat, dengan orang-orang kaya, dia mulai menjauhi si lemah dan si miskin. Bahkan ia-pun merasa rendah jika harus berkawan dengan si lemah dan si miskin. Silaturahimnya telah berganti. Namun itu tidak tulus karena-Mu. Ada harapan-harapan duniawi, taktik-taktik politik yang kotor demi keuntungannya. bahkan dia-pun lupa mendoakan saudara-saudaranya. Jangankan mendoakan saudaranya, mendoakan dirinya saja ia lupa. Waktunya lebih banyak dihabiskan di cafe-cafe, hotel, bar, bioskop dan tempat hiburan lain.Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari yang lain lagi syetan berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau beri dia kekurangan harta, ia selalu bersabar dan berusaha. Tiada putus ia mengharapkan belas kasih-Mu agar tercukupi kebutuhannya. Tapi begitu ia Engkau beri kelebihan rejeki, dia menjadi sombong, kikir tak mau bersedekah dan ia lupa bahwa semua Engkau yang memberikan. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari syetan lain berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika Engkau beri dia perasaan bodoh, ia menjadi haus akan ilmu,Banyak majelis ilmu ia datangi.Tak peduli seberapa jauhnya itu. Dia juga rajin membaca Al-Quran dan kitab-kitab masyhur. Dan dengan ijin-Mu ilmu dan hafalannya bertambah. Namun ya Robb saksikanlah, ia menjadi takabur. Ia merasa menjadi paling pintar. Dengan mudahnya ia menganggap oranglain salah dan dirinya paling benar.Padahal masih banyak orang yang jauh lebih alim, yang lebih fakih dan lebih tawadhu’ darinya. Rupanya sedikit tambahan ilmu tanpa disertai sikap tawadhu’ telah melalaikannya. Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Suatu hari syetan yang lain lagi berkata kepada Robb-nya :
” Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Melihat, maka saksikanlah hamba-Mu itu. Dulu ketika ia masih muda dan melajang dia begitu taat kepadamu. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk beribadah kepada-Mu. Bahkan dia begitu mendekatkan diri kepada-Mu agar mendapat jodoh yang sholehah. Kecintaan kepada-Mu terasa besar. Tapi kini ketika Engkau menganugerahinya istri dan anak-anak, dia menjadi agak menjauh darimu. Waktu untuk-Mu tersita untuk keluarganya. Kemudian aku hembuskan ke telinganya bahwa “kini engkau sudah menikah, maka bersenang-senang dengan keluargamu juga ibadah, bahkan ibadah yang utama.” Dan akhirnya ia tenggelam dalam urusan dunia dan keluarganya saja . Ya Tuhanku dia akan menjadi kawanku.”

Jika kita bisa mendengarkan tertawanya syetan dan apa yang (mungkin) ia katakan kepada Alloh maka bagaimanakah kita? Apakah rela kita menjadi bahan tertawaan syetan sementara di akhir nanti kita akan menangis? Atau kita akan membalik keadaan dengan membuat syetan menangis?

Syetan akan bahagia ketika kita berbuat dosa dan senantiasa berbuat dosa. Namun syetan akan menangis ketika hamba yang berbuat dosa tersebut kembali pada-Nya dengan bertaubat. Selagi masih ada waktu marilah kita bertaubat. Jangan mau menjadi bahan tertawaan syetan. Justru bikinlah syetan menangis, kurus badannya dan gelisah hidupnya. Syetan jelas ke neraka tujuannya, maka jangan sampai kita menjadi temannya di sana. Kita masih diberi pilihan, dermaga mana kita akan berlabuh. Hanya ada dua surga atau neraka.

* merenungkan apakah syetan mentertawakanku.

Jodoh dan kedewasaan

Jodoh. Hmmmmm… Jodoh adalah masalah yang serius hampir bagi setiap orang. Tapi terutama bagi para Muslimah. Bagaimana tidak, kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Entah itu dari dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitar. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Yah meskipun ada juga muslimah yang kalau menurut hitungan umum harusnya sudah menikah tapi berhubung memang belum pengen, jadi masih betah menyendiri. Dan semuanya memang tergantung individunya masing-masing. Dan yang pasti bahwa kita tidak boleh menyalahkan mereka yang masih tetap setia menyendiri meski usianya mungkin sudah memenuhi ( karena pasti ada alasan tersendiri.. )

Kalo dari sudut pandang laki-laki memang lebih nyantai. Semisal ada laki-laki yang berumur 35 keatas tapi belum menikah. Maka secara umum dalam menanggapi tidak seheboh kalau yang belum menikah itu wanita. Masyarakat paling-paling cuma komentar “kok belum nyari pendamping to?”. Mereka jarang yang usil dengan pertanyaan macem-macem atau dugaan buruk lainnya.

Jodoh..Serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Dan pastinya bikin was-was bagi sebagian orang. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal dan menyenangkan tentang kehidupan rumah tangga ( seperti yang banyak disampaikan lewat buku-buku yang menyerukan untuk nikah dini…., padahal Rasulullah aja gak nikah dini..).Dari hal tersebut otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Permasalahan bermula.

Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Apalagi seperti diketahui bahwa setiap orang cenderung untuk meninggikan kriteria seiring pertambahan usia sampai pada titik usia tertentu. Namun setelah melewati batas tersebut biasanya akan banting harga alias menurunkan kriteria. Kalo wanita mulai dari usia 19 sampai 28 cenderung akan menaikkan kriteria. Makanya ketika ada laki-laki yang menghendaki mereka, maka harus siap dengan jawaban dari pertanyaan ” Emangnya Lu siapa berani berani meminang gue?”…hehehe ..ni hanya ektrimnya saja. Saya kira gak semuanya begitu..

Kalo laki-laki kira-kira usia 21 sampai 30 tahun adalah masa dimana kriteria itu akan menaik..bagi yang masih usia 21-23 tahun biasanya kriterianya belum tinggi-tinggi, mengingat bekal mereka juga belum cukup untuk bisa mendapatkan wanita yang berkriteria tinggi..hehehhe…yah sadar diri lah… namun seiring perkembangan usia sampai 30 mereka juga akan meninggikan kriteria.. mereka siap untuk mengatakan ” Nih gue” dengan kepercayaan diri yang bagus ( tapi bukan bermaksud sombong lho…)

Pada masa-masa tersebut orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan ( cantik ato tampan ), berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua terpandang, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Hmmmmm….Atau jawaban lain yang kelihatannya sederhana tetapi sebenarnya gak beda jauh. ” Kalo saya sih yang penting kepribadiannya ( rumah pribadi, mobil pribadi , tabungan pribadi dan barang milik pribadi lainnya) dan wibawanya ( wi bawa mobil, wi bawa HP keren, wi bawa Motor mahal dan wi wi yang lain)” hehehe……

Memang, ada juga jawaban lain yang terkesan lebih bijaksana, “Kalo saya mah tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih /sholihah saja.”Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika masa-masa keemasannya mulai pudar, gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun yang menyangkal, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul) entah itu fisik maupun rohaniahnya. Namun jika melihat ke masyarakat umum faktor fisik memang lebih dominan untuk menentukan apakah orang tersebut banyak peminatnya atau tidak.. semakin banyak peminatnya semakin besar peluangnya..meski gak semuanya seperti itu sih…

Tapi bagi sebagian orang memang rohaniah yang utama..Syukur-syukur ditunjang fisik yang baik.. Hal inilah yang sempat menjadi perbedaan pendapat antara dua orang sahabat…mau yang 10/8 atau 8/10?…Yang satu  bersikukuh dengan 10/8 dengan argumennya yang bisa diterima sedangkan sahabat satunya cenderung ke 8/10 yang juga punya argumen yang kuat.. Boleh lah kita menentukan penilaian seperti itu tapi perlu juga ditanyakan pada diri kita “emange modal saya berapa?”

Memperhitungkan kriteria calon memang harus sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Justru orang-orang yang menginginkan kriteria tinggi mereka akan semakin sulit peluangnya untuk mendapat jodoh mengingat semakin tinggi kriteria maka semakin sedikit orang yang masuk. Namun juga jangan diobral…terlalu mudah menerima orang, termasuk yang gak jelas kualitasnya…yang baik adalah yang pertengahan..

Tapi ada hal yang perlu diperhatikan. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka dan pemahaman kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Ya…tergantung kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka membayangkan kehidupan rumah tangga itu indah dan menyenangkan..(memang orang-orang yang membuat buku tentang indahnya menikah seharusnya berkewajiban menyampaikan perjuangan dan permasalahan dalam rumah tangga..jadinya adil.. Jangan sampai kita hanya disuguhkan tentang indahnya sesuatu , padahal tak selamanya sesuatu itu indah melulu..dan ketika kita menghadapi yang buruk kita jadi gak siap…dan malah menimbulkan penyesalan..)

Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat, karena kita hanya hidup untuk diri kita tetapi juga yang menjadi bagian diri kita yaitu pasangan kita. Jika seseorang masih sendiri, lalu dibuai penyakit malas dan manja, lantas kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh.
Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan, tanpa harus diminta sampai berdarah-darah. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Ingatlah bahwa Alloh lebih mengetahui seberapa kesiapan kita. Alloh tahu yang terbaik bagi kita..

Ketika kita belum menemukan jodoh, berarti memang oleh Alloh kita dianggap belum mampu, kita belum siap..Dan sudah menjadi fitrah kita untuk mempersiapkan diri…Namun yang perlu juga diperhatikan bahwa usia tidak menentukan tingkat kesiapan / kedewasaan kita…Belum tentu yang usianya lebih tua dia lebih dewasa dari yang muda… meski memang kebanyakan seperti itu..Dan juga bahwa terkadang kita harus nekad… dalam artian bahwa ketika kita sudah merasa mampu maka harus nekad…karena kalau ditanya siap atau enggak kemungkinan sih gak bakal siap-siap….Kita harus menjemputnya…jangan pernah seratus persen mengamalkan semboyan ” Toh jodoh di tangan Tuhan.” emangsih bener semboyan itu..cuman kalo kita gak berusaha meraihnya takutnya sampai kita tua jodoh itu tetep di tangan Tuhan selamanya…kapan dapetnya kita?
Tapi terlepas dari itu semua yang pasti adalah bahwa bagi yang belum mendapat jodoh ( kayak penulise ini ) maka jangan patah semangat untuk memperbaiki diri dan mengasah kedewasaan diri…

Saudaraku, Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a’lam bisshawaab.
(kolaborasi dari berbagai sumber |repost 14 Januari 2010)